Selepas sholat zhuhur berjamaah Rahma pun tertidur pulas di atas ranjangnya, Irsyad yang mengamati istrinya terlihat sangat mengantuk sekali membuatnya merasa kasihan, ya hal itu mungkin tidak biasa untuk Rahma, namun membiarkannya bangun siang juga tidak baik Irsyad pun menyalakan AC kamarnya agar Rahma bisa lebih nyaman lagi tidurnya.
Karena tidak ingin mengganggu tidur Rahma Irsyad pun berjalan ke bawah menuruni anak tangga menuju ruang tengahnya sembari menonton acara televisi ia pun merebahkan tubuhnya di sofa dengan mata yang mulai menyipit Irsyad pun terpejam tanpa sadar dengan Televisi yang masih menyala.
Hingga dua jam lamanya, Irsyad mulai terjaga ia mengusap-usap matanya itu dan meraih remote TVnya lalu mematikannya langsung, matanya lantas beralih pandang pada jam di dinding yang sudah menunjukan pukul setengah tiga sore, dengan cepat Irsyad pun beranjak menuju kamarnya, ia melihat Rahma masih tertidur pulas di sana membuat Irsyad mendekatinya lalu mengecup keningnya, sesaat Rahma pun bergerak, dengan salah satu kancing bajunya yang terlepas sehingga bagian dadanya itu sedikit terlihat dan saat itu juga membuat Irsyad memalingkan wajahnya cepat.
"Astaghfirullah, benar Rahma kan istri ku, tapi aku belum berani melihat bagian dadanya." gumamnya lirih dengan wajah yang masih berpaling, dan tangan yang gemetaran itu Irsyad menutup kancing baju Rahma sehingga bagian dada Rahma bisa tertutup lagi.
Dengan wajah yang memerah Irsyad berjalan cepat menuju kamar mandinya, dan menutup pintu itu. Di dalam kamar mandi itu nafasnya sedikit tersengal-sengal, bibirnya terus bergumam beristighfar berkali-kali, karena merasa berdebar dengan getaran hati yang tak beraturan juga tubuh yang tiba-tiba memanas.
Yaaaahh Ia mulai menyadari, itu kali pertama Irsyad melihat itu sehingga membuatnya yakin kalau hasratnya sebagai seorang pria mulai keluar, demi mendinginkan kepalanya dengan cepat ia membaca doa dan melepas pakaiannya lalu menyirami kepalanya berkali-kali.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian koko nya ia pun membangunkan Rahma, mengajaknya menjalankan sholat Ashar berjamaah seperti biasa Rahma sangat susah di bangunkan membuat Irsyad terus berusaha membujuknya, yang dengan di akhiri drama kesalnya Rahma yang berjalan cepat sembari bersungut-sungut karena harus menjalani kemauan suaminya itu.
Setelah sholat Ashar Irsyad mengajak Rahma lagi menuju Mall guna mencari pakaian untuk Rahma, dengan rasa malas Rahma berjalan mengikuti langkah suaminya itu yang tengah memilihkan pakaian untuk Rahma.
"Ini bagus, Ade suka tidak?" tanya Irsyad.
"Semua baju ini seperti wanita tua semua mas, mana ada yang Rahma suka." jawabnya ketus.
"Dek?" Panggil Irsyad.
"Iya, iya terserah mas saja, sudah yuk kita pulang, Rahma tidak betah keluar lama-lama" rengek Rahma.
'Lebih tepatnya tidak betah memakai hijab besar ini, aku malu sekali rasanya seperti ibu-ibu.' batin Rahma.
"Ya sudah mas bayar dulu ya semua ini, ade tunggu sini." ucap Irsyad.
"Ya" jawabnya singkat.
Di depan Kasir Irsyad menyerahkan baju-baju itu pada kasir tersebut. Setelah menghitungnya Irsyad pun membayarnya sembari menunggu baju-baju itu di kemas Irsyad masih berdiri di meja kasir tersebut dan disaat yang bersamaan ada seorang wanita bercadar yang menghampiri Irsyad.
"Assalamu'alaikum Ustadz Irsyad, ya Allah ternyata benar ini Ustadz." ucap Wanita itu nampak senang , yang saat itu juga membuat Ustadz Irsyad menoleh.
"Eh Walaikumsalam, iya maaf siapa ya?" tanya Irsyad bingung karena wanita itu bercadar membuatnya tidak bisa mengenali.
"Saya, Maeddah salah salah satu jamaah Ustadz." jawabnya.
"Oh... Iya maaf saya tidak begitu paham," Mata Irsyad tertuju pada Rahma yang tengah melihatnya jengkel dan langsung membuang muka dan keluar toko tersebut.
"Silahkan Ustadz" ucap seorang kasir pada Irsyad sembari mengulurkan tas belanjaannya itu.
Irsyad pun menerimanya "maaf Ukhti saya permisi dulu, terimakasih sudah berkenan mengikuti setiap pengajian saya, Assalamu'alaikum." ucap Irsyad buru-buru.
"Walaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh." jawabnya lirih sembari geleng-geleng kepala lalu menyerahkan pakaian ditangannya itu pada kasir di hadapannya.
Ia mengejar Rahma yang sudah berjalan lebih dulu.
"Dek tunggu, kok mas ditinggal?" tanya Irsyad.
"Mas kan sedang mengobrol asik dengan ukhti itu kan? Dari pada nunggu mas lama mending Rahma keluar." Jawab Rahma ketus.
"Rahma cemburu pada mas ya?" tanya Irsyad sembari tersenyum.
"Mas? Tidak usah berlebihan deh, kita pulang sekarang saja ayok." ajak Rahma yang melangkah lebih dulu.
"Senangnya jika istri ku mulai cemburu seperti ini" Irsyad terkekeh, ia pun menyusul Rahma cepat.
***
Malam berselang di dalam kamar itu Rahma sedang duduk di atas ranjangnya sembari membalas pesan dari beberapa teman kerjanya di palembang beberapa dari mereka tidak menyangka kalau Rahma jadi menikah dengan orang lain, namun mereka juga memahami kondisi Rahma dan tidak menyayangkan hal itu.
Di saat yang bersamaan Irsyad masuk dan duduk di sebelah Rahma, dengan mata yang terus memandangi Rahma tanpa berucap Rahma pun merasa kikuk.
"Apa yang mas lakukan sih?" tanya Rahma.
"Dek, mas boleh minta sesuatu?" tanya Irsyad.
"apa?" tanya Rahma datar.
"Maaf mungkin berat untuk ade, tapi ade itu kan sudah jadi istri mas Irsyad bukankah lebih baik jika foto dalam layar depan ade itu di ganti?" ucap Irsyad sehalus mungkin, yang saat itu membuat Rahma menyadari hal itu, ya memang tidak baik terlebih pose di situ terlihat Rahma sangat mesra dengan Fikri, dengan posisi Fikri yang memeluknya dari belakang.
"Iya Akan Rahma ganti." Jawabnya.
"jangan hanya di ganti Rahma, mas minta Rahma menghapusnya juga ya." ucap Irsyad, yang saat itu membuat Rahma menatapnya cepat. "Jujur saja mas cemburu kalau lihat itu sayang, ya walaupun mas tahu hati ade masih untuk dia, tapi kan? Mas ingin ade belajar mengikhlaskan sesuatu yang sudah tidak ada di dunia ini dan kalau bisa?" Irsyad meraih rambut panjang Rahma lalu memindahkannya ke belakang bahunya. "Mas minta ade buat berusaha mencintai mas dengan ikhlas." Lanjut Irsyad masih dengan tatapan penuh arti.
Sedangkan Rahma hanya bisa tertunduk pelan, ia tau dirinya memang tidak boleh terus meratapi kepergian Fikri namun mau bagaimana pun, menjalani hubungan selama empat tahun dan hampir menikah lalu tiba-tiba kehilangannya begitu saja, sungguh hal itu membuat Rahma tidak mudah melupakan semua hal manis yang di berikan Fikri padanya.
"Dek, jangan sedih ya mas tidak memaksa kok, mas tetap menunggu cinta ade itu hadir untuk mas, dan maaf mas harus mengatakan hal lain juga pada mu." ucap Irsyad.
"Hal lain?" tanya Rahma.
Irsyad terdiam sejenak dan mendekati kening Rahma lalu mengecupnya.
"Mas harus menggauli mu sayang." ucap Irsyad lirih dengan bibir masih sedikit menempel di kening Rahma.
Mendengar itu Rahma membulatkan kedua bola matanya ia pun mendorong pelan dada Irsyad dan mulai menangis mengingat hal itu harusnya ia lakukan dengan pria yang ia cintai bukan dengannya.
"Apa...apa harus malam ini? Sedangkan Rahma belum siap mas." ucap Rahma, Irsyad pun memeluk Rahma dengan penuh kasih sayang, Rahma merasakan debaran jantung Irsyad yang sangat kuat saat dada itu menempel di dadanya.
"Rahma, ini sudah hari ke dua semenjak pernikahan kita, dan mas belum menyentuh mu, kalau hal itu mungkin bisa mas tahan cuman ini kewajiban yang harus di tunaikan, walau hanya dua minggu sekali, kita harus melakukan itu sayang." bisik Irsyad, sedangkan Rahma hanya terdiam tidak menjawabnya.
"Dek, bagaimana? Apa mas boleh menyentuh mu sekarang? Mas janji hal itu tidak akan lama hanya beberapa menit saja."
"Apa mas mau berjanji pada Rahma untuk melakukannya dua minggu sekali saja?" jawab Rahma yang saat itu membuat Irsyad terdiam, masalah hasrat ia tidak bisa berjanji untuk bisa menahannya terlebih setelah sudah merasakan hal itu untuk yang pertama kalinya, mungkin akan sulit baginya menahan untuk tidak berhubungan lagi dan menunggu sampai dua minggu kemudian.
"Mas?" tanya Rahma, Irsyad pun melepas pelukannya lalu mengusap lembut wajah Rahma.
"De, mas tidak bisa janji tapi mas akan berusaha menahannya." ucap Irsyad, "jadi, apa ade mau?" tanya Irsyad lirih.
Perlahan Kepala Rahma mengangguk, hal itu juga yang membuat Irsyad tersenyum lalu mendekatkan bibirnya di dekat kening Rahma, ia mulai mendoakan istrinya itu dan membaca doa sebelum melakukan hubungan badan mereka. Setelahnya ia pun meniup ubun-ubun Rahma sebanyak tiga kali.
"Mas matikan dulu lampu kamar ini ya, kita pakai penerangan dari lampu tidur ini saja." ucap Irsyad sedangkan Rahma masih tertunduk tanpa menjawabnya.
Sesaat lampu kamar itu telah padam Irsyad pun kembali mendekati Rahma.
Lalu menyentuh wajah yang tertunduk itu.
"Ade? Ade ikhlas kan melayani mas malam ini?" tanya Irsyad meyakinkan.
"Rahma tidak tau, namun demi kewajiban Rahma, Maka Rahma bersedia melakukannya." jawab Rahma pelan.
Perlahan Irsyad mendekati keningnya mengecupnya pelan lalu berpindah ke pipi kanan dan kirinya. Sesaat pandangannya tertuju pada bibir manis Rahma, nafas Irsyad mulai memburu. Ia pun mendekat dengan gerakan pelan lalu mengecupnya dan hanya sebatas menempelkannya saja tanpa mengulum nya.
Lumayan lama ia menempelkan bibirnya itu, dan perlahan Irsyad mulai membaringkan kepala Rahma di atas bantalnya. Ia pun melepaskan kecupan itu dan menatap ke arah wajah Rahma yang saat itu juga mulai membuka matanya.
"Mas mulai ya sayang." ucap Irsyad sembari membuka satu persatu kancing baju Rahma, dengan perasaan tak karuan Rahma memalingkan wajahnya saat Irsyad mulai menciumnya lagi.
Di dalam kamar itu Mereka mulai menyatu untuk yang pertama kalinya, dengan tubuh tertutup kain selimut, Irsyad dan Rahma menjalani kewajiban paska menikah mereka, terlihat jelas Irsyad melakukannya dengan sangat halus dan tidak terburu-buru.
Membuat Rahma merasakan kenyamanan selama tiga puluh menit penuh sentuhan cinta itu berlangsung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
sherly
astaga 2 mgg kasian amat pak
2023-03-31
0
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
jadi senyum2 sendiri kan baca nya, 😅
2022-12-23
0
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
jadi senyum2 sendiri kan baca nya, 😅
2022-12-23
0