Pukul Sepuluh pagi mereka berdua pun mengambil start, terlihat pancaran bahagia di raut wajah Irsyad sembari mengemudi bibirnya tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum.
"Ke Jawa Tengah itu jauh tidak sih mas?" tanya Rahma tanpa menoleh ke arah Irsyad ia hanya fokus menatap ke jendela samping.
"Lumayan dek, mungkin bisa delapan sampai sembilan jam perjalanan, bisa jadi kita sampai Magelang pukul sebelas atau mungkin pukul dua belas malam." jawab Irsyad sembari mengusap kepala Rahma. Mendengar jawaban dari Irsyad Rahma pun membulatkan bibirnya. Dengan hijab besarnya itu, kini Rahma mulai terbiasa, ia sama sekali sudah tidak mengeluh lagi seperti kemarin, atau mungkin saja karena ia sudah lelah protes masalah hijab, karena mau seperti apapun Irsyad tetap memintanya mengenakan hijab itu tanpa mendengarkan ribuan alasan yang di buat Rahma.
Kini mobil mereka mulai memasuki jalan tol. "Sekarang sudah banyak jalan Tol, itu yang membuat perjalanan ke Jawa jauh lebih singkat dek, kalau dulu itu bisa sehari semalam terlebih saat libur lebaran."
"Sehari semalam?" tanya Rahma sembari menoleh, Irsyad mengangguk.
"Lebih tepatnya jika mengenakan transportasi umum sih, kalau pakai kendaraan sendiri lebih singkat, dulu sekali waktu mas masih kuliah di Jakarta mas pakainya bus untuk perjalanan ke Jakarta Jawa, tapi sekarang semenjak mas sudah bekerja alhamdulillah sudah ada kendaraan sendiri, jadi mas bisa bawa istri mas ini ke Jawa tanpa harus repot-repot menunggu di terminal." tutur Irsyad sembari tersenyum. Dengan Rahma yang hanya memalingkan wajah dan menoleh ke samping, Rahma merasakan sekali sikap Irsyad yang sangat halus dan baik ini, ia juga sangat berusaha untuk membuat Rahma nyaman, contohnya saja ia sama sekali tidak marah saat Rahma tidak melakukan pekerjaan rumah, tanpa menyuruhnya ia bahkan mengerjakan pekerjaan itu sendiri. Perlahan Rahma menoleh saat tangan Irsyad meraih tangannya lalu mendekatkannya ke bibirnya, kecupan singkat itu benar-benar hangat bagi Rahma, sehingga sedikit merasakan getaran di hatinya, terlebih ia sudah pernah merasakan bersenggama dengan Irsyad, itu yang membuatnya merasakan hal lain saat berada di dekat Irsyad.
"Kesayangan mas." gumam Irsyad, yang lantas meletakan tangan Rahma itu ke pipinya, Rahma pun tertunduk.
'Masa iya, dia secepat itu mencintai seorang wanita, aku tidak yakin.' gumam Rahma dalam hati sembari menarik tangannya sendiri, karena baginya menyentuh pipi Irsyad itu benar-benar masih membuatnya canggung.
Mobil terus berjalan hingga tak terasa Adzan zuhur berkumandang, Irsyad pun membelokan mobilnya menuju sebuah rest area, dan memarkirkannya di dekat sebuah masjid, Irsyad menarik tuas remnya lalu mematikan mesin mobil itu.
"Dek, kita istirahat dulu, sholat dan makan siang di sini ya." ucap Irsyad, Rahma pun mengangguk, ia membuka pintu mobil itu dan keluar lalu menutupnya kembali, sedangkan Irsyad membuka pintu samping dan meraih mukena Rahma.
"Ini sayang mukenah mu." ucap Irsyad sembari mengulurkan mukena itu, perlahan tangan Rahma meraihnya, setelahnya Irsyad menutup pintu samping mobilnya, Tangan Irsyad pun meraih tangan Rahma dan menggandeng nya masuk ke area masjid.
Sebenarnya suaminya itu sangat romantis, mungkin dari sikapnya yang dirasa lebih romantis ketimbang mendiang Fikri itu yang membuatnya dapat menilai Irsyad tipe pria romantis.
"Dek, ambil wudhu dulu di sebelah sana ya, nanti kita ketemu di depan pintu masjid ini." titah Irsyad, tanpa menjawab Rahma langsung melangkah menuju tempat wudhu untuk wanita.
Di sana ia membuka sedikit kerudungnya, agak kesusahan Rahma saat mengambil air wudhu itu karena hijab yang berkali-kali jatuh. Setelah bertarung dengan kerudung besarnya itu Rahma pun selesai, ia memakai kembali dengan benar hijabnya lalu keluar, di depan tangga ia melihat suaminya sudah menunggunya dengan senyumnya itu, yang tidak henti-hentinya tersungging padannya walaupun Rahma sama sekali tidak pernah membalasnya dengan senyuman, bahkan mungkin selama menikah dengan Irsyad, Irsyad tidak pernah melihat senyum Rahma yang sebenarnya sangat cantik itu.
"Sudah? Yuk masuk." ajak Irsyad sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam Masjid itu, yang di susul langkah Rahma di belakangnya.
Di sana mereka melakukan sholat berjamaah berdua, tentu saja sholat bersama Irsyad jauh lebih lama, surah yang ia baca panjang-panjang, tidak seperti dirinya yang jika sholat sendiri itu seperti sebuah jungkat-jungkit yang naik turun dengan cepat.
"Assalamu'alaikum warohmatuloh..." Irsyad menoleh ke kanan, di susul dengan Rahma.
"Assalamu'alaikum warohmatuloh..." Irsyad kembali menoleh ke arah kiri.
Setelahnya Irsyad mengusap wajahnya lalu menoleh kebelakang, dengan Rahma yang langsung meraih tangan kanan Irsyad dan mengecupnya, di saat yang bersamaan Irsyad mengecup kening Rahma dan mengusap kepalanya lembut, lalu kembali menghadap ke arah kiblat dan berzikir singkat di sana.
Setelah selesai berzikir dan memanjatkan doa, Irsyad pun membalik badannya duduk menghadap Rahma, mengamati istrinya itu tengah melipat mukenahnya.
"Kenapa melihat ku seperti itu sih?" tanya Rahma yang merasa risih.
"Habis adek cantik."
"Ck...aku kan seorang wanita, jelas cantik kalau aku pria itu sudah pasti tampan." jawab Rahma ketus.
"Berarti mas tampan ya?" tanya Irsyad.
"Iya." Jawab Rahma tanpa sadar.
"Ohh ya? Tampan sekali kah?" tanya Irsyad, Rahma pun mengangkat kepalanya, terlihat jelas wajah itu benar-benar tampan baginya sekarang, 'iya benar, kau sangat tampan mas.' gumamnya dalam hati, sesaat tangan Irsyad menyentuh batang hidung Rahma dengan jari telunjuknya, sehingga membuat Rahma terkesiap.
"Nahhh kan, sudah mulai terkesima nih ceritanya, sama ketampanan mas?" ledek Irsyad sembari terkekeh, sehingga membuat Rahma tersadar.
"Tidak usah berlebihan deh. siapa juga yang terkesima sama mas." jawab Rahma yang lantas beranjak.
"Haduh, sepertinya istri ku ini sudah mulai jatuh cinta pada ku." Irsyad terkekeh, ia pun beranjak dari posisi duduknya dan melangkahkan kakinya menyusul Rahma.
Sebelum melanjutkan perjalanan mereka pun makan siang di salah satu restoran di sana, Rahma dan Irsyad cukup menikmati hidangan tersebut, mungkin karena perut mereka yang lapar.
Setelah menyelesaikan urusan perutnya, mereka pun melanjutkan perjalanan, hingga tidak terasa langit pun mulai gelap, Rahma tertidur dengan posisi kepala menyandar ke jendela, berkali-kali kepala Rahma terbentur ke kaca akibat guncangan mobil itu, perlahan tangan kiri Irsyad meraih kepala Rahma dan menyandarkan nya ke bahunya.
"Kasihan sekali sih istri ku ini." gumam Irsyad, ia pun kembali menghadap lurus ke depan dan lanjut fokus membawa laju mobilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
Herlina Lina
jungkat jungkit
2024-01-22
0
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Sabar ya ustadz, lama2 pasti luluh koq, 🥰
2022-12-23
0
Lia Shechibie'slove
dek Rahma klw adek gk mau sama ustadz Irsyad , saya mau😂😂😂😍😍
2022-12-06
0