sore itu, karena cidera kaki yang di alami Aida cukup parah, dan mengharuskan Aida menjalani operasi, dengan tanda tangan Irsyad sebagai walinya Aida pun di bawa masuk ke ruang operasi tersebut, Irsyad duduk di sebuah kursi panjang yang terdapat di depan pintu operasi, menunggu proses berjalannya operasi tersebut.
Rahma baru saja kembali setelah membeli air mineral dan roti, ia pun menghampiri Irsyad yang tengah duduk menyandar dengan mata yang terpejam. Kedua tangannya menyilang di depan dadanya.
Perlahan Rahma duduk, lalu menyentuh bahu Irsyad pelan, Irsyad sedikit terkesiap dan menoleh kearah Rahma lalu tersenyum sembari mengusap matanya.
"Mas sampai ketiduran, mas pasti lelah." ucap Rahma.
"Iya dek sedikit, Sudah beli air nya?" tanya Irsyad, Rahma pun mengangguk lalu menyerahkan air mineral itu pada Irsyad.
"Terimakasih sayang." ucap Irsyad, ia pun membuka tutup botol itu dan meminumnya.
"Operasinya lama juga ya?" gumam Rahma.
"Iya dek, dan dokter tadi juga sempat bilang, kalau Aida sepertinya mengalami kelumpuhan permanen akibat cidera kakinya itu." tutur Irsyad dengan tatapan prihatin.
"Astaghfirullah, apa mas sudah mengabarkan semua kepada abah Rury?" tanya Rahma, Irsyad pun menggeleng.
"Mas belum bisa mengabarkan hal ini, terlebih kondisi abah Rury yang kurang sehat."
"Lalu, setelah ini yang merawat Aida?" tanya Rahma. Irsyad menoleh kearah Rahma, benar Aida tidak mungkin di tinggalkan begitu saja setelahnya.
"Ade maaf, apa dek Rahma berkenan jika harus menemani Aida untuk sementara waktu selama Aida ada di rumah sakit ini?" tanya Irsyad. Rahma pun tertegun sejenak.
"Kenapa harus Rahma? Memangnya Aida tidak ada keluarga lain selain abah Rury?" tanya Rahma. Irsyad pun membelai rambut Rahma lembut.
"Maaf, habis mas bingung untuk minta tolong pada siapa, karena setahu mas Ayah dan ibunya Aida itu sudah tidak ada, sejak Aida duduk di bangku sekolah dasar sayang. Dan lagi, mas tidak yakin kalau Aida ada sanak saudara di sini, karena saudara kandung abah Rury semua tinggal di Sumatera, dan hanya abah Rury yang tinggal di sini."
"Lalu paman dan bibinya?"
"Mas kurang paham dek, tapi kalau ade tidak bersedia tidak apa, tapi mas mohon izin untuk menengoknya setiap hari, walaupun hanya sebentar-sebentar ya." tutur Irsyad yang saat itu membuat Rahma sedikit merasa tidak suka.
"Mas itu cari kesempatan ya?" bidik Rahma dengan tatapan kesal.
"Astaghfirullah dek kok cari kesempatan sih, mas itu kan walinya Aida di sini, jadi mas harus sebentar-sebentar menengoknya." tutur Irsyad. Mendengar itu Rahma pun membuang muka.
"Terserah mas saja lah, hak mas Irsyad juga." ucap Rahma ketus. Irsyad pun tersenyum.
"Ini nih yang bikin mas gemas, saat ade ngambek seperti ini." Irsyad terkekeh.
"Sudah tidak usah meledek ku, Rahma tidak akan tertawa karena itu." ucap Rahma masih ketus.
"Sudah dong jangan marah seperti itu. Mas hanya merasa tidak tega jika Aida benar-benar tidak ada yang menunggunya disini." tutur Irsyad.
"Iya Rahma tahu, tapi tetap saja, mas itu bukan muhrimnya Aida kan? Ya sudah kalau begitu Rahma saja." ucap Rahma kesal.
"Benarkah, ade bersedia?"
"Iya."
"Iklhas tidak nih?"
"Iya!"
"Iya apa?"
"Iya bersedia dan Ikhlas mas. Puas kan sekarang?" tutur Rahma yang masih sedikit kesal, Irsyad pun terkekeh sembari mengusap-usap kepala Rahma.
Selang beberapa jam operasi pun selesai, Kini Aida sudah di pindahkan ke bangsal nya. Kala itu Aida mengucapkan banyak terimakasih pada Irsyad dan Rahma, ia juga bercerita bahwa ia di jakarta tengah mengambil study nya di salah satu kampus.
Dan siang tadi Aida baru saja pulang dari kampusnya menuju tempat kosnya, namun karena kemalangan, Aida tidak bisa mengendalikan motornya saat mobil di depannya berhenti mendadak, itu sebabnya Aida menabraknya.
Rahma pun sedikit menikmati obralannya dengan Aida, gadis itu ramah dan baik, ia pun mulai larut hingga tidak terasa waktu semakin gelap.
"Aida, maaf sekali ya, mas dan mbak Rahma ini harus pulang, karena sudah malam juga." tutur Irsyad. Aida pun tersenyum.
"Iya mas, tidak apa-apa, Aida bisa sendirian kok." ucap Aida.
"Ya sudah mbak pulang dulu ya, besok mbak kesini lagi untuk menemani Aida." Ucap Rahma halus, Aida pun mengangguk sembari tersenyum.
Setelahnya Irsyad pun menggandeng Rahma lalu keluar dari bangsal itu. Setelah mengucapkan salam sebelumnya.
Kini hanya tinggal Aida sendiri di bangsal itu, pandangannya terus tertuju pada pintu itu, sesaat Aida menghela nafas. "Beruntungnya mbak Rahma memiliki suami seperti mas Irsyad, pria yang sangat baik dan halus." gumamnya lirih, ia pun menyentuh kakinya yang terbungkus perban dan sudah mati rasa itu. Sesaat air matanya menetes.
"Aku sudah bukan wanita sempurna lagi, mungkinkah aku masih bisa berharap untuk bisa memiliki suami setelahnya?" gumam Aida yang mulai terisak.
Didalam bangsal itu Aida menangis sesegukan seorang diri meratapi nasibnya yang malang.
Siapa yang ia harapkan untuk menemani Hari-harinya nanti, kini hanya abah nya yang ia miliki ia pun tidak berani untuk berharap bisa membina rumah tangga, karena bagaimana pun hidupnya pasti akan menyusahkan pasangannya kelak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
G tau mau komen apa, 😞
2022-12-23
0
Qiza Khumaeroh
detik2 menguras emosi nih,,
2021-09-14
0
Khurotul Azpiya
jodohnya mas ulum
2021-09-12
2