Dengan perasaan jengkel Rahma kembali ke kamar mereka, ia duduk sembari menyilang kedua kakinya di atas ranjang dengan bantal di atas pangkuannya.
"Huuuuh, baru hari pertama tapi jujur saja aku sudah tidak betah, bagaimana bisa aku bertahan menjadi istri seorang ustadz, aku memang seorang muslimah namun aku belum mampu untuk mengimbangi imannya." Cklaaaaakkk pintu kamar itu terbuka dengan Irsyad yang lantas masuk kedalam kamar itu menatap ke arah Rahma yang langsung memalingkan wajahnya, dengan helaan nafas sejenak Irsyad tersenyum lalu menutup lagi pintu kamar itu dan berjalan mendekati Rahma yang masih terlihat jengkel itu, ia pun duduk di sebelah Rahma yang langsung bergeser sedikit menjaga jarak.
"Ade?" panggil Irsyad pelan dengan tangan terangkat hendak menyentuh kepala Rahma namun dengan cepat Rahma menghindari itu.
"Dek jangan marah, mas kan hanya bercanda tadi," ucap Irsyad sembari terus menatap ke arah Rahma yang sama sekali tidak menatapnya.
"Rahma?" Panggil Irsyad lagi, namun Rahma tetap tidak mau menjawabnya.
"Dek Rahma sayang, kalau di panggil itu harus di jawab."
"Iyaaa!" Jawab Rahma dengan nada sedikit menekan.
"Ade itu umurnya berapa sih? Kok suaranya imut sekali seperti gadis belasan tahun? Mas jadi gemas." Irsyad berusaha merayu.
"Tidak mempan mas" jawab Rahma masih ketus, Irsyad pun terkekeh, perlahan ia meraih tangan Rahma dan menyingkirkan bantal di atas pangkuannya, dengan sedikit ragu ia mendekati Rahma lalu memeluknya, untuk yang pertama kali, hal itu pula yang membuat Rahma terkejut dan kikuk saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari pria yang baru ia kenal walau statusnya kini sudah menjadi suami sahnya, sedangkan Irsyad merasakan adanya getaran berlebih di relung hatinya. Dadanya terus saja bergetar tidak beraturan sehingga tanpa sadar ia terus bernafas cepat akibat menahan rasa gugupnya,tangannya yang tiba-tiba gemetaran membuatnya susah membelai rambut panjang Rahma hal itu pula yang membuatnya terlihat kaku, Rahma yang merasakan itu pun menghela nafas.
"Ji...jika belum bisa memeluk Seorang wanita, sebaiknya lepaskan saja." ucap Rahma yang juga merasakan gugup. Irsyad pun menatap wajah di bawahnya.
"Rahma?" Panggil Irsyad pelan, dengan tatapan lain Rahma pun merasa sedikit takut, takut jika suaminya memintanya untuk melayaninya karena semalam mereka belum sempat melakukan itu.
"Ra...Rahma mau buat sarapan dulu mas," ucapnya yang lantas melepaskan pelukan suaminya itu dan beranjak turun dari ranjang mereka dengan bergegas ia keluar menuju ruangan dapurnya.
Dengan Irsyad yang masih terpaku, perlahan ia menyentuh dadanya.
"Ya Allah, aku mencintai Istri ku." gumamnya lirih sembari menitikkan air matanya akibat rasa haru yang teramat karena akhirnya ia bisa mencintai seorang gadis untuk yang pertama kalinya, setelah selama ini menahan hasrat, dan berusaha untuk tidak mencintai yang bukan halalnya.
Di dalam ruangan dapur yang minimalis namun elegan itu Rahma ketar-ketir, ia menyesali ucapannya yang berkata hendak memasak sarapan untuk Irsyad.
Ia bingung ingin memasakan apa untuk Irsyad sedangkan dirinya hanya bisa memasak mie instan saja. Di depan kompor itu ia hanya mondar-mandir tidak jelas mencari ide masakan apa yang pas untuk pagi hari, ia pun menatap ke arah sebuah rice cooker dan mencoba membukanya.
"Ada nasi di dalamnya? Dan sepertinya baru matang? Apa mas Irsyad yang masak??" gumam Rahma lirih.
Ia pun mencoba mencari bumbu-bumbu dan membuka kulkas di dekatnya, sesaat ia di buat sedikit takjub, Irsyad tinggal sendiri namun isi kulkasnya penuh dengan bahan masakan dan buah-buahan.
"Dek, mau mas bantu?" tanya Irsyad tiba-tiba sehingga membuat Rahma terkesiap.
"tidak...tidak usah, Rahma bisa sendiri." ucapnya yang masih memilih-milih.
"Ade cari apa?" tanya Irsyad.
"Bumbu mas, bawang dan sebagainya." ucap Rahma tanpa menoleh sedikitpun, jujur saja ia masih gugup pada suaminya itu akibat tatapannya tadi.
"Ada di bawah sini dek." ucap Irsyad yang langsung membuka lemari bawah meja dapur itu.
Sesaat Rahma pun menutup pintu kulkas itu dan berjongkok di bawah meja itu, Lagi-lagi ia di buat mematung, saat melihat bumbunya sangat lengkap dan tertata rapi di sebuah keranjang susun dengan beberapa rempah-rempah lain.
'Apa benar selama ini mas Irsyad tinggal sendirian tanpa adanya Asisten rumah tangga? Rumah yang lumayan besar ini sangat bersih dan rapih, juga semua bahan masakan ini? Apa selama ini dia masak sendiri?' gumam Rahma dalam hati, ia pun meraih beberapa bumbu itu dan beranjak bangun.
"Dek Rahma mau masak apa? Mas jadi tidak sabar menunggu masakan dari istri mas ini." ucap Irsyad yang saat itu juga membuat Rahma kembali teringat kalau dirinya tidak bisa masak.
"Emmm hanya nasi goreng saja, karena ada nasi di rice cooker." jawab Rahma pelan. "Anu? Apa mas yang masak nasinya?" tanya Rahma.
"Iya, sebelum membangunkan mu, mas masak nasi dulu tadi, mas biasa melakukan itu, jadi seperti sudah menjadi suatu kebiasaan sebelum sholat mas usahakan masak nasi dulu, karena mas terkadang ngajar pagi jadi bisa cepat-cepat sarapan sebelum berangkat." ucap Irsyad. Rahma pun manggut-manggut.
"Ya sudah sebaiknya mas Irsyad keluar saja, aku mau memasak dulu." ucap Rahma dengan nada yang masih terdengar kaku.
"Ade yakin? Tidak mau mas bantu?" tanya Irsyad.
"Tidak perlu." Jawabnya dingin.
"Ya sudah kalau begitu." ucap Irsyad sembari tersenyum, ia pun berjalan menuju ruang tengah, merapikan ruangan itu.
Ya karena selama ini ia tinggal sendiri, rumah yang di huni nya tidak terlalu cepat berantakan itu yang membuatnya mampu merapikan semuanya sendiri.
Dengan batang sapu di tangannya ia mulai menyapu lantainya, dan setelahnya mengepel ruangan tersebut, sebenarnya rumah mereka tidak terlalu besar, namun karena penataan ruangan yang pas membuat rumah itu terlihat luas.
Di ruangan dapur itu Rahma masih terus berusaha berkutat pada sebuah penggorengan di hadapannya itu dimana nasi putih itu sudah berubah berwarna coklat, dengan hati-hati Rahma mencoba mencicipinya.
"Tidak ada rasanya" gumamnya ia pun meraih garam dan menaburkannya di atas nasi itu.
"Kurang tidak ya?" gumamnya ia pun menambahkannya lagi dan lagi, hingga ia yakin kalau nasi itu sudah cukup asin.
Rahma pun mematikan kompornya dan menyajikannya di atas piring saji tanpa mencicipinya lagi, lalu meletakkannya di atas meja, di sana ia juga menggoreng telur mata sapi dan meletakkan di atas nasi goreng tersebut.
Setelah selesai ia melihat Irsyad masuk dan meletakan ember pel nya di dekat ruangan dapur itu di sebelah mesin pencuci pakaian.
"Wah sudah matang ya?" tanya Irsyad semangat, ia pun mencuci tangannya sampai bersih lalu duduk di atas meja itu, sesaat ia melihat dapur itu sangat kotor namun ia senang, akhirnya di dapurnya itu ada seorang wanita yang menjadi ratu di sana, yaitu istrinya.
Ya walaupun Rahma belum mencintai Irsyad namun ia tetap masih mau melayaninya, dengan cara menyerahkan sendok pada Irsyad dan menuangkan segelas air putih untuk suaminya itu, dengan perasaan senang Irsyad menerima gelas berisi air yang di ulurkan oleh Rahma.
"Terimakasih dek." ucapnya berbinar, ya perlakuan Rahma benar-benar membuatnya tersentuh.
tanpa menjawabnya, Rahma pun meraih gelas untuknya dan mengisinya dengan posisi berdiri ia menaikan tangannya hendak meminum air itu.
"Dek tunggu," Dengan Cepat Irsyad menahannya.
"Kenapa?" tanya Rahma.
"Kalau minum itu duduk dek, jangan berdiri jadi tidak sama dengan hewan, sini duduk dulu baru minum." ucap Irsyad.
"Banyak aturan." Runtuknya sangat lirih sembari menarik kursi di hadapannya itu sementara Irsyad hanya geleng-geleng sembari tersenyum.
Irsyad pun membaca doa makan, lalu menyendok kan nasi goreng itu dan memasukannya ke dalam mulut.
Baru saja Irsyad akan mengunyah bola matanya seketika sudah membulat, ia terdiam sesaat lalu melirik ke arah Rahma yang saat itu tengah membidik bingung ke arahnya.
Dengan cepat Irsyad mengunyah nasi itu dan menelannya paksa lalu meraih gelas di sampingnya dan meminum air itu sampai habis.
Merasa ada keanehan Rahma pun mengerutkan dahinya.
"Ada apa mas?" tanya Rahma bingung.
"Anu, ini dek? Apa harga garam saat ini sedang murah ya?" tanya Irsyad sembari garuk-garuk kepala, yang saat itu juga membuat Rahma menyendok kan nasinya dan memakannya, tak lama Rahma pun beranjak sembari menutup mulutnya berjalan cepat dan mengeluarkan nasi goreng yang ada di mulutnya itu ke tong sampah.
"Astaga, asin sekali?" Rahma pun menenggak air minum di gelasnya.
"Astaghfirullah dek," Seru Irsyad yang mendengar itu, sembari menahan tawanya.
"Mas? Kalau asin kenapa tidak bilang saja sih? Kenapa harus di telan nasi itu?" ucap Rahma.
"ya, mas takut kamu marah lagi kalau mas lepehin, tapi ini enak kok dek hanya saja mas takut darah tinggi kalau di habiskan." ucap Irsyad yang saat itu juga membuat Rahma tertunduk malu, dengan itu ia bisa menunjukan pada Irsyad kalau dirinya tidak bisa masak.
"Maaf, sebenarnya Rahma tidak bisa masak." gumamnya sangat lirih namun masih bisa di dengar Irsyad.
"Ohooo tidak bisa toh? ya ampun dek kenapa tidak bilang," Irsyad masih berusaha menahan tawanya. "ya sudah tidak apa mas senang ade mau berusaha masakin buat mas, serius mas bahagia sekali," ucap Irsyad sembari memegangi tangan Rahma.
"Iya tapi sama saja nasi ini jadi mubazir kan?" ucap Rahma.
"Tidak apa-apa dek, semoga Allah mengampuni ya, sekarang kita siap-siap saja dan sarapan di luar ya sayang, karena kamu sepertinya lelah." ucap Irsyad yang saat itu juga tanpa menjawabnya Rahma langsung beranjak dan pergi meninggalkan Irsyad dengan perasaan malu itu.
"Ya ampun Rahma," Irsyad masih terkekeh-kekeh, ia pun meraih dua piring di atas meja itu dan merapikannya lalu mencucinya, sesaat ia melihat dapur itu masih berantakan.
"Nanti saja lah ku bereskan, sekarang aku harus mengajak Rahma keluar mencari sarapan." gumam Irsyad yang lantas melenggang keluar dapur itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
Susi Rahmawati
Di dunia nyata ada gak siih suami macem ustad Irsyad klau ada mau doong punya suami kayak gitu 🤭🤭
2025-02-04
0
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Ustadz Irsyad pengertian banget yaa, 🥰
2022-12-22
1
Syahria Ria
ternyata lucu² dan seru² komentar di sini ☺☺☺☺👍👍👍
2022-03-24
0