Raina duduk sambil melipat tangan di atas lututnya. Kali ini, Bu Rahayu benar-benar marah. Sejak kemarin malam wanita paruh baya itu tidak pernah keluar kamar, kecuali untuk mengambil Wudhu untuk Shalat Isya saja.
Berkali-kali Raina mengetuk pintu mencoba menjelaskan semuanya pada Bu Rahayu. Sayangnya, usaha-nya tidak membuahkan hasil. Bu Rahayu malah mengunci diri di dalam kamar seperti anak kecil yang ngambek karena tidak di belikan mainan kesukaannya.
"Ya Allah. Apa yang harus ku lakukan supaya Ibu berhenti marah."
Hmm!
Raina menghela nafas sambil memandangi jam di dinding yang tergantung tepat di samping kiri kamar Bu Rahayu. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 dini hari. Berarti Raina duduk di depan pintu kamar Ibunya hampir lima jam lamanya.
Apa Ibu benar-benar marah sampai beliau tidak ingin melihat wajahku? Lirih Raina pelan. Ia mengusap wajahnya dengan gerakan pelan.
Dari kamarnya, Bu Romlah menyaksikan perang dingin antara Ibu dan Anak itu. Sebenarnya ia merasa kasihan pada Raina, sejak pulang dari Swalayan Bu Rahayu memilih mengabaikannya. Gadis malang itu bahkan tidak memakan apapun karena mengetahui Ibunya juga belum makan.
Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaan kalian. Lirih Bu Romlah kemudian menutup pintu kamarnya, membiarkan Raina duduk sendiri bersandarkan daun pintu kamar Bu Rahayu.
...***...
Raina kembali kekamarnya pukul empat pagi, ia merasakan sekujur tubuhnya remuk efek duduk semalaman sambil melipat tangan di lututnya. Saat Azan subuh mulai berkumandang, semua orang sudah berkumpul di Musalla kecuali Bu Rahayu. Setengah jam menunggu, Bu Rahayu tidak juga muncul sampai akhirnya Bu Romlah meminta Andre bertindak sebagai imam Shalat, karena ia tahu Kakaknya itu tidak akan datang.
Raina semakin merasa bersalah.
Rakaat pertama Andre membaca Surah Al-Imfithar. Bacaan tartilnya menggetarkan jiwa siapapun yang mendengar.
Yaa ayyuhal insaanu maa gharraka birabbikal karrim
Alladzii khalaqaka fasawwa ka fa'adalak
Fii ayyi shuuratim maa syaa-a rakkabak
Kalla bal tukadzdzibuuna biddiin
Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang maha pemurah
Yang telah menciptakan kamu lalu meyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang
Dalam bentuk apa saja yang dia kehendaki, dia menyusun tubuhmu
Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan
Bulir-bulir hangat keluar dari mata Raina, membasahi wajah ayu tanpa make up nya. Begitu dahsyat makna yang terkandung dalam lantunan ayat suci yang di bacakan Andre sampai-sampai sekujur tubuh Raina bergetar hebat. Rasa takut mulai menjalar memenuhi rongga dadanya, berharap dalam do'a ia dan keluarganya tidak termasuk dalam golongan kiri, yakni golongan penghuni neraka. Raina dan keluarganya masih larut dalam do'a yang menggetarkan raga.
Sementara di sisi lain, ada orang yang masih terlelap. Larut dalam buaian kenikmatan di balik selimut hangatnya tanpa memikirkan kematian setelah kehidupan singkatnya. Harta berlimpah, kebahagiaan merekah, derita menyeruah, semua itu tidak akan berguna jka tidak di dasari Iman di dada manusia.
Kebahagian akan jauh lebih menenangkan jika di barengi rasa syukur tiada tara pada Yang Maha Kuasa.
Dan derita? Derita tidak akan menyakitkan selama di dalam dada ada kesabaran tanpa batas.
Eeemm!
Shawn menggeliat bagai cacing kepanasan, ia menyunggingkan senyuman menawan sambil berucap 'Selamat pagi, sayang'
"Apa yang ku lakukan? Kenapa aku melihat wajah pengawal itu begitu aku membuka mata." Lirih Shawn pelan sambil bangun dari posisi berbaringnya.
"Apa aku sudah tidak waras? Kenapa aku membayangkan wajah tersenyumnya sedang menyapa ku di tempat tidur. Ini benar-benar mustahil." Ucap Shawn lagi. Tidak ingin larut dalam ilusi yang membingunkan, ia segera beranjak menuju kamar mandi. Membasahi sekujur tubuhnya dengan air dingin membuat pikirannya kembali normal.
Lima belas menit kemudian Shawn selesai bersiap-siap. Di pandanginya wajahnya dari pantulan cermin 'Sempurna' lirihnya.
Shawn berjalan hati-hati saat menuruni anak tangga, keempat asisten rumah tangganya terlihat sibuk. Ada yang bertugas membersihkan lantai, memasak dan ada juga yang sibuk mencuci.
Shawn mengambil koffe yang sudah di siapkan Bik Sumi, segelas koffe pahit dan roti gandum yang di olesi selei kacang. Sarapan yang sangat sederhana namun itu sudah cukup baginya.
Sementara itu di tempat berbeda, Raina masih sibuk membantu Bu Romlah membersihkan bekas sarapan adik-adiknya. Semua orang sudah berangkat ketempat aktivitas masing-masing, tinggal Raina saja yang masih berada di rumah. Ia memandangi kamar Ibunya, sayangnya tidak ada tanda-tanda kalau Bu Rahayu akan keluar dari kamarnya. Bu Romlah menatap wajah nelangsa Raina. Jelas terukir kekecewaan disana.
"Sepertinya, Ibu Mu masih marah! Kau sarapan saja dulu, setelah itu kau bisa berangkat bekerja. Nanti Bude yang akan bicara pada Ibumu." Ucap Bu Romlah menenangkan. Raina hanya menyunggingkan senyum sambil meraih tas yang ia letakkan di atas sofa.
Raina berangkat kerja tanpa memakan apapun. Sesungguhnya, Bu Rahayu melihat Raina berangkat dari jendela kamarnya, ia menghela nafas. Merasa bersalah karena mengabaikan putri kesayangannya.
...***...
Setengah jam setelah keberangkatan Raina, Bu Rahayu mulai keluar dari kamarnya. Tangan kanannya memegang baju hangat yang sengaja ia buat untuk Raina. Melihat kelakuan Kakaknya, Bu Romlah memilih untuk mengabaikan Bu Rahayu, ia sendiri kesal dengan sikap yang di tunjukkan kakaknya itu.
"Rom, bagaimana pendapat Mu tentang baju ini? Bukankah baju ini terlihat indah jika di pakai Raina?" Bu Rahayu tersenyum sambil membayangkan wajah lugu putri kesayangannya.
"Rom, tolong katakan sesuatu!" Ucap Bu Rahayu memaksa.
"Saya harus bilang apa Mbak Yu? Apa saya harus bilang kalau saya kesal dengan sikap Mbak Yu. Raina, anak bodoh itu! Dia duduk sepanjang malam di depan pintu kamar Ibunya, berharap Ibunya akan keluar dan memaafkannya. Tapi sayangnya, Ibunya itu tidak perduli padanya. Berangkat kerja saja dengan perut kosong." Celoteh Bu Romlah meluapkan kekesalannya.
"Kenapa Raina tidak sarapan, bukankah dia bersama Mu sejak pagi?" Bu Romlah terkejut karena di salahkan, melihat ekspresi khawatir yang di tunjukkan Bu Rahayu membuatnya semakin kesal.
"Menurut Mbak Yu kenapa? Apa Raina pernah makan jika adik-adiknya belum makan? Jika Ibunya sendiri belum makan, lalu bagaimana ia bisa makan." Ucap Bu Romlah dengan tatapan kasihan pada Kakaknya.
Bu Rahayu lemas mendengar penuturan Bu Romlah, ia hanya ingin membuat putrinya menyerah dari pekerjaannya tanpa harus menyakitinya.
Ya Allah... Apa yang sudah ku lakukan. Batin Bu Rahayu sambil menatap jam di dinding, waktu baru saja menunjukkan pukul 9 pagi. Bu Rahayu mulai menghela nafas kasar memikirkan Raina akan pulang sore nanti, itu artinya ia harus menahan kerinduan untuk putri yang ia abaikan sejak semalam.
...***...
Shawn mendapati Raina sedang menunggunya di sofa depan ruangan Robin. Betapa bahagianya hati Shawn saat mendapati wanita yang selalu ingin di lihat netranya berada di hadapannya. Semua orang sudah pulang, tinggal mereka berdua yang masih tersisa di gedung berlantai 25 itu.
Senja bersama mu.
Bahkan semesta ingin kita tetap dekat.
Jika semesta telah mendukung, bahkah jika kau berada dalam lautan sekalipun, aku pasti akan datang untuk menjemput Mu.
Shawn tersenyum bahagia mendapati Raina ada bersamanya. Sementara Raina, ia bersedih mengingat Ibunya yang masih marah padanya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 154 Episodes
Comments
Silvi Vicka Carolina
kan bisa di omongka. baik baik
2024-07-26
0
Silvi Vicka Carolina
tidak mencerminkan ibu pengasuh panti asuhan yang legowo dlm menyikapi persoalan
2024-07-26
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒕𝒆𝒓𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉𝒂𝒏 𝒃𝒖 𝑹𝒂𝒉𝒂𝒚𝒖 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑹𝒂𝒊𝒏𝒂
2024-07-19
0