Raina berdiri di depan gedung berlantai dua puluh lima. Matanya melotot takjub memandang keindahan mahakarya Manusia. Ia mempercepat langkah kakinya, berjalan menuju meja Resepsionis yang di jaga oleh dua gadis cantik. Kedua wanita muda itu menyapa setiap tamu dengan senyuman ramahnya. Sesekali mereka bermain dengan ponselnya jika tidak ada tamu yang datang.
Belum sempat Raina mengajukan pertanyaan, wanita berambut sebahu itu menyapanya dengan senyuman, ia menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Apa Nona datang untuk melamar pekerjaan?" Resepsionis itu menebak asal setelah menatap amplop coklat yang ada dalam genggaman Raina.
"Maaf. Untuk saat ini, kami tidak membuka lowongan pekerjaan baru. Anda bisa mencobanya di lain waktu." Ucap Resepsionis itu lagi sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Iya, saya mengerti. Terima kasih." Balas Raina cepat. Mengetahui tidak ada harapan, ia berjalan meninggalkan gedung berlantai dua puluh lima itu dengan wajah merunduk menahan kesedihan. Ada rasa kecewa yang hinggap di hatinya, namun ia berusaha untuk tetap tegar demi keluarganya. Dan tanpa Raina sadari, sepasang mata sedang mengawasinya sejak ia tiba sampai ia keluar dari dalam gedung.
"Neng cantik kenapa?" Tanya seseorang menghentikan langkah Raina.
Raina menoleh kearah sumber suara. Ia melihat kesamping kiri dan kanan. Tidak ada siapapun di sana. "Saya?" Raina bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Lawan bicaranya mengangguk pelan.
"Neng cantik mau melamar pekerjaan di kantor ini?"
Raina balas mengangguk pelan.
"Sayang sekali, Neng cantik terlambat. Penerimaan karyawan baru sudah di tutup sejak kemarin." Ucap Sekuriti itu memberi kabar buruknya. Iya, bagi Raina itu hanya kabar buruk.
"Assalamu'alaikum." Tutup Raina pelan, ia berbalik, berniat meninggalkan Sekuriti itu. Wajah lesunya mewakili perasaannya.
"Wa'a..." Belum sempat menjawab salam, kening Sekuriti itu berkerut, ia mencoba mengingat sesuatu yang menurutnya penting.
"Tunggu sebentar."
"Ada apa Pak?" Tanya Raina sembari menghentikan langkahnya, ia berbalik, kembali menatap pria paruh baya di depannya.
"Neng cantik beneran mau kerja?"
Raina mengangguk.
"Saya sangat butuh pekerjaan. Kerja apa aja terserah, yang penting halal." Jawab Raina memasang wajah serius.
"Di sini masih ada lowongan! Tapi, yang tersisa hanya lowongan untuk Bodyguard. Bodyguard khusus untuk Pak Bos yang punya kantor ini." Sekuriti itu menjelaskan sambil menyodorkan selembar kertas yang berisi info lowongan yang tersisa.
Raina tersenyum, ia merasa lega. Setidaknya masih ada rasa Syukur di hatinya karena Tuhan menyisakan satu lowongan pekerjaan untuknya.
Jadi bodyguard juga pekerjaan. Lirih Raina dalam hatinya.
"Apa yang harus saya lakukan agar pekerjaan ini mutlak milik saya?" Tanya Raina penuh semangat.
"Surat lamaran yang Neng cantik bawa, tinggalkan saja di sini. Kalau Neng cantik tidak mendapatkan panggilan sampai besok sore. Berarti pekerjaan itu bukan rizki Neng catik." Jawab Sekuriti itu menegaskan.
"Saya mengerti. Saya pamit. Assalamu'alaikum." Ucap Raina menutup perbincangan. Saking senangnya, Raina sampai lupa memperkenalkan diri.
Sekuriti itu masih menatap Raina dengan tatapan heran. Ia tidak menyangka gadis berjilbab yang ia ajak bicara akan sebahagia itu walau menjadi seorang Bodyguard.
Lima menit sejak kepergian Raina, dua mobil mewah memasuki halaman kantor. Terlihat beberapa staf dan pemegang saham keluar hanya untuk menyambut kedatangannya.
"Enaknya jadi Bos. Baru datang langsung di sambut. Tapi, dari pada jadi Bos galak kayak Pak Shawn yang ganasnya minta ampun, mending saya jadi Sekuriti aja. Gusti. Gusti, sebenarnya saya ini ngomong opo to?" Ucap Sekuriti paruh baya itu sambil menepuk jidatnya.
"Pak Halil." Panggil seseorang. Panggilan itu sontak mengagetkan Sekuriti bertubuh gembul itu.
"Mas Robin. Ada apa Mas?"
Semua orang tahu Robin adalah Sekertaris hebat dan baik hati. Kepribadian Shawn yang dingin dan jutek tidak bisa membuat Robin berpaling darinya. Bersahabat sejak SMA tidak membuat Shawn bersikap lunak padanya. Bagi Shawn, yang salah tetap salah dan harus di tindak
"Pak Halil, saya ingin melihat berkas kandidat yang melamar menjadi Bodyguard Pak Bos?"
"Sesuai permintaan Mas Robin, sepuluh orang sudah menyerahkan berkas lamaran. Mas Robin tinggal pilih, kira-kira siapa yang paling cocok."
"Terima kasih, Pak."
"Oo iya, Mas. Di antara semua pelamar yang datang, salah satunya seorang wanita. Orangnya cantik dan juga baik!" Pak Halil mengabarkan beritanya, seandainya Robin datang lebih cepat ia pasti bisa bertemu dengan sosok yang di maksud pak Halil.
Robin sendiri terkejut mendengar penuturan Pak Halil, ia menatap pria paruh baya itu dengan tatapan tak percaya.
"Wanita? Itu terlalu berat untuknya. Menghadapi Shawn tidak akan mudah." Menghadapi Bos sekaligus sahabatnya itu akan menjadi batu sandungan menakutkan, entah gadis tidak beruntung mana yang melamar menjadi Bodyguard Bos jutek.
...***...
Waktu menunjukan pukul 17.30
Raina bersiap memasuki Musalla yang sengaja dibuat di dalam rumah. Mengajar adik-adik panti mengaji adalah kebahagian yang luar biasa bagi Raina
Iqra' bismi Rabbikal ladzii khalaq
Khalaqal insaana min 'alaq
Iqra' wa Rabbukal akram
Alladzii allama bil qalam
Allamal insaana maa lam ya'lam.
bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah.
Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam.
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Raina mengulang bacaan surah Al-alaq kemudian diikuti oleh adik-adiknya.
"Manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah, dan sebaik-baik Manusia adalah yang paling baik Akhlaknya. Kakak berharap kalian tumbuh menjadi anak-anak yang Shalih dan Shaleha. Allah yang telah menciptakan kita, dan hanya kepada Allah kita akan kembali. Jangan sampai kesombongan memenuhi hati, Allah tidak suka pada Manusia yang berbuat kerusakan." Adik-adik panti menyimak penuturan Raina dengan Khusuk. Tidak ada yang bermain.
Tersisa lima menit sebelum Adzan Maghrib berkumandang. Sekali lagi Raina dan adik-adiknya mengulang membaca surah Al-Alaq, dan benar saja Adzan Maghrib mulai berkumandang di seluruh seantaro Kota.
Setelah Solat Isya, Raina kembali kekamarnya. Sejak siang ia menunggu panggilan, sayangnya panggilan yang ia nantikan tak kunjung tiba. Raina menghela nafas kasar.
"Sepertinya aku tidak di takdirkan untuk pekerjaan itu." Lirih Raina pelan, ketika ia akan berbaring, tiba-tiba ponselnya berdering. Melihat nomor asing membuat Raina bersemangat.
"Assalamu'alaikum. Benarkah! Baik Pak. Baik Pak. Besok saya akan datang tepat waktu, terima kasih."
Tut.Tut.Tut.
Orang di sebrang sana mematikan ponselnya tanpa mengucapkan Salam. Meskipun begitu Raina tetap bersemangat. Tak sabar menunggu hari esok
...***...
Jam sembilan tepat Shawn menerima profil Bodyguard barunya. Siang ini mereka akan bertemu. Perlahan Shawn mulai membaca profil Bodyguard barunya. Calon pertama Shawn memicingkan mata, kemudian melempar dokumen yang baru ia baca kesembarang arah.
"Sebenarnya, ada wanita yang melamar menjadi Bodyguard baru untuk mu." Ucap Robin memecah keheningan. Shawn mulai melirik Robin dengan tatapan tajam.
"Apa kau pikir aku pecundang yang membutuhkan perlindungan wanita?" Tanya Shawn kesal. Robin hanya bisa menelan saliva. Ia merasa sedikit tegang.
"Berani sekali kau menjadikan wanita sebagai Bodyguard ku? Pecat dia sebelum matahari terbenam. Jika tidak, kau akan tahu betapa menakutkannya diriku." Bentak Shawn kasar.
Dengan tegas Shawn meminta Robin meninggalkannya sendirian. Robin keluar dari kantor Shawn tanpa berucap sepatah katapun.
Prang!
Terdengar bunyi pecahan kaca cukup keras. Robin tahu sahabatnya itu pasti bersedih. Bisa saja saat ini ia sedang memikirkan masa lalunya, sosok yang membuatnya bahagia dan sosok yang sekaligis membuatnya sangat menderita.
"Aku membencimu Angel. Aku sangat membencimu. Aku tahu kau pasti sedang bersenang-senang di suatu tempat. Jadi, aku memperingatkanmu, jangan pernah mucul dihadapanku!" Gerutu Robin kesal sambil berjalan menuju kantor sekertaris, kantor yang berada tepat di samping kantor Shawn.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 154 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒎𝒔𝒉 𝒏𝒚𝒊𝒎𝒂𝒌 𝒏𝒊𝒉
2024-07-19
0
Enung Samsiah
blm faham ceritanya,,, masih nyimak kekerasan apanih??
2023-10-18
2
Neulis Saja
masih nyimak
2023-10-06
0