Reuni

Waktu menunjukkan pukul 21.19 ketika Raina Salsadila menyelesaikan pekerjaannya di dapur, ia kemudian memutuskan kembali ke kamarnya. Pelan Raina melangkahkan kaki menuju meja belajar yang jaraknya sepuluh langkah dari ranjang tempat tidurnya. Kamar yang sangat sederhana. Terdapat ranjang yang terbuat dari kayu jati, sebuah lemari dan meja belajar yang mengisi kamarnya. Tidak ada barang mewah di dalamnya.

'Saleha Is Me'

Berkali-kali Raina membaca buku itu, namun tetap saja ia ingin terus membacanya seolah buku itu menjadi candu baginya.

"Sebelum tidur, aku harus mengulangi hafalanku. Hanya waktu sebelum tidur yang kupunya, dengan begitu hafalan Qur'an ku tidak akan menghilang." Ujar Raina sambil meraih Al-qur'an terjemah dan Tajwid warna.

Ta ha.

Ma anzalna alaikal-qur'ana litasyqa.

Illa tazkiratal limay yakhsya.

Tanzilam mim man khalaqal arda

was-samawatil-ula.

Ar-rahmanu alal arsyistawa.

Lahu ma fis-samawati wa ma fil ardi wa ma bainahuma wa ma tahtas sara.

Wa in taj-har bil-qauli fa innahu ya'lamus-sirra wa akhfa.

Allahu la ilaha illa huw, lahul-asma ul husna.

Thaha.

Kami tidak menurunkan al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.

Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).

Diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

(Yaitu) yang maha pengasih, yang bersemayam di atas 'arsy.

Milik-nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada dibumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.

Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.

(dialah) Allah, tidak ada Tuhan selain dia yang mempunyai nama-nama yang terbaik.

Tiba-tiba saja Raina meneteskan air mata. Memori tentang masuk islamnya Sayyidina Umar Bin Khattab seolah berputar di kepalanya. Ada perasaan sedih juga bahagia.

Betapa indahnya pesan Agama ini.

Allah.

Muhammad.

Raina tidak bisa menahan derai air matanya. Dua nama yang sedari tadi ia sebut dalam lisan dan hatinya seolah menuntut bukti seberapa besar rasa cinta gadis itu untuk agamanya.

"Allah. Aku akan melakukan segala perintahmu semampu ku. Bimbing langkah kakiku." Raina bernafas lega sambil menghapus air matanya.

"Nak, kenapa kau belum tidur?" Suara Bu Rahayu mengagetkan Raina. Segera ia meraih ponsel untuk melihat jam. Betapa terkejutnya Raina saat mendapati waktu telah menunjukkan angka 23.15.

"Apa ada yang mengganggu mu?" Tanya Bu Rahayu lagi dari balik daun pintu.

"Tidak, ada Bu. Raina sedang mengulang hafalan dan tanpa Raina sadari waktu berjalan begitu cepat. Raina akan tidur, sekarang." Ucap Raina setelah ia membuka pintu dan berdiri di depan Ibu-nya.

"Cepat tidur." Ujar Bu Rahayu, ia mencium kening putri tersayangnya, mengusap wajah cantik putrinya, kemudian berlalu menuju kamarnya.

Raina kembali berkutik dengan ponselnya, ia mengernyitkan keningnya. Begitu banyak pesan yang masuk dari nomor yang tidak ia kenal.

Hai Nona Sendirian.

Apa yang sedang kau lakukan?

Apa kau marah padaku?

Haiii.

Haiii.

Raina tersenyum sambil membaca pesan di kotak masuknya. Ia langsung tahu sang pengirim pesan, karena hanya satu orang yang akan memanggilnya dengan panggilan 'Nona Sendirian'

Assalamu'alaikum.

Aku tidak akan pernah bisa marah pada Pak Robin.

Sampai jumpa di lain waktu. Selamat malam. Ujar Raina pada pesan singkatnya

Sementara di tempat berbeda, Robin masih sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Tatapannya terarah pada komputer yang masih menyala di hadapannya.

Dert.Dert.Dert.

Robin tersenyum sambil segera meraih ponselnya. Ia masih tidak percaya mendapat balasan pesannya selarut ini.

"Nona Sendirian, selamat malam." Ucap Robin pelan sambil tersenyum dan beranjak menuju kasur empuknya.

...***...

Semua orang sudah berkumpul di kantor Tuan Shawn, kecuali sang pemilik-nya sendiri yang belum datang. Sepuluh menit yang lalu, Shawn sudah mengkonfirmasi bahwa ia akan sedikit terlambat.

"Nona sendirian. Aku pikir kau marah padaku, karena itu kau mengabaikan pesan ku. Nyatanya, aku salah." Celetuk Robin memecah kesunyian. Sekarang semua mata tertuju padanya.

"Nona sendirian? Bukankah itu panggilan aneh Mas Robin untuk Neng Raina? Kenapa masih memanggilnya seperti itu?" Pak Yanto mulai membuka suara.

"Ceileee! Sepertinya Mas Robin akan menunjukkan jurus mautnya pada Neng Raina!" Agil meledek Robin sambil membuat bentuk hati dengan tangannya.

Hhhmmmm.

Shawn tiba-tiba masuk mengagetkan semua orang. Bahkan Pak Bobby yang sedang minum langsung tersedak karena terkejut.

Kenapa semua orang takut padanya? Dia terlihat normal, dia tidak aneh! Raina bergumam di dalam hatinya. Tanpa sengaja, ia menatap wajah Shawn, hanya sekilas. Kemudian ia langsung menundukkan pandangannya.

"Aku yakin kau sudah mengenal mereka dari data yang kau punya, tapi aku ingin mereka memperkenalkan diri mereka sendiri." Ucap Robin sambil menunjuk kearah empat orang yang berdiri di sebelah kirinya.

Shawn menatap sekilas kearah tangan Robin. Kemudian mengalihkan pandangannya tanpa memperdulikan sosok yang akan menjadi Bodyguard-nya.

"Perkenalkan, Tuan. Nama saya, Yanto."

"Saya, Agil."

"Saya, Bobby. Dan disamping saya ini Neng..."

"Cukup basa-basi tidak bergunanya." Shawn memandang Bobby sambil melempar dokumen kontrak kerja yang harus di patuhi oleh setiap Bodyguart-nya.

"Kemanapun aku pergi, dua orang di antara kalian harus ikut bersamaku. Kalian harus berdiri lima meter dari tempat ku berada."

Hhhmmmm.

Tanpa sengaja Raina menghela nafas kasarnya sembari mendengarkan ucapan Shawn Praja Dinata, kepalanya tertunduk sempurna.

"Ada apa? Apa kamu kecewa? Kamu bisa mengundurkan diri di hari pertama."

"Kamu satu-satunya wanita yang menjadi pengawalku. Jangan pernah melakukan hal aneh di depan atau di belakang ku. Jika kamu berani melakukannya, kamu akan tahu betapa menakutkannya diriku. Sekarang kalian bisa pergi." Ujar Shawn ketus, entah kenapa setiap kali berhadapan dengan pengawal wanitanya Shawn merasa akan terjadi hal yang tidak akan bisa ia kendalikan di dalam hidupnya, dan hal itu memancingnya untuk bicara kasar.

"Baik, Tuan." Ucap Raina dan rekan-rekannya.

Robin hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan ketus Shawn yang sebenarnya ia tujukan hanya untuk pengawal wanitanya, Raina Salsadila. Setelah Raina tak terlihat lagi oleh netranya, Robin kembali fokus pada alasan pertemuannya dengan Shawn.

Sejujurnya, terselip perasaan salut yang begitu dalam di lubuk hati Robin, beberapa kali bertemu dan berakhir dengan candaan membuat Robin merasa nyaman berada di sisi Raina, sosok yang begitu membuatnya nekat mempertahankan wanita itu agar tetap terlihat oleh indra-nya.

"Fokus, Robin." Lirih Robin pelan sambil menepuk wajahnya kasar.

"Ada apa?" Shawn menatap Robin dengan tatapan heran. Robin hanya menggelengkan kepalanya.

"Minggu depan kita akan berangkat ke Singapura. Tapi sebelum itu, perusahaan kita akan mengadakan acara amal. Donasi yang kita dapatkan, akan di sumbangkan pihak perusahaan kepada warga yang kurang mampu." Robin mengangguk pelan. Ia tidak menyangka Shawn kembali seperti semula. Shawn yang ceria dan selalu berbagi pada sesama.

"Tolong periksa ulang dokumen ini sebelum aku mengirimnya pada rekan bisnis kita yang ada di Singapura." Pinta Robin sambil menyodorkan dokumen yang ada di tangannya, Shawn mengangguk pelan.

Robin tak bisa melepas tatapannya dari wajah tampan sahabatnya, Shawn Praja Dinata. Ia berharap sahabatnya itu akan meneguk kebahagiaan tanpa harus bersembunyi di balik rasa sakitnya lagi.

...***...

Lantai 25 tidak terlalu ramai karena hanya terdapat enam ruangan saja. Ruangan pertama, di isi oleh Robin dan asisten-nya, Rita. Tak jauh dari kantor Robin, terdapat Pantry tempat Shawn biasa membuat kopi jika harus terpaksa lembur.

Sementara itu, kantor Shawn terdapat di ujung koridor. Ruang terbesar dengan segala kenyamanan. Bahkan di dalamnya terdapat ruang pribadi yang di lengkapi dengan kamar tidur dan tempat olahraga jika gundah datang melanda.

Jarak lima meter dari kantor utama sang CEO tampan, Shawn Praja Dinata. Terdapat Musalla yang sengaja di bangun jika sesekali Shawn mampir untuk Shalat di sana. Shawn jarang sekali memasukinya, ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia melaksanakan Shalat wajibnya. Di depan Musalla, terdapat dua ruang khusus istirahat, ruang dengan cat biru khusus untuk wanita, dan di sebelahnya ruang dengan cat putih khusus untuk pria.

Saat ini di pantry, Yanto, Bobby, Agil dan Raina menikmati waktu luang mereka, menikmati segelas kopi panas sambil bercanda-tawa.

"Ini koffe pertama yang Neng Raina buat untuk kami. Rasanya benar-benar nikmat." Ujar Pak Bobby sambil menyunggingkan senyum tulusnya.

"Kemanapun aku pergi, dua orang di antara kalian harus ikut bersama ku. Kalian harus berdiri lima meter dari tempat ku berada." Agil menirukan ucapan Shawn lengkap dengan wajah datarnya.

"Ada apa? Apa Kamu kecewa? Kamu bisa mengundurkan diri di hari pertama." Dengan santainya Agil kembali menirukan gaya Shawn Praja Dinata, tanpa ia sadari sosok Robin berdiri tepat di belakangnya. Semua orang terdiam melihat Robin dengan wajah masamnya.

Apa Pak Robin marah? Bagaimana jika dia melapor pada Tuan Shawn? Raina menelan saliva sambil merunduk, ia terlalu tegang.

Sepertinya Reuni mereka kali ini akan menjadi Reuni terakhirnya. Jika Tuan Shawn mengetahui mereka membicarakannya di belakang punggungnya, tidak ada kata yang akan keluar dari mulut pria itu selain kata 'KALIAN DI PECAT' membayangkannya saja membuat Raina merinding seketika.

...***...

Terpopuler

Comments

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕

𝑨𝒈𝒊𝒍 𝒌𝒐𝒄𝒂𝒌

2024-07-19

0

Sinta Amalia

Sinta Amalia

MasyaAllah
ternyata galak² swan Sholeh juga

2024-07-15

0

Neulis Saja

Neulis Saja

hal seperti dlm bayanganmu itu hanya ketakutanmu saja Raina

2023-10-07

0

lihat semua
Episodes
1 Mimpi
2 Kemarahan Shawn
3 Uji Nyali
4 Amarah Shawn!
5 Memberi Pertolongan
6 Shawn Praja Dinata
7 Berdamai (Sawn&Robin)
8 Reuni
9 Acara Amal
10 Terpesona
11 Hukuman
12 Maafkan Aku
13 Bersikap Normal
14 Senja Bersama Mu
15 Lebih Dekat
16 Mencurimu
17 Merindukan Mu
18 Ikatan
19 Ide Gila
20 Ancaman
21 Dilema
22 Satu Atap
23 Menutupi Perasaan
24 Hujan dan Air Mata
25 Menemukan Jejakmu
26 Kesedihan Andre
27 Semenit Lebih Dekat
28 Lamaran Yang Gagal
29 Menghindar
30 Terjebak
31 Pelita
32 Nasihat Untuk Sawn
33 Pesta
34 Harga Diri
35 Kecewa
36 Hati Yang Terluka
37 Menepis Rasa
38 Perdebatan
39 Impian Raina
40 Tergoda
41 Nasihat Bu Romlah
42 Kerinduan Sawn
43 Gosip
44 Pertengkaran Wanita
45 Berita Duka
46 Orang Asing
47 Meeting Friend (Part 1)
48 Meeting Friend (Part2)
49 Makan Malam
50 Akhir Dari Kisah Lama
51 New Days
52 Tergoda Lagi (Raina)
53 Senandung Cinta (Sawn)
54 Rahasia (Part1)
55 Rahasia (Part2)
56 Rahasia (Part3)
57 Salah Paham
58 Perasaan Cinta (Sawn)
59 Cemburu
60 Maaf
61 Penolakan
62 Masa Lalu
63 Terkejut
64 Meminta Persetujuan
65 Parasit
66 Kecewa
67 Dari hati Ke Hati
68 Gelisah
69 Berbuah Manis
70 Bahagia
71 Pertemuan
72 Mahar
73 Meminta Bantuan
74 Penantian
75 Hadiah
76 Sehari Bersamamu
77 Kecewa
78 Hampir Ketahuan
79 Menjaga Perasaan
80 Menuju Halal
81 Ikatan Suci
82 Gagal
83 Profesor Baru
84 Kediaman Dinata
85 Kediaman Dinata (Part2)
86 Ketika Muslimah Jatuh Cinta
87 Ketika Muslimah Jatuh Cinta (Part2)
88 Clab Malam
89 Adu Jotos
90 Cinta dan Dilema
91 Pelukan
92 Sawn Dan Raina
93 Berkunjung
94 Pertolongan Kedua
95 Berpaling?
96 Menyesalkan Masa Lalu
97 Teman Bicara
98 Menjaga Diri
99 Makna Cinta
100 Sedekah Pagi (Sawn&Raina)
101 Yuna VS Angel
102 Yuna Vs Angel (Part2)
103 Pelampiasan
104 Keyakinan
105 Keputusan Besar
106 Permintaan Raina
107 Kunjungan Tante Alya
108 Haru
109 Curiga
110 Terbongkar
111 Luapan Amarah
112 Tamparan
113 Kejutan Besar
114 Memupuk Cinta
115 Calon Menantu
116 Nyanyian Cinta
117 Rencana Jahat
118 Aku Mencintaimu
119 Pesan Cinta
120 Di Kantor Prof Zain
121 Maukah Kau Menikah Denganku? (Prof. Zain&Yuna)
122 Curhatan Perempuan (Raina&Yuna)
123 Menuju Mu
124 Haruskah Aku Bahagia?
125 Apa Ini Nyata?
126 Tamu Tak Di Undang
127 Tamu Tak Di Undang (Part2)
128 Terluka
129 Terluka (Part2)
130 Hidayah
131 Menyebalkan
132 Sabar Itu Menenangkan
133 Tahajud
134 Ucapan Yang Menenangkan
135 Meminta Restu
136 Meminta Restu (Part2)
137 Menanti Jawaban (Prof. Zain)
138 Keputusan Final
139 Keraguan
140 Surga Cinta
141 Tamu Istimewa
142 Kita di Takdirkan Untuk Bersama (Sawn&Raina)
143 Permintaan Yuna
144 Hati Itu Urusan Allah
145 Panik
146 Bersyukur (Sawn&Raina)
147 Rayuan Malam (Zain&Yuna)
148 Resepsi
149 Resepsi (Part2)
150 Arti Sebuah Nama
151 Mencintai Bodyguard Saleha
152 Terima Kasih
153 Pengumuman!
154 Sepupu, Jadikan Aku Istrimu
Episodes

Updated 154 Episodes

1
Mimpi
2
Kemarahan Shawn
3
Uji Nyali
4
Amarah Shawn!
5
Memberi Pertolongan
6
Shawn Praja Dinata
7
Berdamai (Sawn&Robin)
8
Reuni
9
Acara Amal
10
Terpesona
11
Hukuman
12
Maafkan Aku
13
Bersikap Normal
14
Senja Bersama Mu
15
Lebih Dekat
16
Mencurimu
17
Merindukan Mu
18
Ikatan
19
Ide Gila
20
Ancaman
21
Dilema
22
Satu Atap
23
Menutupi Perasaan
24
Hujan dan Air Mata
25
Menemukan Jejakmu
26
Kesedihan Andre
27
Semenit Lebih Dekat
28
Lamaran Yang Gagal
29
Menghindar
30
Terjebak
31
Pelita
32
Nasihat Untuk Sawn
33
Pesta
34
Harga Diri
35
Kecewa
36
Hati Yang Terluka
37
Menepis Rasa
38
Perdebatan
39
Impian Raina
40
Tergoda
41
Nasihat Bu Romlah
42
Kerinduan Sawn
43
Gosip
44
Pertengkaran Wanita
45
Berita Duka
46
Orang Asing
47
Meeting Friend (Part 1)
48
Meeting Friend (Part2)
49
Makan Malam
50
Akhir Dari Kisah Lama
51
New Days
52
Tergoda Lagi (Raina)
53
Senandung Cinta (Sawn)
54
Rahasia (Part1)
55
Rahasia (Part2)
56
Rahasia (Part3)
57
Salah Paham
58
Perasaan Cinta (Sawn)
59
Cemburu
60
Maaf
61
Penolakan
62
Masa Lalu
63
Terkejut
64
Meminta Persetujuan
65
Parasit
66
Kecewa
67
Dari hati Ke Hati
68
Gelisah
69
Berbuah Manis
70
Bahagia
71
Pertemuan
72
Mahar
73
Meminta Bantuan
74
Penantian
75
Hadiah
76
Sehari Bersamamu
77
Kecewa
78
Hampir Ketahuan
79
Menjaga Perasaan
80
Menuju Halal
81
Ikatan Suci
82
Gagal
83
Profesor Baru
84
Kediaman Dinata
85
Kediaman Dinata (Part2)
86
Ketika Muslimah Jatuh Cinta
87
Ketika Muslimah Jatuh Cinta (Part2)
88
Clab Malam
89
Adu Jotos
90
Cinta dan Dilema
91
Pelukan
92
Sawn Dan Raina
93
Berkunjung
94
Pertolongan Kedua
95
Berpaling?
96
Menyesalkan Masa Lalu
97
Teman Bicara
98
Menjaga Diri
99
Makna Cinta
100
Sedekah Pagi (Sawn&Raina)
101
Yuna VS Angel
102
Yuna Vs Angel (Part2)
103
Pelampiasan
104
Keyakinan
105
Keputusan Besar
106
Permintaan Raina
107
Kunjungan Tante Alya
108
Haru
109
Curiga
110
Terbongkar
111
Luapan Amarah
112
Tamparan
113
Kejutan Besar
114
Memupuk Cinta
115
Calon Menantu
116
Nyanyian Cinta
117
Rencana Jahat
118
Aku Mencintaimu
119
Pesan Cinta
120
Di Kantor Prof Zain
121
Maukah Kau Menikah Denganku? (Prof. Zain&Yuna)
122
Curhatan Perempuan (Raina&Yuna)
123
Menuju Mu
124
Haruskah Aku Bahagia?
125
Apa Ini Nyata?
126
Tamu Tak Di Undang
127
Tamu Tak Di Undang (Part2)
128
Terluka
129
Terluka (Part2)
130
Hidayah
131
Menyebalkan
132
Sabar Itu Menenangkan
133
Tahajud
134
Ucapan Yang Menenangkan
135
Meminta Restu
136
Meminta Restu (Part2)
137
Menanti Jawaban (Prof. Zain)
138
Keputusan Final
139
Keraguan
140
Surga Cinta
141
Tamu Istimewa
142
Kita di Takdirkan Untuk Bersama (Sawn&Raina)
143
Permintaan Yuna
144
Hati Itu Urusan Allah
145
Panik
146
Bersyukur (Sawn&Raina)
147
Rayuan Malam (Zain&Yuna)
148
Resepsi
149
Resepsi (Part2)
150
Arti Sebuah Nama
151
Mencintai Bodyguard Saleha
152
Terima Kasih
153
Pengumuman!
154
Sepupu, Jadikan Aku Istrimu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!