Ssssss!
Aaaaaa!
Raina meringis menahan nyeri di sekujur tubuhnya, bahkan pergelangan tangannya tak bisa di gerakkan. Sungguh, tidak ada yang menyangka kejadian buruk itu akan menimpa Shawn Praja Dinata di hari besar perusahaannya. Miris memamg, namun untungnya kejadian buruk itu bisa di hindari.
"Neng Raina, ayo kita kerumah sakit. Di lihat dari bagaimana Neng Raina terpelanting bersama Tuan Shawn, saya yakin Neng Raina tidak baik-baik saja."
"Alhamdulillah. Saya baik-baik saja. Pak Bobby tidak perlu cemas." Ujar Raina sambil menahan sakitnya.
"Baik-baik saja apanya? Neng Raina hampir celaka. Tidak bisa di pungkiri, hal seperti ini akan sering terjadi. Kita harus berhati-hati." Sambung Pak Yanto menegaskan.
Raina hanya bisa mengangguk pelan. Terlihat jelas kekhawatiran dari wajah Pak Yanto. Tentu saja Ia khawatir, maklum saja di antara para pengawal, beliaulah yang paling senior.
"Aku tidak perduli. Jika dalam 24 jam bajingan itu tidak bisa di temukan, jangan salahkan Aku tempat usahamu akan tamat seiring dengan terbitnya matahari esok pagi."
Tut.Tut.Tut.
Raina benar-benar terkejut melihat amarah yang di tunjukkan Robin. Pria rupawan itu mematikan ponsel tanpa mendengar alasan lawan bicaranya.
Apa dia sungguh semenakutkan itu jika sedang marah? Batin Raina, ia mengalihkan pandangannya dari Robin yang masih terlihat kesal. Jujur, Raina bisa memahami amarah Robin saat ini, sahabat yang sangat di cintainya hampir saja terluka.
Terluka?
Raina memengang dadanya, dadanya berdebar kencang. Ada perasaan aneh yang Ia rasakan memasuki relung hatinya. Sekilas, wajah tampan milik Shawn muncul ketika Ia mencoba memejamkan matanya.
Allah. Ada apa dengan ku?
Begitu mudahnya hati ini terpaut pada seseorang yang tidak Ku ketahui kualitas imannya.
Bimbing hati ku ya Allah.
Raina berperang dengan pikirannya sendiri, ia menghela nafas sambil memandangi Robin yang tepat berada di depan netranya.
"Apa Aku membuat mu ketakutan?" Robin bertanya, ia menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Raina yang mendengar ucapan Robin hanya bisa menggelengan kepala. Mengisyaratkan kalau Ia baik-baik saja padahal sebenarnya Ia sedang tidak baik-baik saja.
"Apa masih sakit? Besok Kau tidak perlu bekerja. Kau boleh Istirahat selama dua hari!" Mendengar ucapan Robin, Raina hanya bisa mengangguk pelan.
"Terima kasih, sepertinya Saya memang butuh istirahat untuk menenangkan hati dan pikiran Saya." Balas Raina lagi.
Menenangkan pikiran? Raina sendiri bingung harus menenangkan pikirannya karena apa? Apa karena peristiwa tadi membuat jiwanya terguncang? Entahlah, Ia sendiri tidak bisa menebaknya. Bila itu karena cinta, tidak mungkin semudah itu dia jatuh cinta, kan?
Jika kamu jatuh cinta dan menikah dengan orang yang tepat maka kamu akan menjadi Ratu. Namun, jika kamu jatuh cinta dan menikah dengan orang yang salah maka kamu akan jadi babu.
Ratu dan Babu?
Raina mengetahui hal itu, namun tetap saja hatinya masih berdebar oleh karisma seorang Shawn Praja Dinata. Tidak penting seberapa banyak hartanya, yang terpenting bagaimana Ia menjaga cinta dan kasih sayangnya.
...***...
Acara Perusahaan Tuan Shawn kaco. Jangan ada yang berani mencelanya ketika beliau pulang, abaikan jika beliau mulai marah.
Sumi menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya kasar dari bibir. Membaca pesan singkat dari suaminya membuatnya merinding. Bagaimana tidak, kemarahan Shawn berarti bencana. Dia tidak akan memarahi satu orang saja, melainkan semua orang.
"Tuan sedang kesal." Sumi mulai menyampaikan pesan suaminya dengan perasaan was-was.
"Kenapa Tuan kesal? Apa terjadi hal buruk padanya?" Melati yang baru tiba langsung nimbrung di antara Bu Sumi dan Ega.
"Apa kamu sudah mengambil pakaian kotor di kamar Tuan Shawn? Jangan sampai kita terkena amarah beliau lantaran tumpukan baju kotor." Ucap Bu Sumi mengingatkan.
"Jangan khawatir Mbok, saya..." Ucapan Melati tertahan di tenggorokannya begitu melihat sosok yang mereka bicarakan melintas dan menaiki anak tangga.
Tidak akan ada yang berani menatap mata Tuan Shawn yang di penuhi amarah. Tiga ART beda generasi itu lebih memilih mundur dan menatap punggung Tuan Shawn yang saat ini sedang menaiki anak tangga dengan tatapan kasihan.
Prakkk!
Shawn masuk kekamarnya di iringi bantingan pintu cukup keras. Membuat Bu Sumi, Ega dan Melati terkejut, mereka panik.
Di kamarnya, Shawn memandangi wajahnya di cermin sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia terlalu kesal sampai ingin meluluh lantakkan semua hal yang ada di depannya. Untungnya ia bisa mengendalikan emosinya.
Tut.Tut.Tut.
Getaran yang bersumber dari ponsel yang ada di sakunya membuat Shawn tersadar dari pikiran kejamnya. Ia meraih ponsel itu dengan tangan kirinya kemudian menggeser tombol berwarna hijau.
"Katakan, apa kamu sudah menemukan dalang kekacauan itu? Apa? Aku tidak perduli. Segera tangkap bajingan itu. Jika besok dia belum tertangkap, kamu akan tahu betapa menakutkannya diriku." Ancam Shawn pada lawan bicaranya di sebrang sana.
Shawn memutus sambungan telponnya secara sepihak, ia mulai berteriak, tanpa berpikir panjang ia bahkan melempar ponselnya kesembarang arah hingga ponsel itu hancur menghantam dinding kamarnya.
Mencoba menenangkan diri, ia mencoba membaringkan tubuh kekarnya di atas ranjang. Entah kenapa pikirannya menerawang, membayangkan wajah cantik Raina yang meringis kesakitan. Ia meraba dadanya, masih terasa kehangatan tangan Raina yang melingkar di atas dada bidangnya.
"Gadis itu, siapa namanya? Apa dia baik-baik saja. Terserah, aku sudah melakukan bagian ku untuk mengobatinya. Lagi pula sudah tugasnya untuk melindungiku." Celetuk Shawn dengan perasaan tak menentu.
Setengah jam kemudian, Shawn mulai terlelap tanpa melepas sepatunya. Sepertinya acara amal ini menguras seluruh energinya, ia terlelap masih dalam emosi yang membuncah. Entah apa yang akan dia lakukan jika krimal itu tertangkap dan berdiri di hadapannya.
...***...
Pagi telah tiba dan saat ini Shawn kembali bekerja. Ia berangat kekantor sambil menyetir mobilnya sendiri. Sekujur tubuhnya terasa sakit, hal ini terjadi karena tubuhnya terpelanting membentur lantai.
Lagi-lagi Shawn membayangkan wajah meringis Raina yang menahan sakit. Pandangan mata mereka bertemu untuk pertama kalinya, ada sejuta keteduhan di mata itu. Rasanya, Shawn ingin berlama-lama dalam buaian pesona gadis yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
Tiga jam kemudian Shawn Tiba di ruangannya, di sana sudah ada Robin dan Rita yang menunggu kedatangannya. Shawn menatap kesetiap sudut kantornya, mencari sosok wanita teduh yang sudah menyelamatkannya. Sayangnya, Ia harus kecewa karena netranya tidak bisa menangkap kehadiran gadis yang sangat ingin ia lihat.
"Kau mencari siapa?" Robin bertanya sambil merapikan berkas di tangannya. Ucapan Robin berhasil membuat Shawn terkejut. Tak ingin salah tingkah, Ia pun langsung berjalan kemeja kerjanya.
"Aku meminta Raina untuk istirahat selama dua hari. Dia shock, wajahnya terlihat pucat." Lapor Robin tanpa bisa menangkap wajah kecewa Shawn. Kecewa karena ridak bisa melihat wanita itu.
Raina! Jadi itu nama mu. Shawn tersenyum kecil setelah mengetahui nama Bodyguard wanitanya. Sosok yang sebelumya sangat ia benci.
Dert.Dert.Dret.
Ponsel Robin berdering. Lima panggilan tak terjawab.
"Halo. Apa? Bawa kriminal itu pada ku, sekarang." Ucap Robin pelan, ia takut Sawn mengetahuinya.
Baru saja Robin menutup ponselnya, tiba-tiba Agil, Yanto dan Bobby memasuki ruangan Tuan Shawn sambil menarik paksa dua orang pria. Yang satunya terlihat muda, sementara yang satunya lagi lelaki separuh baya dengan tubuh kurus nyaris tak bertenaga melawan kerasnya cengkeraman Bodyguard telaten milik Shawn Praja Dinata.
Wajah kedua lelaki itu terlihat memar, Shawn yakin ketiga pengawalnya sudah menghajar mereka dengan pukulan keras.
Rita, Yanto, Agil dan Bobby meninggalkan ruangan Shawn sesuai dengan instruksi Robin.
"Kamu? Bukankah kamu wartawan menyebalkan itu?" Robin menunjuk lelaki muda di hadapannya. Kali ini laki-laki itu tampil menawan tanpa menggunakan kaca mata.
"Wartawan?" Shawn bertanya tak mengerti.
"Dia Wartawan palsu yang bertanya tentang masa lalumu." Jawab Robin kesal.
"Dan si tua bangka ini adalah dalang di balik kecelakaan besar yang menimpa Mu. Bukan hanya itu, dia juga di laporkan korupsi ratusan juta Rupiah uang perusahaan." Sambung Robin lagi
Shawn tersenyum sinis.
Sepersekian detik kemudian Robin di kejutkan oleh sikap yang di tunjukkan sahabatnya itu. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya, namun tangannya...
Plakkk!
Shawn menampar laki-laki paruh baya itu hingga tersungkur dan jatuh ke lantai. Shawn berjalan kearah pria itu, kemudian kembali menghajarnya hingga kepala pria itu membentur dinding.
"Di mana hati nurani Mu? Apa kamu tidak memikirkan keluarga Mu? Laki-laki tua seperti Mu berani mencuri di prusahaanku? Aku bisa memaafkan mu sekali, tapi tidak dengan kejahatan Mu karena berani mengacaukan acara yang di selenggarakan oleh perusahaan Ku dan mencoba untuk membunuhku." Shawn tersenyum sinis. Ini pertama kalinya Robin melihat Shawn semenakutkan itu.
"Aku bersumpah, kalian berdua akan membusuk dipenjara. Pengawal, bawa sampah ini dari ruanganku. Pastikan mereka mendapat hukuman seberat-beratnya."
Aahhh!
Shawn berteriak penuh amarah. Kedua lelaki itu mendapat hukuman yang seharusnya mereka dapatkan. Rasanya hukuman penjara tidak akan cukup untuk mereka.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 154 Episodes
Comments
Silvi Vicka Carolina
kenapa di tampar kan sama sama laki ...kenapa gak di bogem aja
2024-07-26
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒊 𝑺𝒉𝒂𝒘𝒏 𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒂𝒓𝒂𝒉" 𝒎𝒆𝒍𝒖𝒍𝒖 𝒋𝒅 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒍 𝒍𝒊𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 😤😤😤
2024-07-19
0
Neulis Saja
a nice
2023-10-07
0