Matahari siang ini terasa semakin terik. Namun, belum ada tanda-tanda Raina dan Robin akan meninggalkan taman. Sesekali Robin menghibur Raina dengan candaan khasnya, membuat Raina tersenyum sambil menutup mulut dengan tangan kanannya.
Raina memberanikan diri untuk menatap Robin dengan perasaan bersalah. Terkadang ia menghela nafas dalam, kemudian kasar menghembuskannya dari bibir.
"Ada apa? Kelihatannya, Nona Sendirian, punya masalah serius. Katakan padaku, apa yang membuat Mu merasakan cemas?"
"Nona Sendirian? Panggilan apa itu?" Raina melotot ke arah Robin dengan tatapan kesal. Ini pertemuan ketiga mereka, namun Robin terus saja memanggilnya dengan sebutan 'Nona Sendirian' maka tidak salah saat Raina memutuskan untuk bertanya kenapa Pria itu selalu memanggilnya seperti itu.
"Aku hanya mencoba akrab dengan Mu. Di pertemuan pertama kita, aku tidak mengetahui nama Mu. Karena kau satu-satunya wanita saat itu, aku memberanikan diri memanggil Mu seperti itu. Maksudku, memanggil Mu dengan sebutan 'Nona Sendirian' apa kau marah?" Selidik Robin sambil memandangi wajah lawan bicaranya.
"Marah?" Raina menggelengkan kepala.
"Aku tidak bisa marah. Justru aku merasa bersalah, gara-gara kehadiran ku hubungan Pak Shawn dan Pak Robin mengalami masalah." Raina menundak. Menyesal.
"Tentu saja! Kau harus memiliki perasaan bersalah terhadap ku, dengan begitu aku bisa menghukum Mu sesuka hati ku." Robin pura-pura meninggikan suaranya.
"Sebagai hukuman, tolong belikan aku makanan. Tadi, aku memang sudah makan. Tapi sekarang aku merasa lapar." Robin memelas sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Lagi-lagi Raina tersenyum melihat tingkah konyol lawan bicaranya. Sebenarnya, Robin sengaja melakukan itu agar Raina melupakan rasa sakitnya.
"Baik Tuan Muda. Perintah Mu akan segera hamba laksanakan." Raina balas mencandai Robin dengan cara yang sama, menangkupkan tangan di depan dada.
Raina dan Robin beranjak meninggalkan taman. Ia sengaja mengajak Robin makan di Restauran tempatnya bekerja. Raina hanya ingin menjelaskan, bahwa dirinya baik-baik saja walau ia gagal bekerja sebagai Bodyguard pribadi pria jutek itu. Pria yang tidak ingin ia temui walau hanya di dalam mimpi, Shawn Praja Dinata.
...***...
"Silahkan duduk. Aku akan segera kembali." Raina meninggalkan Robin dan berjalan kearah dapur.
Tanpa berpikir panjang, Robin langsung duduk namun matanya menerawang kesegala arah. Lima menit kemudian, Raina datang dengan nampan yang terisi penuh oleh makanan.
"Apa kau bekerja di tempat ini?" Robin membuka suara ketika Raina duduk di depannya. Ia bertanya dengan suara datar. Untungnya, Restauran siang ini tidak terlalu ramai sehingga Robin merasa tenang.
Raina mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Makanan ini sangat lezat. Pak Robin tidak akan kecewa." Tutur Raina tanpa melepas senyuman dari bibir tipisnya.
"Terima kasih." Mata Robin terbelalak melihat makanan yang di letakkan Raina di atas meja, ia menelan air liur sambil membayangkan makanan itu melumer di dalam mulutnya.
"Apa kau tidak akan makan bersamaku?" Robin pura-pura memperlihatkan wajah sedihnya, mencoba merayu Raina dengan menunjukkan wajah polosnya. Raina menggelengkan kepala sambil menunjuk minuman dingin yang di pesannya.
"Baiklah. Untuk saat ini aku memaafkan Mu. Lain kali kau harus makan bersamaku."
"Siap, Boss." Balas Raina sambil memberi hormat.
Sementar itu di tempat berbeda, Shawn bingung harus berkata apa pada Robin. Meminta maaf? Egonya terlalu besar dan tidak mengizinkannya melakukan itu.
"Kenapa aku yang meminta maaf? Bukankah semua itu salahnya? Aku sudah memintanya untuk tidak membiarkan wanita itu berkeliaran di sekitarku. Dia tidak mengindahkan perintahku!" Shawn menghentikan aktivitas mondar-mandirnya kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Apa aku benar-benar harus meminta maaf? Ini menyebalkan." Shawn mengacak rambutnya sambil menghela nafas kasar.
Selama sepekan ini Shawn selalu menunggu panggilan dan pesan dari Robin. Sayangnya tidak ada satu pun pesan maupun panggilan yang masuk, mau tidak mau Shawn harus membuang egonya dan menemui Robin terlebih dahulu.
...***...
"Apa anda menyukai makanannya? Anda terlihat menikmatinya, terutama sambalnya." Raina menatap wajah Robin heran. Baru kali ini ia melihat orang makan selahap itu. Dan ini sudah masuk pesanan ketiga. Robin masih sibuk mengunyah makanannya sampai-sampai ia tidak bisa menjawab setiap pertanyaan Raina.
"Ini luar biasa. Aku tidak pernah tahu kalau aku memiliki nafsu makan sebesar ini." Robin berusaha menjelaskan sambil melirik Raina yang masih memandang heran padanya.
"Pak Robin, apa saya boleh mengatakan sesuatu?"
"Katakan saja, tidak ada yang melarang!"
"Anda harus kembali bekerja. Mas Agil mengatakan segalanya." Raina berucap pelan. Ia merunduk, merasa bersalah.
"Nona Sendirian, tidak perlu merasa bersalah karena diriku. Lagi pula, ini bentuk protes ku pada si payah Shawn." Cicit Robil sambil menyebikkan bibirnya.
Raina mengerutkan kening tak mengerti. Protes? Setahunya, Robin yang salah. Lalu protes apa yang di maksud pria yang duduk tenang di hadapannya itu?
"Shawn Praja Dinata adalah sahabat baik ku. Kami berteman sejak sekolah menengah atas." Robin terlihat serius. Pelan ia mulai mengurai kisahnya.
"Beberapa anak nakal menghajar ku secara membabi-buta, dan saat itu Shawn tampil menjadi pahlawan yang menyelamatkan ku dari serangan mereka.
Shawn sangat pandai dalam urusan bela diri. Karena itulah dia tidak membutuhkan Bodyguard. Menurutnya, itu hanya kegiatan yang sia-sia.
Shawn mulai merintis usahanya sejak duduk di bangku kuliah. Aku sangat bangga padanya, walaupun berasal dari keluarga berada tidak sampai membuatnya manja. Terkadang, di pagi hari kami bertengkar. Dan sore harinya kami mulai saling memaafkan." Terlihat senyum manis mengembang di bibir tipis Robin. Mengingat masa lalu membuatnya terlihat bahagia.
"Bisa mengenal Shawn dalam hidup ini membuat ku menjadi orang yang sangat beruntung. Baik hati, penyayang pada keluarga, ramah, berbagi pada orang yang kurang mampu menjadi agenda rutinnya. Dan yang paling ku sukai dari dirinya, ia tidak pernah membedakan antara si kaya dan si miskin. Sikap positif-nya terhadap segala hal selalu membuatku iri." Lagi-lagi Robin menutup kalimatnya dengan senyuman manisnya.
Apa Pak Shawn sungguh sebaik itu? Raina menyimak cerita Robin tanpa berucap sepatah katapun.
"Angel Sasmita." Wajah Robin berubah kesal. Ia langsung mengepalkan kedua tangan-nya setelah menyebut nama itu. Emosi sebesar itu? Pada sorang wanita? Tidak kah itu terlalu berlebihan?
Raina memilih untuk tidak mengucapkan sepatah katapun sebelum ia mengetahui semua rangkaian cerita yang akan di urai Robin sampai tuntas.
"Angel. Wanita itu adalah petaka. Sejak kehadirannya Shawn mulai mengenal cinta dan juga derita. Cinta yang diberikan wanita itu tidaklah seberapa, namun luka yang ia tinggalkan bahkan sampai saat ini masih belum sembuh."
Robin mulai meneteskan air mata. Cinta yang sangat tulus dari sahabat untuk sahabatnya. Raina benar-benar cemburu pada tali persahabatan yang tidak pernah terjalin dalam kehidupannya.
"Wanita itu bertemu Shawn pertama kalinya pada acara festival Film yang di adakan di Bandung. Shawn datang sebagai tamu kehormatan di acara itu." Robin mulai menghela nafas panjang kemudian kasar menghembuskan dari Bibir.
Angel Sasmita? Pertama kali mendengar nama itu, Raina merasa nama itu tidak asing di telinganya.
"Kau benar. Angel yang kau kenal adalah Angel yang sama. Aktris papan atas yang namanya melambung tinggi sampai keangkasa. Bahkan setiap kalangan mengenalnya."
Raina merasa malu. Ternyata Robin mengetahui jalan pikiran sederhananya.
"Segala hal telah di berikan Shawn untuk wanita itu, kecuali menjadikan hubungan mereka konsumsi Publik."
Angel Sasmita, dewinya kecantikan di layar kaca. Pak Shawn benar-benar beruntung. Lirih Raina dalam hati.
"Bukankah kematiannya menjadi buah bibir Semua orang? Jadi, itu sebabnya Pak Shawn berubah menjadi sosok pemarah?"
Pandangan Robin seakan berkata 'Kau salah Raina. Semua itu hanya berita bohong.
"Wanita itu masih hidup." Ucap Robin kesal sambil mengepalkan kedua tangannya. Bagai di sambar petir di siang bolong, Raina terkejut mendengar penuturan terakhir Robin.
Angel masih hidup? Lalu, pertanyaannya, di mana wanita itu sekarang? Raina terlalu penasaran, ia menatap Robin dengan tatapan tak terbaca, ia berharap pria itu akan mengatakan semua hal menyangkut Shawn Praja Dinata sehingga ia bisa memaafkan pria itu dengan lapang dada karena pria itu telah menghinanya pada pertemuan pertama mereka.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 154 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒆𝒈𝒐 𝒌𝒍 𝑺𝒉𝒂𝒘𝒏 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒆 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒃𝒂𝒉 𝒈𝒂𝒓𝒂" 𝑨𝒏𝒈𝒆𝒍 𝒖𝒉 𝒈𝒂𝒌 𝒈𝒖𝒏𝒂
2024-07-19
0
Junaidi Ahmad
Aku Jatuh cinta ma sosok ceweknya, Raina the best.
2024-06-03
1
Neulis Saja
ada apa dgn angel suddenly it disappeared from Shawn's sight untill he was disappointed and closed him off
2023-10-07
0