Kediaman Dinata.
Sepekan berlalu sejak kemarahan Shawn menggema di kantornya. Dan sejak saat itu pula Robin tidak pernah menampakkan batang hidungnya di perusahaan. Ia masih kesal dengan sikap kekanak-kanakan yang di tunjukkan Shawn sebagai Bos sekaligus sahabat terdekatnya.
"Bang Robin beneran mau berhenti bekerja? Kasihan Kak Shawn." Cicit Yuna asal setelah meyeruput kopi panasnya.
"Kalau bukan Bang Robin yang jadi sahabat Kakak mu. Bisa di pastikan, Kakak mu bakalan jadi manusia langka karena tidak ada yang menyukainya." Celetuk Robin sambil menjitak kepala Yuna.
Beberapa hari ini Robin sengaja mengunjungi kediaman Dinata. Ia tahu, dengan kehadirannya akan sedikit mengurangi kerinduan Pak Andi dan Bu Hanum pada putra berharganya, Shawn Praja Dinata.
"Aauuu. Sakit." Yuna meringis sambil mengusap jidatnya yang terasa panas. Sementara Robin? Pemuda nakal itu tertawa cekikikan bagaikan orang kesurupan. Pak Andi dan Bu Hanum hanya bisa menggelengkan kepala melihat kekonyolan Robin dan Yuna.
"Bang Robin, jahattt." Teriak Yuna sambil bersiap untuk mengejar Robin yang sudah berlari meninggalkannya.
"Bagaimana kabar putra kita, Pa? Mama sangat merindukannya." Ucap Bu Hanum dengan wajah di tekuk, Ia merasa heran melihat kedekatan putrinya dengan Robin.
"Gara-gara wanita itu, Shawn kita berubah drastis. Papa tahu dia bersembunyi di suatu tempat, dan Papa yakin tidak lama lagi dia pasti akan keluar dari persembunyiannya." Pak Andi memegang pundak istrinya, ia berharap agar istrinya tidak khawatir.
Hmm! Bu Hanum menghela nafas kasar sambil membayangkan senyum manis putranya. Senyum manis yang tidak ia ketahui kapan kembalinya.
...***...
"Rita, bawakan semua dokumen yang berkaitan dengan klien kita." Perintah Shawn datar dari sambungan telpon kabel yang ada di ruang kerjanya.
"Maaf, Pak. Semua dokumen di tangani langsung oleh Mas Robin. Saya tidak punya salinannya." Balas Rita dengan suara serak.
"Segera hubungi Robin. Aku ingin datanya ada di meja ku sore ini."
"Ba-baik, Pak." Jawab Rita, gugup.
Robin sengaja membawa beberapa hal penting untuk memancing Shawn agar mau mencarinya. Biasanya Shawn akan melakukan itu setelah mendiamkan sahabatnya selama sehari atau dua hari saja. Namun kali ini berbeda, selama sepekan ini tidak ada komunikasi diantara mereka. Robin yang berhasil membuat Shawn kesal malah sedang asyik-asyikan menikmati makan siang di kediaman Dinata ketika suara ponsel mengagetkan dirinya.
"Benarkah? Jangan menghubungi ku lagi. Bos yang butuh, suruh dia mengambilnya sendiri atau menemuiku secara langsung." Ujar Robin membentak Rita. Ia sengaja melakukan itu agar Shawn memakan umpannya.
Tut.Tut.Tut.
Robin mematikan ponsel-nya sambil tersenyum penuh kemenangan. Sementara Rita, kekesalan mulai memenuhi rongga dadanya. Rita berdiri di depan kantor Shawn, dadanya berdebar. Ia berpikir apa yang harus ia lakukan agar Shawn tidak memarahinya.
Tok.Tok.Tok.
Semenit kemudian terdengar suara serak Shawn dari dalam, mempersilahkan Rita untuk masuk.
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Kau boleh pergi, sekarang!" Perintah Shawn tanpa basa-basi. Rita yang mendengarnya terlihat heran.
Bagaimana Bos bisa mengetahui apa yang ingin ku katakan, apa dia hantu? Batin Rita sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Keluar." Ucap Shawn lagi.
Rita mengangguk pelan sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Shawn yang nampak sibuk dengan berkas yang berjejer diatas meja kerjanya.
...***...
"Saat kau pulang, tolong mampir dan belikan adik-adik mu peralatan sekolah." Pinta Bu Rahayu sambil menyodorkan tiga lembar uang seratusan.
"Simpan saja uang-nya, Bu. Raina masih ada tabungan. Raina bisa menggunakan uang itu untuk membeli keperluan adik-adik."
"Tapi nak, kamu kan belum gajian?" Bu Rahayu memegang lengan Raina.
"Ibu tidak perlu khawatir. Allah tidak akan membuat kita kekurangan." Balas Raina menenangkan.
Senyuman yang terpancar dari wajah Raina membuat hati Bu Rahayu menghangat. Sejujurnya, wanita paruh baya itu sudah mengetahui tentang Raina yang tidak bekerja, namun ia lebih memilih diam untuk menjaga harga diri putri tersayangnya. Selama ini Raina tidak pernah menceritakan hal yang akan membuat Bu Rahayu bersedih. Bagi Raina, senyuman Ibunya lebih penting dari dukanya.
Kebiasaan yang paling Bu Rahayu sukai dari Raina, putrinya itu selalu bangun di sepertiga malam. Tahajud kemudian membaca Ayat-ayat cinta dari yang maha sempurna yang keagungannya tak dapat ia jelaskan dengan kata-kata.
...***...
Sepekan berlalu sejak Raina memutuskan bekerja di restauran cepat saji. Ia harus mengantar pesanan kesetiap pelanggan yang memesan secara online. Setelah menyelesaikan tugas, dan di sinilah ia sekarang, di pasar tradisional
"Copet. Copetttt." Suara teriakan berhasil mengalihkan perhatian Raina yang saat ini berada di tengah keramaian.
"Di pasar? Sepanas ini? Dasar manusia tidak berguna, dia memiliki tangan dan kaki, kenapa ia tega mengambil milik orang lain?" Raina mendengus kesal sambil mengikat pasmina yang ia gunakan agar tidak terlepas ketika berduel.
Pria muda berusia dua puluhan itu berlari kencang sambil menenteng tas tangan yang dia ambil secara paksa dari seorang wanita paruh baya.
"Hai kau! Apa kau tidak malu mencuri dari wanita yang seusia dengan Ibu mu? Di mana hati nuranimu?" Raina berteriak kasar sambil melayangkan tendangan ke arah wajah pria muda itu.
Pria itu tersungkur.
"Ciiihhh." Pemuda itu meludah kesembarang arah. Mengekspresikan murkanya pada wanita aneh yang berusaha keras menghalangi kesenangannya. Giginya berdarah, tanpa berpikir panjang pria itu mengeluarkan pisau yang sengaja ia selipkan di balik bajunya.
"Pergi dari sini sebelum aku menggores wajah cantik mu dengan pisau ini." Gerutu pria itu dengan mata melotot.
Raina tersenyum. Ia sangat kesal.
"Jika orang seperti ku pergi, maka orang seperti mu akan semakin banyak berbuat kekacauan." Jawab Raina, santai.
Pria itu semakin kesal mendengar jawaban wanita menyebalkan yang saat ini berdiri di depannya. Dengan cepat Ia berlari ke arah Raina sambil mengayunkan pisaunya. Pertarungan tak bisa di hindari.
Raina nampak kewalahan menghadapi pria muda itu, ia begitu agresif. Tangannya sangat lihai memainkan senjata tajam seolah ia terlatih untuk mencincang daging segar.
"Copettt." Suara pemilik tas tangan kembali terdengar, kali ini ia tidak sendirian. Untuk sesaat, Raina mengarahkan pandangannya kearah sumber suara, tanpa menyia-nyiakan kesempatan, pria itu langsung mengayunkan pisaunya pada lengan Raina.
"Sssstttt. Ahhh." Raina meringis kesakitan. Darah segar mulai mengotori baju putih-nya.
"Kau beruntung Nona karena aku tidak melukai wajah cantikmu." Dengan senyum mengerikan, pria itu mencoba menggoda Raina.
Raina menghela nafas nelangsa, ia menatap pria itu jijik penuh amarah. Bukannya menyurutkan keberaniannya, Raina malah naik pitam lalu menjambak rambut pria itu dan menghadiahi kema-luannya dengan tendangan menukik dari lutut. Lelaki tersebut men-desah kesakitan. Beruntungnya Raina memakai rok elastis dengan dalaman celana penghangat ketat yang nyaman, membuat Raina mudah mengeluarkan jurus-jurus penting andalannya.
Merasa pria itu tidak bisa berkutik, dengan cepat Raina segera mengikat tangannya dengan tali bekas yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Beberapa detik kemudian, pemilik tas tangan tiba bersama puluhan orang yang ingin menghajar pria itu, tapi berhasil di cegah oleh Raina.
"Terima kasih Nona cantik." Ucap wanita paruh baya itu sambil menggenggam tangan Raina, wajah sepuhnya mengukir senyuman lega.
...***...
Raina duduk sambil mengobati lengannya yang terluka. Untungnya, siang ini tidak bayak yang berlalu lalang di taman. Tak jauh dari tempat Raina duduk, sepasang mata terus saja mengawasinya.
"Hai Nona sendirian." Sapa orang itu mengagetkan Raina. Efek terkejut, tanpa sengaja Raina menekan bekas lukanya, darah segar kembali mengalir.
Orang yang mengagetkan Raina menggigit bibir bawahnya, menyesal.
"Pak Robin, apa yang anda lakukan di tempat ini?" Raina bertanya dengan kening berkerut.
"Tadinya, aku ingin mengejutkanmu. Nyatanya, aku sendiri yang terkejut saat melihatmu terluka gara-gara menolong wanita paruh baya itu." Robin menatap lengan Raina yang terluka, seandainya ia tidak terlambat datang, tentu saja ia bisa menolong wanita cantik yang saat ini duduk di depannya.
Raina segera menarik lengan bajunya, berusaha menyembunyikan lukanya. Sayang sekali, Robin sudah melihat segalanya.
"Aku rasa pahlawan perempuan yang di bicarakan orang-orang tadi adalah Nona Raina. Aku merasa bangga." Robin ingin mengusap puncak kepala Raina seperti yang sering ia lakukan pada Yuna, ia segera mengurungkan niatnya karena ia tahu Raina tidak akan menyukainya.
Sepersekian detik kemudian, tidak ada lagi percakapan yang terlontar dari bibir Robin dan Raina, yang ada hanya senyuman tipis untuk mengekspresikan betapa leganya mereka bisa bertemu di luar gedung mewah yang di kepalai oleh pria jutek sekelas Shawn Praja Dinata.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 154 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒑𝒂 𝒊𝒃𝒖 𝒚𝒈 𝒅𝒊 𝒕𝒐𝒍𝒐𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑹𝒂𝒊𝒏𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒎𝒂𝒎𝒂 𝒏𝒚𝒂 𝑺𝒘𝒂𝒏 𝒚𝒂 🤔🤔
2024-07-19
0
Neulis Saja
great you raina💪
2023-10-07
2
Ard@n
awal yang menarik
2022-11-10
0