Dua puluh empat jam sebelum tragedi.
Di dunia ini banyak hal yang sudah kita rencanakan dengan sempurna. Tidak semua hal selalu berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, ada kegagalan yang datang yang sepertinya tak perduli dengan ikhtiar-ikhtiar kita yang sudah menggunung menembus langit.
Sama dengan apa yang di alami Raina, hari itu ia memandangi surat undangan dengan rasa nelangsa luar biasa. Sekujur tubuhnya lemas. Menangis satu-satunya cara meluapkan emosi yang hampir membunuh raganya.
"Lihat anak yatim itu, dia menganggap dirinya Cinderella. Nyatanya dia bukan siapa-siapa selain wanita tak berguna."
"Kau benar. Jika aku jadi dirinya, aku tidak akan berani menampakkan wajah ku di depan semua orang."
"Malu-maluin aja."
Komentar buruk yang di lontarkan orang-orang di sekitarnya bagai bom molotov yang siap meledak kapan saja. Dua tahun berlalu namun kenangan buruk itu masih saja menghantui-nya. Raina menangis sambil menutup mulutnya, takut Bu Rahayu akan mendengar rintihan hatinya. Masa lalu benar-benar mengusik ketenangannya.
"Hatiku tenang karena mengetahui apa yang melewatkan ku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang di takdirkan untuk ku tidak akan pernah melewatkan ku." Lirih Raina pelan sambil memandangi wajah sedihnya dari cermin meja rias yang menggantung tepat di depannya.
Tok.Tok.Tok
"Masuk." Ujar Raina sembari menghapus sudut mata dengan punggung tangannya. Sungguh, mengenang masa lalu selalu saja membuatnya meneteskan air mata. Itu lah sebabnya orang mengatakan, masa lalu hanyalah masa lalu, biarkan semuanya menjadi kenangan.
"Nak, Ibu sudah dengar tentang lukamu, bisakah kamu tidak membuat ibu khawatir?" Cecar Bu Rahayu sambil memposisikan tubuhnya di belakang Raina.
Raina terhenyak.
Tersadar.
Kini hidupnya tidak seharusnya terpaku pada masa lalu.
Selamat jalan, Mr.Shanghai ku. Aku akan mengenang mu sebagai masa lalu.
Setelah merasa tenang, Raina membalikkan tubuhnya menghadap Bu Rahayu sambil meyunggingkan senyuman tipis dari bibir.
"Ibu tidak perlu khawatir. Soal luka itu, itu hanya luka kecil."
"Bagi mu itu hanya luka kecil. Tapi bagi Ibu, mendengar kau terluka rasanya Ibu akan tiada." Bu Rahayu menangkup wajah cantik Raina dengan perasaan takut luar biasa. Raina terkejut mendengar penuturan Ibunya, ucapan singkat itu lebih menakutkan dari segala hal menyakitkan yang pernah ia alami.
Raina menutup bibir Ibunya dengan tangan kanannya, air mata kembali menyapu wajahnya.
"Sekarang katakan, ada apa dengan mu? Apa ada hal lain yang tidak Ibu ketahui yang membuatmu sesedih ini? Katakan Raina, katakan." Bu Rahayu memandang wajah sayu putrinya dengan helaan nafas kasar.
"Setiap bagian dari kehidupan ku adalah milikmu, Bu. Selama Ibu bersamaku, tidak ada derita yang akan menyertai langkah kakiku." Ucap Raina pelan sambil memeluk tubuh Bu Rahayu dengan erat. Raina menyadari tidak ada tempat yang bisa menenangkannya selain pelukan Ibunya, wanita paruh baya yang hadir bagai Malaikat saat dirinya dalam derita. Pelukan hangat Malaikat penyelamatnya.
...***...
"Bagaimana pendapat anda tentang acara malam ini?" Seorang wartawan mencoba mendekati Robin sambil mendekatkan kameranya.
Robin tidak menghiraukan wartawan itu, ia terus saja melangkahkan kakinya, tidak ada waktu untuk wawancara.
"Pak Robin, saya tahu anda sahabat dekat Pak Shawn Praja Dinata, bagaimana pendapat ada jika Pak Shawn menjalin hubungan dengan Nona Reshta Pramuja, akankah ia melupakan masa lalunya dengan Nona Angel Sasmita?" Wartawan berkaca mata itu menabrak punggung Robin karena Robin tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
"Jangan pernah mengungkit masa lalu. Jika kau ingin berada di tempat ini, telan saja pertanyaan bodoh Mu itu." Robin marah sambil menunjuk wajah wartawan itu dengan jari telunjuknya. Matanya memerah karena kesal. Melihat sikap Robin, dengan cepat Raina berlari mendekatinya seraya membawa kotak kado sesuai permintaan Tuan Shawn.
"Kita sudah terlambat. Ayo kita pergi." Raina tersenyum, ia melingkarkan tangannya di lengan Robin.
"Berani sekali wanita seperti Mu mengganggu wawancara kami. Siapa kamu?" Wartawan berkacamata itu menatap Raina dengan tatapan tidak suka. Raina balas menatap wartawan itu dengan tatapan sinis.
"Kenapa membuat keributan di tempat ini. Anda bertanya saya siapa? Saya bukan siapa-siapa, saya hanya ingin anda melakukan wawancara di tempat yang sudah di sediakan oleh pihak penyelenggara acara kami." Celetuk Raina dengan nada suara santai, ia tidak mau terpancing emosi kemudian menggunakan tangannya sebagai jawaban dari pertanyaan. Dengan cepat Raina menarik lengan Robin dan meninggalkan wartawan yang masih berdiri mematung.
"Kalian terlalu sombong, lihat saja nanti. Kalian semua akan merasakan akibatnya." Lelaki muda itu tersenyum sinis, ia mengepalkan tangannya kegirangan. Entah apa yang direncanakan otak jahatnya.
...***...
Pendar cahaya menyinari salah satu Ruang Ballroom Hotel, bersama dengan gemerlapnya malam, alunan music romantis menemani semua tamu undangan.
"Selamat malam hadirin yang terhormat. Mari kita sambut CEO muda kita yang kemampun dan bakatnya tidak di ragukan lagi. Beri tepuk tangan yang meriah, ini dia CEO kita Shawn Praja Dinata." Suara Mc itu menggelegar penuh dengan semangat.
Shawn memamerkan senyum manisnya. Ia memasuki tempat acara di dampingi seorang peri cantik. Semua mata tertuju pada dua bintang yang berjalan kearah mereka.
Shawn Praja Dinata, sejatinya dialah bintang malam ini. Tangan Restha Pramuja masih melingkar di lengannya. Tadinya ia menolak, namun Restha bersikeras dengan alasan teman lama.
"Waw, dewi ku!" Agil kegirangan melihat Restha masuk sambil menggandeng lengan Shawn, ada setitik kecemburuan yang terselip di dalam hatinya, cepet-cepat ia menepis pikiran konyol itu karena ia tahu ia berada di level berbeda.
"Neng Raina, wanita yang bersama Tuan Shawn itu namanya Non Restha, dewinya Negara ini. Pak Shawn beruntung banget. Perinya pergi dan sekarang di ganti Bidadari pula." Ujar Agil sambil membenarkan posisi berdirinya, ia berdiri di samping Pak Bobby. Raina hanya mengangguk tanda setuju.
Shawn mengantar Restha sampai di meja tempat duduknya. Kemudian ia langsung berjalan menuju mimbar menyapa semua tamu undangan.
"Selamat malam hadirin yang berbahagia, tentunya saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Semua orang mengenal saya dengan sebutan Mata Elang karena setiap proyek yang saya lakukan sembilan puluh sembilan persen berhasil total." Semua orang bertepuk tangan bangga mendengar ucapan Shawn, walau tidak ingin mengakuinya nyatanya itulah kebenarannya.
"Anda tahu? Di samping kesuksesan ini beberapa orang juga mengatakan kalau saya seorang Bos penuh dengan derita? Ucapan konyol apa itu?" Sindir Shawn di hadapan para tamu undangan, karena Shawn sadar beberapa orang yang berbicara buruk tentang dirinya saat ini sedang menikmati perayaan malam ini.
Sebenarnya Shawn pernah mendengar ucapan itu dari gerombolan karyawan wanita yang tidak sengaja satu lift dengannya, tanpa mengetahui Shawn bersamanya, mereka terus saja bergosip bagai burung Beo yang terus saja mengulangi ucapannya.
"Bagi saya pribadi, malam ini adalah malam yang penuh dengan keberkahan. Saya hadir di sini hanya semata-mata ingin mengajak anda berbagi bersama saya, berbagi pada orang yang kurang mampu di sekitar kita.
Perusahaan kami setiap tahunnya selalu mengadakan acara amal, karena kami tahu dengan berbagi tidak akan menjadikan kita miskin.
Ada beberapa orang di sekitar kita beranggapan, apa yang mereka miliki murni hasil dari kerja kerasnya, dengan sombongnya mereka berpikir kebodohan baginya jika berbagi pada orang yang kurang mampu.
Tamu undangan yang saya hormati, tidak dimuliakan Qarun karena banyak hartanya, buktinya dia di tenggelamkan kedalam bumi bersama dengan hartanya. Dan tidak pula di muliakan firaun karena kedudukannya, buktinya dia di tenggelamkan kedalam laut sebagai pelajaran bagi kita semua." Ucapan Shawn di simak oleh setiap tamu yang datang.
Raina sendiri tersenyum mendengar pidato Tuan Shawn, ia tidak menyangka Tuan Shawn yang terkesan cuek dan pemarah mengetahui kisah Qarun si pelit pada masa Nabi Musa.
Wajah itu terlihat tampan, sesaat Raina seperti di bius oleh pesonanya. Bahkan ia tidak bisa megalihkan pandangannya, lampu moderen kontemporer dengan disain yang menonjolkan kristal dan kaca menggantung tepat di atas kepala Tuan Shawn, lampu itu semakin sempurna menyinari ketampanannya.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan...?
"Astagfirullah hal adzim." Raina beristigfar sambil mengalihkan pandangannya. Betapa dahsyatnya panah yang di lepaskan Setan sampai hati Raina lalai mengingat sang penciptanya.
Setelah Raina benar-benar bisa mengontrol perasaannya, ia kembali memandang kearah Tuan Shawn yang masih menyampaikan pidatonya. Betapa terkejutnya Raina, lampu gantung yang berada di atas kepala Tuan Shawn bergerak dan hampir saja jatuh menimpanya.
"Tuan Shawn!" Tak berselang lama teriakan keras seorang Raina Salsadila berhasil membuat ribuan pasang mata memandang kesal kearahnya.
Shawn menatap kearah sumber suara. Tidak hanya Shawn, semua orang memandang heran melihat pemandangan di hadapannya, seorang wanita berlari kearahnya seperti kuda pacu hilang arah dan....
Bbbrukkkkk.
Aaaaahhhh.
Ada apa ini? Siapa yang berani merusak acara penting ku? Lirih Shawn pelan. Matanya memandang wajah Raina. Wajah itu sedikit tergores terkena pecahan kaca lampu gantung yang terjatuh hampir mengenai mereka berdua.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 154 Episodes
Comments
Silvi Vicka Carolina
aku masih agak bingung ....
2024-07-26
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒋𝒅 𝒎𝒂𝒖 𝒂𝒅𝒂 𝒚𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒄𝒆𝒍𝒂𝒌𝒂𝒌𝒂𝒏 𝑺𝒉𝒂𝒘𝒏
2024-07-19
0
Neulis Saja
next
2023-10-07
0