Gedung berlantai dua puluh lima yang dikepalai Shawn Praja Dinata selalu riuh oleh suara langkah kaki dan komputer dari setiap karyawan kontrak. Raina selalu cemburu melihat orang-orang bekerja di perusahaan besar, menggunakan pakaian rapi, berangkat pagi dan pulang di waktu senja. Dulu itu impiannya, menjadi salah satu karyawan kontrak. Tapi lihatlah bagaimana takdir membawanya, dia berakhir menjadi seorang Bodyguard untuk pria dingin yang terkadang membuatnya kesal.
Ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala, semua karyawan telah pulang kerumah mereka. Tersisa Shawn Praja Dinata, sekertarisnya, dan keempat Bodyguard andalannya.
Shawn masih di sibukkan dengan semua berkas perjanjian kerja sama yang akan ia lakukan dengan pihak Singapura. Sementara dana perusahaan yang ia dapatkan di acara amal kemarin akan di sumbangkan keseluruhannya untuk panti asuhan, kaum duaffa dan beberapa yayasan.
"Tuan, saya sudah menghubungi pihak Singapura dan mereka sudah siap untuk menandatangani berkas perjanjian kerjasama kita." Ucap Rita memecah konsentrasi Shawn.
"Kapan rencana keberangkatannya?"
"Besok!" Balas Robin singkat.
"Besok?" Lirih Shawn dengan tatapan kosong. Terasa ada yang hilang, ia merasakan kehampaan di hatinya.
"Ada apa? Kau terlihat tidak rela meninggalkan singgasanamu. Apa ada rahasia yang tidak ku ketahui tentang mu?" Selidik Robin sambil melirik Shawn dengan mata elangnya.
Rahasia?
Siapa yang tidak punya rahasia? Setiap orang memiliki rahasia yang tidak ingin ia bagi dengan siapapun termasuk orang terdekatnya. Begitu juga dengan Shawn.
"Rahasia? Apa kau tidak waras?" Bantah Shawn dengan cepat, ia tidak ingin Robin mengetahui kalau dirinya tidak ingin pergi jauh dari sosok pengawal cantiknya, Raina Salsadila.
"Iya, kau benar juga. Lagi pula tidak ada rahasia yang bisa di sembunyikan dariku." Robin berucap dengan tatapan mata penuh selidik.
Sementara itu, di pantry. Agil terlihat frustasi, berkali-kali ia mencoba menelpon nomor yang ada di kontaknya, sayangnya tidak ada jawaban, dan hal itu membuatnya semakin frustasi. Wajahnya terlihat pucat, sejak pagi Pak Yanto memintanya untuk pulang, Agil terlalu keras kepala dan selalu menolak.
"Minum kopinya, Mas. Mumpung masih panas." Raina meletakkan kopi di atas meja.
"Kenapa Neng Raina belum pulang, bukankah seharusnya Neng Raina pulang sejak tadi?" Agil menoleh kearah Raina dengan wajah pucatnya.
"Menurut Mas Agil kenapa?" Raina balas bertanya dengan wajah datar. Agil menggelengkan kepala tidak tahu.
"Bagaimana Raina bisa pulang setelah melihat kondisi Mas Agil seperti ini! Mas Agil terlihat seperti pakaian yang tidak pernah terkena setrikaan. Kusut." Guyon Raina sengaja memancing Agil agar pria itu mau menceritakan masalah yang mengganggunya.
"Hhhmm!" Agil menghela nafas panjang. Terlihat beban berat di atas pundaknya. Raina benar-benar tidak menyangka, orang yang biasanya ia kenal humoris tiba-tiba berubah bagai Macan tanpa taring.
"Saya sedang memikirkan anak saya!"
"Anak?" Tanya Raina kaget.
"Iya. Anak saya. Anak saya sendirian dirumah, saya terpaksa menitipkannya pada tetangga sebelah." Mata Agil mulai meneskan bulir-bulir hangat dan mendarat tepat di atas punggung tangan kanannya.
Raina kembali memikirkan Ibunya. Berharap Ibunya segera memaafkannya. Ia tahu, Ibunya pasti merasakan khawatir, sama seperti yang di rasakan Agil saat ini.
"Tidak ada keluarga yang bisa saya andalkan. Dan saya tidak punya pilihan, saya terpaksa meninggalkan anak saya pada orang asing, pengasuh yang saya sewa setahun yang lalu mendadak mengundurkan diri dengan alasan pulang kampung. Susah sekali mencari orang jujur di zaman sekarang. Saya tidak ingin menyerahkan anak saya pada orang yang salah." Ucap Agil dengan wajah cemas.
"Memangnya istri Mas Agil kemana?"
"Hmm." Agil kembali menghela nafas. Wajahnya terlihat penuh beban.
"Istri saya sudah meninggal. Jika saya berhenti bekerja dan merawat anak saya tanpa bantuan pengasuh, saya khawatir saya tidak akan sanggup memenuhi kebutuhannya." Ucap Agil lagi.
"Jadi Mas Agil khawatir tidak ada yang menjaga si kecil saat Mas Agil sedang bekerja, begitu?" Mendengar ucapan Raina, Agil hanya bisa menganggukkan kepala tanpa menoleh kearah lawan bicaranya.
"Saya punya solusi untuk masalah Mas Agil. Sayangnya, Mas Agil belum tentu menerima saran yang akan saya berikan!" Ujar Raina dengan suara lemah lembut.
"Katakan! Akan saya dengarkan."
"Mas Agil masih ingat Bude saya, Bude Romlah?" Agil menganggukkan kepala karena ia masih ingat wajah wanita yang sempat memberikannya teh hangat di pertemuan terakhir mereka.
"Beliau orang yang sangat baik. Saya yakin jika Mas Agil menitipkan anak Mas Agil pada Bude Romlah, anak Mas Agil tidak akan kekurangan kasih sayang dari seorang Ibu." Ucap Raina menegaskan.
"Mas Agil bisa menitipkan si kecil di pagi hari dan mengambilnya di sore hari." Sambung Raina lagi.
Mendengar penuturan Raina wajah Agil terlihat berseri-seri. Ia yakin saran Raina adalah keputusan terbaik yang bisa ia ambil saat ini. Setelah bicara sebentar, Raina meminta Agil untuk pulang dan menggantikan tugas lelaki itu untuk menjaga Shawn Praja Dinata sampai pria pemarah itu pulang.
Sekarang tersisa Raina dan Shawn saja yang belum meninggalkan gedung berlantai dua puluh lima itu. Nasib pengawal pribadi seperti Raina, harus menjaga Tuannya sampai Tuannya benar-benar selamat sampai tujuan.
...***...
Raina melirik Arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu telah menunjukan pukul 19.09 namun tidak ada tanda-tanda Shawn akan keluar dari kantornya, hal itu membuat Raina semakin khawatir tentang pendapat Ibunya pada pekerjaan barunya.
Raina menghela nafas sambil berkali-kali melirik pintu kantor Shawn, berharap lelaki itu segera pulang sehingga dirinya juga bisa pulang.
Dari jarak sepulu langkah, sepasang mata mengawasi Raina yang sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya di sofa. Raina sendiri tidak menyadari dirinya sedang di awasi. Begitu ia merubah posisi tubuhnya, ia benar-benar terkejut, netranya bertemu dengan netra Shawn, pandangan mata lelaki yang ia kagumi dalam diam itu setajam mata elang, membuatnya tak bisa berkata apa-apa selain kekagumannya semakin bertambah.
"Apa yang kau lakuan?"
"Maksudku, kenapa kau sendirian? Dimana temanmu yang lain?" Shawn bertanya dengan nada suara datar.
Dada Raina berdegup semakin kencang, ia tidak pernah merasakan perasaan ini ketika bersama Mr.Sanghai nya.
Ya Allah, maafkan aku karena menautkan hatiku pada orang yang tidak halal bagiku. Lirih Raina pelan sembari menahan gejolak di hatinya.
"Apa kamu tidak bisa mendengar suaraku?" Tanya Shawn lagi, ia terlihat marah karena mengetahui Raina duduk sendiri. Di lubuk hati terdalamnya, sebenarnya Shawn merasa bahagia mengetahui Raina menunggunya. Sungguh, ini perasaan seorang kekasih yang merindukan kekasihnya.
"Dimana laki-laki yang seharusnya menungguku? Kenapa dia membiarkan seorang gadis duduk sendiri di tempat sesunyi ini? Aku pasti akan memecatnya." Ucap Shawn kesal. Sebenarnya ia sangat bahagia melihat sosok yang di rindukan netranya berada tepat di depannya. Tapi, ia mulai marah karena mengetahui Raina duduk sendirian. Seandainya ia tahu lebih awal Raina ada di luar ruangannya, ia pasti segera berlari kearah wanita itu dan meninggalkan hiruk-pikuk pekerjaannya.
"Mas Agil punya keperluan mendesak, Tuan. Saya sendiri yang memaksa untuk menggantikannya." Jawab Raina tegas.
Tuan? Ternyata aku hanya seorang asing baginya. Lirih Shawn dalam hatinya.
"Baiklah, karena kamu yang memaksa temanmu untuk pulang. Maka kamu yang harus mendapat hukuman." Celoteh Shawn sambil berjalan di depan Raina. Ia tertawa bahagia tanpa mengeluarkan suara. Akhirnya ia bisa merasakan bahagia ditengah kepenatannya pada pekerjaan yang tak kunjung usai.
Raina mengikuti Shawn di belakangnya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka berdua.
Raina menjaga harga dirinya sebagai seorang pengawal yang tidak seharusnya mendekatkan diri dengan Tuannya. Sementara Shawn, dia menjaga egonya sebagai seorang atasan yang tidak ingin terlihat perduli, sebernarnya ia sangat merindukannya.
Bahkan semesta ingin kita tetap dekat.
Jika semesta telah mendukung, bahkan jika kau berada dalam lautan, aku pasti datang menjemputmu.
Memberikan Raina hukuman? Itu hanya alasan Shawn agar dia lebih dekat dengan Raina yang entah sejak kapan hatinya mulai berdetak tak karuan jika memikirkan pengawalnya itu.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 154 Episodes
Comments
Silvi Vicka Carolina
gak usah berlari juga kali kyak dipilm india aja
2024-07-26
0
Silvi Vicka Carolina
ooo sanghai itu swan to
2024-07-26
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂 𝑴𝒓. 𝑺𝒉𝒂𝒏𝒈𝒉𝒂𝒊
2024-07-19
0