Adnan pun membawa sang ibu kembali ke rumahnya, walau harus melalui perdebatan sengit. Fatma semula menolak karena tak ingin melihat Sarmila dan anaknya di rumah Adnan.
" Ibu ga mau tinggal di rumah Kamu...," kata Fatma bersikeras.
" Kenapa Bu, apa Ibu kawatir di rumah Adnan masih ada Axel dan ibunya...?" tanya Adnan hati-hati.
" Iya. Ibu ga suka sama mereka...," kata Fatma sinis.
" Ibu ga usah kawatir. Axel sudah dibawa pulang sama ibunya kemaren...," kata Adnan dengan pandangan lurus berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
" Gimana Bu...?" tanya Hardi.
" Ya udah, Ibu mau balik ke rumah Adnan...," kata Fatma.
Hardi dan Adnan nampak menghela nafas lega.
Setibanya di rumah Adnan, Fatma segera beristirahat di kamar. Sedangkan Adnan masih berbincang dengan sang ayah di ruang keluarga.
" Jadi sulit buat Ibu nerima Mila ya Yah...," kata Adnan.
" Keliatannya begitu. Tolong Nak, jangan singgung masalah ini dulu. Ibumu baru aja pulang...," pinta Hardi.
" Tapi Adnan juga punya mimpi ingin menikah sama Mila Yah. Kalo Ibu ga nerima, gimana nasib Adnan ke depannya...?" tanya Adnan cemas.
" Cukup Adnan...!" kata Hardi marah sambil menggebrak meja di depannya.
Adnan terkejut melihat kemarahan sang ayah. Setahu Adnan, Hardi adalah orang yang super sabar. Jika Hardi marah, itu artinya ada suatu hal yang membuatnya tak nyaman. Adnan pun mengalah dan memilih diam.
Hardi berdiri lalu beranjak keluar rumah. Nampak wajahnya yang tegang menahan marah. Ia hanya ingin Adnan menyadari kekawatirannya dan istrinya tentang hubungan Adnan dengan Sarmila.
\=\=\=\=\=
Adnan nampak sedang menelephon seseorang melalui ponselnya. Kini ia berada di kafe miliknya. Setelah melihat kemarahan ayahnya tadi, Adnan sengaja memberi ruang pada sang ayah untuk menenangkan diri.
Adnan kembali menekan tombol hijau diponselnya untuk mengulangi panggilan pada nomor yang sama.
Karena tak juga tersambung, Adnan pun menyerah.
" Aku ga bisa ngejalanin hubungan yang ga direstui oleh orangtuaku. Sekarang Mila malah ga tau dimana. Ditelephon aja susahnya minta ampun. Ini mah alamat ga bisa lanjut deh kayanya...," kata Adnan sambil meremas rambutnya.
Sementara itu Fatma dan Hardi baru saja selesai makan siang. Hardi membantu menyiapkan obat untuk istrinya. Meski pun enggan, Fatma menuruti saja perintah suaminya untuk minum obat yang beraneka warna dan rasa itu.
" Aku mau keluar cari angin Yah. Bosen di kamar terus dari tadi...," keluh Fatma.
" Mau kemana Bu...?" tanya Hardi.
" Di teras situ kayanya enak...," jawab Fatma.
" Ok. Ayo, pelan-pelan aja...," kata Hardi sambil memapah istrinya.
Tiba di teras samping rumah Adnan, Fatma dan Hardi duduk sambil menikmati taman kecil yang ada di sana.
" Ibu kasian sama Arini Yah...," kata Fatma membuka percakapan.
" Ayah juga Bu. Sedih dan hancur banget kayanya...," kata Hardi.
" Ibu juga kasian sama diri Kita sendiri...," kata Fatma dengan pandangan menerawang.
" Lho kok gitu...?" tanya Hardi bingung.
" Iya. Tiap wanita yang Kita harapkan bisa jadi pendamping Adnan, malah selalu jadi milik orang. Adnan juga selalu kandas dalam hubungannya. Dan lebih parah lagi, selalu salah pilih pasangan...," kata Fatma sambil geleng kepala.
" Ga gitu juga lah Bu...," kata Hardi sambil menepuk tangan istrinya.
" Ga gitu gimana...?" tanya Fatma galak.
Hardi tertawa senang karena melihat istrinya sudah bisa kembali 'galak', itu artinya istrinya itu sudah sembuh bukan ?.
" Maksud Ayah, Arini kan belom menikah sama pacarnya itu. Jadi masih ada harapan kan buat jadiin dia menantu Kita...," kata Adnan mencoba menghibur istrinya.
" Kayanya susah Yah. Apalagi sikap Arini dan pacarnya itu bikin Aku ga tega misahin mereka...," kata Fatma lagi.
Hardi terdiam tak menjawab. Ia juga setuju dengan perkataan Fatma.
" Apalagi Aku liat Arini sama Adnan tuh hampir ga pernah ngobrol lho kalo pas ketemu. Anak-anak itu kenapa ya Yah. Apa musuhan lagi. Pasti Adnan nih yang bikin ulah...," kata Fatma sebal.
" Iya Bu. Kirain Ayah aja yang ngerasa kalo hubungan mereka berdua tuh ga baik-baik aja...," kata Hardi sambil meneguk air yang dibawanya tadi.
" Mereka tuh musuhan, tapi apa sebabnya ya...," kata Fatma pelan sambil meneguk air yang disodorkan oleh suaminya itu.
Fatma dan Hardi masih duduk di sana hingga sore hari.
\=\=\=\=\=
Adnan sedang berjalan-jalan bersama kedua orangtuanya keliling kota. Mereka lakukan itu setelah kondisi Fatma sehat dan cukup kuat.
Adnan membawa kedua orangtuanya mampir ke Monas dan kota tua. Fatma dan Hardi terlihat sangat senang. Apalagi saat mereka masuk kawasan kota tua. Fatma bahkan minta berhenti di beberapa tempat. Adnan menuruti saja permintaan sang ibu.
Sesekali Adnan mengabadikan moment kebersamaan kedua orangtuanya itu dengan HPnya.
" Seneng ya Bu...," kata Adnan sambil menatap lurus kearah jalan raya di depannya.
" Iya Le, Ibu seneng banget...," kata Fatma gembira.
" Jadi inget jaman dulu ya Bu. Bangunannya masih di rawat, apik...," tambah Hardi.
" Iya. Kan ini termasuk tempat wisata terkenal di Jakarta Yah. Disebut Kota Tua, karena banyak bangunan lama dari jaman kolonial Belanda yang tetap dilestarikan walau berbeda fungsinya...," kata Adnan tersenyum.
Mereka masih berbincang santai di dalam mobil. Tiba-tiba mata Adnan menangkap sosok yang sangat mirip dengan Sarmila kekasihnya. Setelah dia menegaskan, Adnan pun terkejut.
Di dekat stasiun Kota, tampak Sarmila sedang bergelayut manja pada seorang pria bule di sebelahnya. Sikapnya sangat mesra. Membuat siapa pun yang melihatnya akan menduga bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Ternyata bukan hanya Adnan yang melihat, tapi juga Fatma dan Hardi.
" Itu bukannya si Sarmila ya...," gumam Fatma tapi masih terdengar jelas di telinga Adnan dan Hardi.
" Iya Bu...," kata Hardi.
Adnan hanya diam dan memperhatikan pergerakan Sarmila. Kedua tangannya mencengkram erat kemudi menandakan ia tengah emosi.
Di depan sana Sarmila bahkan membiarkan saja saat si pria bule itu menciumi wajah dan meremas bo**ngnya.
Amarah Adnan pun memuncak saat melihatnya. Ia hampir turun untuk melabrak Sarmila. Tapi Hardi mencegahnya dengan gelengan kepala.
" Jangan mempermalukan dirimu sendiri. Bersikap lah elegan. Telephon dia, tanyakan dimana dia sekarang...," kata Hardi sambil menepuk bahunya.
Adnan menghela nafas panjang dan menuruti saran ayahnya itu. Terlihat Sarmila yang menjauh dari pria bule itu saat mengangkat telephon dari Adnan.
" Iya Sayang...," kata Sarmila manja.
" Kamu dimana...?" tanya Adnan berusaha menekan suaranya.
" Aku lagi di rumah sama Axel. Biasa, nemenin dia main mumpung Aku libur...," jawab Sarmila lancar.
" Ooo, Aku tebak Axel pasti pake baju biru sama celana panjang hitam ya...," sindir Adnan.
" Kok Kamu tau sih...," kata Sarmila.
Pada saat bersamaan sang pria bule memeluk Sarmila dari belakang dan menciuminya seperti tadi.
" Iya. Karena Aku bisa liat Axel senior lagi peluk dan cium Kamu...," kata Adnan pedas.
Sarmila terkejut. Wajahnya menjadi pucat dan matanya nanar mencari keberadaan Adnan di sekitarnya. Saat mendapati mobil Adnan yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri Sarmila pun mati kutu.
Apalagi saat Adnan turun dan berdiri di samping mobilnya dengan HP yang masih menempel di telinganya.
Dari jarak sekitar lima puluh meter Adnan melihat Sarmila yang salah tingkah. Adnan pun melanjutkan ucapannya di telephon.
" Jangan coba datang dan temui Aku lagi. Kita putus...," kata Adnan tegas.
Sarmila nampak shock mendengar ucapan Adnan. Ia bingung bagaimana harus bertindak saat itu.
" Sayang, tolong dengerin Aku dulu. Maafin Aku. Aku...," ucapan Sarmila menggantung di udara karena Adnan langsung memutus sambungan telephon mereka.
Adnan pun membuka pintu mobil, menstarternya dan langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.
Sarmila hanya terdiam memandang kepergian Adnan dengan mobilnya. Walau sedikit sedih, ia merasa masih bisa membujuk Adnan lain waktu.
" Honey, what's going on...?" tanya pria bule di samping Sarmila sambil terus memeluk Sarmila.
" Nothing...," kata Sarmila sambil menggeleng dan tersenyum.
\=\=\=\=\=
Di dalam mobil yang dikemudikan Adnan nampak kedua orangtua Adnan sedikit cemas melihat anaknya.
" Kamu gapapa Le...?" tanya Hardi hati-hati sambil menepuk pundak Adnan.
" Adnan gapapa kok Yah...," jawab Adnan mencoba menyembunyikan perasaannya.
" Apa Kamu serius mau putus sama wanita itu...?" tanya Fatma penasaran.
" Iya Bu...," jawab Adnan cepat.
Tak ada percakapan lagi setelahnya hingga mereka kembali ke rumah. Adnan merasa terpukul melihat kenyataan di depan matanya. Diam-diam Fatma dan Hardi tersenyum puas karena akhirnya Adnan melihat kebusukan wanita itu dengan mata kepalanya sendiri.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Guntar Nugraha S
Sama"UmmiQu
2023-11-23
0
any Sulistiani
makasih sayangku...
2021-01-10
0
St Nurul NG
Semangat berkarya kak like hadir, sukses selalu
2021-01-09
1