7 ( Mencair )

Hari Raya pertama di rumah Adnan ramai seperti biasanya. Mungkin karena ayah Adnan mantan seorang pejabat di daerah itu, menyebabkan masih banyak orang yang datang menghormatinya.

Adnan sedang duduk di samping rumahnya sambil kipas-kipas. Ia cukup lelah menerima tamu kedua orangtuanya yang memang terkenal ramah itu.

Sedangkan teman Adnan hanya beberapa saja yang bertandang ke rumahnya. Itu pun hanya sebentar, karena sebagian datang dengan membawa anak dan istrinya masing-masing.

Tiba-tiba terdengar suara sang ibu memanggil namanya dari dalam rumah.

" Adnan...!" panggil sang ibu.

" Iya Bu...," jawab Adnan masih enggan beranjak.

" Ada Ami dan Umar di depan. Sana Kamu temuin dulu. Ga enak kan...," kata ibu Adnan.

Adnan masih duduk tanpa mau bergerak. Rasanya ia malas bertemu dengan mantan pacar dan temannya itu.

" Le, ga baik mendendam terlalu lama. Anggap aja Ami bukan jodohmu. Berbesar hati lah sedikit. Kejadian itu bukan seratus persen salah Ami atau salahmu. Ada takdir Allah yang lebih dominan di sana. Sana, temui mereka...," kata sang ibu bijak.

Adnan termenung sejenak mendengar nasehat sang ibu. Ia pun berdiri dan mengiyakan permintaan ibunya. Ibu Adnan nampak tersenyum senang melihat anaknya menuruti permintaannya.

Adnan pun melangkah ke dalam rumah untuk menemui Ami dan Umar. Di dalam rumah masih banyak tamu. Ada yang duduk di ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan teras. Hampir seluruh penjuru rumah Adnan penuh dengan tamu.

" Assalamualaikum Adnan...," sapa Umar hangat sambil memeluk Adnan.

" Wa alaikumsalam Mar. Maaf lama, baru aja Aku selesai makan di samping rumah...," sahut Adnan sambil balas memeluk Umar.

" Iya gapapa...," jawab Umar sambil menepuk pundak Adnan.

" Apa kabar Mi...?" tanya Adnan sambil menyalami Ami yang duduk dengan perut buncitnya itu.

" Alhamdulillah baik Nan. Ayo salaman dulu sama Om Adnan...," kata Ami sambil menyodorkan tangan anak yang ada di pangkuannya.

" Wah lucunya. Siapa namanya...?" tanya Adnan sambil membelai kepala sang bocah.

" Faiz Om...," jawab Umar sambil mengalihkan sang anak ke pangkuannya.

" Berapa tahun umurnya...?" tanya Adnan basa basi.

" Satu tahun tiga bulan Om...," jawab Ami tersenyum.

" Wah, udah mau punya Adik juga ya...," kata Adnan lagi.

" Iya. Insya Allah bulan depan lahirnya. Ya kan Bun...," kata Umar memastikan.

" Iya Yah...," jawab Ami sambil mengelus perut buncitnya itu perlahan.

Adnan tersenyum kecut melihat kemesraan Umar dan Ami. Ia merasa menjadi pecundang di antara kedua orang yang berbahagia itu. Tapi Adnan segera menepis perasaannya itu.

Mereka bertiga terlibat obrolan seru. Mereka kadang tertawa mengingat kelucuan mereka saat remaja. Mencair sudah ketegangan dan salah paham di antara mereka.

Setelah cukup ngobrol, Umar pun mengajak keluarga kecilnya itu untuk pamit. Adnan pun memberikan amplop berisi dua lembar uang ratusan ribu pada Faiz.

" Ga usah Nan, ngerepotin aja...," tolak Umar halus.

" Jangan kaya gitu. Aku emang udah siapin buat Anak Kalian. Bukan buat Kamu...," gurau Adnan.

" Ya udah diterima nih ya. Makasih Om Adnan...," kata Umar tertawa.

Umar dan keluarganya meninggalkan rumah Adnan dengan langkah ringan. Senyum tersungging di bibir Umar dan Ami. Umar senang, keputusannya mengajak istri dan anaknya silaturrahim ke rumah Adnan berbuah manis.

Kini tak ada lagi dendam dan permusuhan antara ia dan Adnan. Semuanya melebur karena kedewasaan mereka dan takdir.

Ayah Adnan menepuk pundak sang putra dengan bangga. Rasa salutnya tumbuh bersamaan sikap dewasa yang Adnan tunjukkan tadi. Adnan pun tersenyum pada ayah dan ibunya.

\=\=\=\=\=

Malam harinya rumah Adnan kedatangan tamu lainnya. Ada Arini dan keluarganya di antara tamu yang hadir malam itu. Semua tampak membaur. Tak ada kecanggungan karena mereka saling mengenal.

Adnan pun sibuk membantu sang ibu menyuguhkan sajian berupa minuman mineral dan kue-kue. Arini pun tergerak untuk membantu. Karena diantara para tamu, Arini yang lumayan dekat dengan keluarga Adnan.

Terdengar kasak kusuk saat melihat kekompakan Arini dan Adnan saat menyajikan makanan ringan dan air minum.

" Lho, jadi Mas Adnan sama Arini sekarang...?" tanya seorang warga pada ibu Adnan.

" Cocok lho Bu, kenapa ga segera diiket aja sih. Ntar keburu disamber orang lho kaya Ami waktu itu...," gurau warga lainnya.

Ibu Adnan hanya tersenyum dan mencoba mengelak.

" Ga tau Bu. Mereka kan emang temenan dari kecil. Saya sih terserah mereka aja...," kata ibu Adnan sambil tersenyum.

Ia juga memperhatikan kekompakan Adnan dan Arini. Di sudut hatinya yang terdalam ibu Adnan juga berharap ada hubungan 'lebih' dari sekedar teman antara Adnan dan Arini.

Sementara itu kedua orangtua Arini hanya tersenyum mendengar gurauan warga tentang kedekatan Adnan dan Arini. Dalam hati mereka hanya bisa mengaminkan prasangka warga itu. Mereka paham bagaimana sifat keras kepala Arini yang menolak jika dijodohkan. Makanya mereka memilih diam dan menunggu pria pilihan Arini datang melamar.

Adnan menghampiri Arini dengan gelas berisi air di tangannya.

" Capek...?" tanya Adnan saat melihat Arini mengelap keringatnya dengan tisu.

" Lumayan...," jawab Arini singkat.

" Nih...," kata Adnan sambil menyodorkan gelas berisi minuman pada Arini.

" Makasih..." jawab Arini yang langsung meneguk minumannya hingga tandas.

" Langsung abis. Kamu ga kawatir Aku taroin racun di gelas tadi...?" tanya Adnan jahil.

" Kamu...!" kata Arini marah sambil memukuli Adnan.

" Aduh, ampun, ampun...!" teriak Adnan.

" Rasain...!" kata Arini masih terus memukuli Adnan gemas.

Sudah lama Arini ingin melakukan ini, dan baru kesampaian sekarang. Rasa lega nampak di wajah Arini.

" Stop, sakit Arini...," kata Adnan sambil memegang tangan Arini.

Sejenak mereka saling bertatapan. Arini menarik tangannya yang dipegang Adnan dengan kasar. Entah, Arini kesal tiap kali ingat Adnan sudah menduakan Ami. Padahal Ami sudah melupakan Adnan bahkan menikahi Umar. Tapi rasa marah Arini seolah masih bertahta di kepalanya.

" Bodo amat...!" sungut Arini sambil menjauh dari Adnan.

" Kamu tuh mukulin Aku kaya mukulin maling tau ga...," protes Adnan.

" Masa...," kata Arini datar.

" Iya. Kaya ada dendam pribadi yang harus dilampiasin aja. Pas mukul tadi tenagamu tuh kaya Samson...," kata Adnan sambil meringis menahan sakit.

" Terserah...," kata Arini cuek.

" Ini sakit beneran Arini...!" kata Adnan gemas sambil menarik tangan Arini.

Arini yang tak siap ditarik Adnan, malah jatuh tersungkur di dada Adnan. Hingga lipstik di bibir Arini mengenai baju koko Adnan.

" Kamu tuh emang ga ada warasnya ya...?!" kata Arini marah sambil mencubiti Adnan.

Adnan malah tertawa geli melihat kemarahan Arini. Ia pun berlari menghindari pukulan dan cubitan Arini. Ternyata Adnan menemukan keasyikan tersendiri saat menjahili Arini dan membuatnya marah.

Mereka saling mengejar di halaman samping rumah Adnan yang lumayan luas itu.

Tanpa mereka sadari, tingkah mereka dilihat oleh kedua orangtua mereka masing-masing dari balik jendela.

Mereka saling tatap sejenak lalu tertawa.

" Gimana mau diajak pulang, Pak. Wong Anaknya aja lagi maen kejar-kejaran sama Mas Adnan...," kata ibu Arini tertawa geli.

" Iya, gimana ini. Udah gede masih main petak umpet kaya Anak kecil...," kata bapak Arini geleng-geleng kepala.

" Udah, tinggal aja. Ntar biar Arini dianter Adnan...," saran ayah Adnan.

" Bener Yah. Ga usah gangguin Anak muda lagi main lari-larian...," kata ibu Adnan yang setuju atas saran suaminya.

Akhirnya kedua orangtua Arini pun pulang lebih dulu, meninggalkan Arini yang masih sibuk memukuli Adnan.

bersambung

Episodes
1 1 ( Adnan )
2 2 ( Ditikung ? )
3 3 ( Masa sih..., )
4 4 ( Pindah )
5 5 ( Seragam )
6 6 ( Pawai Obor )
7 7 ( Mencair )
8 8 ( Musuh )
9 9 ( Kepancing )
10 10 ( Berakhir )
11 11 ( Kecewa )
12 12 ( Tentang Hati )
13 13 ( Pacar )
14 14 ( Kenapa...? )
15 15 ( Sakit juga )
16 16 ( Ketemu Lagi )
17 17 ( Ga Suka )
18 18 ( Perpisahan Sementara )
19 19 ( Kenyataan )
20 20 ( Gagal )
21 21 ( Pemulihan )
22 22 ( Kangen )
23 23 ( Ke Villa )
24 24 ( Nitip )
25 25 ( Ajak Juga )
26 26 ( Kawatir )
27 27 ( Keharuan )
28 28 ( Operasi Kedua )
29 29 ( Surat )
30 30 ( Kritis )
31 31 ( Pingsan )
32 32 ( Surprise )
33 33 ( Setuju )
34 34 ( Pulkam )
35 35 ( Kabar Dari Arini )
36 36 ( Ijab Kabul )
37 37 ( Sarapan )
38 38 ( Peraturan )
39 39 ( Kesepakatan Baru )
40 40 ( Ke kafe )
41 41. ( Berita )
42 42 ( Pergi )
43 43. ( Kesepakatan Lagi ? )
44 44 ( Cemburu )
45 45 ( Pulang )
46 46 ( Mengabaikan )
47 47 ( Penjelasan Arini )
48 48 ( Penjelasan 2 )
49 49 ( Mengambil Paksa )
50 50 ( KDRT ? )
51 51 ( Pergi Lagi )
52 52 ( Mencari )
53 53 ( Tertukar )
54 54 ( Penyesalan )
55 55 ( Berusahalah )
56 56 ( Bertemu )
57 57 ( Keputusan )
58 58 ( Status Baru )
59 59 ( Pengacau )
60 60 ( Bertemu Ratna )
61 61 ( Keinginan Yang Sama )
62 62 ( Bingung )
63 63 ( Semangat )
64 64 ( Mengejar )
65 65 ( Memberi Kesempatan )
66 66 ( Tak Bisa Menolak )
67 67 ( Panik )
68 68 ( Berhadapan )
69 69 ( Doa )
70 70 ( Menculik )
71 71 ( Menuruti )
72 72 ( Berdebat )
73 73 ( Menggendong )
74 74 ( Terluka )
75 75 ( Mendekatkan )
76 76 ( Salut )
77 77 ( Apa Benar ? )
78 78 ( Robi Ngamuk )
79 79 ( Sah Lagi )
80 80 ( Mau Cepat )
81 81 ( Alhamdulillah )
82 82 ( Gemuk ? )
83 83 ( Perubahan Hormon )
84 84 ( Sesuai Prediksi )
85 85 ( Kabar Gembira )
86 86 ( Menegangkan )
87 87 ( Menuntaskan )
88 88 ( Cara Sendiri )
89 89 ( Milikku )
90 90 ( Pesona Sita )
91 91 ( Memalukan )
92 92 ( Dipecat )
93 93 ( Kompak )
94 94 ( Melahirkan )
95 95 ( Dia Milikku 2 )
96 96 ( Naila )
97 97 ( Menyerah )
98 98 ( Naila Kabur ? )
99 99 ( Bercerai )
100 100 ( Gading dan Naila )
101 101 ( Bulan Madu )
102 102 ( Naila Sakit )
103 103 ( Dua Pria Satu Meja )
104 104 ( Tentara Ganteng )
105 105 ( Ketemu di Posko )
106 106 ( Jadi Nyamuk ? )
107 107 ( Mencari Aisyah )
108 108 ( Semakin Dekat )
109 109 ( Hukuman Permainan )
110 110 ( Jangan Berharap )
111 111 ( Jaga Jarak )
112 112 ( Melanjutkan Mimpi )
113 113 ( Terbongkar )
114 114 ( Harus Pergi )
115 115 ( Kenal Yang Lain )
116 116 ( Posesif )
117 117 ( Gamang )
118 118 ( Bingung )
119 119 ( Dejavu )
120 120 ( Irgi Pulang )
121 121 ( Irgi Cemburu )
122 122 ( Ancaman )
123 123 ( Jemput Aisyah )
124 124 ( Lega )
125 125 ( Penyelamat )
126 126 ( Ijab Kabul )
127 127 ( Belum Siap )
128 128 ( Resepsi Pernikahan )
129 129 ( Suka )
130 130 ( Menangis )
131 131 ( Merajuk )
132 132 ( Baikan )
133 133 ( Mengantar )
134 134 ( Berangkat Tugas )
135 135 ( Shock )
136 136 ( Koma )
137 137 ( Tertangkap )
138 138 ( Video Call )
139 139 ( Menawarkan Bantuan )
140 140 ( Ketahuan )
141 141 ( Jujur Membuat Luka )
142 142 ( Datang )
143 143 ( Memperalat )
144 144 ( Membuktikan )
145 145 ( Hadiah )
146 146 ( Siuman )
147 147 ( Keadilan )
Episodes

Updated 147 Episodes

1
1 ( Adnan )
2
2 ( Ditikung ? )
3
3 ( Masa sih..., )
4
4 ( Pindah )
5
5 ( Seragam )
6
6 ( Pawai Obor )
7
7 ( Mencair )
8
8 ( Musuh )
9
9 ( Kepancing )
10
10 ( Berakhir )
11
11 ( Kecewa )
12
12 ( Tentang Hati )
13
13 ( Pacar )
14
14 ( Kenapa...? )
15
15 ( Sakit juga )
16
16 ( Ketemu Lagi )
17
17 ( Ga Suka )
18
18 ( Perpisahan Sementara )
19
19 ( Kenyataan )
20
20 ( Gagal )
21
21 ( Pemulihan )
22
22 ( Kangen )
23
23 ( Ke Villa )
24
24 ( Nitip )
25
25 ( Ajak Juga )
26
26 ( Kawatir )
27
27 ( Keharuan )
28
28 ( Operasi Kedua )
29
29 ( Surat )
30
30 ( Kritis )
31
31 ( Pingsan )
32
32 ( Surprise )
33
33 ( Setuju )
34
34 ( Pulkam )
35
35 ( Kabar Dari Arini )
36
36 ( Ijab Kabul )
37
37 ( Sarapan )
38
38 ( Peraturan )
39
39 ( Kesepakatan Baru )
40
40 ( Ke kafe )
41
41. ( Berita )
42
42 ( Pergi )
43
43. ( Kesepakatan Lagi ? )
44
44 ( Cemburu )
45
45 ( Pulang )
46
46 ( Mengabaikan )
47
47 ( Penjelasan Arini )
48
48 ( Penjelasan 2 )
49
49 ( Mengambil Paksa )
50
50 ( KDRT ? )
51
51 ( Pergi Lagi )
52
52 ( Mencari )
53
53 ( Tertukar )
54
54 ( Penyesalan )
55
55 ( Berusahalah )
56
56 ( Bertemu )
57
57 ( Keputusan )
58
58 ( Status Baru )
59
59 ( Pengacau )
60
60 ( Bertemu Ratna )
61
61 ( Keinginan Yang Sama )
62
62 ( Bingung )
63
63 ( Semangat )
64
64 ( Mengejar )
65
65 ( Memberi Kesempatan )
66
66 ( Tak Bisa Menolak )
67
67 ( Panik )
68
68 ( Berhadapan )
69
69 ( Doa )
70
70 ( Menculik )
71
71 ( Menuruti )
72
72 ( Berdebat )
73
73 ( Menggendong )
74
74 ( Terluka )
75
75 ( Mendekatkan )
76
76 ( Salut )
77
77 ( Apa Benar ? )
78
78 ( Robi Ngamuk )
79
79 ( Sah Lagi )
80
80 ( Mau Cepat )
81
81 ( Alhamdulillah )
82
82 ( Gemuk ? )
83
83 ( Perubahan Hormon )
84
84 ( Sesuai Prediksi )
85
85 ( Kabar Gembira )
86
86 ( Menegangkan )
87
87 ( Menuntaskan )
88
88 ( Cara Sendiri )
89
89 ( Milikku )
90
90 ( Pesona Sita )
91
91 ( Memalukan )
92
92 ( Dipecat )
93
93 ( Kompak )
94
94 ( Melahirkan )
95
95 ( Dia Milikku 2 )
96
96 ( Naila )
97
97 ( Menyerah )
98
98 ( Naila Kabur ? )
99
99 ( Bercerai )
100
100 ( Gading dan Naila )
101
101 ( Bulan Madu )
102
102 ( Naila Sakit )
103
103 ( Dua Pria Satu Meja )
104
104 ( Tentara Ganteng )
105
105 ( Ketemu di Posko )
106
106 ( Jadi Nyamuk ? )
107
107 ( Mencari Aisyah )
108
108 ( Semakin Dekat )
109
109 ( Hukuman Permainan )
110
110 ( Jangan Berharap )
111
111 ( Jaga Jarak )
112
112 ( Melanjutkan Mimpi )
113
113 ( Terbongkar )
114
114 ( Harus Pergi )
115
115 ( Kenal Yang Lain )
116
116 ( Posesif )
117
117 ( Gamang )
118
118 ( Bingung )
119
119 ( Dejavu )
120
120 ( Irgi Pulang )
121
121 ( Irgi Cemburu )
122
122 ( Ancaman )
123
123 ( Jemput Aisyah )
124
124 ( Lega )
125
125 ( Penyelamat )
126
126 ( Ijab Kabul )
127
127 ( Belum Siap )
128
128 ( Resepsi Pernikahan )
129
129 ( Suka )
130
130 ( Menangis )
131
131 ( Merajuk )
132
132 ( Baikan )
133
133 ( Mengantar )
134
134 ( Berangkat Tugas )
135
135 ( Shock )
136
136 ( Koma )
137
137 ( Tertangkap )
138
138 ( Video Call )
139
139 ( Menawarkan Bantuan )
140
140 ( Ketahuan )
141
141 ( Jujur Membuat Luka )
142
142 ( Datang )
143
143 ( Memperalat )
144
144 ( Membuktikan )
145
145 ( Hadiah )
146
146 ( Siuman )
147
147 ( Keadilan )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!