Hari Raya pertama di rumah Adnan ramai seperti biasanya. Mungkin karena ayah Adnan mantan seorang pejabat di daerah itu, menyebabkan masih banyak orang yang datang menghormatinya.
Adnan sedang duduk di samping rumahnya sambil kipas-kipas. Ia cukup lelah menerima tamu kedua orangtuanya yang memang terkenal ramah itu.
Sedangkan teman Adnan hanya beberapa saja yang bertandang ke rumahnya. Itu pun hanya sebentar, karena sebagian datang dengan membawa anak dan istrinya masing-masing.
Tiba-tiba terdengar suara sang ibu memanggil namanya dari dalam rumah.
" Adnan...!" panggil sang ibu.
" Iya Bu...," jawab Adnan masih enggan beranjak.
" Ada Ami dan Umar di depan. Sana Kamu temuin dulu. Ga enak kan...," kata ibu Adnan.
Adnan masih duduk tanpa mau bergerak. Rasanya ia malas bertemu dengan mantan pacar dan temannya itu.
" Le, ga baik mendendam terlalu lama. Anggap aja Ami bukan jodohmu. Berbesar hati lah sedikit. Kejadian itu bukan seratus persen salah Ami atau salahmu. Ada takdir Allah yang lebih dominan di sana. Sana, temui mereka...," kata sang ibu bijak.
Adnan termenung sejenak mendengar nasehat sang ibu. Ia pun berdiri dan mengiyakan permintaan ibunya. Ibu Adnan nampak tersenyum senang melihat anaknya menuruti permintaannya.
Adnan pun melangkah ke dalam rumah untuk menemui Ami dan Umar. Di dalam rumah masih banyak tamu. Ada yang duduk di ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan teras. Hampir seluruh penjuru rumah Adnan penuh dengan tamu.
" Assalamualaikum Adnan...," sapa Umar hangat sambil memeluk Adnan.
" Wa alaikumsalam Mar. Maaf lama, baru aja Aku selesai makan di samping rumah...," sahut Adnan sambil balas memeluk Umar.
" Iya gapapa...," jawab Umar sambil menepuk pundak Adnan.
" Apa kabar Mi...?" tanya Adnan sambil menyalami Ami yang duduk dengan perut buncitnya itu.
" Alhamdulillah baik Nan. Ayo salaman dulu sama Om Adnan...," kata Ami sambil menyodorkan tangan anak yang ada di pangkuannya.
" Wah lucunya. Siapa namanya...?" tanya Adnan sambil membelai kepala sang bocah.
" Faiz Om...," jawab Umar sambil mengalihkan sang anak ke pangkuannya.
" Berapa tahun umurnya...?" tanya Adnan basa basi.
" Satu tahun tiga bulan Om...," jawab Ami tersenyum.
" Wah, udah mau punya Adik juga ya...," kata Adnan lagi.
" Iya. Insya Allah bulan depan lahirnya. Ya kan Bun...," kata Umar memastikan.
" Iya Yah...," jawab Ami sambil mengelus perut buncitnya itu perlahan.
Adnan tersenyum kecut melihat kemesraan Umar dan Ami. Ia merasa menjadi pecundang di antara kedua orang yang berbahagia itu. Tapi Adnan segera menepis perasaannya itu.
Mereka bertiga terlibat obrolan seru. Mereka kadang tertawa mengingat kelucuan mereka saat remaja. Mencair sudah ketegangan dan salah paham di antara mereka.
Setelah cukup ngobrol, Umar pun mengajak keluarga kecilnya itu untuk pamit. Adnan pun memberikan amplop berisi dua lembar uang ratusan ribu pada Faiz.
" Ga usah Nan, ngerepotin aja...," tolak Umar halus.
" Jangan kaya gitu. Aku emang udah siapin buat Anak Kalian. Bukan buat Kamu...," gurau Adnan.
" Ya udah diterima nih ya. Makasih Om Adnan...," kata Umar tertawa.
Umar dan keluarganya meninggalkan rumah Adnan dengan langkah ringan. Senyum tersungging di bibir Umar dan Ami. Umar senang, keputusannya mengajak istri dan anaknya silaturrahim ke rumah Adnan berbuah manis.
Kini tak ada lagi dendam dan permusuhan antara ia dan Adnan. Semuanya melebur karena kedewasaan mereka dan takdir.
Ayah Adnan menepuk pundak sang putra dengan bangga. Rasa salutnya tumbuh bersamaan sikap dewasa yang Adnan tunjukkan tadi. Adnan pun tersenyum pada ayah dan ibunya.
\=\=\=\=\=
Malam harinya rumah Adnan kedatangan tamu lainnya. Ada Arini dan keluarganya di antara tamu yang hadir malam itu. Semua tampak membaur. Tak ada kecanggungan karena mereka saling mengenal.
Adnan pun sibuk membantu sang ibu menyuguhkan sajian berupa minuman mineral dan kue-kue. Arini pun tergerak untuk membantu. Karena diantara para tamu, Arini yang lumayan dekat dengan keluarga Adnan.
Terdengar kasak kusuk saat melihat kekompakan Arini dan Adnan saat menyajikan makanan ringan dan air minum.
" Lho, jadi Mas Adnan sama Arini sekarang...?" tanya seorang warga pada ibu Adnan.
" Cocok lho Bu, kenapa ga segera diiket aja sih. Ntar keburu disamber orang lho kaya Ami waktu itu...," gurau warga lainnya.
Ibu Adnan hanya tersenyum dan mencoba mengelak.
" Ga tau Bu. Mereka kan emang temenan dari kecil. Saya sih terserah mereka aja...," kata ibu Adnan sambil tersenyum.
Ia juga memperhatikan kekompakan Adnan dan Arini. Di sudut hatinya yang terdalam ibu Adnan juga berharap ada hubungan 'lebih' dari sekedar teman antara Adnan dan Arini.
Sementara itu kedua orangtua Arini hanya tersenyum mendengar gurauan warga tentang kedekatan Adnan dan Arini. Dalam hati mereka hanya bisa mengaminkan prasangka warga itu. Mereka paham bagaimana sifat keras kepala Arini yang menolak jika dijodohkan. Makanya mereka memilih diam dan menunggu pria pilihan Arini datang melamar.
Adnan menghampiri Arini dengan gelas berisi air di tangannya.
" Capek...?" tanya Adnan saat melihat Arini mengelap keringatnya dengan tisu.
" Lumayan...," jawab Arini singkat.
" Nih...," kata Adnan sambil menyodorkan gelas berisi minuman pada Arini.
" Makasih..." jawab Arini yang langsung meneguk minumannya hingga tandas.
" Langsung abis. Kamu ga kawatir Aku taroin racun di gelas tadi...?" tanya Adnan jahil.
" Kamu...!" kata Arini marah sambil memukuli Adnan.
" Aduh, ampun, ampun...!" teriak Adnan.
" Rasain...!" kata Arini masih terus memukuli Adnan gemas.
Sudah lama Arini ingin melakukan ini, dan baru kesampaian sekarang. Rasa lega nampak di wajah Arini.
" Stop, sakit Arini...," kata Adnan sambil memegang tangan Arini.
Sejenak mereka saling bertatapan. Arini menarik tangannya yang dipegang Adnan dengan kasar. Entah, Arini kesal tiap kali ingat Adnan sudah menduakan Ami. Padahal Ami sudah melupakan Adnan bahkan menikahi Umar. Tapi rasa marah Arini seolah masih bertahta di kepalanya.
" Bodo amat...!" sungut Arini sambil menjauh dari Adnan.
" Kamu tuh mukulin Aku kaya mukulin maling tau ga...," protes Adnan.
" Masa...," kata Arini datar.
" Iya. Kaya ada dendam pribadi yang harus dilampiasin aja. Pas mukul tadi tenagamu tuh kaya Samson...," kata Adnan sambil meringis menahan sakit.
" Terserah...," kata Arini cuek.
" Ini sakit beneran Arini...!" kata Adnan gemas sambil menarik tangan Arini.
Arini yang tak siap ditarik Adnan, malah jatuh tersungkur di dada Adnan. Hingga lipstik di bibir Arini mengenai baju koko Adnan.
" Kamu tuh emang ga ada warasnya ya...?!" kata Arini marah sambil mencubiti Adnan.
Adnan malah tertawa geli melihat kemarahan Arini. Ia pun berlari menghindari pukulan dan cubitan Arini. Ternyata Adnan menemukan keasyikan tersendiri saat menjahili Arini dan membuatnya marah.
Mereka saling mengejar di halaman samping rumah Adnan yang lumayan luas itu.
Tanpa mereka sadari, tingkah mereka dilihat oleh kedua orangtua mereka masing-masing dari balik jendela.
Mereka saling tatap sejenak lalu tertawa.
" Gimana mau diajak pulang, Pak. Wong Anaknya aja lagi maen kejar-kejaran sama Mas Adnan...," kata ibu Arini tertawa geli.
" Iya, gimana ini. Udah gede masih main petak umpet kaya Anak kecil...," kata bapak Arini geleng-geleng kepala.
" Udah, tinggal aja. Ntar biar Arini dianter Adnan...," saran ayah Adnan.
" Bener Yah. Ga usah gangguin Anak muda lagi main lari-larian...," kata ibu Adnan yang setuju atas saran suaminya.
Akhirnya kedua orangtua Arini pun pulang lebih dulu, meninggalkan Arini yang masih sibuk memukuli Adnan.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments