18 ( Perpisahan Sementara )

Fatma sedang mempersiapkan kepulangannya dari Rumah Sakit. Ia begitu semangat. Hardi pun nampak bahagia mengetahui istrinya diperbolehkan pulang oleh dokter.

" Jangan ada yang ketinggalan ya Yah...," kata Fatma mengingatkan suaminya.

" Beres Bu...," kata Hardi.

" Adnan kemana Yah...?" tanya Fatma.

" Lagi ngurus administrasi di bawah. Apa mau nunggu Adnan dulu...?" tanya Hardi.

" Iya. Aku cuma mau bilang, Aku ga mau pulang ke rumah Adnan kalo Anak itu masih ada di sana...," kata Fatma sambil merapikan ujung bajunya.

" Terus, Ibu mau kemana...?" tanya Hardi sambil memeluk sang istri.

" Kita balik aja Yah ke rumah Kita. Enakan di sana, ga stress...," kata Fatma lagi.

" Tapi perjalanan ke rumah Kita di kampung kan jauh Bu, ga baik buat Ibu yang baru aja sembuh...," kata Hardi lembut.

" Abis gimana lagi Yah...," kata Fatma.

" Coba lah berdamai dengan Adnan dan pilihannya Bu...," kata Hardi sambil menatap istrinya.

" Aku ga bisa Yah. Feeling Aku sebagai Ibu tuh bilang kalo Sarmila itu bukan wanita baik-baik. Dia cuma memanfaatkan Adnan aja Yah...," kata Fatma mencoba meyakinkan suaminya.

" Ayah juga merasa kaya gitu Bu. Tapi Kita harus gimana. Adnan lagi tersesat sama cintanya si Sarmila...," kata Hardi.

" Syukur kalo Ayah sependapat sama Ibu. Tapi tumben sih Yah...?" tanya Fatma heran.

" Ibu nih gimana sih. Aku kan juga laki-laki. Sekali liat, Aku juga bisa nilai gimana wanita yang sedang mendekati Anakku...," kata Hardi bangga.

" Jadi, menurut Ayah gimana...?" tanya Fatma penasaran.

" Ya biarin aja dulu sementara. Jangan perlihatkan kalo Kita ga suka sama pilihannya itu. Ayah kawatir Sarmila nekad dan menggunakan cara licik untuk ngedapetin Adnan...," kata Hardi lagi.

" Maksud Ayah, pelet gitu...," kata Fatma bergidik ngeri.

" Iya Bu...," jawab Hardi sambil mengangguk.

Keduanya pun membisu tak melanjutkan percakapan mereka. Hingga Adnan datang dan merapikan barang bawaan ibunya.

" Selesai. Udah siap Bu...?" tanya Adnan semangat.

" Iya...," jawab Fatma lirih.

Adnan pun mendorong kursi roda yang digunakan sang ibu. Sedangkan Hardi mengikuti dari belakang. Tak ada pembicaraan penting diantara mereka bertiga.

Saat berada di depan lift, mereka berpapasan dengan Arini yang tampak terburu-buru dengan wajah sembab seolah baru saja menangis.

" Arini...," panggil Adnan dan Hardi bersamaan.

Arini menoleh dan mencoba menyembunyikan wajah sembabnya dengan tersenyum.

" Bapak, Adnan...," sapa Arini balik.

" Kamu kenapa...?" tanya Adnan.

" Gapapa...," kata Arini singkat sambil melengos.

Hardi yang melihat sikap kedua orang muda di depannya seperti paham. Ia mengambil alih kursi roda dari tangan Adnan.

" Kamu temani Arini dulu, biar Ibu sama Ayah...," kata Hardi.

" Iya Adnan, kasihan dia...," bisik Fatma pelan.

Adnan pun mengangguk dan memberikan kursi roda pada ayahnya.

" Tunggu Arini, apa ada yang terjadi sama Robi...?" tanya Adnan.

" Maaf Pak, Bu. Saya duluan ya...," kata Arini tanpa menjawab pertanyaan Adnan.

Arini lalu berjalan cepat meninggalkan lift. Adnan pun mengekori Arini tanpa bertanya lagi.

Keduanya sampai di depan kamar Robi. Saat membuka pintu kamar, sudah ada dokter dan tiga perawat juga kedua orangtua Robi di sana. Ada Melinda juga yang berdiri di balik pintu.

Arini pun menghambur memeluk Robi.

" Sayang...," panggil Robi lirih.

" Maaf Aku telat...," bisik Arini di telinga Robi.

" Gapapa Sayang. Kita masih sempet ketemu kan...," kata Robi tersenyum.

" Hai Rob. Sehat terus ya...," sapa Adnan sambil menggenggam tangan Robi erat.

" Makasih Nan. Aku seneng liat Kamu di sini...," kata Robi lirih sambil membalas genggaman tangan Adnan.

Arini pun menahan tangisnya sekuat tenaga. Ini adalah hari keberangkatan Robi untuk berobat ke Singapura. Jadi Arini berusaha terlihat tegar di depan Robi dan terus tersenyum. Adnan melirik kearah Arini, baru kali ini ia melihat ekspresi sedih Arini dari dekat.

" Ayo, Kita ke bawah sekarang. Mobilnya udah siap kan Sus...?" tanya dokter.

" Sudah siap dok. Bahkan pesawat juga sudah siap di bandara Halim dok...," jawab perawat itu.

Akhirnya rombongan itu pun keluar dari kamar rawat Robi. Tangan Robi dan Arini saling bertautan, seolah tak ingin lepas. Hasan dan Mirna nampak memandang iba pada pasangan yang sedang kasmaran itu.

" Kasian Robi sama Arini ya Pa...," kata Mirna menahan tangis.

" Iya Ma. Doain aja biar Robi cepet sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan Arini. Mungkin Kita bisa rencanain pernikahan Mereka setelah Robi sembuh nanti...," kata Hasan tersenyum.

" Iya Papa bener...," kata Mirna antusias.

Mereka masuk ke lift yang berbeda. Robi dan Arini di satu lift khusus bersama dokter dan perawat. Sedangkan Mirna, Hasan dan Adnan di dalam lift lainnya.

Saat tiba di loby Rumah Sakit, nampak kedua orangtua Adnan yang masih duduk menunggu dengan santai.

Adnan pun mengenalkan Robi dan kedua orangtuanya dengan ayah dan ibunya. Mereka nampak berbincang sejenak.

" Ini mau dibawa kemana Bu...?" tanya Fatma.

" Ke Singapura Bu. Ada kerabat di sana yang bisa mengobati penyakit Anak Saya...," jawab Mirna.

" Semoga cepet sembuh ya Bu...," kata Fatma tulus.

" Aamiin. Makasih doanya Bu. Maaf, Saya harus pergi. Mari...," pamit Mirna.

Sebelum Robi dibawa dengan menaiki ambulans, Robi masih bicara sebentar dengan Arini.

" Sayang. Kamu tau ga, Kamu adalah perempuan terhebat dan istimewa yang pernah Aku kenal selain Mama Aku...," kata Robi sambil mengelus pipi Arini lembut.

" Masa...," gurau Arini untuk mengendalikan perasaannya yang resah.

" Iya. Kamu hebat karena bisa bikin phobia Aku sembuh. Kamu juga istimewa karena bisa mengenalkan arti cinta dalam hidupku...," kata Robi lirih dengan mata berkaca-kaca.

" Sayang jangan banyak bicara. Nanti Kamu kesulitan bernafas...," kata Arini hampir menangis.

Tapi Robi tak peduli. Ia masih terus bicara.

" Aku bersyukur bisa mengenalmu dan mencintaimu. Sayang..., kalo masih ada sisa umurku. Aku mau habiskan sisa umurku bersamamu, menjagamu dan menua bersamamu...," kata Robi menangis.

Arini pun tak lagi bisa menahan tangisnya. Ia ikut menangis mendengar ucapan Robi.

Lalu Arini memeluk Robi dan hanya diam tanpa berucap apa-apa. Robi pun menangis dalam pelukan Arini.

Semua yang menyaksikan ikut terharu. Bahkan Mirna menyembunyikan wajahnya dalam pelukan suaminya. Ia tak tega melihat anak yang dilahirkannya tampak tergolek lemah tak berdaya.

" Janji cepet sembuh ya..., Aku di sini nungguin Kamu. Selalu nunggu Kamu...," bisik Arini di telinga Robi.

Robi mengangguk dan mengecup kening Arini. Ia mengurai pelukannya dan menatap Arini sekali lagi. Setelah mengecup bibir Arini sekilas, Robi pun memberi kode untuk segera memasukkannya ke dalam ambulans.

Tak lama kemudian rombongan itu pun meninggalkan Rumah Sakit perlahan. Arini masih berdiri menatap kepergian ambulans yang membawa pujaan hatinya dengan perasaan hancur. Melinda pun memeluk Arini untuk memberinya kekuatan.

Adnan dan kedua orangtuanya nampak tertegun menyaksikan kejadian yang baru saja berlalu di depan mereka. Mereka pun saling tatap sejenak.

" Arini...," panggil Fatma lemah.

Arini mengurai pelukan Melinda dan menoleh kearah Fatma. Ia menghapus air matanya dan melangkah menghampiri Fatma.

Melinda hanya memandangi Arini yang berjalan menghampiri Fatma.

" Iya Bu...," kata Arini di sela sisa isaknya.

" Yang sabar ya...," kata Fatma sambil merentangkan kedua tangannya seolah menawarkan pelukan hangatnya untuk Arini.

Arini pun menyambut pelukan Fatma dan kembali menangis.

" Allah pasti punya rencana indah untukmu dan kekasihmu itu...," bisik Fatma sambil mengelus punggung Arini lembut.

Arini mengangguk dan tersenyum. Fatma menghapus air mata yang jatuh di pipi Arini dengan kedua ibu jari tangannya. Lalu ia mengecup kening Arini dengan sayang.

Arini dan semua yang hadir di situ terkejut. Tapi Fatma tak peduli. Ia hanya tersenyum tulus kearah Arini. Arini pun balas tersenyum walau tak mengerti dengan sikap yang ditunjukkan Fatma padanya.

" Ehm, Arini. Apa Kamu mau bareng Saya untuk kembali ke butik...?" tawar Melinda.

" Iya Bu. Saya mau bareng sama Ibu...," jawab Arini cepat.

Arini lalu menoleh kearah Fatma dan Hardi sambil tersenyum.

" Pak, Bu, Arini balik kerja dulu ya. Maaf ga bisa ikut nganter Ibu...," kata Arini sopan.

" Gapapa Arini...," kata Hardi sambil tersenyum.

Mereka pun akhirnya berpisah di loby Rumah Sakit itu.

bersambung

Terpopuler

Comments

Siti komalasari

Siti komalasari

ada bawang nya thor 😭😭😭

2022-04-01

0

lihat semua
Episodes
1 1 ( Adnan )
2 2 ( Ditikung ? )
3 3 ( Masa sih..., )
4 4 ( Pindah )
5 5 ( Seragam )
6 6 ( Pawai Obor )
7 7 ( Mencair )
8 8 ( Musuh )
9 9 ( Kepancing )
10 10 ( Berakhir )
11 11 ( Kecewa )
12 12 ( Tentang Hati )
13 13 ( Pacar )
14 14 ( Kenapa...? )
15 15 ( Sakit juga )
16 16 ( Ketemu Lagi )
17 17 ( Ga Suka )
18 18 ( Perpisahan Sementara )
19 19 ( Kenyataan )
20 20 ( Gagal )
21 21 ( Pemulihan )
22 22 ( Kangen )
23 23 ( Ke Villa )
24 24 ( Nitip )
25 25 ( Ajak Juga )
26 26 ( Kawatir )
27 27 ( Keharuan )
28 28 ( Operasi Kedua )
29 29 ( Surat )
30 30 ( Kritis )
31 31 ( Pingsan )
32 32 ( Surprise )
33 33 ( Setuju )
34 34 ( Pulkam )
35 35 ( Kabar Dari Arini )
36 36 ( Ijab Kabul )
37 37 ( Sarapan )
38 38 ( Peraturan )
39 39 ( Kesepakatan Baru )
40 40 ( Ke kafe )
41 41. ( Berita )
42 42 ( Pergi )
43 43. ( Kesepakatan Lagi ? )
44 44 ( Cemburu )
45 45 ( Pulang )
46 46 ( Mengabaikan )
47 47 ( Penjelasan Arini )
48 48 ( Penjelasan 2 )
49 49 ( Mengambil Paksa )
50 50 ( KDRT ? )
51 51 ( Pergi Lagi )
52 52 ( Mencari )
53 53 ( Tertukar )
54 54 ( Penyesalan )
55 55 ( Berusahalah )
56 56 ( Bertemu )
57 57 ( Keputusan )
58 58 ( Status Baru )
59 59 ( Pengacau )
60 60 ( Bertemu Ratna )
61 61 ( Keinginan Yang Sama )
62 62 ( Bingung )
63 63 ( Semangat )
64 64 ( Mengejar )
65 65 ( Memberi Kesempatan )
66 66 ( Tak Bisa Menolak )
67 67 ( Panik )
68 68 ( Berhadapan )
69 69 ( Doa )
70 70 ( Menculik )
71 71 ( Menuruti )
72 72 ( Berdebat )
73 73 ( Menggendong )
74 74 ( Terluka )
75 75 ( Mendekatkan )
76 76 ( Salut )
77 77 ( Apa Benar ? )
78 78 ( Robi Ngamuk )
79 79 ( Sah Lagi )
80 80 ( Mau Cepat )
81 81 ( Alhamdulillah )
82 82 ( Gemuk ? )
83 83 ( Perubahan Hormon )
84 84 ( Sesuai Prediksi )
85 85 ( Kabar Gembira )
86 86 ( Menegangkan )
87 87 ( Menuntaskan )
88 88 ( Cara Sendiri )
89 89 ( Milikku )
90 90 ( Pesona Sita )
91 91 ( Memalukan )
92 92 ( Dipecat )
93 93 ( Kompak )
94 94 ( Melahirkan )
95 95 ( Dia Milikku 2 )
96 96 ( Naila )
97 97 ( Menyerah )
98 98 ( Naila Kabur ? )
99 99 ( Bercerai )
100 100 ( Gading dan Naila )
101 101 ( Bulan Madu )
102 102 ( Naila Sakit )
103 103 ( Dua Pria Satu Meja )
104 104 ( Tentara Ganteng )
105 105 ( Ketemu di Posko )
106 106 ( Jadi Nyamuk ? )
107 107 ( Mencari Aisyah )
108 108 ( Semakin Dekat )
109 109 ( Hukuman Permainan )
110 110 ( Jangan Berharap )
111 111 ( Jaga Jarak )
112 112 ( Melanjutkan Mimpi )
113 113 ( Terbongkar )
114 114 ( Harus Pergi )
115 115 ( Kenal Yang Lain )
116 116 ( Posesif )
117 117 ( Gamang )
118 118 ( Bingung )
119 119 ( Dejavu )
120 120 ( Irgi Pulang )
121 121 ( Irgi Cemburu )
122 122 ( Ancaman )
123 123 ( Jemput Aisyah )
124 124 ( Lega )
125 125 ( Penyelamat )
126 126 ( Ijab Kabul )
127 127 ( Belum Siap )
128 128 ( Resepsi Pernikahan )
129 129 ( Suka )
130 130 ( Menangis )
131 131 ( Merajuk )
132 132 ( Baikan )
133 133 ( Mengantar )
134 134 ( Berangkat Tugas )
135 135 ( Shock )
136 136 ( Koma )
137 137 ( Tertangkap )
138 138 ( Video Call )
139 139 ( Menawarkan Bantuan )
140 140 ( Ketahuan )
141 141 ( Jujur Membuat Luka )
142 142 ( Datang )
143 143 ( Memperalat )
144 144 ( Membuktikan )
145 145 ( Hadiah )
146 146 ( Siuman )
147 147 ( Keadilan )
Episodes

Updated 147 Episodes

1
1 ( Adnan )
2
2 ( Ditikung ? )
3
3 ( Masa sih..., )
4
4 ( Pindah )
5
5 ( Seragam )
6
6 ( Pawai Obor )
7
7 ( Mencair )
8
8 ( Musuh )
9
9 ( Kepancing )
10
10 ( Berakhir )
11
11 ( Kecewa )
12
12 ( Tentang Hati )
13
13 ( Pacar )
14
14 ( Kenapa...? )
15
15 ( Sakit juga )
16
16 ( Ketemu Lagi )
17
17 ( Ga Suka )
18
18 ( Perpisahan Sementara )
19
19 ( Kenyataan )
20
20 ( Gagal )
21
21 ( Pemulihan )
22
22 ( Kangen )
23
23 ( Ke Villa )
24
24 ( Nitip )
25
25 ( Ajak Juga )
26
26 ( Kawatir )
27
27 ( Keharuan )
28
28 ( Operasi Kedua )
29
29 ( Surat )
30
30 ( Kritis )
31
31 ( Pingsan )
32
32 ( Surprise )
33
33 ( Setuju )
34
34 ( Pulkam )
35
35 ( Kabar Dari Arini )
36
36 ( Ijab Kabul )
37
37 ( Sarapan )
38
38 ( Peraturan )
39
39 ( Kesepakatan Baru )
40
40 ( Ke kafe )
41
41. ( Berita )
42
42 ( Pergi )
43
43. ( Kesepakatan Lagi ? )
44
44 ( Cemburu )
45
45 ( Pulang )
46
46 ( Mengabaikan )
47
47 ( Penjelasan Arini )
48
48 ( Penjelasan 2 )
49
49 ( Mengambil Paksa )
50
50 ( KDRT ? )
51
51 ( Pergi Lagi )
52
52 ( Mencari )
53
53 ( Tertukar )
54
54 ( Penyesalan )
55
55 ( Berusahalah )
56
56 ( Bertemu )
57
57 ( Keputusan )
58
58 ( Status Baru )
59
59 ( Pengacau )
60
60 ( Bertemu Ratna )
61
61 ( Keinginan Yang Sama )
62
62 ( Bingung )
63
63 ( Semangat )
64
64 ( Mengejar )
65
65 ( Memberi Kesempatan )
66
66 ( Tak Bisa Menolak )
67
67 ( Panik )
68
68 ( Berhadapan )
69
69 ( Doa )
70
70 ( Menculik )
71
71 ( Menuruti )
72
72 ( Berdebat )
73
73 ( Menggendong )
74
74 ( Terluka )
75
75 ( Mendekatkan )
76
76 ( Salut )
77
77 ( Apa Benar ? )
78
78 ( Robi Ngamuk )
79
79 ( Sah Lagi )
80
80 ( Mau Cepat )
81
81 ( Alhamdulillah )
82
82 ( Gemuk ? )
83
83 ( Perubahan Hormon )
84
84 ( Sesuai Prediksi )
85
85 ( Kabar Gembira )
86
86 ( Menegangkan )
87
87 ( Menuntaskan )
88
88 ( Cara Sendiri )
89
89 ( Milikku )
90
90 ( Pesona Sita )
91
91 ( Memalukan )
92
92 ( Dipecat )
93
93 ( Kompak )
94
94 ( Melahirkan )
95
95 ( Dia Milikku 2 )
96
96 ( Naila )
97
97 ( Menyerah )
98
98 ( Naila Kabur ? )
99
99 ( Bercerai )
100
100 ( Gading dan Naila )
101
101 ( Bulan Madu )
102
102 ( Naila Sakit )
103
103 ( Dua Pria Satu Meja )
104
104 ( Tentara Ganteng )
105
105 ( Ketemu di Posko )
106
106 ( Jadi Nyamuk ? )
107
107 ( Mencari Aisyah )
108
108 ( Semakin Dekat )
109
109 ( Hukuman Permainan )
110
110 ( Jangan Berharap )
111
111 ( Jaga Jarak )
112
112 ( Melanjutkan Mimpi )
113
113 ( Terbongkar )
114
114 ( Harus Pergi )
115
115 ( Kenal Yang Lain )
116
116 ( Posesif )
117
117 ( Gamang )
118
118 ( Bingung )
119
119 ( Dejavu )
120
120 ( Irgi Pulang )
121
121 ( Irgi Cemburu )
122
122 ( Ancaman )
123
123 ( Jemput Aisyah )
124
124 ( Lega )
125
125 ( Penyelamat )
126
126 ( Ijab Kabul )
127
127 ( Belum Siap )
128
128 ( Resepsi Pernikahan )
129
129 ( Suka )
130
130 ( Menangis )
131
131 ( Merajuk )
132
132 ( Baikan )
133
133 ( Mengantar )
134
134 ( Berangkat Tugas )
135
135 ( Shock )
136
136 ( Koma )
137
137 ( Tertangkap )
138
138 ( Video Call )
139
139 ( Menawarkan Bantuan )
140
140 ( Ketahuan )
141
141 ( Jujur Membuat Luka )
142
142 ( Datang )
143
143 ( Memperalat )
144
144 ( Membuktikan )
145
145 ( Hadiah )
146
146 ( Siuman )
147
147 ( Keadilan )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!