Fatma sedang mempersiapkan kepulangannya dari Rumah Sakit. Ia begitu semangat. Hardi pun nampak bahagia mengetahui istrinya diperbolehkan pulang oleh dokter.
" Jangan ada yang ketinggalan ya Yah...," kata Fatma mengingatkan suaminya.
" Beres Bu...," kata Hardi.
" Adnan kemana Yah...?" tanya Fatma.
" Lagi ngurus administrasi di bawah. Apa mau nunggu Adnan dulu...?" tanya Hardi.
" Iya. Aku cuma mau bilang, Aku ga mau pulang ke rumah Adnan kalo Anak itu masih ada di sana...," kata Fatma sambil merapikan ujung bajunya.
" Terus, Ibu mau kemana...?" tanya Hardi sambil memeluk sang istri.
" Kita balik aja Yah ke rumah Kita. Enakan di sana, ga stress...," kata Fatma lagi.
" Tapi perjalanan ke rumah Kita di kampung kan jauh Bu, ga baik buat Ibu yang baru aja sembuh...," kata Hardi lembut.
" Abis gimana lagi Yah...," kata Fatma.
" Coba lah berdamai dengan Adnan dan pilihannya Bu...," kata Hardi sambil menatap istrinya.
" Aku ga bisa Yah. Feeling Aku sebagai Ibu tuh bilang kalo Sarmila itu bukan wanita baik-baik. Dia cuma memanfaatkan Adnan aja Yah...," kata Fatma mencoba meyakinkan suaminya.
" Ayah juga merasa kaya gitu Bu. Tapi Kita harus gimana. Adnan lagi tersesat sama cintanya si Sarmila...," kata Hardi.
" Syukur kalo Ayah sependapat sama Ibu. Tapi tumben sih Yah...?" tanya Fatma heran.
" Ibu nih gimana sih. Aku kan juga laki-laki. Sekali liat, Aku juga bisa nilai gimana wanita yang sedang mendekati Anakku...," kata Hardi bangga.
" Jadi, menurut Ayah gimana...?" tanya Fatma penasaran.
" Ya biarin aja dulu sementara. Jangan perlihatkan kalo Kita ga suka sama pilihannya itu. Ayah kawatir Sarmila nekad dan menggunakan cara licik untuk ngedapetin Adnan...," kata Hardi lagi.
" Maksud Ayah, pelet gitu...," kata Fatma bergidik ngeri.
" Iya Bu...," jawab Hardi sambil mengangguk.
Keduanya pun membisu tak melanjutkan percakapan mereka. Hingga Adnan datang dan merapikan barang bawaan ibunya.
" Selesai. Udah siap Bu...?" tanya Adnan semangat.
" Iya...," jawab Fatma lirih.
Adnan pun mendorong kursi roda yang digunakan sang ibu. Sedangkan Hardi mengikuti dari belakang. Tak ada pembicaraan penting diantara mereka bertiga.
Saat berada di depan lift, mereka berpapasan dengan Arini yang tampak terburu-buru dengan wajah sembab seolah baru saja menangis.
" Arini...," panggil Adnan dan Hardi bersamaan.
Arini menoleh dan mencoba menyembunyikan wajah sembabnya dengan tersenyum.
" Bapak, Adnan...," sapa Arini balik.
" Kamu kenapa...?" tanya Adnan.
" Gapapa...," kata Arini singkat sambil melengos.
Hardi yang melihat sikap kedua orang muda di depannya seperti paham. Ia mengambil alih kursi roda dari tangan Adnan.
" Kamu temani Arini dulu, biar Ibu sama Ayah...," kata Hardi.
" Iya Adnan, kasihan dia...," bisik Fatma pelan.
Adnan pun mengangguk dan memberikan kursi roda pada ayahnya.
" Tunggu Arini, apa ada yang terjadi sama Robi...?" tanya Adnan.
" Maaf Pak, Bu. Saya duluan ya...," kata Arini tanpa menjawab pertanyaan Adnan.
Arini lalu berjalan cepat meninggalkan lift. Adnan pun mengekori Arini tanpa bertanya lagi.
Keduanya sampai di depan kamar Robi. Saat membuka pintu kamar, sudah ada dokter dan tiga perawat juga kedua orangtua Robi di sana. Ada Melinda juga yang berdiri di balik pintu.
Arini pun menghambur memeluk Robi.
" Sayang...," panggil Robi lirih.
" Maaf Aku telat...," bisik Arini di telinga Robi.
" Gapapa Sayang. Kita masih sempet ketemu kan...," kata Robi tersenyum.
" Hai Rob. Sehat terus ya...," sapa Adnan sambil menggenggam tangan Robi erat.
" Makasih Nan. Aku seneng liat Kamu di sini...," kata Robi lirih sambil membalas genggaman tangan Adnan.
Arini pun menahan tangisnya sekuat tenaga. Ini adalah hari keberangkatan Robi untuk berobat ke Singapura. Jadi Arini berusaha terlihat tegar di depan Robi dan terus tersenyum. Adnan melirik kearah Arini, baru kali ini ia melihat ekspresi sedih Arini dari dekat.
" Ayo, Kita ke bawah sekarang. Mobilnya udah siap kan Sus...?" tanya dokter.
" Sudah siap dok. Bahkan pesawat juga sudah siap di bandara Halim dok...," jawab perawat itu.
Akhirnya rombongan itu pun keluar dari kamar rawat Robi. Tangan Robi dan Arini saling bertautan, seolah tak ingin lepas. Hasan dan Mirna nampak memandang iba pada pasangan yang sedang kasmaran itu.
" Kasian Robi sama Arini ya Pa...," kata Mirna menahan tangis.
" Iya Ma. Doain aja biar Robi cepet sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan Arini. Mungkin Kita bisa rencanain pernikahan Mereka setelah Robi sembuh nanti...," kata Hasan tersenyum.
" Iya Papa bener...," kata Mirna antusias.
Mereka masuk ke lift yang berbeda. Robi dan Arini di satu lift khusus bersama dokter dan perawat. Sedangkan Mirna, Hasan dan Adnan di dalam lift lainnya.
Saat tiba di loby Rumah Sakit, nampak kedua orangtua Adnan yang masih duduk menunggu dengan santai.
Adnan pun mengenalkan Robi dan kedua orangtuanya dengan ayah dan ibunya. Mereka nampak berbincang sejenak.
" Ini mau dibawa kemana Bu...?" tanya Fatma.
" Ke Singapura Bu. Ada kerabat di sana yang bisa mengobati penyakit Anak Saya...," jawab Mirna.
" Semoga cepet sembuh ya Bu...," kata Fatma tulus.
" Aamiin. Makasih doanya Bu. Maaf, Saya harus pergi. Mari...," pamit Mirna.
Sebelum Robi dibawa dengan menaiki ambulans, Robi masih bicara sebentar dengan Arini.
" Sayang. Kamu tau ga, Kamu adalah perempuan terhebat dan istimewa yang pernah Aku kenal selain Mama Aku...," kata Robi sambil mengelus pipi Arini lembut.
" Masa...," gurau Arini untuk mengendalikan perasaannya yang resah.
" Iya. Kamu hebat karena bisa bikin phobia Aku sembuh. Kamu juga istimewa karena bisa mengenalkan arti cinta dalam hidupku...," kata Robi lirih dengan mata berkaca-kaca.
" Sayang jangan banyak bicara. Nanti Kamu kesulitan bernafas...," kata Arini hampir menangis.
Tapi Robi tak peduli. Ia masih terus bicara.
" Aku bersyukur bisa mengenalmu dan mencintaimu. Sayang..., kalo masih ada sisa umurku. Aku mau habiskan sisa umurku bersamamu, menjagamu dan menua bersamamu...," kata Robi menangis.
Arini pun tak lagi bisa menahan tangisnya. Ia ikut menangis mendengar ucapan Robi.
Lalu Arini memeluk Robi dan hanya diam tanpa berucap apa-apa. Robi pun menangis dalam pelukan Arini.
Semua yang menyaksikan ikut terharu. Bahkan Mirna menyembunyikan wajahnya dalam pelukan suaminya. Ia tak tega melihat anak yang dilahirkannya tampak tergolek lemah tak berdaya.
" Janji cepet sembuh ya..., Aku di sini nungguin Kamu. Selalu nunggu Kamu...," bisik Arini di telinga Robi.
Robi mengangguk dan mengecup kening Arini. Ia mengurai pelukannya dan menatap Arini sekali lagi. Setelah mengecup bibir Arini sekilas, Robi pun memberi kode untuk segera memasukkannya ke dalam ambulans.
Tak lama kemudian rombongan itu pun meninggalkan Rumah Sakit perlahan. Arini masih berdiri menatap kepergian ambulans yang membawa pujaan hatinya dengan perasaan hancur. Melinda pun memeluk Arini untuk memberinya kekuatan.
Adnan dan kedua orangtuanya nampak tertegun menyaksikan kejadian yang baru saja berlalu di depan mereka. Mereka pun saling tatap sejenak.
" Arini...," panggil Fatma lemah.
Arini mengurai pelukan Melinda dan menoleh kearah Fatma. Ia menghapus air matanya dan melangkah menghampiri Fatma.
Melinda hanya memandangi Arini yang berjalan menghampiri Fatma.
" Iya Bu...," kata Arini di sela sisa isaknya.
" Yang sabar ya...," kata Fatma sambil merentangkan kedua tangannya seolah menawarkan pelukan hangatnya untuk Arini.
Arini pun menyambut pelukan Fatma dan kembali menangis.
" Allah pasti punya rencana indah untukmu dan kekasihmu itu...," bisik Fatma sambil mengelus punggung Arini lembut.
Arini mengangguk dan tersenyum. Fatma menghapus air mata yang jatuh di pipi Arini dengan kedua ibu jari tangannya. Lalu ia mengecup kening Arini dengan sayang.
Arini dan semua yang hadir di situ terkejut. Tapi Fatma tak peduli. Ia hanya tersenyum tulus kearah Arini. Arini pun balas tersenyum walau tak mengerti dengan sikap yang ditunjukkan Fatma padanya.
" Ehm, Arini. Apa Kamu mau bareng Saya untuk kembali ke butik...?" tawar Melinda.
" Iya Bu. Saya mau bareng sama Ibu...," jawab Arini cepat.
Arini lalu menoleh kearah Fatma dan Hardi sambil tersenyum.
" Pak, Bu, Arini balik kerja dulu ya. Maaf ga bisa ikut nganter Ibu...," kata Arini sopan.
" Gapapa Arini...," kata Hardi sambil tersenyum.
Mereka pun akhirnya berpisah di loby Rumah Sakit itu.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Siti komalasari
ada bawang nya thor 😭😭😭
2022-04-01
0