Arini melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menuju butik milik kenalannya.
Dia baru saja membuka HP dan mendapat kabar bahwa ia diterima bekerja di sebuah butik milik tante sang kenalan, Robi.
Robi adalah pria yang baik. Dia pelanggan tetap di kios bunga tempat Arini bekerja. Dia menjalin pertemanan dengan Arini karena sikap Arini yang menurutnya ramah dan menyenangkan.
" Kenapa Rin, bete banget kayanya...," sapa Robi waktu itu.
" Iya, Aku bosen kerja di sini. Apalagi harus ketemu sama orang yang paling Aku sebelin...," kata Arini sambil merangkai bunga pesanan Robi.
" Kok bisa. Bukannya Kamu pernah bilang kalo Kamu tuh suka banget sama bunga ya. Kan kerjaan ini juga cocok sama Kamu...," kata Robi heran.
" Iya. Itu sebelum cowok rese itu dateng dan jadi pelanggan di sini...," kata Arini sebal.
" Cowok mana sih yang bikin Kamu ga semangat kaya gini, atau jangan-jangan Kamu suka ya sama dia...?" ledek Robi.
" Apaan sih Kamu, ga lah. Aku justru kesel karena udah tau kartunya...!" kata Arini menyangkal.
" Ooo, terus maunya gimana...?" tanya Robi menahan tawa.
" Cari kerja di tempat laen lah. Biar cari suasana baru juga...," kata Arini pelan.
" Mmm, ga harus toko bunga juga kan...?" tanya Robi.
" Iya. Kenapa, Kamu punya kenalan yang lagi buka lowongan ga...?" tanya Arini sambil menyerahkan hasil rangkaian bunganya.
" Coba ntar Aku tanyain dulu ya. Kali aja dia masih nerima karyawan. Makanya Aku ga berani janji sama Kamu, kawatir Kamu ngarep...," kata Robi sambil mengeluarkan uang untuk membayar jasa Arini.
" Ok. Makasih ya Rob...," kata Arini sambil tersenyum.
" Jangan terimakasih dulu. Kan belom pasti diterima...," kata Robi tertawa.
Arini pun tertawa. Ia melambaikan tangan saat Robi menjauh dengan mobilnya. Arini pun kembali ke dalam toko dan melanjutkan pekerjaannya. Dalam hati Arini berharap bisa segera menjauh dari Adnan, pria yang pernah singgah di hatinya.
\=\=\=\=\=
" Jadi Aku langsung diterima kerja di butik itu...?!" tanya Arini senang.
" Iya. Tapi Tante Aku mau ketemu Kamu hari ini. Bisa ga...?" tanya Robi.
" Bisa. Aku bisa ke sana hari ini...," kata Arini pasti.
" Ok, Kita ketemuan di sana aja ya. Maaf, Aku ga bisa jemput. Aku baru tidur sebentar nih, jadi kepalaku pusing banget. Ntar Aku share lock aja ya...," kata Robi lagi.
" Ok. Makasih Rob...!" seru Arini.
" Iya, sama-sama...," jawab Bobi sambil menutup telephonnya.
Dan sekarang disinilah Arini, di depan sebuah butik mewah. Ia merapikan pakaian yang dikenakan juga dandanannya sedikit sebelum masuk ke dalam butik.
" Selamat datang, ada yang bisa Kami bantu...?" tanya karyawati butik ramah.
" Terimakasih. Maaf, apa Saya bisa bertemu dengan Ibu Melinda, pemilik butik ini...?" tanya Arini sopan.
" Mmm, maaf. Apa Anda sudah ada janji sebelumnya...?" tanya sang karyawati itu.
" Saya...," Arini belum selesai dengan ucapannya saat ada langkah sepatu mendekatinya dan membuatnya menoleh ke sumber suara.
" Arini ya...?" sapa seorang wanita yang ternyata adalah pemilik butik.
" Iya Bu, Saya Arini...," jawab Arini tersenyum hormat.
" Ayo ikut Saya. Ratna Kamu lanjutin tugas Kamu ya...," kata wanita itu sambil membawa Arini masuk ke dalam ruangannya.
" Baik Bu...," kata karyawati bernama Ratna itu.
Arini kemudian dipersilakan duduk di kursi sofa di hadapan sang pemilik butik.
" Saya Melinda, Tantenya Robi. Udah lama kenal sama Robi, atau mungkin Kalian pacaran ya...?" tanya Melinda to the point sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Mmm, ga Bu. Kami cuma temen aja kok...," jawab Arini gugup.
" Ooo, temen. Kirain pacar. Tapi temen istimewa kan ya...?" tanya Melinda lagi sambil menahan tawa melihat sikap Arini yang gugup.
" Itu, Saya...," Arini bingung menjawab pertanyaan itu.
" Tante, jangan bikin temen Aku salah tingkah gini dong...," suara Robi terdengar di waktu yang tepat.
" Robi...," panggil Arini senang.
" Sorry, baru bangun tidur nih. Gimana, udah kenalan sama Tante Aku yang sexi ini kan...?" tanya Robi sambil merangkul pundak sang tante.
" Hush, Kamu nih. Cuma Kamu yang bilang Tante ini sexi. Malu-maluin aja tau ga...," kata Melinda sambil mencubit pipi Robi.
" Ha ha ha, maaf Tante Sayang. Gimana, temen Aku diterima kan...?" tanya Robi.
" Iya. Tante terima. Mulai besok, Kamu bisa kerja di sini. Nanti Kamu tanya aja sama Ratna kalo ga ngerti. Ok, sekarang Saya harus keluar dulu, ada urusan...," kata Melinda ramah.
" Baik Bu. Makasih Bu...," jawab Arini senang.
Robi pun mengantar Arini ke toko bunga tempatnya bekerja untuk berpamitan.
\=\=\=\=\=
Adnan masih mengamati pekerjaan Maria diam-diam. Ia heran, kenapa hanya Maria yang datang untuk menyelesaikan tugasnya.
Sudah beberapa hari ini Adnan tak melihat Arini di kafe atau di toko bunga.
Karena penasaran, Adnan pun bertanya pada Maria.
" Saya perhatiin beberap hari ini Kamu kerja sendiri. Kemana temen Kamu yang biasanya sama Kamu...?" tanya Adnan sok cuek.
" Si Arini kan udah resign Pak. Udah dapet kerjaan baru katanya...," jawab Maria.
" O ya. Kapan, dimana...?" tanya Adnan terkejut.
" Udah tiga hari-an Pak. Kalo dimananya Saya ga tau Pak...," kata Maria.
Adnan terdiam. Mendadak tubuhnya terasa lemas. Ia tak mengerti mengapa. Tapi ia merasa semangat hidupnya seolah hilang saat tahu Arini tak lagi bekerja di toko bunga itu.
" Selesai. Saya permisi Pak...," pamit Maria.
" Ok. Makasih Maria...," kata Adnan tulus.
" Sama-sama Pak...," jawab Maria sambil berjalan meninggalkan kafe itu.
Adnan termenung di depan rangkaian bunga favorit Arini. Ia memandangi komposisi warna dan jenis bunga yang terangkai indah itu dengan seksama. Ia mengerti mengapa Arini sangat menyukai rangkaian bunga itu.
Adnan pun tersenyum diam-diam.
\=\=\=\=\=
Sementara itu Arini mulai sibuk dengan pekerjaan barunya. Tak sulit untuk Arini menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan barunya, karena pada dasarnya Arini adalah orang yang ramah dan mudah bergaul.
" Jadi Kamu temenan sama Mas Robi itu udah lama Rini...?" tanya Ratna kepo.
" Belom lama juga. Mungkin setahun lebih. Aku lupa...," jawab Arini seadanya.
" Mas Robi itu jarang punya temen cewek. Makanya waktu Kamu bilang kenal sama Mas Robi, Kita semua kaget...," kata Ratna.
" Emangnya aneh ya kalo Aku kenal sama Mas Robi...?" tanya Arini heran.
" Mas Robi itu phobia cewek...," bisik Anis pelan di telinga Arini.
" Masa sih...," kata Arini tak percaya. Sebab seingatnya Robi selalu bisa bersikap hangat padanya saat mereka ngobrol. Robi pun tak berusaha memberi jarak jika mereka sedang berada di toko bunga.
" Tapi ngeliat sikapnya sama Kamu, kayanya phobianya itu udah sembuh deh...," ledek Anis tersenyum.
" Sembuh, emang phobia bisa sembuh...?" tanya Arini lagi.
" Bisa lah, apalagi kalo ceweknya juga punya perasaan tulus sama dia...," kata Ratna ikut meledek Arini.
" Iihhh, Kalian tuh salah paham. Aku sama dia tuh cuma temen, titik...," kata Arini tegas.
" Iya iya, temen ketemu gede. Dari temen jadi demen...," kata Anis tertawa.
Ratna dan Arini pun tertawa mendengar ucapan Anis.
Sementara di ruangan Melinda, Robi nampak sedang membaringkan tubuhnya di sofa dengan santai.
" Jangan bilang Kamu ga punya perasaan apa-apa sama Arini Rob...," kata Melinda sambil melempar bolpoint ke arah Robi.
" Ck. Tante kenapa masih bahas itu sih. Tante ga percaya sama Aku...?" tanya Roni sambil mengembalikan bolpoint yang dilempar Melinda ke atas meja.
" Aneh tau ga. Kamu tuh ga pernah sepeduli ini sama cewek. Kalo Kamu ga naksir ga mungkin kan Kamu mau lakuin ini semua. Pake nyuruh Tante jadiin dia karyawan di sini segala...," sungut Melinda sebal.
" Iya deh Aku ngaku. Aku suka sama dia Tante. Tolong jagain dia untuk Aku ya...," pinta Robi sambil mencium kening sang tante sebelum keluar dari ruangan itu.
" Ini ga gratis ya...!" seru Melinda.
" Beres Tante...!" jawab Robi.
Melinda tersenyum senang saat tahu sang keponakan sudah sembuh dari phobianya dan bahkan jatuh cinta pada seorang gadis.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments