Arini masih duduk menunggui Robi di ruangan rawat inap Robi. Ia duduk dengan gelisah. Sesekali matanya menatap ke arah Robi. Ada mama Robi dan Melinda yang sedang duduk menunggu di samping Robi.
" Ehm, apa ga sebaiknya Kamu pulang dan istirahat dulu Arini...?" tanya Mirna lembut.
" Saya tunggu sampe Robi siuman dulu Tante. Ntar kalo udah siuman, baru Saya pulang...," kata Arini pelan.
" Ok. Jangan sampe sakit juga ya Sayang...," kata Mirna sambil tersenyum.
" Iya Tante...," kata Arini lagi.
Mirna dan Hasan sangat menyayangi Arini yang telah berhasil 'mengobati' phobia Robi terhadap wanita. Apalagi di mata mereka Arini adalah sosok wanita yang baik, santun dan tak banyak menuntut. Mereka yakin, bersama Arini kehidupan Robi akan lebih baik.
Tiba-tiba Robi mengerang pelan. Matanya terbuka perlahan. Tangannya pun bergerak seperti mencari sesuatu.
" Mama...," panggil Robi lirih.
" Iya Sayang, Mama ada di sini...," sahut Mirna lembut sambil menggenggam tangan Robi lembut.
" Arini dimana Ma...?" tanya Robi dengan suara lemah.
Mirna menoleh kearah Arini seakan meminta Arini untuk mendekat. Arini pun perlahan mendekati Robi yang terbaring lemah itu.
" Arini...," panggil Robi lagi.
" Iya, Aku di sini...," jawab Arini sambil mencoba menahan air matanya yang hampir jatuh.
" Maafin Aku ya. Aku sayang banget sama Kamu...," kata Robi lirih.
" Udah cukup. Aku percaya Kamu sayang sama Aku. Aku juga sayang sama Kamu. Sekarang Kamu istirahat, jangan banyak mikir yang aneh-aneh. Aku dan semua di sini nungguin Kamu. Kamu mau sembuh kan...?" tanya Arini hati-hati.
Robi mengangguk perlahan. Ia kesulitan bernafas akibat banyak bicara. Melihat hal ini Arini pun menenangkan Robi.
" Aku di sini. Kamu tenang aja ya...," bisik Arini.
Robi pun nampak lebih tenang dan mulai memejamkan matanya lagi.
Mirna terisak dalam pelukan suaminya. Ia merasa sedih karena perannya tergantikan oleh Arini. Ada rasa tak terima di hatinya. Tapi Mirna mencoba maklum akan sikap anaknya yang sedang kasmaran itu.
" Kita harus sabar Ma. Robi bukan lupa sama Mama. Tapi Arini adalah semangat hidup Robi sekarang. Biarkan dia ada di samping Robi selama dia mau. Supaya Robi Kita bisa bertahan dan sembuh...," kata Hasan pada sang istri.
Mirna menangis lebih keras mendengar ucapan suaminya. Tapi dia setuju dengan suaminya itu.
" Kak, jangan kaya gini. Kakak harus kuat. Jangan tunjukin sama Robi kalo Kakak lemah...," bujuk Melinda pada sang kakak.
" Iya Mel. Aku tau...," isak Mirna.
Melinda pun membawa Mirna keluar dari ruang rawat Robi agar lebih leluasa menumpahkan air matanya.
Hasan masih menemani sang anak bersama Arini di sampingnya.
" Kamu istirahat dulu Arini. Kamu juga capek kan. Kamu harus jaga kesehatanmu buat Robi. Sekarang Kamu pulang dulu, biar diantar sama supir ya...," kata Hasan bijak.
" Iya Om. Arini pamit ya Om...," kata Arini sambil mencium punggung tangan Hasan.
Hasan pun mengangguk sambil membelai kepala Arini lembut.
Arini keluar dari ruangan dan menjumpai Mirna di depan kamar bersama Melinda.
" Mau pulang Rin, diantar sama Tono ya...," kata Melinda.
" Iya Bu. Makasih...," kata Arini santun.
Setelah berpamitan pada Mirna dan Melinda, Arini pun melangkah perlahan meninggalkan Rumah Sakit. Dengan diantar Tono supir pribadi Melinda, Arini pun kembali ke kost-an dengan perasaan galau.
" Jangan kawatir Mbak. Nyonya dan Tuan pasti melakukan apa pun untuk kesembuhan Mas Robi...," kata Tono.
" Iya Pak. Saya cuma ga percaya kalo Robi bisa terbaring kaya gitu. Padahal tadi masih sehat segar bugar kok...," kata Arini sedih.
" Sebenernya Saya curiga kalo sakitnya Mas Robi itu udah lama. Tapi Mas Robi pinter nyembunyiin sakitnya sampe ga ada yang tau, termasuk Orangtuanya...," kata Tono lagi.
" Dia orang yang baik dan ga mau bikin sedih orang lain...," kata Arini menahan tangis.
" Udah sampe Mbak...," kata Tono.
" Iya. Makasih ya Pak Tono...," kata Arini.
" Sama-sama Mbak Arini...," kata Tono.
Arini turun dan langsung masuk ke dalam kost-an.
\=\=\=\=\=
Mirna dan Melinda sedang ke kantin Rumah Sakit untuk sekedar mengisi perut dan minum kopi.
Saat sedang menikmati mie goreng dan segelas kopi, Melinda menangkap sekilas sosok pria yang pernah dikenalnya.
" Kenapa Mel...?" tanya Mirna.
" Itu, kayanya Aku liat temennya si Robi. Siapa ya namanya. Aku lupa...," kata Melinda.
" Mana...?" tanya Mirna
" Udah jalan kesana tadi...," kata Melinda lagi.
" Cuma mirip aja kali...," kata Mirna.
Melinda hanya menggedikkan bahu.
Setelah menyelesaikan makannya, Mirna dan Melinda pun kembali ke kamar Robi. Dalam perjalanan menuju ke kamar Robi, Melinda bertabrakan dengan seorang pria yang nampaknya tengah terburu-buru.
" Maaf...," kata pria itu.
" Iya gapapa...," kata Melinda.
" Adnan. Kamu Adnan kan...," kata Mirna.
" Iya. Eh Tante ada di sini juga. Apa kabar Tante...," kata Adnan sambil menyalami Mirna dan Melinda.
" Tuh bener kan. Ini yang Aku liat tadi...," kata Melinda.
Adnan dan Mirna tersenyum mendengar ucapan Melinda.
" Kamu ngapain di sini Adnan, siapa yang sakit...?" tanya Mirna lagi.
" Ibu Aku Tante. Dirawat di sini juga, baru masuk sore tadi. Kalo Tante, ngapain di sini...?" tanya Adnan.
" Robi sakit Adnan. Robi dirawat di sini juga. Dia...," Mirna tak melanjutkan ucapannya.
" Robi, sakit apa Tante. Belom lama Saya ketemu Robi. Kok bisa Tante...," tanya Adnan beruntun.
" Tante juga baru tau Adnan. Dia sakit kanker otak, stadium dua...," kata Mirna lirih dan kembali menangis.
" Ya Allah..., Adnan ikut prihatin Tante. Boleh Adnan jenguk Robi Tante...?" tanya Robi.
" Boleh. Robi ada di ruang A2 di lantai atas...," kata Mirna lagi.
" Insya Allah Saya ke sana Tante. Saya urus Ibu dulu ya...," kata Robi sebelum berlalu.
Mereka bertiga berpisah di depan lift. Adnan segera menuju apotik untuk menebus obat ibunya. Sedangkan Mirna dan Melinda lanjut menuju kamar tempat Robi dirawat.
\=\=\=\=\=
Robi terbangun saat merasakan sentuhan lembut di pipinya. Ia membuka matanya perlahan.
" Mama...," panggil Robi sambil tersenyum.
" Iya Sayang. Gimana, apa yang Kamu rasain. Sakit, pusing, demam atau apa...?" tanya Mirna beruntun.
" Mama...," panggil suaminya seolah memberi kode bahwa pertanyaan istrinya itu bisa membuat Robi sakit kepala.
" Mama kan kawatir Pa...," kata Mirna tak mau kalah.
" Robi gapapa kok Ma. Udah mendingan...," kata Robi berusaha duduk.
" Coba Kamu liat, ada siapa yang jenguk Kamu...?" tanya Mirna lagi.
" Siapa Ma...?" tanya Robi sambil bersandar di kepala tempat tidur.
Mirna dan Hasan tersenyum, lalu mereka menoleh ke arah Adnan.
" Hai Rob...," sapa Adnan.
" Adnan...," kata Robi sambil tersenyum.
" Kenapa Kamu. Kok tumben dirawat segala. Biasanya Kamu kuat dan ga gampang sakit. Ada apa ini...," gurau Adnan sambil memukul kecil bahu Robi.
" Ga tau nih. Lagi dikasih ujian sama Allah...," kata Robi ringan.
Adnan pun tertawa. Mirna dan Hasan pun keluar untuk memberi kesempatan pada Adnan dan Robi ngobrol dan bertukar pikiran. Mereka sengaja duduk di depan ruang rawat Robi sambil menunggu Melinda yang janji datang lagi siang itu.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
any Sulistiani
Maksih suportnya lagi, sayangku...
2021-01-08
0
St Nurul NG
Semangat berkarya kak like hadir, sukses selalu
2021-01-08
1