5 ( Seragam )

Ketidak hadiran Arini membuat Adnan sedikit merasa 'aneh'. Dia merasa ada sesuatu yang hilang tapi tak tahu apa.

Kini Adnan mencoba menjalankan usaha barunya dengan serius. Masih banyak perbaikan yang harus dilakukan Adnan pada kafe miliknya itu.

Setelah beberapa waktu, kafe Adnan pun makin laris. Bahkan Adnan juga mengembangkan sayap dengan membuka cabang kafe di tempat lain. Dan itu menjadikan Adnan sibuk dan melupakan permintaan orangtuanya untuk segera menikah dan memberi mereka cucu.

Kini sudah mendekati hari raya Idul Fitri. Dan itu artinya, sebagai perantau sukses Adnan punya kewajiban untuk mudik seperti warga perantau lainnya.

Adnan sedang sibuk menyiapkan bonus dan THR untuk para karyawan kafe miliknya.

Bonus dan THR diberikan pada karyawan teladan. Sedangkan THR akan diberikan pada semua karyawan berdasarkan jenjang pekerjaan mereka dan lama mereka bekerja padanya.

Tiba-tiba telephone di meja kerja Adnan berdering. Adnan segera mengangkatnya tanpa mengalihkan pandangannya pada laporan pembukuan di hadapannya.

" Hallo, Assalamualaikum...," sapa Adnan.

" Wa alaikumsalam, Nan. Apa Kamu ada rencana pulang lebaran ini Nak...?" tanya Hardi.

" Insya Allah Yah. Adnan mudik kok. Mungkin sekitar dua hari menjelang lebaran. Kenapa Yah...?" tanya Adnan.

" Oh, gapapa. Ibumu terus aja nanyain. Ayah sampe pusing dengernya. Disuruh nanya sendiri malah galakan dia, he he he...," jawab Hardi di sela tawanya.

" Apa Ibu masih marah Yah sama Adnan...?" tanya Adnan serius.

" Sedikit. Tapi ga usah diambil hati. Ini buktinya Ayah telephon Kamu karena ga tahan sama ocehannya...," kata sang ayah menenangkan Adnan.

" Kalo gitu salam ya Yah buat Ibu. Kalo Adnan pulang mau dibawain apa Yah...?" tanya Adnan lagi.

" Bawain menantu...!" teriak sang ibu yang terdengar sangat keras di telinga Adnan.

" Tuh, udah dijawab sama Ibumu...," kata Ayah Adnan.

" Ck. Ibu nih. Menantu kok disamain sama sandal jepit. Gampang banget mintanya. Kaya tinggal nyomot aja di warung tetangga...," gerutu Adnan yang di balas oleh tawa keras sang ayah.

Adnan pun menutup sambungan telephon dengan orangtuanya sambil geleng-geleng kepala.

\=\=\=\=\=

Akhirnya hari mudik itu tiba.

Sebelumnya Adnan mengumpulkan karyawannya untuk memberi pengumuman dan THR.

" Terimakasih atas kerjasama Kalian selama ini. Untuk menyambut hari raya Idul Fitri, maka kafe akan libur selama seminggu mulai besok...," kata Adnan membuka kalimat.

Semua kayawan nampak tegang. Karena sebelumnya berhembus kabar bahwa Adnan akan memecat sebagian karyawan karena pekerjaan mereka yang tak bagus.

Tak ada yang berani menjawab atau berkomentar atas pernyataan Adnan tadi.

" Dan ini, ada sedikit bonus juga THR untuk Kalian dari Saya. Semoga bermanfaat untuk Kalian. Ali, tolong Kamu bagikan ini...," pinta Adnan sambil menyerahkan amplop pada bawahannya.

Setelah selesai membagikan amplop berisi uang itu, Ali pun kembali ke posisinya semula.

" Maaf Pak...," kata Ali memberanikan diri.

" Iya. Kenapa Li...?" tanya Adnan.

" Apa Kami akan dipecat Pak...?" tanya Ali mewakili rekan-rekannya.

" Ga ada yang dipecat. Apa Kamu ga nyimak perkataan Saya tadi Li...?" tanya Adnan bingung.

" Soalnya, ada desas desus kaya gitu Pak...," kata Ali menunduk.

" Masa...," kata Adnan datar.

" Iya Pak...," jawab para karyawan Adnan yang berjumlah sepuluh orang itu.

" Kalian salah. Sekedar informasi. Ada yang terima dua amplop, itu bukan pesangon. Tapi adalah bonus yang akan Saya berikan setiap tiga bulan sekali. Jadi Saya akan perhatikan kinerja Kalian di kafe mulai awal nanti. Dan ini adalah bonus perdana yang Saya berikan supaya Kalian semangat kerja...," kata Adnan menahan tawa.

" Alhamdulillah, Saya kira Saya dipecat. Makasih Pak...," kata Asmi dengan mata berkaca-kaca karena menerima dua amplop.

" Sama-sama. Kamu dan Ali terima dua amplop karena kinerja Kalian bagus selama tiga bulan ini. Nah yang satunya, itu THR buat Kamu...," kata Adnan.

Semua terdengar menghela nafas lega. Mereka pun menyalami Adnan sebagai ucapan terima kasih sekaligus ucapan hari raya.

" Jangan lupa, seminggu lagi Kita ketemu di sini. Baik silakan lanjutkan pekerjaan Kalian. Saya harus siap-siap mudik. Ada yang mudik juga kaya Saya...?" tanya Adnan ramah.

" Saya Pak. Ikut lebaran di rumah Mertua...," jawab Emi kocak.

" Saya juga mudik Pak, ke Pondok Gede...," sahut Boni sambil nyengir.

" Selamat berlibur kalo gitu...," kata Adnan lagi.

Adnan pun kembali ke ruangannya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Tak banyak barang yang dibawa oleh Adnan untuk mudik nanti. Hanya beberapa helai pakaian ganti juga sedikit buah tangan. Adnan lebih memilih membawa uang, lebih praktis dan hemat, pikirnya.

\=\=\=\=\=

Kini Adnan ada di dalam perjalanan. Ia memilih mengendarai sendiri mobilnya menuju rumah kedua orangtuanya di kampung.

Walaupun jalanan padat dan macet, tapi Adnan sangat menikmati perjalanannya kali ini.

Perjalanannya ditempuh hampir empat belas jam lamanya, membuat Adnan tiba setelah Maghrib di rumah.

" Assalamualaikum Yah...," sapa Adnan pada sang ayah yang memang sedang menunggunya di teras rumah.

" Wa alaikumsalam Nak. Sehat kowe...?" tanya Hardi sambil tersenyum dan menyambut sang buah hati dengan pelukan rindu.

" Alhamdulillah sehat Yah...," jawab Adnan senang.

" Ayo masuk...," kata sang ayah.

" Ibu kemana Yah...?" tanya Adnan sambil mengedarkan pandangannya ke seantero rumah.

" Ibu di sini. Kok baru dateng sih Kamu. Sengaja ya, biar Ibu cemas...," sindir Fatma.

" Ya Allah Ibu. Udah dong marahnya. Masa Aku pulang masih dimarahin juga. Tadi macet di jalan Bu. Kan banyak yang mudik juga. Padahal Aku udah berangkat bada Subuh tadi biar sampe sore. Ternyata jalanan udah mulai padet...," jawab Adnan sambil memeluk ibunya dengan erat.

" Alasan...," kata Fatma datar.

" Bu...," panggil Hardi seolah memberi kode pada istrinya itu.

Fatma mendengus sebal sambil beranjak ke dapur. Diam-diam ia tersenyum senang karena anak semata wayangnya sudah datang menepati janji.

" Sudah sana. Ganti baju, istirahat. Besok aja ngobrolnya...," kata Hardi sambil menepuk pundak Adnan.

" Iya Yah. Ini ada sedikit oleh-oleh. Mudah-mudahan Ibu sama Ayah suka ya...," kata Adnan sambil meletakkan bawaannya di meja depan sang ayah.

Setelahnya Adnan pun masuk ke kamar untuk membersihkan diri.

" Kemana dia...?" tanya Fatma sambil membawa kopi hangat untuk Adnan dan suaminya.

" Mandi kali. Nih, Anakmu bawa oleh-oleh untuk Kita. Coba dibuka...," kata Hardi sambil menyeruput kopi buatan istrinya.

Ibu Adnan membuka oleh-oleh dari anaknya dengan wajah sumringah.

" Wah, baju Yah. Cantik banget. Warnanya sama modelnya bagus. Pinter juga dia...," kata Fatma bangga sambil mematut diri di depan suaminya.

" Gimana, Ibu suka...?" tanya Adnan yang baru selesai mandi.

" Suka lah. Ayah dapet baju juga...?" tanya Fatma.

" Iya. Kita seragaman ya. Adnan pake baju yang model dan warnanya sama kaya yang Ayah pegang ini...," kata Adnan sambil duduk dan meneguk kopi buatan sang ibu.

" Cuma ada yang kurang ya Yah. Kalo ada menantu sama cucu pasti seru pake baju seragaman kaya gini...," kata Fatma.

Adnan dan ayahnya hanya terdiam tanpa bisa menjawab. Mereka paham betul kemana arah pembicaraan sang kanjeng ratu di rumah itu.

Tak lama kemudian Adnan memilih bergeser ke ruang makan karena perutnya sudah teriak minta diisi. Sang ayah pun mengikuti Adnan lalu mereka mulai makan sambil ngobrol ala laki-laki dewasa.

Ibu Adnan yang tahu anaknya menghindarinya hanya mencibir sambil merapikan pakaian tadi.

bersambung

Terpopuler

Comments

fatmah nolly

fatmah nolly

cerita y bagus yg BCA dikit

2022-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 1 ( Adnan )
2 2 ( Ditikung ? )
3 3 ( Masa sih..., )
4 4 ( Pindah )
5 5 ( Seragam )
6 6 ( Pawai Obor )
7 7 ( Mencair )
8 8 ( Musuh )
9 9 ( Kepancing )
10 10 ( Berakhir )
11 11 ( Kecewa )
12 12 ( Tentang Hati )
13 13 ( Pacar )
14 14 ( Kenapa...? )
15 15 ( Sakit juga )
16 16 ( Ketemu Lagi )
17 17 ( Ga Suka )
18 18 ( Perpisahan Sementara )
19 19 ( Kenyataan )
20 20 ( Gagal )
21 21 ( Pemulihan )
22 22 ( Kangen )
23 23 ( Ke Villa )
24 24 ( Nitip )
25 25 ( Ajak Juga )
26 26 ( Kawatir )
27 27 ( Keharuan )
28 28 ( Operasi Kedua )
29 29 ( Surat )
30 30 ( Kritis )
31 31 ( Pingsan )
32 32 ( Surprise )
33 33 ( Setuju )
34 34 ( Pulkam )
35 35 ( Kabar Dari Arini )
36 36 ( Ijab Kabul )
37 37 ( Sarapan )
38 38 ( Peraturan )
39 39 ( Kesepakatan Baru )
40 40 ( Ke kafe )
41 41. ( Berita )
42 42 ( Pergi )
43 43. ( Kesepakatan Lagi ? )
44 44 ( Cemburu )
45 45 ( Pulang )
46 46 ( Mengabaikan )
47 47 ( Penjelasan Arini )
48 48 ( Penjelasan 2 )
49 49 ( Mengambil Paksa )
50 50 ( KDRT ? )
51 51 ( Pergi Lagi )
52 52 ( Mencari )
53 53 ( Tertukar )
54 54 ( Penyesalan )
55 55 ( Berusahalah )
56 56 ( Bertemu )
57 57 ( Keputusan )
58 58 ( Status Baru )
59 59 ( Pengacau )
60 60 ( Bertemu Ratna )
61 61 ( Keinginan Yang Sama )
62 62 ( Bingung )
63 63 ( Semangat )
64 64 ( Mengejar )
65 65 ( Memberi Kesempatan )
66 66 ( Tak Bisa Menolak )
67 67 ( Panik )
68 68 ( Berhadapan )
69 69 ( Doa )
70 70 ( Menculik )
71 71 ( Menuruti )
72 72 ( Berdebat )
73 73 ( Menggendong )
74 74 ( Terluka )
75 75 ( Mendekatkan )
76 76 ( Salut )
77 77 ( Apa Benar ? )
78 78 ( Robi Ngamuk )
79 79 ( Sah Lagi )
80 80 ( Mau Cepat )
81 81 ( Alhamdulillah )
82 82 ( Gemuk ? )
83 83 ( Perubahan Hormon )
84 84 ( Sesuai Prediksi )
85 85 ( Kabar Gembira )
86 86 ( Menegangkan )
87 87 ( Menuntaskan )
88 88 ( Cara Sendiri )
89 89 ( Milikku )
90 90 ( Pesona Sita )
91 91 ( Memalukan )
92 92 ( Dipecat )
93 93 ( Kompak )
94 94 ( Melahirkan )
95 95 ( Dia Milikku 2 )
96 96 ( Naila )
97 97 ( Menyerah )
98 98 ( Naila Kabur ? )
99 99 ( Bercerai )
100 100 ( Gading dan Naila )
101 101 ( Bulan Madu )
102 102 ( Naila Sakit )
103 103 ( Dua Pria Satu Meja )
104 104 ( Tentara Ganteng )
105 105 ( Ketemu di Posko )
106 106 ( Jadi Nyamuk ? )
107 107 ( Mencari Aisyah )
108 108 ( Semakin Dekat )
109 109 ( Hukuman Permainan )
110 110 ( Jangan Berharap )
111 111 ( Jaga Jarak )
112 112 ( Melanjutkan Mimpi )
113 113 ( Terbongkar )
114 114 ( Harus Pergi )
115 115 ( Kenal Yang Lain )
116 116 ( Posesif )
117 117 ( Gamang )
118 118 ( Bingung )
119 119 ( Dejavu )
120 120 ( Irgi Pulang )
121 121 ( Irgi Cemburu )
122 122 ( Ancaman )
123 123 ( Jemput Aisyah )
124 124 ( Lega )
125 125 ( Penyelamat )
126 126 ( Ijab Kabul )
127 127 ( Belum Siap )
128 128 ( Resepsi Pernikahan )
129 129 ( Suka )
130 130 ( Menangis )
131 131 ( Merajuk )
132 132 ( Baikan )
133 133 ( Mengantar )
134 134 ( Berangkat Tugas )
135 135 ( Shock )
136 136 ( Koma )
137 137 ( Tertangkap )
138 138 ( Video Call )
139 139 ( Menawarkan Bantuan )
140 140 ( Ketahuan )
141 141 ( Jujur Membuat Luka )
142 142 ( Datang )
143 143 ( Memperalat )
144 144 ( Membuktikan )
145 145 ( Hadiah )
146 146 ( Siuman )
147 147 ( Keadilan )
Episodes

Updated 147 Episodes

1
1 ( Adnan )
2
2 ( Ditikung ? )
3
3 ( Masa sih..., )
4
4 ( Pindah )
5
5 ( Seragam )
6
6 ( Pawai Obor )
7
7 ( Mencair )
8
8 ( Musuh )
9
9 ( Kepancing )
10
10 ( Berakhir )
11
11 ( Kecewa )
12
12 ( Tentang Hati )
13
13 ( Pacar )
14
14 ( Kenapa...? )
15
15 ( Sakit juga )
16
16 ( Ketemu Lagi )
17
17 ( Ga Suka )
18
18 ( Perpisahan Sementara )
19
19 ( Kenyataan )
20
20 ( Gagal )
21
21 ( Pemulihan )
22
22 ( Kangen )
23
23 ( Ke Villa )
24
24 ( Nitip )
25
25 ( Ajak Juga )
26
26 ( Kawatir )
27
27 ( Keharuan )
28
28 ( Operasi Kedua )
29
29 ( Surat )
30
30 ( Kritis )
31
31 ( Pingsan )
32
32 ( Surprise )
33
33 ( Setuju )
34
34 ( Pulkam )
35
35 ( Kabar Dari Arini )
36
36 ( Ijab Kabul )
37
37 ( Sarapan )
38
38 ( Peraturan )
39
39 ( Kesepakatan Baru )
40
40 ( Ke kafe )
41
41. ( Berita )
42
42 ( Pergi )
43
43. ( Kesepakatan Lagi ? )
44
44 ( Cemburu )
45
45 ( Pulang )
46
46 ( Mengabaikan )
47
47 ( Penjelasan Arini )
48
48 ( Penjelasan 2 )
49
49 ( Mengambil Paksa )
50
50 ( KDRT ? )
51
51 ( Pergi Lagi )
52
52 ( Mencari )
53
53 ( Tertukar )
54
54 ( Penyesalan )
55
55 ( Berusahalah )
56
56 ( Bertemu )
57
57 ( Keputusan )
58
58 ( Status Baru )
59
59 ( Pengacau )
60
60 ( Bertemu Ratna )
61
61 ( Keinginan Yang Sama )
62
62 ( Bingung )
63
63 ( Semangat )
64
64 ( Mengejar )
65
65 ( Memberi Kesempatan )
66
66 ( Tak Bisa Menolak )
67
67 ( Panik )
68
68 ( Berhadapan )
69
69 ( Doa )
70
70 ( Menculik )
71
71 ( Menuruti )
72
72 ( Berdebat )
73
73 ( Menggendong )
74
74 ( Terluka )
75
75 ( Mendekatkan )
76
76 ( Salut )
77
77 ( Apa Benar ? )
78
78 ( Robi Ngamuk )
79
79 ( Sah Lagi )
80
80 ( Mau Cepat )
81
81 ( Alhamdulillah )
82
82 ( Gemuk ? )
83
83 ( Perubahan Hormon )
84
84 ( Sesuai Prediksi )
85
85 ( Kabar Gembira )
86
86 ( Menegangkan )
87
87 ( Menuntaskan )
88
88 ( Cara Sendiri )
89
89 ( Milikku )
90
90 ( Pesona Sita )
91
91 ( Memalukan )
92
92 ( Dipecat )
93
93 ( Kompak )
94
94 ( Melahirkan )
95
95 ( Dia Milikku 2 )
96
96 ( Naila )
97
97 ( Menyerah )
98
98 ( Naila Kabur ? )
99
99 ( Bercerai )
100
100 ( Gading dan Naila )
101
101 ( Bulan Madu )
102
102 ( Naila Sakit )
103
103 ( Dua Pria Satu Meja )
104
104 ( Tentara Ganteng )
105
105 ( Ketemu di Posko )
106
106 ( Jadi Nyamuk ? )
107
107 ( Mencari Aisyah )
108
108 ( Semakin Dekat )
109
109 ( Hukuman Permainan )
110
110 ( Jangan Berharap )
111
111 ( Jaga Jarak )
112
112 ( Melanjutkan Mimpi )
113
113 ( Terbongkar )
114
114 ( Harus Pergi )
115
115 ( Kenal Yang Lain )
116
116 ( Posesif )
117
117 ( Gamang )
118
118 ( Bingung )
119
119 ( Dejavu )
120
120 ( Irgi Pulang )
121
121 ( Irgi Cemburu )
122
122 ( Ancaman )
123
123 ( Jemput Aisyah )
124
124 ( Lega )
125
125 ( Penyelamat )
126
126 ( Ijab Kabul )
127
127 ( Belum Siap )
128
128 ( Resepsi Pernikahan )
129
129 ( Suka )
130
130 ( Menangis )
131
131 ( Merajuk )
132
132 ( Baikan )
133
133 ( Mengantar )
134
134 ( Berangkat Tugas )
135
135 ( Shock )
136
136 ( Koma )
137
137 ( Tertangkap )
138
138 ( Video Call )
139
139 ( Menawarkan Bantuan )
140
140 ( Ketahuan )
141
141 ( Jujur Membuat Luka )
142
142 ( Datang )
143
143 ( Memperalat )
144
144 ( Membuktikan )
145
145 ( Hadiah )
146
146 ( Siuman )
147
147 ( Keadilan )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!