Ketidak hadiran Arini membuat Adnan sedikit merasa 'aneh'. Dia merasa ada sesuatu yang hilang tapi tak tahu apa.
Kini Adnan mencoba menjalankan usaha barunya dengan serius. Masih banyak perbaikan yang harus dilakukan Adnan pada kafe miliknya itu.
Setelah beberapa waktu, kafe Adnan pun makin laris. Bahkan Adnan juga mengembangkan sayap dengan membuka cabang kafe di tempat lain. Dan itu menjadikan Adnan sibuk dan melupakan permintaan orangtuanya untuk segera menikah dan memberi mereka cucu.
Kini sudah mendekati hari raya Idul Fitri. Dan itu artinya, sebagai perantau sukses Adnan punya kewajiban untuk mudik seperti warga perantau lainnya.
Adnan sedang sibuk menyiapkan bonus dan THR untuk para karyawan kafe miliknya.
Bonus dan THR diberikan pada karyawan teladan. Sedangkan THR akan diberikan pada semua karyawan berdasarkan jenjang pekerjaan mereka dan lama mereka bekerja padanya.
Tiba-tiba telephone di meja kerja Adnan berdering. Adnan segera mengangkatnya tanpa mengalihkan pandangannya pada laporan pembukuan di hadapannya.
" Hallo, Assalamualaikum...," sapa Adnan.
" Wa alaikumsalam, Nan. Apa Kamu ada rencana pulang lebaran ini Nak...?" tanya Hardi.
" Insya Allah Yah. Adnan mudik kok. Mungkin sekitar dua hari menjelang lebaran. Kenapa Yah...?" tanya Adnan.
" Oh, gapapa. Ibumu terus aja nanyain. Ayah sampe pusing dengernya. Disuruh nanya sendiri malah galakan dia, he he he...," jawab Hardi di sela tawanya.
" Apa Ibu masih marah Yah sama Adnan...?" tanya Adnan serius.
" Sedikit. Tapi ga usah diambil hati. Ini buktinya Ayah telephon Kamu karena ga tahan sama ocehannya...," kata sang ayah menenangkan Adnan.
" Kalo gitu salam ya Yah buat Ibu. Kalo Adnan pulang mau dibawain apa Yah...?" tanya Adnan lagi.
" Bawain menantu...!" teriak sang ibu yang terdengar sangat keras di telinga Adnan.
" Tuh, udah dijawab sama Ibumu...," kata Ayah Adnan.
" Ck. Ibu nih. Menantu kok disamain sama sandal jepit. Gampang banget mintanya. Kaya tinggal nyomot aja di warung tetangga...," gerutu Adnan yang di balas oleh tawa keras sang ayah.
Adnan pun menutup sambungan telephon dengan orangtuanya sambil geleng-geleng kepala.
\=\=\=\=\=
Akhirnya hari mudik itu tiba.
Sebelumnya Adnan mengumpulkan karyawannya untuk memberi pengumuman dan THR.
" Terimakasih atas kerjasama Kalian selama ini. Untuk menyambut hari raya Idul Fitri, maka kafe akan libur selama seminggu mulai besok...," kata Adnan membuka kalimat.
Semua kayawan nampak tegang. Karena sebelumnya berhembus kabar bahwa Adnan akan memecat sebagian karyawan karena pekerjaan mereka yang tak bagus.
Tak ada yang berani menjawab atau berkomentar atas pernyataan Adnan tadi.
" Dan ini, ada sedikit bonus juga THR untuk Kalian dari Saya. Semoga bermanfaat untuk Kalian. Ali, tolong Kamu bagikan ini...," pinta Adnan sambil menyerahkan amplop pada bawahannya.
Setelah selesai membagikan amplop berisi uang itu, Ali pun kembali ke posisinya semula.
" Maaf Pak...," kata Ali memberanikan diri.
" Iya. Kenapa Li...?" tanya Adnan.
" Apa Kami akan dipecat Pak...?" tanya Ali mewakili rekan-rekannya.
" Ga ada yang dipecat. Apa Kamu ga nyimak perkataan Saya tadi Li...?" tanya Adnan bingung.
" Soalnya, ada desas desus kaya gitu Pak...," kata Ali menunduk.
" Masa...," kata Adnan datar.
" Iya Pak...," jawab para karyawan Adnan yang berjumlah sepuluh orang itu.
" Kalian salah. Sekedar informasi. Ada yang terima dua amplop, itu bukan pesangon. Tapi adalah bonus yang akan Saya berikan setiap tiga bulan sekali. Jadi Saya akan perhatikan kinerja Kalian di kafe mulai awal nanti. Dan ini adalah bonus perdana yang Saya berikan supaya Kalian semangat kerja...," kata Adnan menahan tawa.
" Alhamdulillah, Saya kira Saya dipecat. Makasih Pak...," kata Asmi dengan mata berkaca-kaca karena menerima dua amplop.
" Sama-sama. Kamu dan Ali terima dua amplop karena kinerja Kalian bagus selama tiga bulan ini. Nah yang satunya, itu THR buat Kamu...," kata Adnan.
Semua terdengar menghela nafas lega. Mereka pun menyalami Adnan sebagai ucapan terima kasih sekaligus ucapan hari raya.
" Jangan lupa, seminggu lagi Kita ketemu di sini. Baik silakan lanjutkan pekerjaan Kalian. Saya harus siap-siap mudik. Ada yang mudik juga kaya Saya...?" tanya Adnan ramah.
" Saya Pak. Ikut lebaran di rumah Mertua...," jawab Emi kocak.
" Saya juga mudik Pak, ke Pondok Gede...," sahut Boni sambil nyengir.
" Selamat berlibur kalo gitu...," kata Adnan lagi.
Adnan pun kembali ke ruangannya untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Tak banyak barang yang dibawa oleh Adnan untuk mudik nanti. Hanya beberapa helai pakaian ganti juga sedikit buah tangan. Adnan lebih memilih membawa uang, lebih praktis dan hemat, pikirnya.
\=\=\=\=\=
Kini Adnan ada di dalam perjalanan. Ia memilih mengendarai sendiri mobilnya menuju rumah kedua orangtuanya di kampung.
Walaupun jalanan padat dan macet, tapi Adnan sangat menikmati perjalanannya kali ini.
Perjalanannya ditempuh hampir empat belas jam lamanya, membuat Adnan tiba setelah Maghrib di rumah.
" Assalamualaikum Yah...," sapa Adnan pada sang ayah yang memang sedang menunggunya di teras rumah.
" Wa alaikumsalam Nak. Sehat kowe...?" tanya Hardi sambil tersenyum dan menyambut sang buah hati dengan pelukan rindu.
" Alhamdulillah sehat Yah...," jawab Adnan senang.
" Ayo masuk...," kata sang ayah.
" Ibu kemana Yah...?" tanya Adnan sambil mengedarkan pandangannya ke seantero rumah.
" Ibu di sini. Kok baru dateng sih Kamu. Sengaja ya, biar Ibu cemas...," sindir Fatma.
" Ya Allah Ibu. Udah dong marahnya. Masa Aku pulang masih dimarahin juga. Tadi macet di jalan Bu. Kan banyak yang mudik juga. Padahal Aku udah berangkat bada Subuh tadi biar sampe sore. Ternyata jalanan udah mulai padet...," jawab Adnan sambil memeluk ibunya dengan erat.
" Alasan...," kata Fatma datar.
" Bu...," panggil Hardi seolah memberi kode pada istrinya itu.
Fatma mendengus sebal sambil beranjak ke dapur. Diam-diam ia tersenyum senang karena anak semata wayangnya sudah datang menepati janji.
" Sudah sana. Ganti baju, istirahat. Besok aja ngobrolnya...," kata Hardi sambil menepuk pundak Adnan.
" Iya Yah. Ini ada sedikit oleh-oleh. Mudah-mudahan Ibu sama Ayah suka ya...," kata Adnan sambil meletakkan bawaannya di meja depan sang ayah.
Setelahnya Adnan pun masuk ke kamar untuk membersihkan diri.
" Kemana dia...?" tanya Fatma sambil membawa kopi hangat untuk Adnan dan suaminya.
" Mandi kali. Nih, Anakmu bawa oleh-oleh untuk Kita. Coba dibuka...," kata Hardi sambil menyeruput kopi buatan istrinya.
Ibu Adnan membuka oleh-oleh dari anaknya dengan wajah sumringah.
" Wah, baju Yah. Cantik banget. Warnanya sama modelnya bagus. Pinter juga dia...," kata Fatma bangga sambil mematut diri di depan suaminya.
" Gimana, Ibu suka...?" tanya Adnan yang baru selesai mandi.
" Suka lah. Ayah dapet baju juga...?" tanya Fatma.
" Iya. Kita seragaman ya. Adnan pake baju yang model dan warnanya sama kaya yang Ayah pegang ini...," kata Adnan sambil duduk dan meneguk kopi buatan sang ibu.
" Cuma ada yang kurang ya Yah. Kalo ada menantu sama cucu pasti seru pake baju seragaman kaya gini...," kata Fatma.
Adnan dan ayahnya hanya terdiam tanpa bisa menjawab. Mereka paham betul kemana arah pembicaraan sang kanjeng ratu di rumah itu.
Tak lama kemudian Adnan memilih bergeser ke ruang makan karena perutnya sudah teriak minta diisi. Sang ayah pun mengikuti Adnan lalu mereka mulai makan sambil ngobrol ala laki-laki dewasa.
Ibu Adnan yang tahu anaknya menghindarinya hanya mencibir sambil merapikan pakaian tadi.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
fatmah nolly
cerita y bagus yg BCA dikit
2022-06-19
0