Pagi hari Adnan bangun untuk sholat Subuh berjamaah di masjid kampung bersama sang ayah.
Banyak yang menyapanya karena melihat kehadirannya. Maklum ayah Adnan adalah pensiunan orang penting di desanya itu.
Waktu yang mereka habiskan untuk sekedar menyapa ternyata cukup lama hingga langit terang benderang. Sehingga saat kembali ke rumah, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Adnan dan ayahnya berjalan pelan menyusuri jalan desa yang masih berembun.
Tiba-tiba Adnan melihat sosok Ami dan Umar di kejauhan sedang berboncengan naik sepeda motor. Mata Adnan terbelalak melihat perut Ami yang terlihat membesar karena kehamilannya.
" Kenapa Le...?" tanya ayah Adnan.
" Itu Ami Yah. Lagi hamil ya...," kata Adnan lirih.
" Iya. Itu anak kedua. Anak pertamanya laki-laki, umurnya udah setahun kalo ga salah...," kata ayah Adnan santai.
" Jadi Anak Ami sudah dua Yah...," kata Adnan lagi.
" Iya. Udah yuk, Kita pulang. Jangan pikirkan dia lagi, dia udah jadi istri orang. Sebaiknya Kamu juga mulai menata hidupmu. Cari wanita yang baik, nikahi dia, biar Kamu juga bisa ngerasa bahagia...," kata ayah Adnan sambil merangkul pundak anaknya seolah memberi kekuatan.
"'Ehm, iya Yah...," sahut Adnan salah tingkah.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah.
\=\=\=\=\=
Ibu Adnan tergopoh-gopoh berjalan kembali ke rumah usai belanja di pasar.
Adnan yang sedang memperbaiki motornya pun heran melihat sikap sang ibu. Diperhatikannya bawaan sang ibu juga jalan di belakang sang ibu, kawatir ada orang jahat yang akan menyakiti sang ibu.
" Kenapa Bu, kaya orang bingung gitu...," kata Adnan.
" Oh, gapapa. Itu Ibu baru aja dapet kabar kalo Ami melahirkan...," jawab Fatma panik
" Melahirkan. Terus kenapa Ibu yang bingung...?" tanya Adnan tak mengerti.
" Ck. Ini gara-gara Kamu. Harusnya bayi itu Cucuku...," kata Fatma dengan wajah sedih.
Adnan yang mendengar ucapan ibunya tertawa keras.
" Ha ha ha. Ibu, Ibu. Kenapa juga masih nyalahin Aku. Ami bukan jodohku Bu. Sabar ya, Aku juga lagi cari calon Istri buat melahirkan Cucu Ibu nanti...," kata Adnan menahan tawa.
" Yang bener. Harus cepet ya Nan...," kata Fatma semangat.
" Iya Bu. Doain aja. Adnan juga pengen nikah kok Bu..." kata Adnan tersenyum.
" Alhamdulillah. Iya Le. Ibu pasti doain Kamu biar dapet Istri yang solehah, cantik, ga neko-neko, sayang sama Kamu dan kedua orangtuamu ini...," kata Fatma senang.
" Aamiin...," jawab Adnan.
" Ya udah. Ibu masak dulu. Nanti malam ada pawai obor keliling kampung, Kamu ikut sana Le...," kata Fatma sambil beranjak masuk ke dalam rumah.
" Iya Bu...," jawab Adnan.
Sang ayah yang duduk tak jauh dari Adnan, mendengar obrolan anak istrinya itu. Ia mengacungkan jempolnya pada sang anak tanda apa yang diucapkan Adnan adalah hal baik dan bisa mencairkan ketegangan antara ibu dan anak itu.
\=\=\=\=\=
Setelah buka puasa hari terakhir, Adnan pun keluar rumah dengan motor kesayangannya.
Ia menyusuri jalan perlahan dengan motornya itu. Di jalan Adnan bertemu dengan kawan lama. Dan mereka pun terlibat obrolan santai.
" Kapan balik Nan...?" tanya Yusuf sambil menjabat tangan Adnan erat.
" Kemarin...," jawab Adnan sambil mencubit pipi anak Yusuf yang ada dalam gendongannya.
" Bareng sama si Arini ya...?" tanya Yusuf lagi.
" Emangnya dia mudik juga. Aku ga bareng sama dia, Aku aja baru tau kalo dia mudik juga. Belom liat dia selama dua hari di sini...," jawab Adnan seadanya.
" Nah, tuh dia...!" seru Yusuf sambil menunjuk Arini yang sedang berboncengan sepeda dengan adik laki-lakinya.
" Iya, Aku liat...," kata Adnan sambil memandang tajam kearah Arini.
Detak jantung Adnan berpacu cepat saat melihat sosok Arini yang berdiri tak jauh darinya. Ia juga bingung kenapa ia merasa gugup.
" Arini...!" panggil Yusuf.
" Hai Suf. Apa kabar. Ini Anakmu ?, lucu banget sih...," kata Arini sambil tertawa tanpa menyadari siapa orang yang berdiri di samping Yusuf.
" Iya. Kamu kapan buat yang kaya gini...?" gurau Yusuf.
" Apaan sih. Ntar lah, Aku masih pengen kerja dulu sebentar lagi. Mungkin setahun atau dua tahun lagi Aku baru bikin rencana nikah...," kata Arini santai.
" Kenapa Kalian ga jadian aja sih...," celetuk Yusuf tanpa perasaan bersalah.
" Apa maksudmu...?" tanya Arini tak mengerti.
" Kamu ga liat ada siapa ini. Kalian ga lagi marahan kan. Nah kenapa Kalian ga jadian aja...?" tanya Yusuf.
Adnan dan Arini sama-sama terdiam.
" Aku pergi dulu Suf...," kata Arini tiba-tiba.
Arini minta sang adik untuk mengayuh sepeda lebih cepat meninggalkan Yusuf dan Adnan.
" Dasar aneh...," gerutu Yusuf sebal.
" Lagian Kamu kaya kurang kerjaan aja sih nyomblangin Aku sama Arini...," kata Adnan judes.
" Yah, namanya orang usaha. Siapa tau Kalian jodoh...," jawab Yusuf santai.
Adnan pun terdiam. Matanya masih mengawasi Arini di kejauhan.
Pawai obor di malam takbiran itu sangat ramai. Sepanjang jalan terdengar suara takbir. Banyak juga pedagang makanan dan minuman dadakan di sepanjang jalan desa. Adnan pun membeli minuman dan beberapa jajanan untuk anak Yusuf. Ia juga memberi uang ratusan ribu sebanyak dua lembar untuk anak Yusuf itu.
" Makasih Om Adnan...," kata Yusuf mewakili sang anak.
" Sama-sama. Biar jadi Anak sholeh dan pinter ya...," kata Adnan sambil membelai kepala anak Yusuf sebelum berlalu.
Adnan pun kembali ke rumah setelah lelah berkeliling.
Di kamar, ia masih duduk dan mengingat pertemuannya kembali dengan Arini.
" Apa dia benci ya sama Aku. Tapi kenapa, perasaan Aku ga ada masalah pribadi sama dia...," kata Adnan sambil memejamkan matanya.
\=\=\=\=\=
Pagi di hari raya Idul Fitri.
Takbir terdengar berkumandang syahdu sepanjang malam dan hari ini. Anak-anak berlarian kesana kemari. Heboh dan penuh tawa. Suasana sangat ramai, nyaman sekaligus menyenangkan.
Semua orang berjalan menuju ke tanah lapang untuk melaksanakan sholat Ied berjamaah. Adnan dan kedua orangtuanya pun ikut ambil bagian dalam pesta kemenangan umat muslim sedunia itu.
Mereka bertiga berjalan berdampingan. Sesekali menyapa warga yang berpapasan dengan mereka. Nampak wajah sumringah sang ibu pagi itu, membuat Adnan berjanji dalam hati akan selalu membuat wajah itu selalu tersenyum, bagaimanapun caranya.
" Sebelah sana aja ya. Kita ketemu di sana nanti...," kata ibu Adnan yang disetujui oleh anak dan suaminya itu.
Mereka sholat Ied dengan khusyu. Setelah sholat mereka juga masih mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh Ulama terkenal di desa itu. Isi tausiyah yang ringan dan mengundang tawa, membuat jamaah tak satu pun bergeser atau meninggalkan tanah lapang itu hingga tausiyah usai dan ditutup dengan doa.
Adnan dan ayahnya menghampiri sang ibu yang masih menunggu di tempat yang ditunjuk tadi.
Sang ibu tak sendiri. Ada Arini di sana yang juga tengah menunggu keluarganya. Mereka tampak terlibat obrolan serius hingga tak menyadari kehadiran Adnan di samping mereka.
Adnan memperhatikan sekilas penampilan Arini yang sedikit berbeda hari ini.
Mengenakan tunik di bawah lutut warna putih dan kerudung putih, dengan bawahan berupa rok panjang biru, membuat Arini terlihat anggun.
Make up nya juga ringan, menambah kecantikan Arini yang natural itu.
Adnan terkejut saat tatapan Arini bertabrakan dengan tatapannya. Agak salah tingkah sedikit, tapi Adnan segera menguasai keadaan.
" Minal Aidin Wal faidzin Arini...," kata Adnan sambil menangkupkan tangannya di depan dada.
Arini hanya mengangguk tersenyum sambil melakukan tindakan yang serupa dengan yang Adnan lakukan.
Ibu Adnan pun tersenyum memperhatikan sikap Adnan dan Arini yang terlihat kikuk dan malu-malu.
" Ehm. Nanti jangan lupa mampir ke rumah ya Rin. Harus. Kalo ga mampir, Ibu marah ya sama Kamu...," kata Fatma pura-pura marah.
" Insya Allah nanti Kami mampir Bu...," kata Samsul, ayah Arini tiba-tiba.
" Baik Kami tunggu ya...," kata Hardi sambil bersalaman dengan ayah Arini sebelum berpisah di depan masjid.
Adnan mengikuti langkah kaki kedua orangtuanya yang mampir menyapa dan silaturrahim dengan warga di perjalanan mereka kembali ke rumah.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
St Nurul NG
Semangat berkarya kak like hadir selalu
2021-01-02
1