Adnan melajukan mobilnya dengan kalap. Berkali-kali ia hampir nabrak mobil di depannya. Ia pun memutuskan berhenti sejenak di sebuah SPBU untuk memikirkan langkah apa yang harus diambil agar bisa menemukan Arini.
Adnan pun duduk di dalam kantin SPBU. Saat menunggu kopi pesanannya tiba, Adnan pun mencoba menghubungi nomor telephon Arini. Tak diangkat. Berkali-kali juga Adnan terus mencoba. Hingga akhirnya di panggilan ke tiga puluh tujuh, baru terdengar suara orang yang sedang dicarinya itu.
" Hallo Arini...," panggil Adnan.
" Hmmm...," hanya itu jawaban Arini tapi sudah cukup membuat Adnan senang.
" Kamu dimana, Aku balik ke tempat tadi tapi Kamu udah ga ada. Maaf...," kata Adnan.
" Hmmm...," jawab Arini lagi.
" Jangan gitu Arini. Ya udah Aku ngaku, Aku yang salah. Maaf ya..., sekarang biar Aku anter Kamu sampe rumah ya...," bujuk Adnan.
" Yang bener...," kata Arini judes.
" Iya bener. Kamu dimana sekarang...?" tanya Adnan penasaran.
" Aku ada di pintu SPBU, lagi ngeliatin Kamu ngopi...," kata Arini lalu menutup sambungan telephon.
Adnan pun menoleh ke arah pintu gerbang SPBU. Nampak Arini tengah berdiri sambil meneguk minumannya. Adnan tersenyum kecut, dan langsung keluar dari kantin SPBU itu.
" Kamu di sini...," kata Adnan datar.
" Hmm...," jawab Arini cuek.
" Aku nanya sama pemilik warung, katanya Kamu numpang truk...?" tanya Adnan penasaran.
" Aku ga sebodoh itu numpang truk. Aku juga tau, bahaya apa yang mengintai kalo sampe Aku ikutan truk...," kata Arini sinis.
" Alhamdulillah, syukur deh kalo Kamu tau...," kata Adnan lega.
" Kita akhiri semuanya mulai sekarang...," pinta Arini tegas.
" Apanya yang diakhiri, Kita ga pernah mulai sesuatu hubungan atau apa. Kamu lucu tau ga...," kata Adnan tertawa.
" Aku serius. Anggap aja Kita ga pernah kenal, bukan teman, bukan tetangga. Kalo ketemu ga usah sok kenal, dan Aku ga akan minta tolong Kamu apapun. Kamu juga sebaiknya begitu...," kata Arini lalu pergi meninggalkan Adnan yang mematung tak mengerti.
Arini sudah meninggalkan tempat itu beberapa menit yang lalu. Tapi Adnan masih enggan beranjak dari sana. Ia seolah baru menyadari, betapa Arini begitu membencinya hingga ke tulang rawan dan tak mau lagi mengenalnya.
Jantung Adnan berdetak cepat saat mendengar Arini mengatakan hal itu. Tapi percuma, semua sudah terjadi. Dan Adnan harus berlapang dada menghadapinya.
Adnan pun tersadar setelah tak lagi melihat Arini di hadapannya. Ia melangkah gontai menuju ke mobil kemudian melajukannya perlahan. Ia masih tak mengerti mengapa Arini memutuskan untuk meniadakannya dalam sejarah hidupnya.
" Aku pasti udah keterlaluan banget tadi. Wajar kan dia marah. Andai Kami dalam keadaan berpacaran pun, sudah bisa dipastikan dia bakalan minta putus karena ulahku tadi...," kata Adnan bermonolog.
Ia mengusap wajahnya kasar. Belum pernah Adnan merasa seperti ini. Saat ditinggal Ami menikah saja ia masih bisa berpikir positif. Aneh.
\=\=\=\=\=
Arini ada di dalam mobil travel menuju ke Jakarta. Saat Adnan meninggalkannya di pinggir jalan tadi, Arini sempat bingung sesaat. Tapi beruntung hari masih siang dan Arini bisa bertanya pada orang lewat dimana terminal terdekat.
" Kok Mbaknya turun di sini. Bahaya Mbak. Kalo mau ke terminal masih jauh. Apa ga sebaiknya ke agen perjalanan dekat sini...?" tanya sang penolong.
" Iya, Saya ketinggalan rombongan tadi. Apa agennya masih jauh Pak...?" tanya Arini.
" Tiga ratus meter dari sini ada agen perjalanan Mbak. Di pinggir jalan juga kok. Apa Mbak mau Saya antar ke sana...?" tanya sang penolong lagi dengan perasaan iba.
" Makasih, Saya mau Pak. Maaf merepotkan...," kata Arini dengan mata berkaca-kaca.
Arini pun dibantu sang penolong mendatangi agen perjalanan yang menyewakan kendaraan untuk mengantar penumpang ke tujuan. Beruntungnya lagi ada satu mini bus yang bersiap pergi ke Jakarta dan masih ada kursi kosong untuk Arini.
" Makasih Pak...," kata Arini tulus.
" Sama-sama Mbak. Hati-hati di jalan ya...," kata sang penolong tersenyum lalu meninggalkan Arini yang sudah duduk nyaman di dalam bus menuju Jakarta.
Saat perjalanan akan dimulai, minibus mampir ke dulu ke sebuah SPBU. Di sana lah Arini melihat Adnan yang tengah duduk di kantin SPBU sambil meneguk kopi dengan santai. Arini geram bukan kepalang. Dia merasa sikap Adnan sudah keterlaluan, apalagi mereka berteman sejak kecil.
Arini melihat HPnya yang berdering. Ada nama Adnan di sana. Arini pun mengangkatnya setelah menimbang beberapa saat.
Karena antrian di SPBU lumayan mengular, Arini pun pamit pada kernet bus untuk ke toilet seperti beberapa penumpang lainnya.
Sang kernet pun menambah daftar penumpang yang turun di SPBU itu ke dalam catatan kecil yang dibawanya.
Arini pun turun dan menemui Adnan di gerbang SPBU. Setelah selesai dengan urusannya Arini pun kembali ke dalam bus dengan wajah kesal.
Di dalam bus Arini sengaja memejamkan mata untuk menghindari percakapan dengan penumpang di sebelahnya. Sungguh Arini hanya ingin tidur dan melupakan semua yang terjadi hari ini.
\=\=\=\=\=
Arini tiba di Jakarta dengan selamat. Dan kini Arini sudah mulai kembali bekerja di butik Melinda. Sapaan hangat pun diterima Arini saat pertama kali menginjakkan kaki kembali di butik.
" Arini, minal aidin wal faidzin ya...," sapa Ratna dan Anis yang sudah tiba lebih dulu.
" Iya, sama-sama...," kata Arini membalas pelukan hangat kedua temannya itu.
" Ehm, Aku juga mau kok dipeluk kaya gitu...," kata Robi di ambang pintu.
Ratna dan Anis tersenyum dan menyingkir diam-diam memberi kesempatan pada Arini dan Robi untuk meluapkan rasa rindu setelah lama tak bersua.
" Robi, apa kabar...?" tanya Arini sambil tersenyum.
" Alhamdulillah baik. Kamu kapan sampe...?" tanya Robi sambil melangkah mendekati Arini.
" Kemaren sampe Jakarta, ada sedikit oleh-oleh nih buat Kamu...," kata Arini sambil mengulurkan paper bag berisi makanan ringan khas dari kampungnya.
Robi tertawa senang mendapat oleh-oleh dari Arini.
" Repot-repot segala. Ngeliat Kamu balik sehat selamat aja Aku udah seneng. Makasih ya...," kata Robi lagi sambil merapikan rambut Arini.
Wajah Arini merona merah karena malu. Jantungnya berdetak cepat mendapatkan perhatian kecil dari Robi. Ia salah tingkah dan bingung sejenak.
" Bisa aja. Mudah-mudahan Kamu suka ya, Aku lanjutin kerja dulu deh...," kata Arini sambil menjauh dari Robi.
Robi tersenyum. Ia merasa senang karena melihat Arini yang salah tingkah. Bukankah itu pertanda bahwa Arini juga memiliki perasaan khusus padanya ?.
Robi pun melangkah masuk menuju ruangan sang tante untuk berbincang seperti biasa. Robi sering mampir ke butik itu untuk sekedar ngobrol dengan Melinda sekaligus menemui Arini.
" Ehm, ada yang mukanya merah lho...," goda sang tante.
" Apaan sih Tante. Ini Aku dapet oleh-oleh dari Arini...," kata Robi sambil memperlihatkan paper bag pemberian Arini.
" Tante juga dapet nih...," kata Melinda.
" Libur selesai kerja dimulai...," kata Robi sambil duduk santai di sofa.
" Iya. Libur selesai cinta dimulai...," ledek Melinda.
" Bisa aja nih Tante...," kata Robi tersenyum.
" Kapan nembak. Kelamaan, keburu disamber orang tau ga...," gerutu Melinda.
" Iya. Secepetnya Tan...," jawab Robi seadanya.
" Nah gitu dong. Itu baru namanya cowok. Keren, Tante tunggu kabarnya ya...," kata Melinda memberi semangat.
" Ok Tan...!" jawab Robi tak kalah semangatnya.
Mereka pun melanjutkan obrolan ringan mereka. Robi sebenarnya juga punya usaha bengkel tak jauh dari butik sang tante. Tapi karena karyawannya laki-laki semua, ia kadang sengaja mampir ke butik Melinda untuk sekedar menyapanya dan menghilangkan jenuh.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Whiteyellow
Aku datang bawa like untukmu..semangat up..lanjut berkarya..🙏😍🤗
2021-01-09
1
St Nurul NG
Next semangat berkarya
2021-01-04
1