Fira akhirnya setuju untuk menikahi Marko, tunangannya. Walaupun masih sulit melupakan Adnan, tapi Fira tak ingin kedua orangtuanya malu karena ia gagal menikah.
Saat pesta pernikahan Fira, Adnan mengajak Gisela untuk mendampinginya. Fira pun menutupi rasa cemburunya dengan mengalihkan pandangannya menatap sang suami. Marko yang tahu bahwa istrinya sempat menaruh hati pada Adnan pun mencoba menghibur Fira.
" Liat Aku aja, Aku disini buat Kamu, selalu ada buat Kamu...," kata Marko sambil mengecup kening Fira.
" Iya, Aku tau. Maafin Aku ya...," pinta Fira dengan tulus.
Marko memeluk Fira dan membawanya berdansa mengikuti musik yang mengalun.
Fira memandangi wajah pria yang sekarang jadi suaminya dengan perasaan bersalah. Tapi akhirnya ia bisa tertawa mengikuti gerakan suaminya dan melupakan Adnan.
\=\=\=\=\=
Setelah pesta pernikahan Fira usai seminggu yang lalu, Adnan kembali ke rutinitasnya semula.
Hingga suatu sore ia bertemu dengan Arini di restoran itu. Adnan sedang mengecek kinerja anak buahnya sekaligus menyapa beberapa tamu langganan di restoran itu.
" Selamat sore Pak Atmo, senang melihat Bapak tampak sehat...," sapa Adnan.
" Sore juga Pak Adnan. Iya, karna makan di restoran ini Saya merasa lebih sehat...," kata pak Atmo ramah.
" Silakan dilanjut, Saya mau menyapa yang lain...," kata Adnan sopan.
Lalu Adnan beranjak bermaksud menyapa tamu yang lain. Tiba-tiba ia melihat sosok wanita yang pernah dikenalnya.
" Arini, Kamu Arini kan...?" tanya Adnan ragu.
" Iya, Saya Arini. Kamu...?" tanya Arini bingung.
" Aku Adnan, Kamu lupa sama Aku...?" tanya Adnan lalu duduk di kursi kosong di hadapan Arini.
" Adnan, Waahh ga nyangka bisa ketemu disini. Apa kabar Nan...?" tanya Arini senang.
" Seperti yang kamu liat. Aku kerja disini, jadi manager...," bisik Adnan di telinga Arini.
" Waahh, hebat Kamu...," kata Arini bangga.
" Biasa aja. Kamu sama siapa kesini...?" tanya Adnan lagi.
Demikianlah, obrolan mereka berlanjut dengan saling tukar nomor telephon.
Arini sangat senang bisa bertemu Adnan. Apalagi Adnan terlihat lebih dewasa dan tentu saja tambah tampan di mata Arini.
Adnan pun memuji kecantikan Arini di dalam hati, tapi ia teringat akan cinta pertamanya Ami.
Pertemuan kedua mereka sengaja janjian ketemu di sebuah taman.
" Ami, gimana kabarnya...?" tanya Adnan pada pertemuannya dengan Arini.
" Dia, mmm, Kamu mau tau...?" tanya Arini.
" Emang kenapa sih, tinggal ngomong aja kok susah banget...," gerutu Adnan.
" Dia mau menikah seminggu lagi...," kata Arini takut.
" Apa...?!" tanya Adnan kaget sambil berdiri.
" Iya, makanya Aku ajak ketemuan tuh mau ngomongin hal ini...," kata Arini.
" Tapi kan dia janji nungguin Aku. Baru tiga hari yang lalu telephon tapi ga ada ngomong mau nikah...," kata Adnan sedih.
" Aku ga tau...," kata Arini.
" Nikah sama siapa...?" tanya Adnan lirih.
" Sama temen Kita, Umar...," kata Arini lagi.
Adnan terkejut, ia tak menyangka Umar menikungnya. Harusnya Adnan sadar, keputusan Ami menerima pinangan Umar karena Adnan tak juga memberi kepastian kapan mereka menikah.
" Kenapa Kamu sedih, bukannya Kamu juga punya cewek lagi disini...?" sindir Arini.
" Aku cuma iseng aja, ga serius...," bela Adnan.
" Sama aja Kamu udah ngeduain Ami. Jangan egois lah...," kata Arini lalu pergi meninggalkan Adnan.
" Kamu yang bilang sama Ami kalo Aku punya pacar disini...?!" seru Adnan.
" Bukan Aku. Ami liat sendiri waktu seminggu lalu kesini. Dia mau kasih surprise buat Kamu, tapi malah kebalik. Dia yang dapet surprise karena liat Kamu lagi pelukan sama cewek lain katanya...," ujar Arini.
" Seminggu yang lalu, Dia ga bilang, kacau. Pasti itu saat Gisela datang ke kantor Aku...!" kata Adnan gemas.
Arini cuma menggedikkan bahunya. Dia juga kecewa pada Adnan.
Adnan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
\=\=\=\=\=
Adnan datang di pesta pernikahan Ami. Ia memandang sinis kearah Ami. Saat bersalaman dengan Ami cuma sindiran dan kalimat pedas yang Adnan ucapkan.
" Kau ingkari janjimu Ami. Tak sabarkah Kau menungguku pulang hingga harus menikah dengan Umar, atau Kau dan Umar sudah berzina hingga tak sanggup menyembunyikan kehamilanmu...?" kata Adnan lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Ami menangis sedih mendengar Adnan bicara buruk tentangnya.
" Kenapa Kau tak berkaca Adnan...?" kata Ami.Tapi Umar menahannya dan menghiburnya.
" Jangan turuti amarahmu. Ingat masih banyak tamu disini. Kalo Kamu membalas apa yang Adnan katakan, Aku bisa ngira kalo Kamu masih mencintainya...," kata Umar pelan.
" Aku ga mencintainya lagi. Aku hanya marah karena dia nuduh kita berzina Umar...!" sangkal Ami.
" Biarkan saja. Bisakah Kau belajar menghormatiku sebagai suamimu mulai detik ini...?" tanya Umar sambil menatap Ami tajam.
" Baik, maafkan Aku...," kata Ami lirih sambil menggamit tangan Umar lembut.
Umar dan Ami saling menatap mesra. Umar pun tersenyum dan memeluk Ami dengan sayang.
Tingkah mereka menjadi sorotan di pesta itu. Adnan yang juga menyaksikan moment itu semakin kesal. Ia segera meninggalkan pesta pernikahan Ami sang mantan.
\=\=\=\=\=
Adnan membanting tubuhnya diatas kursi di rumah kedua orangtuanya. Adnan geram saat tahu Ami menikah dengan Umar.
" Lepaskan dia, Kalian memang tak berjodoh. Salahmu telah menduakan dia, jangan menyalahkan dia karena perbuatanmu...," kata ibu Adnan, Fatma, sambil merapikan meja.
" Aku kesepian disana, makanya Aku mencari pacar cadangan...," kata Adnan masih berusaha membela diri.
" Kau pikir dia tak kesepian disini, menunggumu tanpa kepastian, itu ga adil buat Ami. Ibu yang menyuruhnya menerima pinangan Umar, karena Ibu yakin Umar bisa membahagiakannya. Jadi salahkan saja Ibu...," tantang ibu Adnan.
" Ibu...," Adnan tak sanggup melanjutkan ucapannya.
" Ibu tau rasanya menunggu tanpa kepastian. Ibu sudah berkali-kali memintamu pulang dan memberi Ami keyakinan agar mau menunggumu, ya setidaknya kan bisa tunangan dulu. Tapi Kau malah berhubungan dengan perempuan lain. Ibu yang memberi alamatmu di sana. Dan Ibu ga bisa apa-apa saat Ami bilang Kamu sudah punya perempuan lain. Jadi Ibu suruh dia menikahi Umar...," cerita Ibu Adnan dengan tatapan kecewa pada anak semata wayangnya itu.
Adnan tak bisa marah pada sang ibu. Ia hanya beranjak masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas tempat tidur.
Malam harinya Adnan makan malam bersama kedua orangtuanya. Suasana tampak canggung.
" Apa rencanamu selanjutnya...?" tanya Hardi, ayah Adnan.
" Belom tau Yah...," jawab Adnan malas.
" Putuskan hubunganmu dengan gadis kota itu. Menikahlah...," kata Hardi lagi.
" Adnan emang ga serius sama dia Yah. Tapi buat menikah, belom kepikiran...," jawab Adnan sambil meneguk air minum.
" Sudahi saja petualanganmu, ingat Kau sudah cukup umur buat menikah...!" kata sang ibu galak.
" Aku ga mau terkesan balapan sama si Ami karena tiba-tiba menikah...," kata Adnan sambil melangkah ke luar rumah.
" Jangan terlalu menekannya Bu..., dia baru saja kehilangan Ami...," kata Hardi.
" Itu kan salahnya sendiri. Justru Aku kasian sama Ami, gara-gara menunggu Adnan dia baru bisa menikah. Harusnya kan dia sudah melahirkan anak yang lucu...," kata Fatma kesal.
" Itu namanya takdir...," kata Hardi lagi.
" Iya, takdir yang tertunda. Kalo Adnan kasih keputusan cepat, Ami bisa menikah lebih cepat dengan Umar dan pasti udah punya anak...," kata Fatma sambil membawa piring kotor ke dapur.
Ibu Adnan kecewa karena Ami gagal jadi menantunya. Ami adalah gadis yang baik dan type ideal ibu Adnan. Tapi karena ulah anaknya, hilang sudah impiannya bermenantukan Ami. Ayah Adnan juga kecewa atas sikap anaknya, tapi ia mencoba bersikap netral.
Percakapan kedua orangtuanya terdengar oleh Adnan. Ia juga menyadari keegoisannya.
" Aku memang egois. Ami berhak bahagia, maafkan Aku Ami...," kata Adnan sambil mengusap wajahnya.
Di rumah Ami.
" Jadi Adnan menyangka Kamu yang bocorin rahasianya...?" tanya Ami sambil melepaskan jepit rambutnya.
" Iya, dia marah banget...," kata Arini.
" Aku beruntung ga jadi menikah dengannya...," kata Ami pelan.
" Mmm, tapi dia tambah keren sekarang...," kata Arini malu-malu.
" Ha ha ha, Kamu masih suka sama Adnan...?" tanya Ami menggoda Arini.
" Iihhh, apaan sih Kamu, kalo Aku suka tapi Adnan ga suka sama Aku ya percuma kan...," kata Arini.
" Aku tau dari dulu Kamu suka sama Adnan dan ngalah demi Aku. Maaf, Aku ga peka, malah Aku terima Adnan jadi pacarku...," sesal Ami.
" Sstt, udah lupain aja. Aku gapapa kok...," kata Arini sambil memeluk Ami erat.
" Tapi Kamu masih mau berjuang buat dapetin Adnan...?" tanya Ami penasaran.
" Kayanya ga deh. Adnan ga suka sama Aku. Aku cari yang laen aja...," kata Arini tertawa sambil meninggalkan Ami di kamar pengantin.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
fatmah nolly
baru Nemu novel yg cerita y beda dr yg sering aku baca dan udh bosen cerita ceo gadis miskin perjodohan. yg ni beda aku suka, syg like y kok dikit ya 😭
2022-06-19
0
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
like kak😊
asisten dadakan hadir
mampir juga yuk
semangat selalu💪
2021-01-30
1
mama Al
aku mampir lagi kakak
2021-01-24
1