Adnan kembali ke kota dan melanjutkan tugasnya.
Setelah jenuh dengan pekerjaannya, ditambah masalah dengan Fira tempo hari membuat Adnan pun berencana resign dari tempatnya bekerja. Ia berniat membuka usaha sendiri. Ia mulai mencari tempat yang cocok untuknya membuka usaha kafe atau bengkel mobil.
Adnan mendapatkan tempat yang cocok dengan harga yang sangat bersahabat. Sebuah ruko yang berada di pinggir jalan yang strategis. Disana sudah ada beberapa toko juga yang sudah beroperasi. Ada toko bunga, toko assesoris wanita, toko pakaian, toko HP dan kantin kecil.
Adnan mulai merenovasi beberapa bagian ruko untuk disesuaikan dengan kafe yang akan dibangunnya. Adnan mendesign sendiri ruko itu menjadi sebuah kafe. Ada beberapa tambahan ornamen untuk mempercantik interior kafe. Dan Adnan pun memilih bunga segar untuk menghidupkan suasana kafe nanti.
Sambil mengecek pekerjaan tukang di ruko miliknya, Adnan pun singgah di toko bunga dekat ruko miliknya.
" Permisi...," sapa Adnan.
" Ya, mari silakan Pak. Apa ada bunga yang mau Bapak beli, untuk siapa...?" tanya pelayan toko.
" Lho Arini, Kamu disini juga...?" tanya Adnan saat mengenali Arini.
" Kamu lagi. Kenapa dimana-mana selalu ketemu Kamu...," sungut Arini sebal.
" Ck. Aku ada urusan sama pemilik toko bunga ini...," kata Adnan datar.
" Sebentar...," Arini masuk ke dalam dan memanggil pemilik toko.
" Iya ada yang bisa Saya bantu...?" tanya bu Rose sang pemilik toko bunga.
" Bisa Kita bicara sebentar Bu, ini soal kerjasama Kita ...?" tanya Adnan hati-hati.
" Ooo bisa. Mari silakan masuk Pak...,"
" Saya Adnan Kusuma, Saya berencana membuka kafe di kios ujung sana yang sedang di renovasi...," kata Adnan ramah.
" Saya Roselia. Jadi maksud Pak Adnan...?" tanya Rose lagi.
" Saya ingin memesan bunga segar setiap hari yang akan Saya letakkan di beberapa sudut ruangan, mungkin Ibu bisa memilihkan bunga apa yang cocok diletakkan disana nantinya. Dan pembayaran akan Saya lakukan perminggu. Gimana Bu Rose...?" tanya Adnan.
" Ooo bisa. insya Allah bisa Pak. Saya akan senang hati bekerjasama dengan Bapak...," kata Rose senang sambil menyalami Adnan.
" Terimakasih Bu. Untuk awalnya Saya memesan bunga untuk acara pembukaan kafe Saya minggu depan, kalo Ibu ga keberatan bisa liat dulu kesana besok...," kata Adnan sambil berdiri.
" Baik, insya Allah Saya akan kesana besok untuk memastikan bunga apa yang cocok diletakkan disana...," kata Rose mengakhiri percakapan mereka.
Adnan pun berlalu meninggalkan toko bunga itu. Masih sempat melirik kearah Arini yang sedang sibuk melayani pembeli.
" Tambah susah deh buat ngelupain dia kalo gini caranya. Jauh-jauh merantau, masih aja ketemu dia lagi, jangan-jangan Kita jodoh...?" batin Arini tapi segera ditepisnya dengan memukul dahinya keras.
\=\=\=\=\=
Arini mulai menghilangkan perasaannya pada Adnan sejak Adnan ketauan selingkuh saat masih berhubungan dengan Ami.
Arini kecewa karena Adnan tak sebaik yang dipikirkan, dan Arini pun mulai bersikap cuek pada Adnan.
Adnan yang menyadari perubahan sikap Arini padanya pun bingung. Ia sadar kesalahannya pada Ami. Tapi apa hubungan semua itu dengan Arini. Apalagi ia dan Gisela sudah putus sejak Adnan memilih resign dari tempatnya bekerja.
Hingga suatu hari....
" Aww, sakit Adnan. Apa-apan sih Kamu...?!" kata Arini marah karena Adnan menarik tangannya keras.
" Aku sengaja, biar Kamu ga menghindari Aku terus...," kata Adnan.
" Aku ga mau kenal sama Kamu, cowok ga jelas...!" kata Arini judes.
" Kenapa, emang salah Aku apa sama Kamu...?" tanya Adnan.
" Ga ada. Tapi Aku malas aja ngeliat orang model Kamu...," kata Arini sambil berlalu.
" Arini, Kamu ga akan bisa menjauh dari Aku, ingat itu...!" seru Adnan emosi.
Adnan berdecak sebal saat melihat Arini makin menjauh. Ia merasa aneh dengan perubahan sikap Arini padanya. Setahu Adnan dulu Arini pernah menyukainya. Tapi mengapa sekarang berbeda. Adnan mengacak rambutnya kesal.
\=\=\=\=\=
Pembukaan kafe Adnan.
Kafe Adnan dibuka tepat di hari Sabtu saat para pemuda dan pemudi biasa menghabiskan waktu bersama alias ngedate.
Letaknya yang strategis menyebabkan banyak dilirik oleh para pecinta tantangan khususnya kaum muda.
Arini ikut hadir di acara pembukaan kafe mendampingi Bosnya Roselia.
Dalam acara pembukaan perdana kafe dihadiri juga oleh kedua orangtua Adnan.
Nampak kebahagiaan jelas terlukis di wajah mereka. Arini yang mengenal mereka pun menghampiri untuk menyapa.
" Assalamualaikum Bu,Pak...," sapa Arini sopan.
" Wa alaikumsalam, lho Arini disini juga toh, bantuin Adnan ya...?" tanya ibu Adnan antusias.
" Ehm, ga Bu. Saya nemenin Bos Saya, karena Adnan pesan bunga dari tempat Saya kerja...," jawab Arini malu.
" Ooo, Kamu kerja di toko bunga, gapapa, semua pekerjaan asal halal, ya kerjain aja ,ga usah malu...," kata ayah Adnan menghibur.
" Iya Pak...," kata Arini sambil tersenyum.
Adnan pun menghampiri kedua orangtuanya yang sedang ngobrol dengan Arini.
" Kirain kemana, ga taunya disini. Ayo Bu, Yah, cobain menu di kafe Adnan dong. Ntar kalo ada yang kurang, kasih tau ya, biar Adnan perbaiki...," kata Adnan sambil merangkul pundak ibunya.
" Arini ga diajak sekalian...?" tanya ibu Adnan.
" Ayo Rin, Kamu nyesel ntar, mumpung gratis nih...," ajak Adnan dengan muka menyebalkan.
" Silakan Ibu sama Bapak duluan aja, Saya masih kenyang...," tolak Arini halus.
Arini lalu membalikkan badan, tanpa permisi ia meninggalkan kafe milik Adnan itu.
Diam-diam Adnan memperhatikan tingkah Arini dari jendela kafe sambil tersenyum sinis.
Kafe yang diberi nama 'Kafe Sahabat' itu laris manis dikunjungi pembeli. Apalagi menu yang ditawarkaa sangat enak dengan harga yang lumayan dan tidak menguras kantong.
Setiap hari Arini bertugas mengantarkan rangkaian bunga ke Kafe Sahabat bersama temannya, Maria. Arini akan mengganti rangkaian bunga yang sudah layu dengan rangkaian yang baru. Mereka meletakkan rangkaian bunga itu di tempat yang telah ditentukan untuk membuat ruangan menjadi lebih fresh.
Saat Arini sedang asyik mengecek bunga yang harus diganti, Adnan berdiri di belakangnya sambil memperhatikan kinerja Arini dan temannya. Adnan kagum dengan cara kerja kedua wanita di depannya, apalagi Arini. Ada niat dihatinya untuk menggoda Arini.
" Sudah...?" tanya Adnan.
" Sudah Pak, Saya permisi...," kata Maria.
Arini yang tak tahu Maria sudah tak ada di sampingnya malah mengajak Maria bicara.
" Aku suka banget deh rangkaian bunga ini, warnanya unik ya, eh tolong guntingnya Mar...," kata Arini yang tak menyadari Adnan lah yang memberinya gunting.
" Makasih. Kalo ga karena perintah Bu Rose, sebenernya Aku males ke sini. Sebel sama yang punya...," gerutu Arini.
" Sebel kenapa...?" tanya Adnan yang wajahnya ada di depan Arini.
Arini terkejut dan langsung melempar bunga mawar ditangannya ke wajah Adnan. Otomatis duri-duri mawar itu melukai kulit wajah Adnan.
" Aww, Kamu...," Adnan memegang pipinya yang terluka.
" Eehh, ma... maaf. Lagian ngagetin aja sih...," kata Arini membela diri.
Lalu refleks mengusap pipi Adnan dengan lap tangan yang ada di saku bajunya.
" Ariniiii...," kata Adnan gemas saat tahu Arini mengusap wajahnya dengan lap kotor.
Arini tertawa saat melihat wajah Adnan yang kesal. Adnan terkesima sesaat ketika melihat tawa Arini.
Adnan sudah sering melihat Arini tertawa dulu, tapi melihat tawa Arini sedekat ini membuat jantung Adnan berdetak cepat.
" Maaf, maaf...," kata Arini di sela tawanya.
" Kebiasaan, Aku tuh Bos lho disini. Seenaknya aja Kamu bikin Aku kaya badut...," kata Adnan pura-pura marah.
" Iya maaf Bos...," kata Arini lagi, lalu membereskan perlengkapannya dan segera berlalu dari kafe itu.
Adnan masih mengusap wajahnya yang sedikit perih akibat duri mawar. Sedangkan Arini berjalan cepat secepat detak jantungnya yang berlomba ingin keluar dari tempatnya. Arini merasa sedikit aneh saat berdiri dalam jarak yang sangat dekat dengan Adnan. Arini pun langsung mencuci muka di wastafel saat kembali ke toko bunga. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.
" Aku kenapa sih, Jangan bilang gara-gara si Adnan, mukaku jadi merah kaya gini...," batin Arini.
Saat menutup kafe, Adnan sempat menoleh ke arah toko bunga tempat Arini bekerja. Seolah memastikan bahwa toko itu sudah tutup sejak tadi. Adnan memang buka tutup kafe jam sepuluh pagi dan malam hari.
Sambil melajukan mobilnya melewati toko bunga Adnan kembali menoleh.
" Kok Aku jadi nyariin si Arini ya, masa sih Aku suka sama cewek model gitu...?" tanya Adnan dalam hati seolah tak percaya.
Adnan menggelengkan kepalanya sambil berlalu meninggalkan tempat itu.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
likeku singgah lagi
2021-01-30
1
St Nurul NG
Semangat berkarya kak
2020-12-31
1