3 ( Masa sih..., )

Adnan kembali ke kota dan melanjutkan tugasnya.

Setelah jenuh dengan pekerjaannya, ditambah masalah dengan Fira tempo hari membuat Adnan pun berencana resign dari tempatnya bekerja. Ia berniat membuka usaha sendiri. Ia mulai mencari tempat yang cocok untuknya membuka usaha kafe atau bengkel mobil.

Adnan mendapatkan tempat yang cocok dengan harga yang sangat bersahabat. Sebuah ruko yang berada di pinggir jalan yang strategis. Disana sudah ada beberapa toko juga yang sudah beroperasi. Ada toko bunga, toko assesoris wanita, toko pakaian, toko HP dan kantin kecil.

Adnan mulai merenovasi beberapa bagian ruko untuk disesuaikan dengan kafe yang akan dibangunnya. Adnan mendesign sendiri ruko itu menjadi sebuah kafe. Ada beberapa tambahan ornamen untuk mempercantik interior kafe. Dan Adnan pun memilih bunga segar untuk menghidupkan suasana kafe nanti.

Sambil mengecek pekerjaan tukang di ruko miliknya, Adnan pun singgah di toko bunga dekat ruko miliknya.

" Permisi...," sapa Adnan.

" Ya, mari silakan Pak. Apa ada bunga yang mau Bapak beli, untuk siapa...?" tanya pelayan toko.

" Lho Arini, Kamu disini juga...?" tanya Adnan saat mengenali Arini.

" Kamu lagi. Kenapa dimana-mana selalu ketemu Kamu...," sungut Arini sebal.

" Ck. Aku ada urusan sama pemilik toko bunga ini...," kata Adnan datar.

" Sebentar...," Arini masuk ke dalam dan memanggil pemilik toko.

" Iya ada yang bisa Saya bantu...?" tanya bu Rose sang pemilik toko bunga.

" Bisa Kita bicara sebentar Bu, ini soal kerjasama Kita ...?" tanya Adnan hati-hati.

" Ooo bisa. Mari silakan masuk Pak...,"

" Saya Adnan Kusuma, Saya berencana membuka kafe di kios ujung sana yang sedang di renovasi...," kata Adnan ramah.

" Saya Roselia. Jadi maksud Pak Adnan...?" tanya Rose lagi.

" Saya ingin memesan bunga segar setiap hari yang akan Saya letakkan di beberapa sudut ruangan, mungkin Ibu bisa memilihkan bunga apa yang cocok diletakkan disana nantinya. Dan pembayaran akan Saya lakukan perminggu. Gimana Bu Rose...?" tanya Adnan.

" Ooo bisa. insya Allah bisa Pak. Saya akan senang hati bekerjasama dengan Bapak...," kata Rose senang sambil menyalami Adnan.

" Terimakasih Bu. Untuk awalnya Saya memesan bunga untuk acara pembukaan kafe Saya minggu depan, kalo Ibu ga keberatan bisa liat dulu kesana besok...," kata Adnan sambil berdiri.

" Baik, insya Allah Saya akan kesana besok untuk memastikan bunga apa yang cocok diletakkan disana...," kata Rose mengakhiri percakapan mereka.

Adnan pun berlalu meninggalkan toko bunga itu. Masih sempat melirik kearah Arini yang sedang sibuk melayani pembeli.

" Tambah susah deh buat ngelupain dia kalo gini caranya. Jauh-jauh merantau, masih aja ketemu dia lagi, jangan-jangan Kita jodoh...?" batin Arini tapi segera ditepisnya dengan memukul dahinya keras.

\=\=\=\=\=

Arini mulai menghilangkan perasaannya pada Adnan sejak Adnan ketauan selingkuh saat masih berhubungan dengan Ami.

Arini kecewa karena Adnan tak sebaik yang dipikirkan, dan Arini pun mulai bersikap cuek pada Adnan.

Adnan yang menyadari perubahan sikap Arini padanya pun bingung. Ia sadar kesalahannya pada Ami. Tapi apa hubungan semua itu dengan Arini. Apalagi ia dan Gisela sudah putus sejak Adnan memilih resign dari tempatnya bekerja.

Hingga suatu hari....

" Aww, sakit Adnan. Apa-apan sih Kamu...?!" kata Arini marah karena Adnan menarik tangannya keras.

" Aku sengaja, biar Kamu ga menghindari Aku terus...," kata Adnan.

" Aku ga mau kenal sama Kamu, cowok ga jelas...!" kata Arini judes.

" Kenapa, emang salah Aku apa sama Kamu...?" tanya Adnan.

" Ga ada. Tapi Aku malas aja ngeliat orang model Kamu...," kata Arini sambil berlalu.

" Arini, Kamu ga akan bisa menjauh dari Aku, ingat itu...!" seru Adnan emosi.

Adnan berdecak sebal saat melihat Arini makin menjauh. Ia merasa aneh dengan perubahan sikap Arini padanya. Setahu Adnan dulu Arini pernah menyukainya. Tapi mengapa sekarang berbeda. Adnan mengacak rambutnya kesal.

\=\=\=\=\=

Pembukaan kafe Adnan.

Kafe Adnan dibuka tepat di hari Sabtu saat para pemuda dan pemudi biasa menghabiskan waktu bersama alias ngedate.

Letaknya yang strategis menyebabkan banyak dilirik oleh para pecinta tantangan khususnya kaum muda.

Arini ikut hadir di acara pembukaan kafe mendampingi Bosnya Roselia.

Dalam acara pembukaan perdana kafe dihadiri juga oleh kedua orangtua Adnan.

Nampak kebahagiaan jelas terlukis di wajah mereka. Arini yang mengenal mereka pun menghampiri untuk menyapa.

" Assalamualaikum Bu,Pak...," sapa Arini sopan.

" Wa alaikumsalam, lho Arini disini juga toh, bantuin Adnan ya...?" tanya ibu Adnan antusias.

" Ehm, ga Bu. Saya nemenin Bos Saya, karena Adnan pesan bunga dari tempat Saya kerja...," jawab Arini malu.

" Ooo, Kamu kerja di toko bunga, gapapa, semua pekerjaan asal halal, ya kerjain aja ,ga usah malu...," kata ayah Adnan menghibur.

" Iya Pak...," kata Arini sambil tersenyum.

Adnan pun menghampiri kedua orangtuanya yang sedang ngobrol dengan Arini.

" Kirain kemana, ga taunya disini. Ayo Bu, Yah, cobain menu di kafe Adnan dong. Ntar kalo ada yang kurang, kasih tau ya, biar Adnan perbaiki...," kata Adnan sambil merangkul pundak ibunya.

" Arini ga diajak sekalian...?" tanya ibu Adnan.

" Ayo Rin, Kamu nyesel ntar, mumpung gratis nih...," ajak Adnan dengan muka menyebalkan.

" Silakan Ibu sama Bapak duluan aja, Saya masih kenyang...," tolak Arini halus.

Arini lalu membalikkan badan, tanpa permisi ia meninggalkan kafe milik Adnan itu.

Diam-diam Adnan memperhatikan tingkah Arini dari jendela kafe sambil tersenyum sinis.

Kafe yang diberi nama 'Kafe Sahabat' itu laris manis dikunjungi pembeli. Apalagi menu yang ditawarkaa sangat enak dengan harga yang lumayan dan tidak menguras kantong.

Setiap hari Arini bertugas mengantarkan rangkaian bunga ke Kafe Sahabat bersama temannya, Maria. Arini akan mengganti rangkaian bunga yang sudah layu dengan rangkaian yang baru. Mereka meletakkan rangkaian bunga itu di tempat yang telah ditentukan untuk membuat ruangan menjadi lebih fresh.

Saat Arini sedang asyik mengecek bunga yang harus diganti, Adnan berdiri di belakangnya sambil memperhatikan kinerja Arini dan temannya. Adnan kagum dengan cara kerja kedua wanita di depannya, apalagi Arini. Ada niat dihatinya untuk menggoda Arini.

" Sudah...?" tanya Adnan.

" Sudah Pak, Saya permisi...," kata Maria.

Arini yang tak tahu Maria sudah tak ada di sampingnya malah mengajak Maria bicara.

" Aku suka banget deh rangkaian bunga ini, warnanya unik ya, eh tolong guntingnya Mar...," kata Arini yang tak menyadari Adnan lah yang memberinya gunting.

" Makasih. Kalo ga karena perintah Bu Rose, sebenernya Aku males ke sini. Sebel sama yang punya...," gerutu Arini.

" Sebel kenapa...?" tanya Adnan yang wajahnya ada di depan Arini.

Arini terkejut dan langsung melempar bunga mawar ditangannya ke wajah Adnan. Otomatis duri-duri mawar itu melukai kulit wajah Adnan.

" Aww, Kamu...," Adnan memegang pipinya yang terluka.

" Eehh, ma... maaf. Lagian ngagetin aja sih...," kata Arini membela diri.

Lalu refleks mengusap pipi Adnan dengan lap tangan yang ada di saku bajunya.

" Ariniiii...," kata Adnan gemas saat tahu Arini mengusap wajahnya dengan lap kotor.

Arini tertawa saat melihat wajah Adnan yang kesal. Adnan terkesima sesaat ketika melihat tawa Arini.

Adnan sudah sering melihat Arini tertawa dulu, tapi melihat tawa Arini sedekat ini membuat jantung Adnan berdetak cepat.

" Maaf, maaf...," kata Arini di sela tawanya.

" Kebiasaan, Aku tuh Bos lho disini. Seenaknya aja Kamu bikin Aku kaya badut...," kata Adnan pura-pura marah.

" Iya maaf Bos...," kata Arini lagi, lalu membereskan perlengkapannya dan segera berlalu dari kafe itu.

Adnan masih mengusap wajahnya yang sedikit perih akibat duri mawar. Sedangkan Arini berjalan cepat secepat detak jantungnya yang berlomba ingin keluar dari tempatnya. Arini merasa sedikit aneh saat berdiri dalam jarak yang sangat dekat dengan Adnan. Arini pun langsung mencuci muka di wastafel saat kembali ke toko bunga. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.

" Aku kenapa sih, Jangan bilang gara-gara si Adnan, mukaku jadi merah kaya gini...," batin Arini.

Saat menutup kafe, Adnan sempat menoleh ke arah toko bunga tempat Arini bekerja. Seolah memastikan bahwa toko itu sudah tutup sejak tadi. Adnan memang buka tutup kafe jam sepuluh pagi dan malam hari.

Sambil melajukan mobilnya melewati toko bunga Adnan kembali menoleh.

" Kok Aku jadi nyariin si Arini ya, masa sih Aku suka sama cewek model gitu...?" tanya Adnan dalam hati seolah tak percaya.

Adnan menggelengkan kepalanya sambil berlalu meninggalkan tempat itu.

bersambung

Terpopuler

Comments

@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ

@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ

likeku singgah lagi

2021-01-30

1

St Nurul NG

St Nurul NG

Semangat berkarya kak

2020-12-31

1

lihat semua
Episodes
1 1 ( Adnan )
2 2 ( Ditikung ? )
3 3 ( Masa sih..., )
4 4 ( Pindah )
5 5 ( Seragam )
6 6 ( Pawai Obor )
7 7 ( Mencair )
8 8 ( Musuh )
9 9 ( Kepancing )
10 10 ( Berakhir )
11 11 ( Kecewa )
12 12 ( Tentang Hati )
13 13 ( Pacar )
14 14 ( Kenapa...? )
15 15 ( Sakit juga )
16 16 ( Ketemu Lagi )
17 17 ( Ga Suka )
18 18 ( Perpisahan Sementara )
19 19 ( Kenyataan )
20 20 ( Gagal )
21 21 ( Pemulihan )
22 22 ( Kangen )
23 23 ( Ke Villa )
24 24 ( Nitip )
25 25 ( Ajak Juga )
26 26 ( Kawatir )
27 27 ( Keharuan )
28 28 ( Operasi Kedua )
29 29 ( Surat )
30 30 ( Kritis )
31 31 ( Pingsan )
32 32 ( Surprise )
33 33 ( Setuju )
34 34 ( Pulkam )
35 35 ( Kabar Dari Arini )
36 36 ( Ijab Kabul )
37 37 ( Sarapan )
38 38 ( Peraturan )
39 39 ( Kesepakatan Baru )
40 40 ( Ke kafe )
41 41. ( Berita )
42 42 ( Pergi )
43 43. ( Kesepakatan Lagi ? )
44 44 ( Cemburu )
45 45 ( Pulang )
46 46 ( Mengabaikan )
47 47 ( Penjelasan Arini )
48 48 ( Penjelasan 2 )
49 49 ( Mengambil Paksa )
50 50 ( KDRT ? )
51 51 ( Pergi Lagi )
52 52 ( Mencari )
53 53 ( Tertukar )
54 54 ( Penyesalan )
55 55 ( Berusahalah )
56 56 ( Bertemu )
57 57 ( Keputusan )
58 58 ( Status Baru )
59 59 ( Pengacau )
60 60 ( Bertemu Ratna )
61 61 ( Keinginan Yang Sama )
62 62 ( Bingung )
63 63 ( Semangat )
64 64 ( Mengejar )
65 65 ( Memberi Kesempatan )
66 66 ( Tak Bisa Menolak )
67 67 ( Panik )
68 68 ( Berhadapan )
69 69 ( Doa )
70 70 ( Menculik )
71 71 ( Menuruti )
72 72 ( Berdebat )
73 73 ( Menggendong )
74 74 ( Terluka )
75 75 ( Mendekatkan )
76 76 ( Salut )
77 77 ( Apa Benar ? )
78 78 ( Robi Ngamuk )
79 79 ( Sah Lagi )
80 80 ( Mau Cepat )
81 81 ( Alhamdulillah )
82 82 ( Gemuk ? )
83 83 ( Perubahan Hormon )
84 84 ( Sesuai Prediksi )
85 85 ( Kabar Gembira )
86 86 ( Menegangkan )
87 87 ( Menuntaskan )
88 88 ( Cara Sendiri )
89 89 ( Milikku )
90 90 ( Pesona Sita )
91 91 ( Memalukan )
92 92 ( Dipecat )
93 93 ( Kompak )
94 94 ( Melahirkan )
95 95 ( Dia Milikku 2 )
96 96 ( Naila )
97 97 ( Menyerah )
98 98 ( Naila Kabur ? )
99 99 ( Bercerai )
100 100 ( Gading dan Naila )
101 101 ( Bulan Madu )
102 102 ( Naila Sakit )
103 103 ( Dua Pria Satu Meja )
104 104 ( Tentara Ganteng )
105 105 ( Ketemu di Posko )
106 106 ( Jadi Nyamuk ? )
107 107 ( Mencari Aisyah )
108 108 ( Semakin Dekat )
109 109 ( Hukuman Permainan )
110 110 ( Jangan Berharap )
111 111 ( Jaga Jarak )
112 112 ( Melanjutkan Mimpi )
113 113 ( Terbongkar )
114 114 ( Harus Pergi )
115 115 ( Kenal Yang Lain )
116 116 ( Posesif )
117 117 ( Gamang )
118 118 ( Bingung )
119 119 ( Dejavu )
120 120 ( Irgi Pulang )
121 121 ( Irgi Cemburu )
122 122 ( Ancaman )
123 123 ( Jemput Aisyah )
124 124 ( Lega )
125 125 ( Penyelamat )
126 126 ( Ijab Kabul )
127 127 ( Belum Siap )
128 128 ( Resepsi Pernikahan )
129 129 ( Suka )
130 130 ( Menangis )
131 131 ( Merajuk )
132 132 ( Baikan )
133 133 ( Mengantar )
134 134 ( Berangkat Tugas )
135 135 ( Shock )
136 136 ( Koma )
137 137 ( Tertangkap )
138 138 ( Video Call )
139 139 ( Menawarkan Bantuan )
140 140 ( Ketahuan )
141 141 ( Jujur Membuat Luka )
142 142 ( Datang )
143 143 ( Memperalat )
144 144 ( Membuktikan )
145 145 ( Hadiah )
146 146 ( Siuman )
147 147 ( Keadilan )
Episodes

Updated 147 Episodes

1
1 ( Adnan )
2
2 ( Ditikung ? )
3
3 ( Masa sih..., )
4
4 ( Pindah )
5
5 ( Seragam )
6
6 ( Pawai Obor )
7
7 ( Mencair )
8
8 ( Musuh )
9
9 ( Kepancing )
10
10 ( Berakhir )
11
11 ( Kecewa )
12
12 ( Tentang Hati )
13
13 ( Pacar )
14
14 ( Kenapa...? )
15
15 ( Sakit juga )
16
16 ( Ketemu Lagi )
17
17 ( Ga Suka )
18
18 ( Perpisahan Sementara )
19
19 ( Kenyataan )
20
20 ( Gagal )
21
21 ( Pemulihan )
22
22 ( Kangen )
23
23 ( Ke Villa )
24
24 ( Nitip )
25
25 ( Ajak Juga )
26
26 ( Kawatir )
27
27 ( Keharuan )
28
28 ( Operasi Kedua )
29
29 ( Surat )
30
30 ( Kritis )
31
31 ( Pingsan )
32
32 ( Surprise )
33
33 ( Setuju )
34
34 ( Pulkam )
35
35 ( Kabar Dari Arini )
36
36 ( Ijab Kabul )
37
37 ( Sarapan )
38
38 ( Peraturan )
39
39 ( Kesepakatan Baru )
40
40 ( Ke kafe )
41
41. ( Berita )
42
42 ( Pergi )
43
43. ( Kesepakatan Lagi ? )
44
44 ( Cemburu )
45
45 ( Pulang )
46
46 ( Mengabaikan )
47
47 ( Penjelasan Arini )
48
48 ( Penjelasan 2 )
49
49 ( Mengambil Paksa )
50
50 ( KDRT ? )
51
51 ( Pergi Lagi )
52
52 ( Mencari )
53
53 ( Tertukar )
54
54 ( Penyesalan )
55
55 ( Berusahalah )
56
56 ( Bertemu )
57
57 ( Keputusan )
58
58 ( Status Baru )
59
59 ( Pengacau )
60
60 ( Bertemu Ratna )
61
61 ( Keinginan Yang Sama )
62
62 ( Bingung )
63
63 ( Semangat )
64
64 ( Mengejar )
65
65 ( Memberi Kesempatan )
66
66 ( Tak Bisa Menolak )
67
67 ( Panik )
68
68 ( Berhadapan )
69
69 ( Doa )
70
70 ( Menculik )
71
71 ( Menuruti )
72
72 ( Berdebat )
73
73 ( Menggendong )
74
74 ( Terluka )
75
75 ( Mendekatkan )
76
76 ( Salut )
77
77 ( Apa Benar ? )
78
78 ( Robi Ngamuk )
79
79 ( Sah Lagi )
80
80 ( Mau Cepat )
81
81 ( Alhamdulillah )
82
82 ( Gemuk ? )
83
83 ( Perubahan Hormon )
84
84 ( Sesuai Prediksi )
85
85 ( Kabar Gembira )
86
86 ( Menegangkan )
87
87 ( Menuntaskan )
88
88 ( Cara Sendiri )
89
89 ( Milikku )
90
90 ( Pesona Sita )
91
91 ( Memalukan )
92
92 ( Dipecat )
93
93 ( Kompak )
94
94 ( Melahirkan )
95
95 ( Dia Milikku 2 )
96
96 ( Naila )
97
97 ( Menyerah )
98
98 ( Naila Kabur ? )
99
99 ( Bercerai )
100
100 ( Gading dan Naila )
101
101 ( Bulan Madu )
102
102 ( Naila Sakit )
103
103 ( Dua Pria Satu Meja )
104
104 ( Tentara Ganteng )
105
105 ( Ketemu di Posko )
106
106 ( Jadi Nyamuk ? )
107
107 ( Mencari Aisyah )
108
108 ( Semakin Dekat )
109
109 ( Hukuman Permainan )
110
110 ( Jangan Berharap )
111
111 ( Jaga Jarak )
112
112 ( Melanjutkan Mimpi )
113
113 ( Terbongkar )
114
114 ( Harus Pergi )
115
115 ( Kenal Yang Lain )
116
116 ( Posesif )
117
117 ( Gamang )
118
118 ( Bingung )
119
119 ( Dejavu )
120
120 ( Irgi Pulang )
121
121 ( Irgi Cemburu )
122
122 ( Ancaman )
123
123 ( Jemput Aisyah )
124
124 ( Lega )
125
125 ( Penyelamat )
126
126 ( Ijab Kabul )
127
127 ( Belum Siap )
128
128 ( Resepsi Pernikahan )
129
129 ( Suka )
130
130 ( Menangis )
131
131 ( Merajuk )
132
132 ( Baikan )
133
133 ( Mengantar )
134
134 ( Berangkat Tugas )
135
135 ( Shock )
136
136 ( Koma )
137
137 ( Tertangkap )
138
138 ( Video Call )
139
139 ( Menawarkan Bantuan )
140
140 ( Ketahuan )
141
141 ( Jujur Membuat Luka )
142
142 ( Datang )
143
143 ( Memperalat )
144
144 ( Membuktikan )
145
145 ( Hadiah )
146
146 ( Siuman )
147
147 ( Keadilan )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!