12 ( Tentang Hati )

Arini hanya diam membisu sambil terus mengingat kalimat Robi yang diucapkannya sebulan lalu.

Arini tak menyadari jika ia sedang diawasi oleh Robi. Robi menatap Arini penuh rindu. Ingin sekali rasanya menyapa dan memeluk Arini, tapi tak dilakukan oleh Robi. Ia lebih memilih mendampingi Fina, sang wanita cantik, untuk memilih gaun pengantinnya.

Sore hari setelah usai jam kerja. Seperti biasa, butik tutup jam lima sore. Butik itu hanya akan buka lebih lama jika sedang ada event tertentu.

Arini melangkah pelan meninggalkan butik untuk mencari ojeg pangkalan dekat jalan raya. Sedangkan Anis dan Ratna sudah dijemput oleh pasangannya masing-masing tadi.

Saat Arini akan berbelok di ujung jalan, nampak Robi sedang berdiri menantinya. Tampak tatapan Robi yang menghujam jantung Arini. Jika dalam situasi biasa mungkin Arini akan lebih dulu menyapanya. Tapi karena situasi hatinya sedang tak bersahabat Arini mengacuhkan saja Robi yang menghalangi jalannya.

" Mau pulang, Aku anter ya...," kata Robi ramah.

" Ga usah. Aku bisa pulang sendiri...," kata Arini ketus.

" Gimana kabar Kamu. Aku kangen...," kata Robi lirih.

Arini membulatkan matanya dan memandang tajam kearah Robi. Ia muak karena merasa pertanyaan Robi adalah ejekan untuknya.

" Apa maksud Kamu ngomong kaya gitu. Kamu, berhenti tebar pesona dan ngasih harapan kosong sama wanita lain. Bukannya Kamu udah mau nikah ya. Hargailah sedikit perasaan pasanganmu...," kata Arini berapi-api.

" Aku ga ngasih harapan kosong. Lagian siapa yang mau nikah. Aku. Ga tuh...," jawab Robi santai.

" Robi...!" bentak Arini.

" Iya, sebentar Arini. Jangan marah dulu dong. Kayanya Kamu salah paham deh...," kata Robi sambil melangkah mendekati Arini.

" Salah paham gimana. Bukannya Kamu tadi ke butik dan pesen gaun pengantin kan, artinya Kamu akan menikah. Salahnya di mana coba...?! kata Arini galak sambil mundur dan menghindari Robi.

" Ck. Tuh bener kan.Tadi itu sepupu Aku, namanya Fina. Dia yang mau nikah. Minta anterin Aku karena cuma Aku yang tau letak butiknya Tante Melinda. Itu keponakan Tante Aku juga...," kata Bobi sambil menahan tawa.

" Kamu...," Arini gugup.

" Iya, bukan Aku yang mau nikah, tapi sepupu Aku Sayang...," kata Robi sambil mencubit kecil pipi Arini.

" Ga usah deket-deket...," kata Arini sambil mengelap bekas sentuhan tangan Robi di pipinya.

" Tapi Aku kangen...," kata Robi lagi.

Arini melengos. Ia merasa ingin menangis setelah mendengar cerita Robi barusan. Arini menggigit bibirnya menahan rasa kesalnya.

Robi yang melihat Arini seperti itu pun mendekati Arini perlahan. Lalu membawa Arini ke dalam pelukannya dan membiarkan Arini menangis disana.

" Maaf...," bisik Robi lembut.

" Kamu jahat banget tau ga...," kata Arini sambil memukuli Robi dengan tangannya.

" Iya, maaf ya...," kata Robi lagi sambil terus memeluk Arini erat.

Arini merasa lega karena ternyata bukan Robi yang akan menikahi wanita itu. Sadar dirinya 'dikerjai' Robi, Arini pun mengurai pelukannya dengan kasar.

" Maksud Kamu apa ngelakuin semua ini...?" tanya Arini sambil menatap mata Robi lekat.

" Masa ga tau. Aku ngetes aja, Kamu jelous ga kalo ngeliat Aku jalan sama cewek lain. Ternyata dugaanku bener. Kamu jelous banget. Dan Aku suka itu...," kata Robi sambil tersenyum.

" Jadi Kamu lagi ngerjain Aku kan...," kata Arini lagi sambil mulai menjauhi Robi.

" Udah dong Arini. Sayangku, Cintaku, sampe kapan Kamu kaya gini. Udah ya. Kamu pacar Aku sekarang, satu-satunya, ga ada yang laen...," kata Robi sambil memeluk Arini gemas.

" Apaan sih. Aku belom bilang iya lho...," elak Arini.

" Ga perlu. Aku udah tau kalo Kamu juga sayang sama Aku kok...," kata Robi pede.

" Iiihh, Kamu tuh, nyebelin banget sih...," kata Arini yang tersenyum di dalam pelukan Robi.

Robi pun tertawa senang. Sore itu langit nampak lebih terang untuk pasangan yang sedang kasmaran itu.

\=\=\=\=\=

Adnan sedang berkeliling di dalam kafe untuk melihat kinerja karyawannya dan respon para tamu.

Ia sangat memperhatikan detail ekspresi para tamu saat menikmati menu yang disajikan di kafe miliknya.

Bahkan ia tak segan bertanya pada para tamu untuk memberi masukan positif bagi kafenya.

Seperti yang dilakukannya kali ini. Adnan menghampiri seorang wanita cantik yang sedang duduk menunggu pesanannya tiba.

" Permisi. Saya Adnan pemilik kafe ini. Apakah ada kesan atau pesan pada pelayanan Kami di sini...?" tanya Adnan.

" Oh, hai. Saya Sarmila. Saya pelanggan tetap di sini. Tapi Saya baru tau kalo pemilik kafe ini masih muda, ganteng lagi...," kata Sarmila ramah.

" Ah Bu Sarmila bisa aja...," kata Adnan malu.

" Panggil Saya Sarmila atau Mila aja. Saya belum terlalu tua kan...," kata Sarmila manja.

" Baik Mbak Mila...," kata Adnan lagi.

" Nah, gitu kedengerannya lebih akrab, lebih deket...," kata Sarmila tertawa.

Sejak saat itu hubungan Adnan dan Sarmila pun jadi lebih dekat. Sarmila hampir tiap hari datang ke kafe itu untuk menemui Adnan.

Adnan yang memang tak punya pikiran buruk itu menerima saja kehadiran Sarmila.

Makin lama Adnan makin mengenal Sarmila. Sarmila adalah janda satu anak yang bercerai dari suaminya karena diselingkuhi.

Dan yang lebih parah, selingkuhannya adalah baby sitter yang mengurus anak mereka di rumah.

Sarmila yang seorang wanita karir, membayar jasa seorang baby sitter untuk mengurus anak semata wayangnya.

Semula tak ada yang aneh.

Sarmila pergi ke kantor jam tujuh pagi dan kembali ke rumah jam tujuh malam. Begitu pula suami Sarmila. Sarmila sempat curiga akan sikap suaminya yang memilih berangkat lebih siang dari dirinya. Padahal biasanya sang suami berangkat lebih awal dan pulang lebih larut.

Suatu hari sang suami ijin pergi tugas ke luar kota. Bersamaan dengan sang baby sitter yang juga pamit pulang kampung karena orangtuanya sakit.

Tanpa curiga Sarmila pun melepas kepergian kedua orang yang tinggal seatap dengannya itu.

Sarmila merawat sendiri sang buah hati selama sang baby sitter cuti kerja. Bahkan Sarmila juga membawa anaknya ke kantor dan menitipkannya di tempat penitipan anak yang ada di kantornya.

Baru seminggu kemudian sang baby sitter dan suaminya pun kembali dalam waktu yang berbeda tapi di hari yang sama.

Sarmila pun mulai meninggalkan anaknya bersama baby sitter di rumah seperti biasa.

Hingga suatu hari Sarmila pulang lebih awal karena sedang tak enak badan.

Saat memasuki rumahnya ia melihat mobil sang suami sudah terparkir di halaman rumahnya. Tanpa curiga, Sarmila masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan anak dan suaminya. Sarmila terkejut karena mendapati ruang tengah yang berantakan. Sedangkan sang anak tampak bermain sendiri.

Sarmila pun mendekati sang anak dan mencium keningnya. Saat itulah terdengar desahan dari kamarnya. Sarmila yang terkejut mendatangi kamarnya yang memang tak terkunci. Betapa kagetnya Sarmila saat melihat suami dan baby sitternya sedang bercinta di atas tempat tidurnya!.

Kedua orang itu pun sama terkejutnya dengan Sarmila. Lalu mereka bergegas keluar sambil berusaha menjelaskan semuanya. Ternyata hari itu Sarmila baru tahu bahwa suaminya telah menikahi baby sitternya itu.

Sarmila menangis, menjerit tak percaya. Orang yang selama ini dipercayainya telah tega mengkhianatinya.

Sarmila yang marah lalu memutuskan mengajukan perceraian walau suaminya menolak. Sang suami yang ternyata hanya parasit di hidup Sarmila itu tak sanggup meminta Sarmila kembali. Akhirnya mereka resmi berpisah dan hak asuh sang anak jatuh ke tangan Sarmila.

Kini Sarmila menjadi orangtua tunggal bagi putranya yang berusia empat belas bulan. Meski sang mantan suami terus memintanya untuk kembali, Sarmila menolak dan sudah menutup pintu hatinya untuk sang mantan.

Mendengar penuturan Sarmila menimbulkan rasa simpati sekaligus iba di hati Adnan.

Adnan yang jomblo bertemu dengan Sarmila yang single parent pasti bisa ditebak kemana arahnya.

Ya, mereka akhirnya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.

Adnan sangat menyayangi Axel, anak laki-laki Sarmila.

Dia bahkan menganggap Axel seperti putra kandungnya sendiri. Hingga Sarmila tak sungkan menitipkan Axel di rumah Adnan jika ia sedang ada urusan di luar kota dan menginap beberapa hari.

Seperti biasa, hari itu Sarmila kembali menitipkan putranya pada Adnan.

" Maaf. Aku ngerepotin Kamu lagi ya Yang...," kata Sarmila manja.

" Gapapa kok, santai aja. Kamu bisa titip Axel sama Aku dan Kamu kerja dengan tenang...," kata Adnan ramah.

" Makasih ya Sayang, Aku pergi dulu. Dah Axel Sayang, Mama pergi dulu ya...," kata Sarmila sambil melambaikan tangannya pada Axel dan Adnan.

" Dah Mami, hati-hati ya...," kata Adnan sambil menggendong Axel.

Adnan pun masuk dan langsung membawa Axel ke kamarnya untuk menidurkan sang bayi.

" Kamu tuh lucu banget sih. Semoga urusan Mama Kamu cepet selesai dan Kita bisa jalan-jalan lagi deh...," kata Adnan.

Karena lelah Adnan pun tertidur di samping Axel.

Saat sedang menemani Axel tidur, tiba-tiba pintu kamar Adnan diketuk oleh pelayan rumahnya. Adnan pun terbangun dan membuka pintu.

" Ada apaan sih Bi...?" tanya Adnan sambil menguap menahan kantuk.

" Itu Pak. Ada tamu, katanya orangtua Bapak dari kampung...," jawab Bi Uci.

" Apa, Ayah sama Ibu Saya. Kamu cepet bikinin makanan yang enak ya. Jangan lupa kopi dan teh manis hangat buat orangtua Saya. Cepet Bi...," perintah Adnan panik dan kemudian langsung ke ruang tamu untuk menyambut kedatangan orangtuanya itu.

" Baik Pak...," jawab Bi Uci lalu segera pergi ke dapur.

Adnan tertawa ssnang saat melihat orang yang berjasa di hidupnya sedang duduk dan memperhatikan dekorasi rumahnya.

" Yah, Bu...," sapa Adnan sambil memeluk mereka bergantian.

" Gimana kabarmu Le...," tanya Fatma sambil menciumi sang anak.

" Alhamdulillah baik Bu. Ko ga ngasih kabar dulu, biar Adnan bisa jemput tadi...," kata Adnan.

" Iya sengaja, biar...," ucapan Fatma tergantung saat mendengar suara anak kecil menangis dari dalam rumah Adnan.

Adnan pun bergegas berlari untuk menemui Axel yang menangis keras karena ketakutan sendiri di kamar.

Kedua orangtua Adnan pun mengikuti Adnan hingga ke kamarnya. Mereka melihat bagaimana sayangnya Adnan pada bocah laki-laki di dalam gendongannya itu.

Ibu Adnan sangat terkejut dan jatuh pingsan tanpa mendengar penjelasan Adnan.

Sang ayah yang panik pun langsung menggendong tubuh istrinya itu ke atas tempat tidur.

bersambung

Terpopuler

Comments

......

......

marathon bacanya thor

2021-03-06

1

Whiteyellow

Whiteyellow

boomlike untukmu ..jangan lupa dukung balik jika berkenan di

'CINTAI AKU SAHABAT KECILKU'

dan

'I NEED YOU'

Terima kasih🤗

2021-02-28

0

lihat semua
Episodes
1 1 ( Adnan )
2 2 ( Ditikung ? )
3 3 ( Masa sih..., )
4 4 ( Pindah )
5 5 ( Seragam )
6 6 ( Pawai Obor )
7 7 ( Mencair )
8 8 ( Musuh )
9 9 ( Kepancing )
10 10 ( Berakhir )
11 11 ( Kecewa )
12 12 ( Tentang Hati )
13 13 ( Pacar )
14 14 ( Kenapa...? )
15 15 ( Sakit juga )
16 16 ( Ketemu Lagi )
17 17 ( Ga Suka )
18 18 ( Perpisahan Sementara )
19 19 ( Kenyataan )
20 20 ( Gagal )
21 21 ( Pemulihan )
22 22 ( Kangen )
23 23 ( Ke Villa )
24 24 ( Nitip )
25 25 ( Ajak Juga )
26 26 ( Kawatir )
27 27 ( Keharuan )
28 28 ( Operasi Kedua )
29 29 ( Surat )
30 30 ( Kritis )
31 31 ( Pingsan )
32 32 ( Surprise )
33 33 ( Setuju )
34 34 ( Pulkam )
35 35 ( Kabar Dari Arini )
36 36 ( Ijab Kabul )
37 37 ( Sarapan )
38 38 ( Peraturan )
39 39 ( Kesepakatan Baru )
40 40 ( Ke kafe )
41 41. ( Berita )
42 42 ( Pergi )
43 43. ( Kesepakatan Lagi ? )
44 44 ( Cemburu )
45 45 ( Pulang )
46 46 ( Mengabaikan )
47 47 ( Penjelasan Arini )
48 48 ( Penjelasan 2 )
49 49 ( Mengambil Paksa )
50 50 ( KDRT ? )
51 51 ( Pergi Lagi )
52 52 ( Mencari )
53 53 ( Tertukar )
54 54 ( Penyesalan )
55 55 ( Berusahalah )
56 56 ( Bertemu )
57 57 ( Keputusan )
58 58 ( Status Baru )
59 59 ( Pengacau )
60 60 ( Bertemu Ratna )
61 61 ( Keinginan Yang Sama )
62 62 ( Bingung )
63 63 ( Semangat )
64 64 ( Mengejar )
65 65 ( Memberi Kesempatan )
66 66 ( Tak Bisa Menolak )
67 67 ( Panik )
68 68 ( Berhadapan )
69 69 ( Doa )
70 70 ( Menculik )
71 71 ( Menuruti )
72 72 ( Berdebat )
73 73 ( Menggendong )
74 74 ( Terluka )
75 75 ( Mendekatkan )
76 76 ( Salut )
77 77 ( Apa Benar ? )
78 78 ( Robi Ngamuk )
79 79 ( Sah Lagi )
80 80 ( Mau Cepat )
81 81 ( Alhamdulillah )
82 82 ( Gemuk ? )
83 83 ( Perubahan Hormon )
84 84 ( Sesuai Prediksi )
85 85 ( Kabar Gembira )
86 86 ( Menegangkan )
87 87 ( Menuntaskan )
88 88 ( Cara Sendiri )
89 89 ( Milikku )
90 90 ( Pesona Sita )
91 91 ( Memalukan )
92 92 ( Dipecat )
93 93 ( Kompak )
94 94 ( Melahirkan )
95 95 ( Dia Milikku 2 )
96 96 ( Naila )
97 97 ( Menyerah )
98 98 ( Naila Kabur ? )
99 99 ( Bercerai )
100 100 ( Gading dan Naila )
101 101 ( Bulan Madu )
102 102 ( Naila Sakit )
103 103 ( Dua Pria Satu Meja )
104 104 ( Tentara Ganteng )
105 105 ( Ketemu di Posko )
106 106 ( Jadi Nyamuk ? )
107 107 ( Mencari Aisyah )
108 108 ( Semakin Dekat )
109 109 ( Hukuman Permainan )
110 110 ( Jangan Berharap )
111 111 ( Jaga Jarak )
112 112 ( Melanjutkan Mimpi )
113 113 ( Terbongkar )
114 114 ( Harus Pergi )
115 115 ( Kenal Yang Lain )
116 116 ( Posesif )
117 117 ( Gamang )
118 118 ( Bingung )
119 119 ( Dejavu )
120 120 ( Irgi Pulang )
121 121 ( Irgi Cemburu )
122 122 ( Ancaman )
123 123 ( Jemput Aisyah )
124 124 ( Lega )
125 125 ( Penyelamat )
126 126 ( Ijab Kabul )
127 127 ( Belum Siap )
128 128 ( Resepsi Pernikahan )
129 129 ( Suka )
130 130 ( Menangis )
131 131 ( Merajuk )
132 132 ( Baikan )
133 133 ( Mengantar )
134 134 ( Berangkat Tugas )
135 135 ( Shock )
136 136 ( Koma )
137 137 ( Tertangkap )
138 138 ( Video Call )
139 139 ( Menawarkan Bantuan )
140 140 ( Ketahuan )
141 141 ( Jujur Membuat Luka )
142 142 ( Datang )
143 143 ( Memperalat )
144 144 ( Membuktikan )
145 145 ( Hadiah )
146 146 ( Siuman )
147 147 ( Keadilan )
Episodes

Updated 147 Episodes

1
1 ( Adnan )
2
2 ( Ditikung ? )
3
3 ( Masa sih..., )
4
4 ( Pindah )
5
5 ( Seragam )
6
6 ( Pawai Obor )
7
7 ( Mencair )
8
8 ( Musuh )
9
9 ( Kepancing )
10
10 ( Berakhir )
11
11 ( Kecewa )
12
12 ( Tentang Hati )
13
13 ( Pacar )
14
14 ( Kenapa...? )
15
15 ( Sakit juga )
16
16 ( Ketemu Lagi )
17
17 ( Ga Suka )
18
18 ( Perpisahan Sementara )
19
19 ( Kenyataan )
20
20 ( Gagal )
21
21 ( Pemulihan )
22
22 ( Kangen )
23
23 ( Ke Villa )
24
24 ( Nitip )
25
25 ( Ajak Juga )
26
26 ( Kawatir )
27
27 ( Keharuan )
28
28 ( Operasi Kedua )
29
29 ( Surat )
30
30 ( Kritis )
31
31 ( Pingsan )
32
32 ( Surprise )
33
33 ( Setuju )
34
34 ( Pulkam )
35
35 ( Kabar Dari Arini )
36
36 ( Ijab Kabul )
37
37 ( Sarapan )
38
38 ( Peraturan )
39
39 ( Kesepakatan Baru )
40
40 ( Ke kafe )
41
41. ( Berita )
42
42 ( Pergi )
43
43. ( Kesepakatan Lagi ? )
44
44 ( Cemburu )
45
45 ( Pulang )
46
46 ( Mengabaikan )
47
47 ( Penjelasan Arini )
48
48 ( Penjelasan 2 )
49
49 ( Mengambil Paksa )
50
50 ( KDRT ? )
51
51 ( Pergi Lagi )
52
52 ( Mencari )
53
53 ( Tertukar )
54
54 ( Penyesalan )
55
55 ( Berusahalah )
56
56 ( Bertemu )
57
57 ( Keputusan )
58
58 ( Status Baru )
59
59 ( Pengacau )
60
60 ( Bertemu Ratna )
61
61 ( Keinginan Yang Sama )
62
62 ( Bingung )
63
63 ( Semangat )
64
64 ( Mengejar )
65
65 ( Memberi Kesempatan )
66
66 ( Tak Bisa Menolak )
67
67 ( Panik )
68
68 ( Berhadapan )
69
69 ( Doa )
70
70 ( Menculik )
71
71 ( Menuruti )
72
72 ( Berdebat )
73
73 ( Menggendong )
74
74 ( Terluka )
75
75 ( Mendekatkan )
76
76 ( Salut )
77
77 ( Apa Benar ? )
78
78 ( Robi Ngamuk )
79
79 ( Sah Lagi )
80
80 ( Mau Cepat )
81
81 ( Alhamdulillah )
82
82 ( Gemuk ? )
83
83 ( Perubahan Hormon )
84
84 ( Sesuai Prediksi )
85
85 ( Kabar Gembira )
86
86 ( Menegangkan )
87
87 ( Menuntaskan )
88
88 ( Cara Sendiri )
89
89 ( Milikku )
90
90 ( Pesona Sita )
91
91 ( Memalukan )
92
92 ( Dipecat )
93
93 ( Kompak )
94
94 ( Melahirkan )
95
95 ( Dia Milikku 2 )
96
96 ( Naila )
97
97 ( Menyerah )
98
98 ( Naila Kabur ? )
99
99 ( Bercerai )
100
100 ( Gading dan Naila )
101
101 ( Bulan Madu )
102
102 ( Naila Sakit )
103
103 ( Dua Pria Satu Meja )
104
104 ( Tentara Ganteng )
105
105 ( Ketemu di Posko )
106
106 ( Jadi Nyamuk ? )
107
107 ( Mencari Aisyah )
108
108 ( Semakin Dekat )
109
109 ( Hukuman Permainan )
110
110 ( Jangan Berharap )
111
111 ( Jaga Jarak )
112
112 ( Melanjutkan Mimpi )
113
113 ( Terbongkar )
114
114 ( Harus Pergi )
115
115 ( Kenal Yang Lain )
116
116 ( Posesif )
117
117 ( Gamang )
118
118 ( Bingung )
119
119 ( Dejavu )
120
120 ( Irgi Pulang )
121
121 ( Irgi Cemburu )
122
122 ( Ancaman )
123
123 ( Jemput Aisyah )
124
124 ( Lega )
125
125 ( Penyelamat )
126
126 ( Ijab Kabul )
127
127 ( Belum Siap )
128
128 ( Resepsi Pernikahan )
129
129 ( Suka )
130
130 ( Menangis )
131
131 ( Merajuk )
132
132 ( Baikan )
133
133 ( Mengantar )
134
134 ( Berangkat Tugas )
135
135 ( Shock )
136
136 ( Koma )
137
137 ( Tertangkap )
138
138 ( Video Call )
139
139 ( Menawarkan Bantuan )
140
140 ( Ketahuan )
141
141 ( Jujur Membuat Luka )
142
142 ( Datang )
143
143 ( Memperalat )
144
144 ( Membuktikan )
145
145 ( Hadiah )
146
146 ( Siuman )
147
147 ( Keadilan )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!