Adnan pun tampak kebingungan mengetahui ibunya yang mendadak pingsan.
" Panggil dokter Nan...!" perintah Hardi.
" Iya Yah. Sekarang dokternya udah di jalan. Kliniknya deket kok dari sini...," kata Adnan sambil sibuk menenangkan Axel di gendongannya.
" Kamu singkirin dulu Anak itu dari sini. Gara-gara Anak itu Ibumu shock dan pingsan...!" kata Hardi marah.
Adnan ingin membantah. Tapi ia juga tak tega pada wanita yang telah melahirkannya itu. Akhirnya dengan berat hati, Adnan pun menitipkan Axel pada pelayan di rumahnya.
Tak lama kemudian dokter datang dan langsung mengecek keadaan ibu Adnan.
" Keliatannya Ibu kelelahan dan shock banget. Saya sarankan Ibu untuk istirahat beberapa hari. Dan hindari untuk membicarakan sesuatu yang membuatnya shock...," pinta dokter sebelum beranjak keluar dari kamar.
" Baik. Makasih dok...," kata Hardi.
" Sama-sama Pak, Saya permisi dulu...," pamit sang dokter.
Adnan pun mengantarkan dokter keluar kamar. Setelah memberinya uang terimakasih, Adnan pun kembali menemui ibu dan ayahnya.
" Aduuhh, kepala Ibu sakit banget Yah...," keluh Fatma yang baru saja siuman.
" Iya Bu. Tadi Ibu pingsan. Gimana, Ibu udah enakan sekarang...?" tanya Hardi sambil mengelus kepala sang istri lembut.
" Ibu tadi liat, Adnan. Mana Anak ceroboh itu Yah...?!" tanya Fatma marah.
" Sabar Bu. Kata dokter Ibu ga boleh terlalu lelah dan shock. Ibu sebaiknya istirahat dulu ya. Besok aja Kita ngobrol lagi...," bujuk Hardi.
" Hmmm...," jawab Fatma menuruti perkataan suaminya lalu mulai memejamkan matanya.
\=\=\=\=\=
Pagi hari setelah sholat Subuh. Adnan harus menghadapi pertanyaan dari kedua orangtuanya tentang anak kekasihnya yang berada di rumahnya.
" Siapa dia...?!" tanya Fatma dengan tatapan tajam.
" Itu, namanya Axel. Nama Ibunya Sarmila. Sarmila dan Adnan sedang menjalin hubungan serius, dan Kami punya rencana menikah dalam waktu dekat ini...," kata Adnan santai.
" Menikah, maksudnya...," kata Fatma mulai memegangi dadanya yang terasa sesak.
" Sabar Bu...," kata Hardi sambil menepuk punggung istrinya lembut.
" Jangan salah paham Bu. Axel itu Anak Sarmila dengan mantan suami pertamanya. Sekarang mereka udah cerai. Adnan sayang sama Axel Bu...," kata Adnan hati-hati.
" Apa, jadi Kamu akan kasih Ibu cucu yang bukan darah dagingmu sendiri, begitu...?" tanya Fatma marah.
" Apa salahnya menikahi janda. Bukan maunya juga kalo dia gagal dalam pernikahannya. Kita ga bisa menjudge orang sembarangan. Iya kan Yah...?" tanya Adnan mencari pembelaan.
" Kamu betul. Kami bukan menghina status pacarmu itu. Cuma ini terlalu mendadak. Kamu Anak Kami satu-satunya. Pasti Kami punya harapan dan impian yang tinggi tentang menantu dan cucu Kami kelak...," kata Hardi menengahi.
" Maaf Yah. Tapi Adnan cinta sama Sarmila...," kata Adnan lagi.
Hening sejenak. Semua terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
" Sekarang dia dimana, kok dari kemaren Ibu belom liat dia...?" tanya Fatma memecah keheningan.
" Namanya Sarmila Bu, dia lagi dapet tugas kerja di luar kota. Jadi Axel dititip di sini...," jawab Adnan.
" Kenapa ga titip sama Ayahnya aja sih. Katamu mereka cerai. Berarti masih hidup dan bisa jagain Anaknya dong...," kata Fatma sinis.
" Mereka pisah ga baik Bu. Suaminya selingkuh sama baby sitternya Axel. Makanya Sarmila ga mau kalo Anaknya dirawat sama mantan Suaminya itu...," kata Adnan mencoba menjelaskan.
" Ini ga masuk akal, Ibu ga terima kalo kaya gini caranya. Ayo Yah Kita pulang aja ke kampung. Percuma di sini cuma jadi babu jagain Anak orang...," kata Fatma sambil menghentakkan kakinya dan berlalu.
" Bu...," panggil Hardi lembut. Tapi ibu Adnan tak peduli. Ia malah membanting pintu kamar dengan keras seolah meluapkan kekesalannya.
" Maaf Yah, tapi cinta ga bisa milih orang kan...," kata Adnan sambil menunduk.
Hardi hanya diam tak menjawab. Ia menepuk pundak Adnan dan mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar.
Sejujurnya Hardi sangat kecewa dengan pilihan anak semata wayangnya itu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa jika itu adalah takdir sang anak yang harus menikahi seorang wanita single parent. Hardi menghela nafas sebelum masuk ke dalam kamar guna membujuk istrinya.
\=\=\=\=\=
Sarmila nampak tertawa senang bersama teman sosialitanya. Ia tak tahu jika di saat bersamaan Adnan sedang memperjuangkan dirinya dan putranya di hadapan kedua orangtua Adnan.
" Jadi kapan Lo mau balik ke Jakarta...?" tanya Emi teman segenk Sarmila.
" Ga tau. Maunya sih Minggu depan...," jawab Sarmila santai.
" Gi*a Lo ya. Masa tega bener ninggalin Anak sama orang yang baru aja Lo kenal...," kata Rani.
" Orang ini emang beda. Entah lugu atau bodoh. Waktu Gue titipin si Axel, dia Ok aja. Waktu Gue bilang kalo harus keluar kota ngurus kerjaan, eh dia juga percaya. Lumayan kan dapet pengasuh Anak gratis...," kata Sarmila tertawa.
" Jahat Lo. Ati-ati kena karma Lo nanti...," kata Emi lagi.
" Karma apaan sih. Dia tuh cinta mati sama Gue. Dia rela ngelakuin banyak hal buat Gue...," kata Sarmila sambil menghisap rokoknya dalam.
" Kalo Lo ga cinta ga usah dimanfaatin juga lah Mil...," kata Rani lagi.
" Tapi dia lumayan tajir. Punya kafe, lumayan rame juga. Jadi ga salah lah kalo Gue nyandarin hidup Gue ini sama dia. Walau ga bisa ngajak jalan-jalan ke luar negeri, tapi paling ga bisa kasih Gue status. Iya ga...," kata Sarmila di sela tawanya.
Kedua teman Sarmila hanya geleng-geleng kepala melihat ulah Sarmila.
\=\=\=\=\=
Adnan memasuki kafe dengan wajah ditekuk. Dia baru saja bertengkar dengan sang ibu. Hal itu membuat semangatnya untuk bekerja hilang sama sekali.
Adnan duduk di ruangannya sambil termenung. Saat sedang asyik dengan lamunannya, tiba-tiba seorang karyawan datang dan mengetuk pintu.
" Parmisi Pak. Ada tamu yang ingin bertemu Bapak...," kata Ali sopan.
" Siapa Li, Saya lagi males ketemu orang nih. Kepala Saya lagi pusing banget...," kata Adnan malas.
" Aku, apa Kamu bakal nyuruh Aku pulang...?" tanya Robi.
" Eh, Kamu Rob. Masuk deh. Kirain siapa. Li, tolong siapin kopi buat Saya dan sohib Saya ini ya...," pinta Adnan.
" Baik Pak...," jawab Ali dan segera menuju ke dapur.
Adnan dan Robi saling memeluk melepas rindu. Mereka dulu pernah kuliah di kampus yang sama. Meskipun beda fakultas, tapi mereka berteman dengan baik bahkan menjadi sahabat.
" Apa kabar Rob...," tanya Adnan sambil menepuk punggung Robi.
" Alhamdulillah baik. Wah sekarang kafemu ini rame dan makin besar. Keliatannya jadi orang sukses Kau sekarang...," kata Robi tertawa.
" Ah, bisa aja. Kamu tau darimana kalo ini kafe Aku...?" tanya Adnan sambil mempersilakan Robi duduk.
" Aku liat postinganmu di medsos lah...," jawab Robi.
" Ha ha ha, lupa Aku kalo pernah beberapa kali posting di medsos. Lumayan, nambah rame pengunjung...," kata Adnan tertawa.
" Iklan yang murah meriah ya ga...," kata Robi tertawa.
Mereka berdua pun larut dalam obrolan panjang. Mengenang masa lalu dengan kejadian lucu yang menyertainya.
" Aku juga dulu sering ke sini. Ada temenku yang pernah kerja juga di daerah sini...," kata Robi sambil meneguk kopinya.
" Hah, temen atau demen...," sindir Adnan.
" He he he, iya juga, sekarang malah jadi pacar Aku...," kata Robi malu-malu.
" Tuuh kan, lagu lama...," cibir Adnan.
" Ha ha ha, Kamu bisa aja...," kata Robi.
" Sebentar, jadi phobiamu sudah sembuh...?" tanya Adnan.
" Iya. Semua karena dia, makanya Aku sayang banget sama dia. Kamu sendiri gimana...?" tanya Robi lagi.
" Ck. Susah. Pacar Aku ga disetujui sama Ibuku...," kata Adnan sambil mengusap wajahnya.
" Kenapa...?" tanya Robi lagi.
" Dia single parent...," jawab Adnan singkat.
Robi pun yak bisa berkomentar mendengar alasan yang diucapkan Adnan.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
afi
kshn ortu nya Adnan klo dpt sarmila adnannya
2021-07-10
1
St Nurul NG
Semangat berkarya kak like hadir, sukses selalu
2021-01-06
1