Adnan melambaikan tangannya menandakan kehadirannya saat melihat Sarmila di kejauhan. Mengenakan gaun biru gelap selutut, kaca mata hitam dan sepatu high heels membuat penampilan Sarmila cukup mencolok. Adnan tersenyum puas.
" Hai Sayang, apa kabar...," sapa Adnan sambil merentangkan kedua tangannya.
" Hallo Sayang. Aku baik aja. Maaf telat ya...," kata Sarmila manja sambil membenamkan dirinya ke dalam pelukan Adnan.
" Gapapa kok. Kita langsung ke kamar Ibuku aja ya...," ajak Adnan.
" Boleh. Tapi tunggu dulu. Apa penampilan Aku udah pantes dan meyakinkan...?" tanya Sarmila sambil berputar di depan Adnan.
" Udah. Apapun yang Kamu pake pasti bikin Kamu cantik...," kata Adnan sambil mengelus pipi Sarmila lembut.
" Bener ya. Jangan sampe nanti Orangtua Kamu ga suka ngeliat Aku...," kata Sarmila manja.
Adnan pun tertawa. Ia merangkul pundak Sarmila dan membawanya masuk ke dalam Rumah Sakit untuk menemui Ibunya.
Saat di depan kamar rawat Fatma, Sarmila kembali menghentikan langkahnya.
" Kenapa...?" tanya Adnan.
" Kamu gimana sih, pake nanya segala. Aku gugup tau ga...," kata Sarmila sambil melengos.
" Aku ga percaya pacar cantik Aku bisa juga gugup. Setau Aku, Kamu tuh makhluk paling pede yang pernah Aku kenal...," kata Adnan sambil menahan tawa.
" Kamu nih...," rengek Sarmila lagi.
" Ayo...," kata Adnan sambil menggandeng tangan Sarmila dan membawanya masuk.
Saat membuka pintu terdengar tawa dari dalam kamar Fatma. Tampak Hardi, Fatma dan Arini sedang berbincang seru.
" Assalamualaikum...," sapa Adnan.
" Wa alaikumsalam...," jawab ketiganya bersamaan.
" Ayah, Ibu. Kenalin ini Sarmila...," kata Adnan memperkenalkan Sarmila dengan bangga.
" Mari silakan masuk Sarmila...," sapa Hardi ramah.
" Makasih Pak...," jawab Sarmila sambil mencium punggung tangan Hardi dan Fatma, juga menyalami Arini.
Sempat agak curiga dengan Arini, tapi Sarmila tetap dengan kepedeannya malah mendekati Fatma dan mencoba mengajaknya bicara.
" Maaf ya Bu, Mila baru sempet ke sini. Abis baru dikasihtau juga sama Adnan...," kata Sarmila.
" Gapapa Sarmila. Ibu udah enakan kok. Mungkin besok juga udah boleh pulang...," kata Fatma sambil senyum dipaksakan.
" Ini...," ucapan Sarmila menggantung.
" Saya tetangga Bapak sama Ibu di kampung Mbak...," kata Arini cepat.
Dia sengaja tak menyebut teman Adnan agar tak membuat masalah baginya dan Adnan.
" Ooo, kirain Saya sepupunya Adnan...," kata Sarmila lagi.
Mereka pun akhirnya terlibat pembicaraan ringan di dalam kamar itu. Adnan yang tak kebagian kursi, terpaksa duduk di tangan kursi yang diduduki Arini. Adnan dan Arini tak menyadari posisi mereka yang begitu dekat saat itu.
Fatma nampak tersenyum puas melihat posisi Adnan dan Arini yang sangat dekat itu. Ia membayangkan betapa serasinya Adnan dan Arini bersanding di pelaminan.
Arini melirik jam di pergelangan tangannya lalu berpamitan pada Fatma dan Hardi.
" Maaf Bu, Saya permisi dulu ya. Udah sore juga. Jangan luoa makan dan diminum obatnya ya Bu...," pesan Arini ringan sambil mencium punggung tangan Hardi dan Fatma.
" Kalo Ibu ga mau minum obat gimana Rin...," gurau Hardi.
" Panggilin Arini aja. Kan Ibu paling nurut sama Arini...," kata Adnan santai.
Fatma pun tersenyum dan mengangguk setuju.
" Iya, Arini tuh pawangnya Ibu...," kata Hardi lagi.
" Bisa aja. Ga usah lah, Ibu pasti mau minum obat. Kalo mau pulang besok, harus diabisin obatnya. Kalo ga, ya terpaksa nginep lagi di sini...," kata Arini di sela tawanya sambil menutup pintu.
Semua tertawa mendengar ucapan Arini. Hanya Sarmila yang tak ikut tertawa. Sarmila merasa keberadaannya tak dianggap bahkan diabaikan oleh Adnan juga kedua orangtuanya.
Setelah Arini keluar dari kamar, atmosfer ruangan terasa aneh dan dingin. Fatma pun menarik selimutnya seolah bersiap untuk tidur. Adnan membantu Fatma untuk meletakkan bantal dengan nyaman.
" Maaf, Ibu tidur dulu ya Mila. Ibu ngantuk banget nih, abis minum obat jadi pengen tidur...," kata Fatma sambil menguap.
" Silakan Bu. Iya gapapa kok, Ibu memang harus banyak istirahat kan...," ujar Sarmila.
Fatma sengaja menghindari percakapan dengan Sarmila. Sekali lihat saja naluri Fatma mengatakan bahwa Sarmila tidak sebaik yang terlihat. Fatma sudah dapat menilai kepribadian Sarmila walau mereka baru pertama kali berjumpa. Hanya saja Fatma masih menghargai Adnan dan memahami cinta buta yang tengah melanda anaknya itu.
" Kita keluar aja yuk...," ajak Adnan.
" Pak, Saya keluar dulu...," pamit Sarmila.
" Iya...," jawab Hardi singkat.
Adnan kembali menggandeng tangan Sarmila menuju ke taman yang terdapat di Rumah Sakit itu.
" Mereka ga suka kan sama Aku...," kata Sarmila dengan wajah ditekuk.
" Masa. Kayanya Mereka welcome aja tuh sama Kamu...," kata Adnan santai.
" Kamu ga usah menghibur Aku deh. Aku bukan Anak kecil lagi. Aku tau kalo Mereka ga bakal nerima Aku...," kata Sarmila sebal.
" Kalo pun iya, terus mau gimana. Kan Aku yang ngejalanin hubungan ini, Aku nyaman sama Kamu. Aku juga sayang banget sama Kamu. Nah kalo udah kaya gini Mereka bisa apa, paling cuma ngerestuin hubungan Kita biar Aku bahagia...," kata Adnan serius.
Sarmila terdiam. Dia sadar betapa besar cinta Adnan untuknya hingga rela menentang kedua orangtuanya itu. Sarmila merasa sangat tersanjung dengan sikap Adnan.
" Maafin Aku ya. Aku cuma takut kehilangan Kamu...," bisik Sarmila sambil menggelayut manja di lengan Adnan.
" Gapapa. Kamu harus percaya sama Aku...," kata Adnan sambil mengecup kening Sarmila.
Sarmila pun mengangguk. Mereka berdua masih di taman itu hingga adzan Maghrib menggema.
\=\=\=\=\=
Arini menyusuri koridor Rumah Sakit menuju kamar rawat Robi. Ia tersenyum sendiri mengingat wanita yang diperkenalkan Adnan sebagai pacarnya itu
" Apa segitu cintanya si Adnan sampe ga ngeliat kalo cewek itu bukan cewek baik-baik. Udah dandannya dewasa banget kaya Bu Melinda. Apa umurnya juga lebih tua ya dari Adnan. Kok bisa ya. Dasar si Adnan, rasain. Akhirnya bucin abis kan sama cewek...," kata Arini sinis.
Arini tiba di depan kamar Robi, lalu membuka pintunya perlahan. Dilihatnya Robi yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur.
" Sayang...," sapa Robi tersenyum melihat kedatangan Arini.
" Iya. Maaf lama ya. Aku abis jenguk Ibunya Adnan tadi...," kata Arini sambil mengecup kening Robi lembut.
" Gapapa. Kamu kan kenal, ga enak kalo ga jenguk...," kata Robi sambil menggenggam tangan Arini.
Arini tersenyum melihat pengertian Robi.
" Mmm, Sayang. Apa Kamu ga mau berobat ke luar negeri biar bisa sembuh...?" tanya Arini hati-hati.
Robi terdiam. Ia enggan membahas hal ini karena merasa sia-sia berobat. Ia tahu umurnya tak lama lagi. Dan ia ingin di sisa hidupnya bisa menikmati kebersamaannya bersama Arini. Ia kawatir tak akan bisa bertemu Arini lagi.
" Sayang...," panggil Arini lembut membuyarkan lamunan Robi.
" Eh, iya. Maaf. Aku memang ga mau, karena Aku ga mau jauh dari Kamu Yang...," kata Robi lirih.
" Kamu sayang sama Aku...?" tanya Arini.
" Banget...," jawab Robi cepat.
" Kalo Kamu sayang sama Aku, Kamu harus semangat buat sembuh. Kamu tau, banyak yang sayang sama Kamu, yang peduli sama Kamu. Aku juga. Kami pasti nungguin Kamu sembuh...," kata Arini.
Robi hanya membisu tanpa bereaksi.
" Apa Kamu ga kasian sama Orangtua Kamu, sama Aku. Beri Kami kebanggaan karena bisa menjadi orang terdekat Kamu. Berjuanglah, Kamu pasti bisa...," kata Arini dengan mata basah.
Robi pun menatap Arini yang menangis. Ia terharu. Ia tak ingin melihat Arini menangis dan meratapi kepergiannya.
Robi pun meraih Arini ke dalam pelukannya. Ia mengangguk menyetujui permintaan Arini.
" Iya, Aku mau berobat. Aku mau sembuh. Tunggu Aku ya Sayang...," kata Robi sambil mengecup kening Arini lembut.
" Sungguh...?!" tanya Arini hampir tak percaya.
" Iya...," kata Robi sambil menghapus air mata Arini dengan ujung jarinya.
Arini pun tertawa senang. Ia kembali memeluk Robi dengan perasaan sedih sekaligus senang.
Ia tahu, pengobatan Robi memiliki resiko yang besar. Tapi semua tetap harus dicoba. Sebagai manusia Kita memang wajib berusaha, walau Allah lah yang menentukan akhirnya.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Whiteyellow
semangat feedback karyaku
Cintai Aku Sahabat Kecilku dan
I Need You ...terima kasih..
2021-03-27
0
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
2021-01-08
2