Malam itu Arini pulang agak telat karena harus membuat laporan pemasukan butik selama seminggu ini.
Ratna dan Anis sudah pulang sejak tadi. Hanya tersisa Arini dan Melinda di dalam butik. Melinda sengaja memberi tugas membuat laporan keuangan pada ketiga karyawannya secara bergantian. Tujuan Melinda agar setiap karyawan punya rasa tanggung jawab yang sama terhadap pekerjaan dan butik itu.
" Gimana Arini, udah selesai...?" tanya Melinda.
" Sudah Bu. Ini...," kata Arini sambil menyerahkan file laporan keuangan yang dibuatnya.
" Bagus. Ini udah malem. Kita pulang aja sekarang. Apa si Jaja masih ada di luar...?" tanya Melinda.
" Masih Bu. Mungkin lagi ngopi di depan...," jawab Arini yang mengekori Melinda.
Melinda dan Arini keluar dari butik. Jaja, security butik pun langsung mengunci pintu butik setelah memadamkan lampu butik.
Melinda mengajak Arini ikut dengan mobilnya, dan Arini pun setuju.
" Kamu bareng Saya aja Arini. Ntar tinggal kasih tau supir turun di mana...," kata Melinda.
" Saya bisa pulang sendiri Bu. Makasih...," tolak Arini halus.
" Udah ga usah sungkan. Saya maksa lho ya...," kata Melinda sambil mencubit pelan tangan Arini.
" Iya deh Bu. Makasih...," kata Arini sambil tertawa karena ulah Bosnya itu.
" Sama-sama...," kata Melinda sambil tersenyum.
Saat hendak masuk ke dalam mobil Melinda, Arini mendengar namanya dipanggil. Ia pun menoleh, dan nampak Robi sedang berdiri bersandar di mobil miliknya.
" Arini...," panggil Robi.
" Wah Kamu udah dijemput tuh sama Robi. Saya ga jadi ngajak Kamu bareng ya Arini...," kata Melinda sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Arini.
" Ibu bisa aja...," kata Arini malu.
" Arini pulang bareng Aku aja Tante...," kata Robi sambil menggamit tangan Arini dan menutup pintu mobil Melinda.
" Ok. Ga masalah. Tante duluan ya. Kalo Robi macem-macem sama Kamu bilang Saya ya Arini...," pesan Melinda sebelum berlalu.
" Ck. Tante nih...," kata Robi pelan.
Arini perlahan melepaskan tangannya yang dipegang Robi.
Robi tersenyum dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Arini pun mengikuti permintaan Robi lalu duduk manis di samping Robi.
Mobil pun melaju perlahan setelah Robi pamit dan melambaikan tangannya pada Jaja sang security.
" Kita makan dulu mau ga Rin...," kata Robi.
" Mmm, emang Kamu lapar...?" tanya Arini.
" Ga juga. Tapi ini masih jam delapan. Kita bisa ngobrol dulu kan sebentar...," kata Robi sambil menatap lurus ke jalan di depannya.
" Ok, tapi ga pake lama...," kata Arini bergurau.
" Iya, ga pake lama. Paling pake cinta...," kata Robi santai.
Arini tersentak. Ia memalingkan wajahnya yang merah karena malu.
Tiba lah mereka di kafe tenda yang berjejer di sepanjang jalan itu. Setelah memarkirkan kendaraannya Robi pun keluar dan mengajak Arini duduk di salah satu kursi.
Sambil menunggu pesanannya tiba, Robi pun memulai percakapan.
" Aku udah nungguin Kamu dari sore lho Rin...," kata Robi.
" Masa, kok ga masuk ke dalem aja. Biasanya kan Kamu langsung masuk...," jawab Arini asal.
" Niatnya mau bikin surprise, eh malah Aku yang kena sendiri...," kata Robi sambil tersenyum.
" Pake surprise segala. Emang ada apaan sih...?" tanya Arini.
" Ada cinta...," kata Robi sambil menatap mata Arini lekat.
" Ck. Serius dong Rob. Jangan bikin Aku baper ga jelas deh...," kata Arini sambil melengos.
" Aku serius. Aku emang punya cinta buat Kamu...," kata Robi sambil menggenggam tangan Arini lembut.
Arini terkejut dan berusaha menarik lepas tangannya dari genggaman Robi. Tapi Robi tak mau melepaskannya. Bahkan hingga pelayan kafe datang dan membawakan pesanan mereka.
" Makasih Mas...," kata Robi pada pelayan kafe.
" Sama-sama, selamat menikmati..." jawab pelayan kafe yang langsung menyingkir karena paham suasana canggung yang terjadi.
" Robi, lepasin...," kata Arini.
" Arini, Aku mau ngomong serius. Aku jatuh cinta sama Kamu Arini, ga tau sejak kapan. Tapi mungkin sejak awal Kita ketemu di toko bunga itu...," kata Robi serius.
" Jangan bercanda Rob. Lepasin. Kamu ga mungkin cinta sama Aku. Itu cuma perasaan sesaat aja. Itu...," ucapan Arini terputus.
" Ini bukan cinta sesaat Arini. Aku pikir Aku cuma kagum aja sama Kamu. Tapi Aku salah. Aku emang ga bisa jauh dari Kamu. Aku sayang sama Kamu Arini. Apa Kita bisa punya hubungan lebih dari sekedar teman...?" tanya Robi hati-hati.
" Hubungan apa, sahabat...?" tanya Arini bingung.
" Ck. Masa sahabat sih. Aku mau Kita pacaran. Bisa kan Arini...," kata Robi setengah memaksa.
" Tapi...," Arini tak melanjutkan ucapannya.
" Kamu tau, Aku tuh ga pernah pacaran. Karena Aku phobia sama cewek. Tapi sejak kenal dan deket Kamu semuanya berubah. Aku bisa mikirin Kamu, kangen Kamu, bahkan cemas kawatir Kamu kenapa-kenapa. Apa itu masih perasaan sesaat Arini. Atau Kamu ga suka sama Aku...?" tanya Robi lagi.
" Aku, kasih Aku waktu buat berpikir bisa ga. Ini terlalu mendadak buat Aku...," kata Arini dengan jantung berdetak cepat.
" Ok gapapa...," kata Robi sambil melepaskan tangan Arini dan menghela nafas panjang.
Mereka lalu terdiam sejenak. Mereka menikmati pesanan mereka dengan rasa canggung. Mereka tetap diam hingga mereka beranjak meninggalkan tempat itu.
Arini turun di depan kost-an tempatnya tinggal selama ini.
" Makasih ya Rob...," kata Arini sambil tersenyum.
" Sama-sama. Tolong dipikirin permintaanku tadi ya Arini. Aku serius...," pinta Robi pada Arini.
Arini mengangguk mengiyakan permintaan Robi. Ia lalu masuk ke dalam kost khusus wanita itu. Robi pun melajukan mobilnya setelah memastikan Arini masuk ke dalam dengan selamat.
Dalam kamarnya Arini terbaring dengan debaran jantung yang berlomba. Ia tak menyangka jika Robi menyatakan perasaannya secepat itu.
" Robi baik, sopan, ga kurang ajar. Aku juga nyaman sama dia...," kata Arini bermonolog.
Arini pun masih menimbang permintaan Robi hingga jauh malam.
\=\=\=\=\=
Pagi itu Arini kesiangan pergi ke butik. Setelah sholat Subuh Arini ketiduran lagi karena sangat mengantuk. Semalaman ia tak bisa tidur karena memikirkan permintaan Robi.
" Tumben telat Rin...," sapa Ratna.
" Emang lembur sampe jam berapa...?" tanya Anis.
" Lembur sampe jam delapan. Aku kesiangan, soalnya ketiduran abis Subuh tadi...," kata Arini sambil nyengir.
Hari itu Arini sengaja menunggu kedatangan Robi. Ia ingin memberi jawaban pada Robi. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang hingga butik tutup. Arini sedikit kecewa karena menganggap Robi tak serius dengan ucapannya.
" Besok kali dia kesini...," pikir Arini.
Berhari-hari Robi tak menampakkan batang hidungnya di butik Melinda. Arini pun kesal tanpa alasan.
" Kok Aku jadi kesel gini sih. Apa jangan-jangan Aku juga suka sama Robi...," kata Arini dalam hati dengan jantung yang berdetak cepat lagi.
" Rin, Kamu kenapa...?" tanya Anis.
" Gapapa kok Nis...," kata Arini sambil merapikan gaunnyang akan di pajang di etalase.
Hingga sebulan kemudian....
Robi nampak masuk bersama seorang wanita cantik ke dalam butik.
Hal itu tak luput dari pengawasan Arini dan kedua temannya.
" Tante Melinda ada kan Rat...?" tanya Robi saat berpapasan dengan Ratna.
" Ada Mas di ruangannya...," jawab Ratna sopan.
" Ok. Biar Aku kesana aja...," kata Robi sambil menggandeng tangan wanita cantik di sampingnya itu.
Robi dengan santai membawa sang wanita ke dalam ruangan Melinda. Arini yang melihatnya merasa sangat kecewa. Dan diam-diam menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Menyadari dirinya menangis, Arini pun pergi ke toilet.
" Kenapa Aku sedih sih. Pake nangis segala. Ngapain coba. Kan dia ga serius sama omongannya waktu itu. Ngapain Aku jadi sakit hati sih...," kata Arini geram sambil mencuci wajahnya dengan air di wastafel.
Arini lalu keluar dari toilet setelah perasaannya lebih tenang. Dilihatnya wanita yang datang bersama Robi sedang memilih gaun pengantin di bantu Ratna. Arini kesal dan meremas ujung bajunya.
" Yang ini lebih sederhana Mbak, cocok untuk Mbak...," kata Ratna berpromosi.
" Apa gaun pengantin harus warna putih ya. Bisa request warna lain ga...?" tanya wanita itu manja.
" Bisa Mbak. Nanti bisa di sesuaikan warna sama bahannya...," jawab Ratna.
" Santai aja milihnya. Jangan sampe salah pilih dan ga nyaman dipake. Ini kan buat seumur hidup sekali...," kata Robi yang berdiri di samping wanita itu.
" Iya. Makanya bantuin milih dong. Bajunya bagus semua, Aku jadi bingung nih milihnya...," rengek wanita itu lagi.
Arini tambah kesal karena merasa Robi telah mempermainkan perasaannya. Buktinya ia membawa seorang wanita cantik ke butik dan berencana membeli gaun pengantin untuk dipakai di pesta pernikahannya nanti.
Apalagi Melinda pun nampak keluar dari ruangannya dan melayani sendiri sang klien istimewa. Memberi beberapa masukan untuk sang wanita agar bisa mengenakan gaun yang cocok di acara besarnya nanti.
" Bajunya harus disesuaikan dengan konsep pernikahannya dong. Kalo yang ini cocok untuk pesta kebun, yang ini untuk acara yang lebih private...," kata Melinda.
Melinda menjelaskan satu per satu keunggulan gaun pengantin rancangannya itu. Dan sang wanita cantik itu mendengarkan dengan seksama saran dari Melinda untuknya.
" Untuk kapan acaranya Fin...?" tanya Melinda lembut.
" Bulan depan Tante. Lumayan masih ada waktu lima minggu-an lagi buat persiapan. Ya ga Tante...?" kata si wanita cantik.
" Hmm, mendadak juga ya. Tapi cukup lah, buat Kamu Tante pasti kasih yang terbaik...," kata Melinda sambil mencubit pipi sang wanita cantik.
Arini hanya mendengar sekilas bahwa acara akan digelar sebulan lagi. Arini makin ingin menangis saat mendengarnya. Ia pun menjauh dari tempat itu agar tak mendengar hal lain yang lebih menyakitkannya.
" Jadi sebulan lagi pernikahannya. Pantes aja sebulan ini dia ga keliatan sama sekali. Pasti sibuk nyiapin pesta pernikahannya. Tapi kenapa gaunnya harus beli di sini sih. Dia sengaja ya manas-manasin Aku...," batin Arini geram.
Arini mengepalkan tangannya dengan kuat. Mencoba menetralisir perasaannya. Beruntung ada pengunjung yang datang sehingga perhatian Arini teralihkan.
Arini bisa bernafas lega saat Robi dan wanitanya itu pergi meninggalkan butik.
Sesekali ia mendengar Melinda sang pemilik butik, mengarahkan Ratna untuk menambahkan beberapa detail pada sebuah gaun. Dan setelah selesai, Melinda menyuruh Ratna menyimpannya di sebuah kotak khusus agar gaun itu bisa dikirim langsung ke langganan tetap Melinda.
Begitulah, bekerja di butik Melinda ini harus serba bisa. Bahkan untuk memperbaiki jahitan baju yang sobek pun harus bisa dilakukan oleh Arini dan kedua temannya. Walau bukan pekerjaan berat, tapi tetap memerlukan keahlian khusus karena jahitan tambahan itu harus bisa semirip mungkin dengan jahitan yang sudah ada.
Arini pun kembali sibuk dalam pekerjaannya dan melupakan kejadian pagi itu di butik.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments