Setelah mengunjungi sahabatnya, Robi pun melajukan mobilnya untuk menjemput sang pujaan hati, Arini.
Hubungannya dengan Arini berjalan lancar dan mendapat dukungan dari Melinda dan karyawan butik. Robi jadi semangat menjalani sisa hidupnya yang mungkin tak lama lagi.
Ya, tanpa diketahui siapa pun sebenarnya Robi mengidap penyakit berbahaya yaitu kanker otak. Ia sengaja menyembunyikannya dari semua orang termasuk Arini. Ia hanya berharap di sisa hidupnya bisa merasakan kebahagiaan sebagai manusia normal yang juga bisa mencintai dan dicintai kekasihnya.
Robi tersenyum miris. Ia ingin sembuh, dan sedang berusaha sembuh.
" Ehm. Kamu udah lama nunggu di sini...?" sapa Arini lembut.
" Lumayan...," kata Robi lembut sambil mengecup kening kekasihnya itu.
" Aku masih ada sedikit kerjaan, gapapa ya...," kata Arini salah tingkah.
" Iya gapapa. Aku tunggu Kamu sampe selesai kok...," kata Robi tersenyum.
" Ok, sebentar aja kok...," kata Arini sambil melangkah cepat ke dalam butik.
Robi masih menunggu di mobil yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka. Tiba-tiba Robi merasakan kepalanya sakit, sangat sakit. Hingga hidungnya berdarah alias mimisan. Robi coba menggapai tisu yang ada di dash board mobilnya. Tapi gagal. Dan detik itu juga Robi pingsan di depan kemudi.
\=\=\=\=\=
Arini masih mengerjakan laporan keuangan seperti biasa. Tiba-tiba Jaja si security butik masuk dengan tergopoh-gopoh. Ia mencoba bicara dengan Arini.
" Mbak Arini, tolong ke depan sebentar. Mas Robi pingsan di mobilnya...," kata Jaja gugup.
" Apa...?!" Arini pun berlari meninggalkan pekerjaannya di meja. Sementara Jaja sudah lebih dulu sampai di mobil Robi. Tampak banyak orang berkerumun ingin melihat apa yang terjadi.
Arini membelah kerumunan orang itu dengan panik. Benaknya seperti tumpul sesaat tak tahu apa yang harus dilakukan.
Ia melihat Robi yang duduk di depan kemudi dengan kepala tertunduk. Arini menghampiri Robi dan mencoba menyadarkannya.
" Robi, Rob, bangun Sayang. Kamu kenapa, Robi, Robi...!" Arini menjerit saat ia mencoba membangunkan Robi ada darah di telapak tangannya. Begitu ia menegakkan tubuh Robi, nampak darah mengalir deras dari hidung Robi.
Semua yang melihat Robi berdarah pun bergegas memberi jalan agar Robi bisa segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat.
Melinda yang kebetulan masih ada di butik memerintahkan supirnya agar membawa Robi ke Rumah Sakit langganan keluarganya.
" Arini, Kamu ikut di mobil Saya...!" perintah Melinda.
" Iya Bu...," jawab Arini cepat.
" Cepet dikit bawanya biar cepet sampe...!" kata Melinda pada sang supir.
" Baik Bu...," kata supir sambil menginjak pedal gas dan mobil pun melaju cepat membelah kepadatan jalan.
Arini masih memangku kepala Robi yang terkulai lemah sambil memnggil nama Robi. Dari kursi depan, Melinda bisa melihat betapa tulusnya perasaan Arini untuk Robi, keponakannya.
" Robi, bangun Rob. Kamu kenapa sih Sayang, jangan bikin Aku cemas dong. Bangun Rob...," pinta Arini sambil menangis.
" Kita udah sampe Bu...," kata supir Melinda sambil membuka pintu mobil.
Melinda dan Arini pun menoleh, mereka tak menyadari jika sudah ada di depan pintu ruang UGD. Supir Melinda keluar dari mobil untuk meminta bantuan pada perawat.
Tubuh Robi pun dibawa masuk ke dalam ruangan dan segera mendapat penanganan oleh dokter. Melinda dan Arini menunggu di luar ruangan dengan cemas. Bahkan Arini tak henti menangis.
" Jangan nangis Arini. Doain aja Robi gapapa...," pinta Melinda sambil memeluk Arini.
" Maaf Bu, tapi Saya ga tau kalo Robi sakit. Tadi Saya liat dia baik-baik aja kok...," tangis Arini.
" Iya, Saya tau. Bukan salah Kamu kalo Robi sakit...," kata Melinda lagi.
Arini pun mengangguk dan mengurai pelukan Melinda. Ia menghapus air matanya kemudian duduk. Melinda masih mencoba menghubungi orangtua Robi.
" Iya Kak. Ada di Rumah Sakit biasa, Aku masih nungguin di depan UGD...," kata Melinda menjawab sambungan telephon.
Setelah berhasil mengabari kakaknya, Melinda duduk di samping Arini.
Supir Melinda datang sambil membawakan minuman mineral untuk Melinda dan Arini. Dengan cekatan Melinda langsung membuka tutup botol dan meneguk isinya hingga setengah. Rupanya Melinda sama cemasnya dengan Arini. Hanya saja ia mampu mengendalikan perasaannya.
Arini yang melihat sikap bosnya itu pun maklum. Bukan hanya dirinya yang cemas, tapi bosnya yang pasti lebih cemas karena mereka memiliki hubungan darah.
Tak lama kemudian kedua orangtua Robi tiba dan langsung memeluk Melinda. Arini juga sudah mengenal orangtua Robi karena pernah diajak ke rumah Robi untuk bertemu mereka.
" Gimana Mel, udah ada kabar belom. Apa kata dokter...?" tanya Mirna kakak Melinda.
" Belom Kak. Kita masih nunggu dari tadi...," jawab Melinda.
" Tante, Om...," sapa Arini sambil mencium punggung tangan Mirna dan Hasan,orangtua Robi.
" Arini juga ikut, apa tadi dia keliatan sakit...?" tanya Mirna.
" Tadi Robi sehat dan baik-baik aja Kak...," kata Melinda memotong ucapan Mirna.
" Yang sabar Ma. Kita tunggu aja sampe dokter selesai periksa Robi...," kata Hasan menenangkan istrinya.
Mereka berempat akhirnya duduk sambil terus berdoa. Supir Melinda berdiri tak jauh dari mereka.
Tak lama kemudian perawat datang dan memberi kabar keadaan Robi.
" Keluarga pasien Robi...," panggil perawat.
Mereka berempat pun berdiri dan menghampiri perawat.
" Gimana keadaan Anak Saya Sus...?" tanya Mirna.
" Silakan masuk ke dalam Bu. Maaf hanya dua orang. Karena pasien baru saja siuman...," kata perawat lagi.
" Kakak sama Abang aja yang masuk. Aku sama Arini tunggu di sini...," kata Melinda bijak.
Mirna dan Hasan pun mengangguk dan mengikuti perawat masuk ke dalam ruangan.
Saat tiba di ruangan tempat Robi dirawat, Mirna nampak shock. Ia melihat Robi dalam keadaan sangat lemah dan pucat. Banyak selang yang menempel di tubuhnya. Mirna menangis pilu. Hasan tak kalah shocknya. Tapi sebagai laki-laki ia lebih bisa menguasai diri.
" Anak Saya sakit apa dok...?!" tanya Hasan panik karena keadaan Robi jauh di luar perkiraannya.
" Mmm, bisa ke sana sebentar Pak...," ajak dokter agar bisa menjauh dari pasien.
" Apa sakitnya serius...?" tanya Hasan tak sabar.
" Iya. Begini, dari catatan medis yang Kami miliki, ternyata putra Bapak menderita kanker otak stadium dua. Ini sangat berbahaya dan butuh penanganan segera Pak. Jadi Kami sarankan agar pasien segera menjalani operasi...," kata dokter hati-hati.
" Apa...?!" kata Hasan setengah teriak.
" Kenapa Pa, Robi kenapa. Sakit apa Anakku dokter...?" tanya Mirna yang masih menangis karena mendengar teriakan suaminya.
" Maaf Bu. Pasien menderita kanker otak stadium dua...," jawab dokter sedih.
" Apa...?!" Mirna hampir jatuh pingsan mendengarnya jika saja perawat tak sigap memegangi tubuhnya.
" Kami akan mengurus ruangan untuk pasien selama dirawat di sini. Permisi...," kata dokter yang memang sudah tahu keluarga Robi adalah salah satu pemilik saham di Rumah Sakit itu.
" Baik. Terimakasih dokter...," kata Hasan lemah.
" Sama-sama Pak...," jawab dokter sambil tersenyum.
Perawat mengikuti dokter yang keluar dari ruangan itu. Sementara Arini dan Melinda masih menunggu di depan ruangan dengan harap-harap cemas.
Hasan dan Mirna keluar dari ruangan itu dengan mata sembab.
" Gimana Bang...?" tanya Melinda tak sabar.
" Robi sudah dipindah ke ruang rawat inap. Kita ke sana aja sekarang...," ajak Hasan.
" Mel, Robi kena kanker otak stadium dua Mel...," ratap Mirna sambil memeluk Melinda.
" Ya Allah...," kata Melinda prihatin.
Arini yang mendengar ucapan Mirna pun turut sedih. Ia kembali menitikkan air mata.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments