Adnan menuruti permintaan Yusuf untuk berlibur ke pantai. Mereka bertemu di sana sesuai janji Adnan. Adnan meninggalkan Yusuf yang tampak sibuk mengasuh anak dan keponakan yang berlarian sepanjang pantai.
Adnan melangkahkan kakinya menyusuri pantai. Saat tiba di sana, sudah banyak warga sekampung Adnan yang sedang menikmati pantai. Wisata pantai dekat rumah Adnan itu memang gratis, murah meriah. Warga yang punya dana minim bisa ke sana untuk menghilangkan penat.
Adnan mengedarkan pandangannya ke seantero pantai. Pandangan tertuju pada seorang gadis yang dikenalnya, Arini.
Adnan pun menghampiri Arini, walau pun ia tahu tak akan mendapat respon baik dari Arini. Tapi Adnan tak peduli. Baginya lebih mengasyikkan melihat kemarahan Arini dibandingkan duduk seorang diri di pantai.
" Arini...!" panggil Adnan.
" Kamu lagi. Kenapa selalu ketemu Kamu dimana-mana sih. Rasanya dunia tuh sempit banget ya...," sindir Arini.
Adnan tertawa karena respon Arini tepat sesuai dugaannya.
" Kenapa ketawa...?!" tanya Arini galak.
" Gapapa...," kata Adnan menahan tawa.
Arini duduk sambil menikmati angin pantai yang berhembus kencang menerpa rambutnya. Hingga ia harus memegangi rambutnya agar tak menutupi wajahnya.
Adnan pun berjongkok di samping Arini.
" Jadi balik bareng ga...?" tanya Adnan sambil menatap lurus kearah laut.
" Iya jadi. Sabtu pagi ya...," kata Arini.
" Iya. Jam enam udah siap. Ga pake lama...," kata Adnan sambil berlalu meninggalkan Arini yang masih duduk.
" Ga jelas banget sih tuh orang...," kata Arini sebal sambil memandangi punggung Adnan yang menjauhinya.
Arini memang setuju untuk berangkat bareng Adnan ke Jakarta untuk menghemat pengeluarannya. Selain lebih aman tentunya.
" Kalo ga inget masih butuh bantuannya, males banget ketemu dia lagi...," kata Arini bermonolog.
\=\=\=\=\=
Adnan menyiapkan diri sebelum kembali ke Jakarta besok. Ia sengaja memundurkan waktu kepulangannya agar bisa berangkat bersama Arini yang setuju menumpang mobilnya untuk kembali ke Jakarta.
" Rencana berangkat jam berapa Nan...?" tanya Hardi, ayah Adnan.
" Insya Allah jam enam pagi Adnan jemput Arini dulu, terus langsung berangkat dari rumahnya Yah...," sahut Adnan.
" Hati-hati ya Nak, ga usah ngebut, santai aja...," kata Fatma sambil membelai kepala sang anak lembut.
" Iya Bu...," kata Adnan.
Setelah merapikan bawaannya yang tak seberapa itu, Adnan pun bergegas masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu.
" Bu, ini ada sedikit hadiah buat Ibu. Mudah-mudahan Ibu suka ya...," kata Adnan sambil menyerahkan sebuah kotak berlapis kain beludru warna merah.
" Apa ini Nak...," kata sang ibu sambil membolak balik kotak pemberian sang anak.
" Buka aja Bu...," kata Adnan.
Ibu Adnan terkejut sekaligus senang melihat isi dalam kotak itu. Ternyata kotak itu berisi satu set perhiasan emas. Sang ibu memeluk Adnan sambil menangis terharu.
" Kok Kamu pinter banget bikin Ibu nangis sih Nak...," kata Fatma.
" Tapi kan bukan nangis sedih Bu...," kata Adnan sambil menepuk punggung ibunya dengan sayang.
" Kamu kasih hadiah ini buat Ibu, lah buat calon Istrimu Kamu beliin apa...?" tanya Fatma sambil menghapus air matanya.
" Ck. Ibu nih. Masih aja mikirin itu. Ntar gampang lah hadiah buat calon Istri Adnan. Yang penting ini buat Ibu dulu. Gimana, Ibu suka ga...?" tanya Adnan.
" Ibu suka banget Le...," kata Fatma tersenyum puas.
" Alhamdulillah...," kata Adnan lega.
" Ya udah, udah malem. Sana istirahat biar besok ga capek nyetirnya Nan...," saran sang ayah.
" Iya Yah...," kata Adnan dan segera masuk ke kamar untuk istirahat.
\=\=\=\=\=
Adnan dan Arini ada di dalam mobil Adnan dalam perjalanan kembali ke Jakarta.
Tak ada percakapan di antara mereka. Adnan sibuk memperhatikan jalan di depannya. Sedangkan Arini sibuk membaca novel favoritnya di aplikasi Mangatoon di HPnya.
Sesekali Arini tersenyum membaca saat membaca novel membuat Adnan berdecak sebal.
" Ga jelas. Kaya orang ga waras aja ketawa sendirian...," gumam Adnan.
" Aku denger lho ya...," kata Arini sinis.
" Ooo, kirain udah ga nyadar ada dimana...," kata Adnan.
" Jangan mulai deh Nan. Kan Kamu yang ngajakin Aku buat bareng. Tapi malah Kamu yang ga suka. Aneh. Jangan pencitraan ya Kamu, di depan orang lain bertingkah baik, padahal aslinya tuh super nyebelin...!" kata Arini marah.
" Eh yang pencitraan tuh siapa. Kamu juga harusnya tau diri dong. Udah numpang gratis malah nyebelin...," sungut Adnan tak mau kalah.
" Ooo, kalo gitu Aku turun di sini aja. Stop di sini...!" kata Arini galak.
Adnan pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia menatap Arini dengan marah. Ia pun membiarkan saja saat Arini mengambil tas dan bawaan lainnya dari bagasi mobil.
" Makasih. Maaf udah ngerepotin...," kata Arini lalu menutup pintu mobil Adnan dengan kasar.
Adnan pun dengan kasar langsung melajukan mobilnya meninggalkan Arini di pinggir jalan. Ia kesal bukan main atas sikap dan ucapan Arini. Setelah melajukan mobilnya selama kurang lebih lima menit, Adnan pun berhenti. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan Arini ada di belakangnya atau tidak.
" Sia**n, kenapa jadi Aku yang harus ngalah sih sama cewek itu...?!" kata Adnan sambil mengusak rambutnya kasar.
Adnan mencoba menghela nafas panjang. Ia mencoba meredam emosinya sejenak. Setelah dapat menguasai emosinya, Adnan pun berbalik arah untuk menjemput Arini lagi.
Adnan nampak cemas karena belum berhasil menemui Arini. Ia memukul stir mobil kasar karena tak menjumpai Arini di tempat ia tinggalkan tadi.
" Arini, awas aja kalo sampe ketemu nanti...," kata Adnan gemas.
Adnan pun turun dan coba menanyakan pada pemilik warung di pinggir jalan tentang keberadaan Arini.
" Permisi Bu. Maaf mau tanya, apa Ibu pernah liat seorang wanita pake baju pink dan celana panjang jeans yang lewat sini...?" tanya Adnan sopan.
" Wah, Saya ga merhatiin Mas. Ini kan pinggir jalan besar, pasti banyak juga cewek pake baju kaya yang Mas sebut tadi...," kata pemilik warung.
" Mmm, kalo ini Bu. Yang ini orangnya, apa Ibu juga ga liat...?" tanya Adnan sambil memperlihatkan foto Arini yang diambilnya diam-diam saat bertamu ke rumahnya.
" Ooo, yang ini.Tadi kayanya nyetop truk deh. Terus naek ke truk yang tujuannya Jakarta gitu...," kata pemilik warung seadanya.
" Hah, yang bener Bu...?" tanya Adnan tak percaya.
" Iya Mas. Coba aja kejar, paling belum jauh dari sini...," saran pemilik warung.
' Iya Bu. Makasih ya Bu...," kata Adnan sambil berlari ke dalam mobilnya dan mengejar truk yang dinaiki Arini.
Sepanjang jalan Adnan tak henti mengutuki kebodohannya. Ia juga tak mengerti jalan pikiran Arini yang mau saja ikut supir truk.
" Harusnya Aku ga kepancing omongannya Arini. Dia pasti sengaja bikin Aku kesel biar bisa turun di tengah jalan, terus kabur entah kemana. Kalo ada apa-apa pasti Aku yang harus tanggung jawab kan...," kata Adnan kesal sambil melempar botol ke tong sampah.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments