Arini berhenti mengejar Adnan yang masih berlari menghindari kejarannya. Ia menoleh ke arah rumah Adnan yang sudah mulai terlihat sepi. Arini pun melangkah cepat bermaksud mengajak kedua orangtuanya untuk pulang.
" Mau kemana Kamu...?!" seru Adnan.
" Pulang...," kata Arini singkat.
Adnan pun mengikuti langkah Arini yang masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.
" Maaf Bu. Bapak sama Ibu Arini mana...?" tanya Arini pada ibu Adnan yang senyum-senyum melihat kedatangannya.
" Udah pulang duluan Rin. Tadi mau ngajakin Kamu pulang, eh Kamunya lagi kejar-kejaran sama Adnan...," jawab ibu Adnan sambil menahan tawa.
" Itu Bu, Adnan tuh gara-garanya...," kata Arini membela diri.
" Kok Aku. Kan Kamu yang nyubitin Aku terus dari tadi. Ya Aku harus menghindar dong, enak aja. Liat nih Bu, kulit Aku sampe merah-merah kaya gini...," kata Adnan mengadu pada sang ibu.
" Tapi kan gara-gara Kamu...!" kata Arini marah.
" Sstt, udah Adnan. Kamu nih seneng banget bikin Arini marah. Udah, sekarang Kamu anter Arini pulang gih. Nih bawa sekalian rantang Ibunya Arini...," kata ibu Adnan melerai pertengkaran Adnan dan Arini.
" Saya pulang sendiri aja Bu...," kata Arini sambil merebut rantang dari tangan Adnan.
" Jangan Rin. Bahaya. Udah malem, ga baik Anak gadis pulang sendirian. Biar dianter Adnan ya, lumayan buat nakutin tikus...," bujuk ayah Adnan sambil bercanda.
Arini terdiam sebentar lalu mengangguk. Ia juga tak mau menanggung resiko pulang sendirian dan diganggu orang jahat di jalan. Apalagi jarak rumah Adnan dan rumah Arini lumayan jauh.
" Iya deh. Arini pamit pulang dulu ya Pak, Bu...," kata Arini sambil mencium punggung tangan ayah dan ibu Adnan.
Di halaman rumah nampak Adnan sudah nangkring di atas motor kesayangannya menunggu Arini.
" Jadi dianter ga sih. Lama banget...," gerutu Adnan saat melihat Arini yang ragu-ragu.
" Adnan, jangan gitu dong. Inget, ga usah ngebut. Hati-hati, Kamu bawa Anak orang lho ya...," pesan ibu Adnan.
" Iya Bu, tenang aja. Pasti sampe rumah. Tapi ga jamin ya kalo ntar lecet atau kepalanya benjol...," jawab Adnan asal.
" Kamu bisa diem ga sih...?!" kata Arini sambil membulatkan matanya menatap Adnan.
Adnan hanya diam menahan tawa. Ayah dan ibu Adnan pun tertawa sambil memandangi kepergian Adnan yang memboncengi Arini.
" Lucu banget ya Yah...," kata ibu Adnan.
" Iya. Mereka segitu musuhannya. Ntar ga taunya jodoh lagi...," kata ayah Adnan tertawa.
" Aamiin. Ibu juga mau kok kalo Arini itu jadi mantu Kita Yah...," kata ibu Adnan lagi.
" Ibu, biar aja Adnan jalanin semua dengan natural, jangan dipaksa. Rumah tangga kan bukan ajang balapan, harus dulu-duluan. Lebih baik Kita merestui apa pilihan Anak Kita. Jangan terlalu ikut campur. Urusan hati itu beda sama urusan perut Bu...," kata ayah Adnan bijak.
" Tapi Ibu ga mau Adnan salah pilih, kaya waktu pacaran sama gadis kota itu Yah...," kata ibu Adnan sebal.
" Iya. Ayah juga ga suka. Tapi Ayah yakin, Adnan bisa belajar dari kegagalannya waktu itu dan ga ngulangin kesalahan yang sama...," harap ayah Adnan lagi.
Sementara itu Adnan mengantar Arini hingga tiba di depan rumahnya. Sepanjang perjalanan tadi tak ada percakapan apa pun diantara mereka. Saat tiba di depan rumah, Arini langsung turun tanpa berkata apa pun.
" Makasih Adnan...," sindir Adnan yang mengucapkan terima kasih untuk dirinya sendiri.
" Berisik. Pulang sana...," usir Arini ketus.
" Ga mau. Aku masih mau di sini...," kata Adnan sambil turun dari motor dan duduk di teras rumah Arini.
" Kamu kok malah duduk. Aku ngantuk mau tidur...," kata Arini galak.
" Kenapa Kamu galak banget sih Rin sama Aku. Salah Aku tuh apa sama Kamu...?" tanya Adnan serius.
Arini hanya diam. Dia juga bingung kenapa dia membenci Adnan. Tapi dia sungguh ingin memukul Adnan lagi.
" Kamu berapa hari libur lebaran...?" tanya Adnan membuka obrolan.
" Sepuluh hari...," jawab Arini sambil ikut duduk di samping Adnan.
" Kapan balik ke Jakarta...?" tanya Adnan lagi.
" Sabtu depan...," jawab Arini singkat.
" Mau bareng Aku ga. Aku juga balik Sabtu depan pake mobil Aku...," kata Adnan menawarkan tumpangan untuk Arini.
" Liat gimana besok aja deh...," kata Arini sambil menahan kantuk.
" Ya udah. Aku pulang deh. Kamu beneran ngantuk kayanya...," kata Adnan tersenyum.
" Hmmm...," Arini tak menjawab hanya bergumam.
" Salam buat Bapak Ibu. Assalamualaikum...," kata Adnan sambil melajukan motornya.
" Wa alaikumsalam...," sahut Arini lalu menutup pintu rumah.
Di dalam tampak kedua orangtua Arini masih duduk menonton TV sambil menunggu Arini pulang.
" Mas Adnannya udah pulang...?" tanya ibu Arini.
" Udah Bu. Salam buat Bapak sama Ibu katanya tadi...," jawab Arini sambil meletakkan rantang di atas meja.
Bapak dan Ibu Arini masih ingin menanyakan beberapa pertanyaan, tapi diurungkan saat melihat Arini yang menguap karena mengantuk.
\=\=\=\=\=
Pagi harinya di rumah Adnan.
" Semalem pulang jam berapa Nak...?" tanya ibu Adnan.
" Jam sepuluh Bu...," jawab Adnan sambil menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
" Apa ada rencana jalan-jalan juga sama Arini...?" tanya ibu Adnan lagi.
" Ga lah Bu, ngapain jalan-jalan sama cewek jutek kaya gitu. Yang ada badanku merah dan sakit semua dicubitin sama dia...," kata Adnan sambil menahan tawa.
" Kamu kaya orang sebel sama dia. Tapi kalo lagi ngomongin dia tuh muka Kamu seneng banget...," kata ibu Adnan sambil meneguk teh hangatnya.
" Apaan sih Bu...," kata Adnan malu.
" Ha ha ha. Adnan, Adnan. Liat muka Kamu kaya gini kok Ayah malah curiga sebenernya Kamu suka kan sama Arini...?" tanya ayah Adnan di sela tawanya.
" Aku udah selesai sarapan...," kata Adnan tanpa menjawab pertanyaan sang ayah lalu beranjak keluar dari daalam rumah.
" Ayah nih. Ngambek deh si Adnan...," kata ibu Adnan.
" Biarin Bu. Abisnya lucu banget liat dia malu kaya gitu...," kata ayah Adnan lagi.
Adnan duduk mematung di teras rumah. Dia lalu mengambil kunci motor dan bersiap-siap keluar dari rumahnya itu.
Adnan menstarter motor dan melajukannya perlahan di jalan desa. Sesekali Adnan berhenti untuk menyapa warga yang dikenalnya.
Adnan berhenti di sebuah tegalan untuk melihat Yusuf yang sedang mengecek ladang miliknya.
" Hei, mampir Nan, mau kemana pagi-pagi gini...?" sapa Yusuf.
" Iya, jalan-jalan aja. Bosen di rumah...," kata Adnan.
" Gimana kalo ntar Kita ke pantai, sekalian liburan sama temen-temen yang lain...," ajak Yusuf.
" Emang gapapa kalo Aku ikutan. Ntar ga enak sama yang lain...," kata Adnan lagi.
" Santai aja. Kita juga di sana biasanya misah kok. Cuma berangkatnya aja bareng-bareng biar seru...," kata Yusuf sambil beranjak keluar dari ladangnya.
" Gimana ntar deh. Aku nyusul aja kali kalo emang jadi berangkat...," kata Adnan sambil berlalu dan melajukan motornya kembali ke rumah.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments