Arini tiba di butik dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa lemah. Tapi ia memaksakan diri untuk tetap bekerja. Gerak gerik Arini tak luput dari perhatian Ratna dan Anis.
" Kamu gapapa Arini...?" tanya Anis cemas.
" Aku gapapa kok Nis...," jawab Arini.
" Gimana kabar Mas Robi, apa udah siuman Rin...?" tanya Ratna.
" Kalo hari ini Aku belom tau. Tapi tadi malam dia udah siuman...," jawab Arini sedih.
" Sakit apa sih...?" tanya Ratna lagi.
" Kanker otak stadium dua...," jawab Arini lirih sambil mengusap air matanya.
" Astaghfirullah, inna Lillahi wainna ilaihi roniuun...," kata Ratna dan Anis bersamaan.
Anis dan Ratna lalu memeluk Arini mencoba memberi kekuatan pada Arini.
" Yang sabar ya Arini...," kata Anis lagi.
" Iya, makasih ya Ratna, Anis...," kata Arini tulus.
Mereka pun kembali ke tugas mereka masing-masing. Sebenarnya Arini ingin segera menemui Robi di Rumah Sakit. Tapi ia sadar masih ada pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya di butik milik Melinda.
Tiba-tiba Melinda masuk dan menghampiri Arini yang tengah melamun.
" Arini...," panggil Melinda mengejutkan Arini.
" Kamu boleh menjenguk Robi dan menemaninya selama dia dirawat. Ga usah pikirin butik, masih ada Ratna dan Anis yang menjaga. Saya minta tolong, beri semangat Robi supaya dia mau berobat dan sembuh seperti semula...," pesan Melinda.
" Baik Bu. Pasti Saya lakukan apa pun untuk kesembuhan Robi...," kata Arini tersenyum.
Arini pun bergegas pergi ke Rumah Sakit diantar Tono supir pribadi Melinda.
Arini sempat mampir sebentar ke toko kue untuk membeli kue kesukaan Robi. Tak lupa Arini membelikan Tono kue untuk sekedar ucapan terimakasih.
" Wah, Mbak Arini pake repot-repot segala...," kata Tono.
" Ga kok Pak. Cuma bisa beliin kue, dimakan ya biar ga bete nungguin Saya ntar...," gurau Arini.
" Ha ha ha, iya Mbak. Makasih...," kata Tono di sela tawanya.
Mobil pun menepi di pintu utama Rumah Sakit. Setelah Arini turun, Tono melajukan mobil menuju tempat parkir.
Arini nampak bergegas ingin segera tiba menjumpai kekasih hatinya. Dari kejauhan Arini melihat kedua orangtua Robi sedang duduk berbincang di luar kamar.
" Lho, Arini. Udah sampe aja. Makasih ya, udah mau repot jagain Robi...," sapa Mirna senang.
" Iya Tante. Ini Saya bawain kue buat Tante dan Om. Buat Robi juga ada...," kata Arini malu.
" Wah, Kamu tau juga kue kesukaan Robi. Kamu emang calon istri yang baik Arini...," kata Mirna terharu.
Hasan pun ikut terharu melihat perhatian tulus Arini pada Robi.
" O iya Arini. Duduk dulu. Om mau ngomong penting sama Kamu...," kata Hasan tiba-tiba.
" Iya Om...," Arini pun ikut duduk bersama Mirna dan Hasan walaupun hatinya sangat ingin segera melihat keadaan Robi.
" Begini. Om dan Tante ada rencana ngirim Robi ke luar negeri untuk berobat. Ada kerabat Om di sana. Tapi Om juga tau, kalo Robi ga bakal mau pergi...," kata Hasan dsngan suara berat.
" Kenapa ga mau Om. Itu kan buat kebaikan dia sendiri...," kata Arini tak mengerti.
" Itu dia. Tapi dia ga mau jauh dari Kamu Arini. Makanya Om minta tolong Kamu bujuk Robi supaya mau pergi ya...," pinta Hasan.
" Kemana Om...?" tanya Arini parau.
" Singapura...," jawab Hasan dan Mirna bersamaan.
Arini terdiam sejenak. Dia juga kawatir tak bisa bertemu Robi lagi. Tapi dia tak bisa egois. Arini pun menyanggupi permintaan kedua orangtua Robi itu.
" Baik Om. Saya akan bujuk Robi nanti...," kata Arini sambil tersenyum.
" Makasih Arini...," kata Mirna sambil memeluk Arini erat.
" Sama-sama Tante. Arini juga mau Robi sembuh...," kata Arini lagi.
" Udah Ma. Jangan dipelukin mulu si Arini. Dia juga ga sabar lho pengen ketemu Robi. Mama nih, kaya ga pernah muda aja...," sindir Hasan tertawa.
" Om bisa aja...," kata Arini malu.
" Iya sampe lupa. Ya udah, masuk gih. Ada temennya Robi juga di dalem...," kata Mirna.
Arini mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar dengan perasaan rindu yang sarat.
" Robi, Sayang...," panggil Arini saat membuka pintu.
Dua orang yang berada di dalam kamar itu pun menoleh ke arah Arini.
Robi tampak tersenyum lebar melihat kedatangan Arini, tapi tidak pria di ssbelahnya. Dia nampak terkejut melihat Arini di sana apalagi mendengar Arini menyebut kata 'sayang' tadi.
" Kamu...?!" kata Arini dan Adnan bersamaan.
" Kamu udah kenal sama temen Aku, Sayang...?" tanya Robi bingung.
" Ehm, iya. Aku kenal. Dia dulu temen Aku...," kata Arini sambil melengos.
" Dulu, berarti sekarang ga temen gitu...?" gurau Robi sambil tertawa.
Adnan dan Arini terdiam. Arini pun melangkah mendekat ke arah Robi. Dia tersenyum tulus melihat Robi yang tampak lebih baik dari kemarin. Adnan pun ikut melihat senyum Arini itu. Entah mengapa, dadanya sesak saat melihat kebersamaan Arini dan Robi.
" Kamu keliatan lebih baik ya...," kata Arini sambil mendaratkan tangannya di kepala Robi.
" Iya. Ini kan berkat Kamu juga yang udah nemenin dan doain Aku...," jawab Robi sambil menggenggam tangan Arini lembut.
Adnan yang merasa menjadi 'obat nyamuk' pun berdehem untuk menyadarkan dua sejoli yang sedang kasmaran itu.
" Ehm, masih ada orang lho di sini...," kata Adnan sebal.
" Ha ha ha, sorry Nan. Beneran nih Kalian udah saling kenal...?" tanya Robi di sela tawanya.
" Iya...," kata Adnan singkat.
Suasana pun mendadak hening. Beruntung seorang perawat masuk bersama dokter yang menangani Robi. Di belakang mereka kedua orangtua Robi juga ikut masuk ke dalam ruangan.
Adnan dan Arini pun menyingkir keluar ruangan. Untuk memberi ruang kepada Robi dan keluarganya.
" Apa kabar...?" tanya Adnan basa basi.
" Mmm, baik...," jawab Arini singkat.
" Jadi Kamu pacaran sama Robi, udah berapa lama...?" tanya Adnan lagi.
" Iya, udah hampir tiga bulan. Kamu, ngapain ke sini...?" tanya Arini balik.
" Aku kebetulan ketemu Tante Mirna semalam di depan lift. Ibuku juga dirawat di sini...," jawab Adnan sambil menendang sesuatu di lantai dengan ujung sandalnya dengan salah tingkah.
Arini melihat sikap Adnan yang 'melempem' itu pun menahan diri untuk tidak tertawa.
" Sakit apa...?" tanya Arini sambil menahan tawa.
" Darah tinggi, hampir stroke...," jawab Adnan berusaha tegar.
" Apa...?!" kata Arini terkejut.
" Iya. Biasa aja dong. Ga usah lebay gitu...," kata Adnan sinis.
Arini membulatkan matanya mendengar Adnan bicara seperti itu.
" Hmm, wajar juga ya Ibu Kamu itu kena serangan darah tinggi bahkan hampir stroke. Wong Anaknya aja modelnya kaya Kamu gini...," sindir Arini ketus.
" Kamu...," Adnan tak melanjutkan ucapannya. Hanya matanya saja yang menatap Arini tajam.
Arini pun ikut menatap Adnan dengan tajam.
Sejenak mereka saling tatap dan tak ada yang mau mengalah.
Adnan mengalah, dengan menghela nafas panjang ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Aku pergi dulu. Kalo mau jenguk, Ibu ada di kamar A6...," kata Adnan sambil berlalu.
Arini tak menjawab. Ia hanya memandangi Adnan yang menjauh dengan perasaan kesal.
" Iihh, kenapa juga harus ketemu dia sih. Heran, dimana-mana ada dia...," batin Arini sebal.
" Lho, mana si Adnan Ar...?" tanya Hasan tiba-tiba.
" Itu Om, katanya mau ke kamar Ibunya...," jawab Arini seadanya.
" O ya udah. Om mau keluar dulu sebentar. Tolong temani Mama Robi ya Arini...," pinta Hasan.
" Iya Om...," jawab Arini.
Hasan pun bergegas meninggalkan kamar rawat anaknya menuju ke suatu tempat.
\=\=\=\=\=
" Darimana Nak, Ibumu tadi nyariin Kamu lho...," kata Hardi saat melihat Adnan membukabpintu kamar.
" Jalan-jalan cari angin Yah. Eh, ga taunya temen Adnan juga dirawat di sini. Jadi sekalian aja Adnan jenguk dia...," kata Adnan sambil duduk.
" Gantian sebentar ya, Ayah juga mau ngopi dulu nih...," kata Hardi sambil merapikan selimut istrinya.
" Biar Adnan aja yang beli Yah...," kata Adnan menawarkan diri.
" Ga usah. Kamu kaya ga tau aja. Ayah lebih suka minum kopi saat masih panas. Ayah juga sekalian cari angin kaya Kamu...," gurau Hardi.
" Ha ha ha, Ayah. Bilang aja Ayah bete kan. Padahal apa yang Ayah cari udah ada di kamar ini lho...," kata Adnan.
" Hush. Jangan ngomong gitu. Ntar Ibumu salah paham, repot deh...," kata Hardi sambil berlalu.
Adnan tersenyum melihat tingkah sang ayah yang sangat takut pada ibunya. Mungkin bukan takut, tapi apa pun itu tetap membuat Adnan tertawa jika mengingatnya.
Adnan mendekati Fatma yang masih tertidur pulas. Diperhatikannya wajah sang ibu. Mulai ada kerutan di wajahnya. Juga beberapa lembar uban yang menghiasi kepalanya. Adnan terharu. Ia mengecup kening sang ibu dengan sayang.
" Cepet sembuh ya Bu. Maafin Adnan. Adnan sayang banget sama Ibu...," bisik Adnan sambil menciumi tangan Fatma yang tak dipasangi selang infus.
Tak mendapat respon dari sang ibu membuat adanan menghela nafas panjang.
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu memejamkan matanya. Tiba-tiba bayangan Arini yang bersikap mesra dengan Robi pun melintas. Adnan melihat sikap Arini yang sangat peduli dan sayang terhadap Robi. Berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukkan Arini padanya.
" Ck. Ngapain Aku malah inget sama dia sih. Pacar orang tuh Adnan...," kata Adnan pada dirinya sendiri sambil menepuk dahinya.
Adnan pun duduk lalu mengambil HP dari saku bajunya. Kemudian agak bergeser sedikit untuk menghubungi seseorang, yaitu Sarmila.
" Hallo Assalamualaikum...," sapa Adnan.
" Wa alaikumsalam Sayang...," jawab Sarmila.
" Gimana kerjaan Kamu, udah beres...?" tanya Adnan.
" Kenapa Yang. Axel sakit ya, nakal ga, atau Kamu udah mulai jenuh ya ngasuh Axel. Maaf ya Adnan Sayang...," cerocoa Sarmila.
" Kamu ngomongnya kaya gitu, Aku jawabnya gimana...?" gurau Adnan.
" He he he, iya maaf...," kata Sarmila lagi.
" Axel sehat, ga sakit. Tapi Ibu Aku yang sakit, sekarang dirawat di Jakarta juga...," kata Adnan lirih.
" Apa, ya ampun. Parah ga, sakit apa...?" tanya Sarmila panik.
" Darah tinggi. Kamu kapan pulang...?" tanya Adnan balik.
" Kalo ikutin jadwal, Aku pulang lusa, tapi ya udah Aku usahain pulang cepet ya...," janji Sarmila.
" Ok, Aku tunggu ya...," kata Adnan sambil menutup sambungan telephon.
Adnan pun tersenyum lega. Ia membayangkan pertemuan Sarmila dengan kedua orangtuanya. Ia yakin kedua orangtuanya bisa menerima bahkan dekat dengan Sarmila seperti mereka bisa menerima dan dekat dengan Arini.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments