Alat-alat berat mulai berdatangan, mulai dari ekskavator, dumb truk dan sebagainya. Jalan desa menuju bukit halimun itu pun diperbaiki dan dibuat lebar. Jordy cs sudah dibawa kembali ke habitatnya, letnan Anwar dan semua anak buahnya tetap di situ untuk mengawal dan mengawasi penggalian. Terakhir Fani, ia izin ikut dan tinggal di bukit itu. Sekalian liburan kilahnya ketika ditanya alasannya. Letnan Anwar pun mengizinkan.
Fani datang dengan kawalan dua tentara bersenjata lengkap. Seperti seorang perawat yang datang dan memasuki daerah perang.
"Kalo Bondan tahu ini semua, ia pasti senang sekali dan pasti ia menawarkan diri ikut penggalian," pikir Fani. Fani kenal betul siapa Bondan. "Ah, kenapa juga aku masih ingat dia," tepis Fani pada ingatannya sendiri. Fani di sambut Taupan yang berpenampilan seperti mandor proyek, helm putih plus rompi safety warna oranye ia kenakan.
"Selamat datang Fani, sini kopernya," ucap Taupan seperti pemandu wisata yang ramah. Taupan yang perkasa lantas memikul koper Fani. Fani tersenyum simpul.
Sementara itu, Dul Karim sedang serius bersama beberapa tim penggalian di sudut tanah yang longsor itu. Mereka menemukan sebuah tulang sebesar batang pohon sepanjang hampir dua meteran.
"Binatang macam apa, tulangnya sebesar ini pak?" tanya Dul Karim sambil menyingkirkan tanah yang membalut tulang itu.
"Ini seperti tulang paha manusia, saya yakin, Ayo beritahu Professor!" ucap salah satu penggali itu dengan semangat lantas beranjak dan berlari.
"Raksasa? Ini fosil raksasa???" gumam Dul Karim.
***
Mamanya Della menghampiri suaminya yang sedang santai membaca koran di ruang keluarga. Mamanya Della mengenakan pakaian layaknya pekerja lapangan plus sepatu boot kuning dan topi Jepang. Tidak lupa tas besar penuh perbekalan kemah.
"Sayang? kamu mau ke mana???" heran sang Suami.
"Ini, Mama dapat alamat tempat kemping mereka. Sekarang Papah ganti pakaian, kita susul mereka sekarang juga!"
TOTTT! TOTTT!!!
Bunyi klakson yang nyaring mengalihkan perhatian Papah dan Mamanya Della itu. Mamanya Della bergegas mengintip lewat gorden Jendela. Ini masih pagi, dan tamu macam apa yang datang sepagi ini dan membunyikan klakson berisik itu. Tampak sebuah mobil minibus berwarna hitam mengkilap terparkir di pelataran. Tampak dua orang tinggi besar berkemeja rapi turun dari mobil itu.
"Apa Papa menggadaikan rumah ini?" bisik Mamanya Della pada suaminya.
"Mama ngomong apa sih?"
Setelah dua pria tinggi besar itu, tampak Della keluar dari mobil itu dengan kawalan seorang polwan.
"Itu? itu anak kita Pah! Ya Tuhan, jangan-jangan anak kita terlibat narkoba???"
"Selamat pagi!!" salah satu pria tegap itu berucap sambil mengetuk pintu.
TOK! TOK! TOK!
Mamanya Della itu hampir pingsan dan seperti berat untuk membuka pintu.
Begitu pintu ia buka, dan Della menatapnya dengan tatapan bersalah, Mamanya Della benar-benar pingsan.
***
Letnan Anwar, Prof. Erwandi memimpin langsung pengangkatan tulang-belulang yang besar itu. dan terakhir, sebongkah tengkorak sebesar gentong berhasil mereka angkat dengan bantuan chain block 1 ton.
***
Mamanya Della sudah sadar dan sedang dielus-elus keningnya oleh sang Suami.
"Mah, Della dapet beasiswa. Ini, kamu lihat sendiri," ucap Papanya Della penuh semangat sambil menunjukkan sebuah map.
Di dalam kamarnya, Della tampak tergesa-gesa membongkar barang bawaannya. Ia menyembunyikan, merapikan dan membawanya pulang.
Koin-koin emas itu. Della pun berbinar-binar. Koin-koin emas itu ia tatap dan elus sayang.

Di lereng bukit, putri Kemala menatap jauh hamparan padang rumput dan semak belukar di hadapannya. Tangannya erat menggenggam jemari Bondan. Ini batas pagar gaib yang Kemala ceritakan itu.
"Ayo! Cobalah, mungkin sekarang kamu bisa menembusnya," ucap Bondan. Kemala masih terlihat takut. Terakhir ia terpental dan selalu terpental. Seperti tersengat aliran listrik tak kasat mata.
Entah apa yang Kemala pikirkan, atau hanya sekedar membuat Bondan percaya, Kemala menarik napas panjang dan mengumpulkan kekuatan. Tidak lama kemudian ia pun mulai melangkahkan kaki. Bondan memperhatikan dan turut merasakan ketakutan di dada Kemala.
Satu langkah, dua langkah dan sampai langkah ketiga Kemala aman-aman saja. Aneh Kemala rasa, tapi ia tampak bahagia dan lantas membawa Bondan berlari.
"Aku? Aku bisa! Aneh, aku bebas!!!" sumringah Kemala membuat Bondan lega.
"Ayo, aku akan tunjukkan dunia luar padamu," semangat Bondan penuh kebahagiaan.
Padang rumput yang indah, Padang rumput yang luas. Kalo ini film India, keduanya pasti sudah bernyanyi dan bersuka cita menari-nari.
***
Malam kemudian, tinggal letnan Anwar dan Fani yang tersisa di hadapan api unggun. Taupan pamit tidur dan yang lain tampak berbincang-bincang di dalam tenda.
"Kaum tabib yang bekerja sama dengan para pendatang dari langit itu akhirnya berhasil memformulasikan ilmu Rawarontek yang Taupan kuasai itu," cerita letnan Anwar ketika Fani memohon informasi ihwal kesaktian Taupan itu.
"Saya curiga, mereka pasti melakukan hubungan lahir dan batin dengan para pendatang dari langit itu. Buktinya, keturunan atau seseorang yang menguasai ilmu Rawarontek jasadnya tidak diterima bumi. Bahkan tidak membusuk," lanjut letnan Anwar. Fani jadi membayangkan, betapa hebat dan majunya orang jaman dulu yang bisa berkomunikasi dan bekerja sama dengan Alien.
"Jadi Alien itu benar-benar ada dan leluhur Taupan ras campuran manusia dan alien," ucap Fani.
"Logika saja, matahari adalah salah satu bintang, bintang yang tergolong kecil. Sedangkan di luar sana ada jutaan, bahkan milyaran bintang. Jadi sangat mungkin, di tiap-tiap bintang itu ada planet seperti bumi yang penuh dengan kehidupan.
"Ya, saya mengerti, cuma? Cuma saya tidak habis pikir saja, bukan kah jarak dari bintang yang satu dengan yang lain sangat jauh. Jadi tidak terbayangkan, betapa canggihnya teknologi mereka sehingga bisa sampai ke sini, ke bumi ini," ucap Fani pelan.
"Yah, begitulah. kadang kalau berpikir ke situ, saya merasa kecil, sangat kecil dan bodoh."
"Oh iya Pak, kalau misal. Ini misal yah. Kalau misal saya menikah dengan Taupan, apakah otomatis nantinya anak saya akan memiliki ilmu Rawarontek itu?" Sejenak letnan Anwar mencari jawaban. Jelas bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Akhirnya letnan Anwar menyerah.
"Ah, entahlah. Setahu saya, ilmu Rawarontek itu perlu tarekat dan laku lahir batin yang berat. Tapi, yang punya ilmu itu, selalu punya orangtua yang juga menguasai ilmu itu," jawab letnan Anwar lantas meraih cangkir dan meminum kopi. Sementara Fani, tatapannya makin nanar dan jauh. Kegamangan masih merengkuh hatinya.
"Kami tidak akan tinggal diam, kalo si Taupan memaksa kamu untuk menikah dengannya, bagaimana?"
"Ah, tidak Pak, tidak," senyum Fani.
"Pikirkan baik-baik, masa depan kamu, kamu yang tentukan. Selamat malam." ucap letnan Anwar sambil perlahan beranjak dan meninggalkan Fani seorang diri.
Hangatnya api unggun yang hampir padam, membiaskan cahaya di kulit Fani yang putih bersih. Fani masih betah termangu dan menimbang-nimbang rasa. Di balik jaket yang hangat, api unggun yang hangat, hatinya juga terasa hangat. Ada kekaguman dan rasa pada Taupan yang membuat sekujur tubuhnya terasa hangat.
***
Bondan dan Kemala sudah sampai di perkampungan. Kemala sudah berpakaian seperti Bondan. Celana taktikal dan kemeja lapangan lengan panjang warna coklat. Pakaian Bondan. Awalnya Kemala tidak mau, ia sudah nyaman, seolah pakaian yang turut abadi bersama tubuhnya itu tidak mungkin ia lepas. Tapi kegigihan Bondan yang menjelaskan, agar Kemala mau ganti pakaian akhirnya dituruti.
Satu dua mobil tentara dan satu ekskavator yang lewat menjadi perhatian Bondan dan Kemala yang sedang melepas lelah di sebuah warung kecil.
"Bu, kok banyak tentara dan alat berat lewat sini?" tanya Bondan pada pemilik warung yang sedang membuatkan teh untuknya.
"Ibu juga tidak tahu, orang-orang yang mau naik bukit sekedar nyari kayu bakar saja dilarang dan di suruh pulang. Tapi di kasih uang," jawab Ibu itu membuat Bondan bingung.
"Jangan-jangan ada penambangan," pikir Bondan. Bondan hampir lupa, di sana ada Mr. Lee. Bondan hanya berharap, instalasi dan ruang cawan suci rusak berat dan Mr. Lee yang sepertinya punya niat jahat, Bondan harap turut terkubur saat gempa itu.
"Oh iya Kemala, saat gempa dan aku tidak sadarkan diri, apakah ruangan keberadaan cawan suci itu hancur?"
"Yah, aku bisa pastikan, kalo aku tak segera membawamu keluar, kita pasti sudah terkubur dibawah sana. Gempanya sangat kencang dan merusak," jawab Kemala. Ia juga jadi berpikir, "Apakah gempa itu pula yang menghapuskan pagar gaib itu?"
Dalam hati Bondan merasa lega. Ia juga jadi berpikir, "Jadi, Aku adalah orang terakhir yang berhasil meminum air keabadian itu."

***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Mat Grobak
seru thor
2022-01-10
2
Liany
like..
2021-03-25
1
Azam Azam
mantaffff
2021-03-13
3