Hari semakin malam, Bondan tidak menemukan penginapan yang diharapkan. Padahal ia sudah sangat kelelahan dan urat-urat di kakinya serasa mau putus. Seharian berjalan dan dibawa loncat oleh Kemala sungguh, tubuhnya kini terasa remuk redam.
Satu-satunya penginapan yang bersedia menampungnya malam ini adalah sebuah rumah sederhana dari bilik bambu yang dihuni oleh seorang nenek penjual serabi. Kemala dan Bondan hanya bisa pasrah dan kamarnya lumayan nyaman.
"Aku tidur di luar saja, di bangku depan," ucap Bondan setelah menaruh tas dan merapikan tempat tidur. Penginapan ini cuman satu kamar, tidak ada kamar yang lain, tidak ada warga yang bangun dan bersedia menampung keduanya di malam selarut ini. Bondan hendak berlalu, tapi Kemala menahan Bondan. Kemala menatap Bondan lekat-lekat, seolah tatapan itu menilai setiap inci wajah Bondan.
"Aku merasa, pernah mengenalmu sebelum ini. Aneh sekali, tapi aku yakin." Bondan hanya terpaku dan kini keduanya saling tatap dengan lembut. Tubuh Kemala yang tinggi dan berisi seperti Wonder woman itu menghadangnya dan Bondan pikir, Wonder woman itu mau mengajaknya berperang di atas kasur.
"Aku yakin, aku yakin pernah mengenal kamu. Tapi kapan dan dimananya aku lupa," ucap Kemala dengan nada yang pelan, hampir seperti bisikan. Tapi bagi Bondan, itu terdengar seperti, "Temani aku tidur, malam ini dingin sekali."
***
Pagi yang cerah, matahari bersinar indah. Raiman sudah mandi dan mengenakan pakaian terbaik yang ia punya. Anak-anak kecil berlari menuju kanal. Mereka membawa bendera kecil berwarna warni. Raiman pun turun menuju kanal.
Kapal-kapal dari berbagai negri mulai berdatangan, anak-anak dan warga sekitar kanal menyambut dengan sorak-sorai yang meriah.
"Salah satu pangeran dari kafilah itu akan menjadi raja di negeri ini," pikir Raiman.
"Hey! Aku kira kau pergi sendiri, aku ke rumah kau, katanya kau sudah pergi," ucap Tarji sambil menepuk bahu Raiman. Raiman yang sedang melamun pun hampir loncat dibuatnya.
"Halahh! Bikin kaget aja, Ayo!" Raiman pun menarik temannya itu untuk naik perahu umum. Pihak kerajaan menyediakan perahu-perahu gratis untuk ditumpangi warga yang mau menonton sayembara dengan peraturan, jangan mengosongkan rumah. Artinya, bila satu rumah terdiri dari 4 orang, maka yang boleh menonton sayembara adalah 2 orang.
Negeri Atlantea yang subur makmur di kelilingi kanal-kanal yang bersih rapi dan sekaligus kanal-kanal itu seperti jalan besar utama ke pusat kota.
***
"Saya yang akan muncul ketika sayembara usai dan pemenang segera diumumkan," ucap ketua Derg sambil menatap satu-persatu lawan bicaranya. Raja Fardal manggut-manggut dan tuan muda Hilbount angkat bicara.
"Yah, kita tunggu mereka kelelahan terlebih dahulu, baru kita muncul."
"Kalo mereka tidak mau menuruti kemauan kita, apa mau dikata, kita musnahkan mereka! Kami bangsa raksasa yang akan menjebol benteng-benteng pertahanan mereka," ucap raja Fardal dengan penuh semangat. Ruang pertemuan pun menjadi gaduh. Suara Fardal begitu besar dan menggema. Tempat pertemuan mereka itu adalah sebuah goa yang besar dan dalam.
"Bangsa manusia yang sombong dan menganggap diri paling sempurna, dan merasa paling berhak atas bumi ini harus kita habisi!" ucap Callaghan dengan geram.
***
Raiman dan Tarji sudah sampai tujuan. Keduanya turun dari perahu dan kembali di periksa oleh penjaga. Tidak ada yang boleh membawa senjata tajam. Pengamanan berlapis pun dikerahkan. Setelah melalui pemeriksaan, Raiman dan Tarji begitu jelalatan. Mata mereka dimanjakan dengan bangunan-bangunan yang besar dan hiasan-hiasan dari gapura batu sampai bendera-bendera kecil yang berjejer warna-warni. Tidak lupa para gadis yang cantik-cantik juga banyak berlalu-lalang dan makanan-makanan yang tersaji hangat di sudut-sudut gedung dan dibawah rindang pohon.
"Wah, enak nih, berapaan Bu, saya mau yang ini," tunjuk Tarji pada makanan berbentuk lonjong berbalut daging ikan yang di iris.
"Ini semua gratis, ambil saja," ucap si Ibu penjaga stand itu.
"Apa? Gratis???" heran Raiman.
"Yah, gratis. Semua makanan dan minuman yang berjejer sepanjang alun-alun ini gratis," ucap si Ibu itu sambil menyajikan makanan itu ke atas selembar daun besar dan kokoh. Tarji langsung melahapnya.
"Enak banget Man, nih coba," ucap Tarji dengan mulut penuh makanan dan sepotong makanan itu ia acungkan pada Raiman.
"Aku sudah sarapan, masih kenyang. Aku ambil minuman saja, kau mau minum apa?" ucap Raiman lantas bergegas ke stand sebelah yang menyajikan berbagai macam minuman, dari air kelapa yang sangat bening sampai kopi tubruk yang sangat pekat tersedia di situ.
"Ya, aku air teh saja. Sini buruan!"
***
Sementara itu, di dalam kamarnya yang nyaman dan berbalut kain sutra, Kemala sungguh merasa tidak nyaman. Seluruh tamu undangan sudah berkumpul dan dirinya sudah selesai didandani.
"Ibu, aku merasa, aku ini tidak lebih dari sebuah hiasan atau sebuah piala yang hendak diperebutkan. Aku tidak nyaman ibu," ucap Kemala sembari bersimpuh di pangkuan ibunya.
"Ibu mengerti Sayang, Ibu mengerti. Tapi ini sudah tradisi dan ini takdirmu," ucap sang Ibu sambil mengelus punggung anak semata wayangnya itu.
***
"Wah, bisa gemuk aku nih, kalo lama-lama di sini. Raja kita baik banget ya," ucap Tarji sambil mengunyah apel. Kedua culun itu duduk di bangku taman di bawah rindang pohon besar yang berbunga merah.
Ketua Derg lewat dan menarik perhatian Raiman. Bagaimana tidak, ketua Derg mengenakan jubah hitam dan penutup kepala bulat yang terbuat dari rotan. Penampilannya sungguh tidak lazim dan berbeda dengan orang-orang lain yang juga berlalu-lalang.


***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Reo Hiatus
Mampir lagi💗
2021-03-18
1
🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️
kalo di kampung saya
Hanger = gantungan baju
Hanggar = kandang pesawat
jangan ditertawakan.. namanya jg orang udik..😂😂
2021-03-17
1
Tarsiah🎯™
semangat
2021-03-17
1