Bondan terbelalak, tepat di hadapannya berdiri seorang perempuan yang berparas cantik jelita bertubuh tinggi semampai. Lebih tinggi beberapa centi dari dirinya. Tinggi badan Bondan 180cm. Perempuan yang menuding hidung Bondan dengan sebilah pedang itu berpakaian seperti penari tradisional. Lebih dari itu, perempuan itu seperti putri. mahkota di kepalanya berwarna perak atau emas putih bertahtakan batu-batu mulia yang berkilauan didominasi warna merah terang. Indah sekali. Sorot mata perempuan itu begitu dalam dengan bulu mata yang lentik. Keindahan yang mengalahkan ketakutan Bondan akan todongan pedang itu. Kadang lucu, begitu lah laki-laki. Meski nyawanya di ujung pedang, masih saja menilai-nilai kecantikan lawannya.
"Si-siapa kamu? sa- saya tersesat," ucap Bondan seraya perlahan mengangkat tangan.
Tampak perempuan aneh itu menyerlitkan dahi tanda tak mengerti bahasa yang Bondan ucapkan.
"Siapa kamu? Penampilan kamu aneh, kamu dari negeri mana??" ucap perempuan itu dalam bahasa kuno yang Bondan mengerti. Bersyukur, Bondan banyak belajar bahasa kuno. Dari bahasa Sangkrit, Sangsekerta dan sebagainya. Dan bahasa yang perempuan ucapkan itu adalah bahasa Tahalea, atau bahasa benua Atlantis yang hilang. Di tengah ketegangannya yang tak berkutik dalam todongan, Bondan merasa senang. Ternyata kitab-kitab kuno koleksi ayahnya itu berguna juga. Kitab-kitab temuan para arkeolog dengan bahasa aneh yang berhasil dirumuskan itu ternyata benar, itu adalah bahasa yang pernah digunakan oleh suatu peradaban maju yang diduga peradaban Atlantis. dan kini? Mungkin kah, perempuan ini dari masa lalu? Dari benua Atlantis itu??
"Namaku Bondan, apakah kamu dari benua Atlantis?" jawab Bondan juga dengan bahasa Tahalea.
"Pakaian kamu aneh. Yah, ini benua Atlantis, tepatnya kerajaan Atlantea. Kamu darimana?" jawab perempuan itu dan percakapan keduanya kemudian dalam bahasa Tahalea.
"Benua Atlantis sudah hancur, luluh-lanta karena gunung-gunung Merapi yang mengelilinginya meletus secara bersamaan. Dan saya, saya pendatang dari timur, ribuan tahun kemudian dan kini, sisa-sisa benua kamu, kami namakan Indonesia," jawab Bondan bersemangat membuat perempuan itu berpikir jauh, tatapannya jatuh. Tapi ia tampak sok tegar dan todongan pedang yang mulai kendur ia bentangkan lagi dengan lurus, mantap ke dada Bondan.
"Ribuan tahun?, ribuan tahun. Apa yang terjadi selama ini diluar sana?" tanya perempuan itu. Bondan jadi bingung, apalagi yang harus ia katakan. Sepertinya waktu seakan berhenti bagi perempuan itu.
"Apakah kamu dari kerajaan Atlantea? saya mohon, singkirkan dulu pedangmu. Saya datang baik-baik, saya tidak bermaksud jahat, sa-saya hanya seorang pelajar yang sedang mencari jejak-jejak kejayaan masa lalu penghuni tanah ini. Tenang lah," ucap Bondan coba cairkan keadaan.
Perempuan itu perlahan menurunkan pedangnya dan kembali menatap Bondan. Seolah menilai air muka Bondan. Apakah lawan bicaranya ini sedang jujur atau berbohong.
"Siapa kamu? Apakah kamu dari kerajaan Atlantea?" ulang Bondan. Sungguh pertanyaan yang sangat ingin Bondan dengar jawabannya.
Sejenak perempuan itu menghela napas dan menatap jauh pada sesuatu yang tidak tentu.
"Saya, saya adalah-" ucap perempuan itu tersengal dan kembali terdiam. Seolah apa yang hendak ia katakan itu adalah sesuatu yang berat dan tertahan di kerongkongan.
"Pasti saya yang terakhir dari bangsa saya," perempuan itu mulai angkat cerita.
Kembali perempuan itu, atau sang Putri itu menatap Bondan. Kini tatapannya penuh harap dan siap bercerita. Perempuan itu akhirnya menjauh dan duduk di atas sebidang batu. Bondan pun mengikutinya dan duduk di batu yang lain dan menghadap perempuan itu.
Sejenak, perempuan itu mendelik pada Bondan. Seolah meyakinkan diri, pantaskah dirinya berbicara lebih pada pria ini. Sejenak hening dan interaksi yang kagok pun terjadi. Tapi akhirnya, perempuan itu angkat bicara dan pembicaraan keduanya dari tadi dan seterusnya dengan bahasa Tahalea.
"Katakan padaku, apa sekarang, di luar sana manusia hidup damai berdampingan dengan bangsa Raksasa, bangsa Hobbit dan bangsa Manusia setengah kera?" tanya perempuan itu. Mendengar itu, Bondan seperti menghadapi seorang bocah yang merengek minta dongeng tentang raksasa dan manusia kerdil. Tapi tunggu, otak Bondan menemukan sesuatu, ia ingat fosil yang sama persis dengan tulang paha manusia tapi ukurannya jauh lebih besar. "Apakah ia mengalami kehidupan berdampingan dengan bangsa Raksasa?" pikir Bondan, hatinya jadi makin tertarik.
"Mmmm, tidak. Setahu saya, sekarang tidak ada lagi bangsa Raksasa, kami, di luar sana, hanya manusia," jawab Bondan.
"Maaf, tadi kamu menanyakan kabar bangsa Raksasa dan sebagainya, apa kamu pernah mengalami kehidupan berdampingan bersama bangsa-bangsa lain selain manusia itu?" lanjut Bondan. Perempuan itu tidak buru-buru menjawab. Sikapnya begitu aneh. Tapi sebagai lelaki yang normal, Bondan tak bisa pungkiri. Perempuan itu cantik sekali, wangi dan aneh sekali. Bahasanya, pakaiannya. Bondan merasa sedang bersama seorang artis yang sedang bermain di film klasik, film jaman kerajaan.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" ucap sang Putri yang merasa terganggu dengan tatapan Bondan.
"Ah, maaf-maaf! Kamu cantik sekali. Maaf atas ke lancangan saya. Maaf, sekarang saya bicara sambil menunduk saja," jawab Bondan terkesiap malu karena ketahuan menikmati kecantikan lawan bicaranya itu.
Perempuan itu jadi turut tak enak hati.
"Ah, sudahlah. Sepertinya saya disisakan hanya untuk merasakan kehilangan, kekalahan dan abadi di sini untuk selamanya."
"Abadi?" Mendengar kata abadi, Bondan jadi ingat sesuatu, sesuatu yang sangat penting dan sampai membawanya sejauh ini.
"Cawan suci," ucap Bondan setengah berbisik atau bergumam. Tapi perempuan itu mendengarnya jelas.
"Darimana kau tahu tentang cawan suci?" tanya perempuan itu dengan tatapan curiga.
"Ayah saya bekerja untuk situs purbakala dan menekuninya selama puluhan tahun. Ayah saya suka meneliti benda-benda kuno dan itu menurun pada saya. Saya jadi tertarik dan mendalami soal-soal benda kuno, masa lalu dan sebagainya. Kami banyak meneliti kitab-kitab sejarah dan peninggalannya. Di seluruh dunia, karena saking lamanya sejarah berkembang menjadi mitos. Sampai pada satu titik, kami menemukan persamaan atau tautan sejarah yang hampir sama dari seluruh dunia. Semua sejarah atau mitos mengarah pada bangsa Raksasa pembangun ulung, bangsa Hobbit ahli nujum/sihir, pendatang dari langit dan sebagainya. Juga tentang cawan suci. Banyak dongeng dan mitos tentang cawan suci dan kami sampai pada satu kesimpulan, ada pusat peradaban yang membangun instalasi untuk menghasilkan air pengisi cawan suci itu," ucap Bondan panjang lebar.
"Yah, dunia ini sudah tua sekali. Baiklah, mungkin ini sudah takdir bahwa cerita ini harus sampai padamu," ucap perempuan itu. Bondan merasa menjadi manusia yang paling beruntung dan membuka kuping lebar-lebar. Sepertinya, perempuan itu akan segera mendongeng.
Keduanya mulai nyaman duduk di atas batu besar yang ceper dan licin itu.
"Ayah saya sering bercerita. Konon dulu, ada satu peradaban manusia yang berhasil menguasai ilmu pengetahuan dan membangun instalasi cawan suci yang menghasilkan air keabadian itu. Ilmu pengetahuan yang hebat sekali. Jauh mengalahkan kemampuan bangsa Raksasa, bangsa Hobbit. Bahkan para iblis pendatang dari langit iri dibuatnya. Karena mereka berhasil nyaris abadi dan sampai mendirikan keraton pun di atas awan."
"Di atas awan?" gumam Bondan. Terbayang sudah, visualisasi film-film Ramayana dan sebagainya yang sedikit banyak pernah Bondan lihat.
Istana di atas awan.
"Tapi akhirnya, Bangsa-bangsa selain bangsa manusia itu yang merasa iri dan tertindas bersatu dan melawan. Perang besar pun terjadi. Kerajaan langit kalah dan instalasi cawan suci terkubur untuk waktu yang lama," cerita perempuan itu.
"Lalu peradaban kalian itu?-"
"Ayah saya menemukan instalasi cawan suci itu dan ayah saya meminumnya dan berhasil hidup abadi dan ia lah yang membangun peradaban Atlantis."
"Dan kamu juga berhasil hidup abadi, tapi dimana yang lain, Maaf, dimana Ayahmu?"
Sejenak perempuan itu menarik napas panjang.
"Kejadiannya begitu cepat, entah harus dari mana saya mulai menceritakannya," ucap perempuan itu dengan nada yang berat.
"Ternyata cawan suci itu ada dan bukan mitos belaka. Penelitian saya selama ini ternyata tidak sia-sia." Pikir Bondan penuh semangat. Sementara perempuan itu terlihat gusar. Bondan juga menemukan satu fakta, kalo ternyata benar apa yang dikatakan ayahnya tentang raksasa dan mahluk mahluk cerdas lain selain manusia
"Berarti ini akan menjadi sebuah catatan sejarah yang baru. Peradaban Atlantis, sezaman dengan peradaban manusia Raksasa, manusia setengah kera, dan sebagainya," pikir Bondan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Mat Grobak
baca sambil belajar peradaban
2022-01-09
1
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
😘💯❤️👍🌻🌹🌻🌹
2021-04-06
3
Flo🌹
like ku sampai sini dulu ya pak. nanti kubaca lagi
2021-04-01
2