Burung Besi

Bondan dan perempuan itu sedang asik berbincang ketika sebuah suara gemuruh dan angin yang membuat dedaunan riuh menarik perhatian keduanya.

Perempuan itu langsung menghentakkan kaki dan melesat tinggi melewati pepohonan dan mengecek keadaan. Bondan hanya terpana dan kaget. Lawan bicaranya seperti punya pegas di kaki dan bisa meloncat setinggi itu. Perempuan itu berdiri di atas dahan tertinggi ketika sebuah helikopter lewat dekat ujung pohon keberadaannya.

"Ada yang datang," gumam Bondan.

"Burung Besi? Ada burung besi!" teriak perempuan itu sambil kembali turun dan menghampiri Bondan.

"Itu helikopter, itu semacam kendaraan. Peradaban kami sudah bisa membuat kendaraan terbang," jawab Bondan.

"Peradaban kalian sudah bisa membuat kendaraan terbang?" heran perempuan itu.

"Yah, begitulah. Bahkan kami sudah bisa membuat senjata ledak jarak jauh."

"Jadi, kalian sudah seperti kerajaan langit?"

"Tapi kami belum bisa membuat keraton di atas awan," jawab Bondan dilanjutkan tersenyum.

"Tapi siapa yang datang itu," lanjut Bondan mengalihkan perhatian dan menatap ekor helikopter yang sudah menjauh.

"Apa itu temanmu?" tanya perempuan itu.

"Bukan, saya jalan sendiri," jawab Bondan. "Jangan jangan???" pikir Bondan. "Jangan jangan itu Mr. Lee."

"Ayo! kita ikuti kendaraan terbang itu!" ucap perempuan itu sambil memasukkan pedang ke dalam sarungnya dan menarik tangan Bondan. Tanpa persetujuan Bondan, ia membawa Bondan terbang. Tenaganya begitu kuat Bondan rasa. Terlalu kuat untuk ukuran perempuan.

Perempuan yang berpakaian layaknya seorang putri kerajaan itu seperti seekor burung merak yang menjinjing ayam yang mengkerut takut ketinggian. Hampir Bondan muntah, ketika perempuan itu tiba-tiba menghentakkan kaki pada sebuah dahan besar dan melesat lagi.

Helikopter itu berputar-putar tidak bertambah jauh. begitupula perempuan itu, mengintai di kejauhan. Helikopter itu terbang statis di atas longsoran tanah itu. Longsoran tanah dimana Jordy dan teman-temannya masuk ke lorong yang terbuka.

"Carlos! kita, kita sudah sampai?" tanya Don Lee.

"Yah, koordinat itu satu kilometer memutar. Sekitaran sini. Tapi itu sepertinya tanah longsor," jawab Carlos.

"Ya sudah, kita landing."

"Oke!" jawab Carlos.

"Mereka mau turun," ucap sang Putri.

"Saya sudah belajar naik paralayang, mengerikan sekali. Lain kali, kalo bisa terbang saja seperti paralayang," oceh Bondan sambil memegangi perut dan mengatur napas.

"Lihat itu! Itu tanah longsor. Ini tepat di atas pusat kerajaan saya dulu. Yah, saya yakin," ucap perempuan itu serius tanpa memperhatikan keadaan Bondan yang masih merasa mual dan pening.

"Mereka mungkin orang jahat. Kita jangan menampakkan diri," saran Bondan dan perempuan itu sepertinya setuju. Terbukti kini ia membawa Bondan turun. Cepat dan menghentak. Jantung Bondan hampir copot dan kini Bondan benar-benar muntah.

Don Lee menemukan sebidang tanah lapang berumput dan di situ ada dua buah tenda.

"Bisa landing di situ?"

"Oke!" jawab Carlos.

***

"Maaf, kau baik-baik saja?"

"Tidak apa-apa, hanya kaget saja, kamu sungguh hebat," jawab Bondan sambil duduk terkulai.

***

Hendra dan satu temannya yang penjaga hutan itu beranjak dari pos jaga. Karena sejak dari pagi tadi, mereka tidak mendapatkan jawaban saat mengontak Jordy. Mereka khawatir, terjadi apa apa pada Jordy dan teman-temannya.

***

"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu, saya intai pengendara terbang itu," ucap perempuan itu lalu kembali melonjak dan segera sampai di ujung dahan tertinggi. Bondan hanya bisa melongo dan logika di otaknya sudah berantakan.

***

Setelah helikopter berhasil landing, Don Lee dan Carlos mendatangi tenda yang kosong itu.

"Sepertinya tenda ini baru saja ditinggalkan pemiliknya," ucap Carlos sambil mengecek keadaan tenda itu. Sisa-sisa pembakaran, panci kotor bekas memasak, tas-tas dan sebagainya. Don Lee memeriksa tas-tas itu. Ia mengambil handphone dan radio HT.

"Hallo Jamil? apa kalian baik-baik saja? Ganti," kebetulan sekali radio HT berbunyi begitu Don Lee pegang. Don Lee dan Carlos pun saling pandang, seolah bertukar pikiran, siapa yang meninggalkan tenda dan siapa yang menghubungi.

"Ya," jawab Don Lee singkat.

"Syukurlah, dari pagi kalian sulit dihubungi. Tolong kerja samanya, jangan buat kami khawatir. Keselamatan kalian tanggung jawab kami, kami mau ke situ sekarang, sekedar mengecek keadaan dan patroli biasa." Don Lee pun segera mengerti siapa yang menghubungi dan pemilik tenda itu.

"Ini tenda pendaki biasa," ucap Carlos sambil memeriksa pakaian dan peralatan makan.

"Ini kontak dengan penjaga hutan. Penjaga hutan segera tiba disini. Bisa kau sembunyikan helikopter mu?" ucap Don Lee.

"Sembunyikan helikopter?" heran Carlos. Ia pikir, Don Lee sudah gila. Benda sebesar itu mau di sembunyikan dimana.

"Aku bercanda. Haha! Ya sudah, kita pekerjakan saja penjaga hutan itu."

"Tapi Don, kau belum bilang. Apa yang sebenarnya kita cari?" tanya Carlos.

"Ini kejutan saudaraku, lagi pula, aku jelaskan pun kau tidak akan percaya. Turunkan barang-barang kita."

***

Jordy dan teman-teman sampai pada sebuah ruangan yang jauh lebih luas dan mereka segera menyalakan lilin. Lumpur sudah kering di badan, dan mereka mulai meretak-retakkannya dari sekujur tubuh. Tengkorak-tengkorak berbaju ternyata lebih banyak dan pakaiannya beragam.

"Kerajaan macam apa ini?" ucap Jordy. Tessa tampak kegirangan, ia meraba-raba dengan tuntunan cahaya lilin yang redup dan menemukan sebuah gelas yang berwarna keperakan. Tapi Ilham malah menyeringai ngeri, karena ia kembali menemukan tumpukan tengkorak. Banyak sekali tengkorak-tengkorak itu.

***

Don Lee dan Carlos segera melihat-lihat tanah longsor itu dan menemukan lorong itu.

"Kamu benar Carl, kita tepat berada di atasnya. lihat itu?" tunjuk Don Lee dengan senyum lebar. Carlos pun mendekat dan mengarahkan teropongnya ke arah yang ditunjuk Don Lee.

"Itu lorong batu, besar sekali???" aneh Carlos. Dilihatnya satu lorong batu itu dengan jelas berkat bantuan teropong.

Tidak lama kemudian, Hendra dan satu temannya itu sampai ke lokasi dimana tenda Jamil berada. Tapi alangkah herannya, ia mendapati sebuah helikopter ada di dekatnya.

"Hallo! Hallo Jordy!" radio HT berbunyi dan Don Lee segera mengajak Carlos kembali ke tenda.

"Mereka sudah sampai, ayo!" ajak Don Lee. Keduanya pun beranjak.

"Dra? ini helikopter siapa?"

"Mana gue tau. Hallo! Hallo! Jordy? dimana kalian?"

"Selamat siang," ucap Don Lee agak keras dan berhasil mengalihkan perhatian Hendra dan Yono yang sedang melihat-lihat helikopter dari dekat.

"Eh, iya.Maaf, bapak-bapak ini siapa yah?" tunjuk Hendra dengan kagok.

"Saya seorang ahli arkeologi, saya Lee dan ini pilot saya, namanya Carlos. Kami ke sini, mau mencari anak rekan saya," cerita Don Lee," dia anak nakal, dia mencuri peta harta Karun."

"Harta Karun???" Hendra tertarik.

"Yah, bisa jadi sekarang kita sedang berdiri di atas tumpukan harta Karun itu.

"Maaf, dengan bapak siapa?" tunjuk Don Lee pada Hendra dan Yono.

"Maaf, saya Hendra, dan ini Yono. Kami penjaga hutan lindung ini Pak."

"Jadi begini pak Hendra, Kami ada penawaran buat pak Hendra sama pak Yono. Kami perlu bantuan untuk menemukan anak-anak itu dan lebih-lebih harta Karun itu, bagaimana?" ucap Don Lee sambil mengeluarkan dua gepok uang dari dalam tas. Hendra melotot melihat uang itu, Yono menatap curiga ke arah Don Lee dan Carlos. Carlos berwajah seram berewokan dan selalu menyalakan cerutu dan mengenakan kacamata hitam. Persis seperti Mafia Amerika latin. Topinya dan gayanya.

"Ini sebagai DP, sisanya nanti kalo kita sudah temukan yang kita cari?" ucap Don Lee sambil menyerahkan uang itu masing-masing satu gepok. Hendra cengar-cengir dan Yono tampak seperti orang linglung yang tidak butuh uang. Hendra mendepak Yono.

"Siap Pak, eh Mister. Siap Mister Lee, kami akan membantu sampai selesai."

"Bagus, jangan buang-buang waktu. Sekarang juga kita cari anak-anak itu, ayo!" ajak Don Lee. Hendra manggut-manggut dan tampak bersemangat sekali.

Perempuan itu terus memperhatikan Don Lee dan yang lainnya. kini jumlahnya 4 orang dan mulai sibuk menambatkan Tali untuk turun ke bawah longsoran tanah itu. Perempuan itu turun dan memberitahu Bondan.

"Mereka turun ke tanah longsor. Ayo, kita ikuti mereka," ajak perempuan itu dan Bondan yang juga penasaran pun setuju.

Terpopuler

Comments

w Al Kholil

w Al Kholil

keren tempatnya

2021-04-07

2

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

keseruan dimulai nampaknya..

2021-03-06

0

Navizaa

Navizaa

like

2021-02-16

1

lihat semua
Episodes
1 Suatu Puncak Peradaban
2 Keputusan Bondan
3 Pendakian
4 Tenda Tenda
5 Longsor
6 Lorong
7 Putri
8 Burung Besi
9 Kontak Batin
10 Situs
11 Instalasi Cawan Suci
12 Dua Sisi
13 Gani
14 Satu Kekhawatiran
15 Ekskavasi
16 Bondan dan Putri Kesepian Abadi
17 Sayembara
18 Mereka Datang
19 Perang Dimulai
20 Perang Besar
21 Bukit Tertinggi
22 Kau Adalah Dia
23 Bangsa Hannom
24 Menos
25 Kejutan Untuk Jerry
26 Cerita Empoh
27 Jalan Sesat
28 Diu Adalah Pengecualian
29 Kunjungan Tak Terduga
30 Undangan
31 Satu Pesta, Satu Kemalangan
32 Eksistensi
33 Penemuan Gani
34 Niat Untuk Bersatu
35 Kita Tidak Sendiri
36 Konfrontasi
37 Cerita Itu
38 Persiapan Penyerangan
39 Sergap Penyergap
40 Mereka Semakin Dekat
41 Kabar & Bahaya
42 Sekilas Info
43 Mereka yang Butuh Penjelasan
44 Kembali ke Bukit Halimun
45 Negosiasi atau Konfrontasi
46 Tabir Masa Lalu
47 Kemana Mereka Pergi?
48 Taupan dan Fani
49 Kawah Candradimuka
50 Mimpi Taupan
51 Perang Dunia Ketiga, Dimulai
52 Kembali Ke Bukit Halimun
53 Yang Lain
54 Back to Habbit
55 Dias
56 Taupan dan Fani
57 Ajakan Gani
58 Lawan Sesungguhnya
59 Perang Dunia Ketiga Di Mulai
60 Akhir dari Sebuah Pencarian Kesempurnaan
61 Invasi
62 Bondan, Sendiri
63 Seorang Ksatria
64 Awal Mula
65 Awal Mula bagian 2
66 Awal Mula 3 & 4
67 Awal mula 5
68 Persekutuan Baru
69 Para Pejuang
70 Dul Karim tidak Tinggal Diam
71 Seperti Wabah
72 Jerat
73 Sebuah akhir yang akan menjadi awal bagi yang lain
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Suatu Puncak Peradaban
2
Keputusan Bondan
3
Pendakian
4
Tenda Tenda
5
Longsor
6
Lorong
7
Putri
8
Burung Besi
9
Kontak Batin
10
Situs
11
Instalasi Cawan Suci
12
Dua Sisi
13
Gani
14
Satu Kekhawatiran
15
Ekskavasi
16
Bondan dan Putri Kesepian Abadi
17
Sayembara
18
Mereka Datang
19
Perang Dimulai
20
Perang Besar
21
Bukit Tertinggi
22
Kau Adalah Dia
23
Bangsa Hannom
24
Menos
25
Kejutan Untuk Jerry
26
Cerita Empoh
27
Jalan Sesat
28
Diu Adalah Pengecualian
29
Kunjungan Tak Terduga
30
Undangan
31
Satu Pesta, Satu Kemalangan
32
Eksistensi
33
Penemuan Gani
34
Niat Untuk Bersatu
35
Kita Tidak Sendiri
36
Konfrontasi
37
Cerita Itu
38
Persiapan Penyerangan
39
Sergap Penyergap
40
Mereka Semakin Dekat
41
Kabar & Bahaya
42
Sekilas Info
43
Mereka yang Butuh Penjelasan
44
Kembali ke Bukit Halimun
45
Negosiasi atau Konfrontasi
46
Tabir Masa Lalu
47
Kemana Mereka Pergi?
48
Taupan dan Fani
49
Kawah Candradimuka
50
Mimpi Taupan
51
Perang Dunia Ketiga, Dimulai
52
Kembali Ke Bukit Halimun
53
Yang Lain
54
Back to Habbit
55
Dias
56
Taupan dan Fani
57
Ajakan Gani
58
Lawan Sesungguhnya
59
Perang Dunia Ketiga Di Mulai
60
Akhir dari Sebuah Pencarian Kesempurnaan
61
Invasi
62
Bondan, Sendiri
63
Seorang Ksatria
64
Awal Mula
65
Awal Mula bagian 2
66
Awal Mula 3 & 4
67
Awal mula 5
68
Persekutuan Baru
69
Para Pejuang
70
Dul Karim tidak Tinggal Diam
71
Seperti Wabah
72
Jerat
73
Sebuah akhir yang akan menjadi awal bagi yang lain

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!