Tessa dan Della masih bergulung selimut ketika Ilham dan Jordy pergi. Keduanya penasaran, apa sebenarnya yang semalam terjadi. Berisik sekali.
Langit cerah dan sang Fajar bersinar dengan hangatnya.
Ilham dan Jordy melangkah ke arah yang mereka yakini adalah sumber suara itu. Arah selatan, berlawanan arah dengan aliran sungai itu.
Ternyata dugaan mereka benar. sekarang mereka berada di tepi jurang, jurang yang baru terbentuk tadi malam. Ternyata semalam itu suara berisik tanah longsor. Tanah yang kini keduanya pijak membentuk huruf 'c' yang besar sekali. Sekitar setengah lingkaran lapang bola.
"Gila Ham, curam banget, ini longsor. Tuh lihat, tanahnya baru kan," ucap Jordy sambil menunjuk tanah gambut yang bercampur pohon-pohon yang terjungkal di bawah sana. Bahkan ada yang akarnya jadi di atas. dalam tebing yang terbentuk akibat longsor semalam itu sekitar 50 meter.
"Ayo, kita kasih tahu Della dan Tessa," ajak Ilham sambil berbalik. "Kasih tahu juga penjaga hutan, ayo!"
"Bentar Ham. Tuh lihat? di bawah tebing itu, itu sepertinya lubang di antara tumpukan batu yang lurus berbentuk kotak," tunjuk Jordy penuh antusias.
"Mana??" Ilham pun berbalik lagi dan menajamkan pandangan ke arah yang ditunjuk Jordy.
Ternyata benar, itu sebuah lubang sebesar gerbang gapura di tengah batu-batu besar yang bertumpuk-tumpuk.
"Siapa tau di dalamnya ada harta Karun Coy?" ucap Jordy.
"Iya sih, tapi bagaimana caranya kita sampai di sana? dalem banget tau." Keduanya pun jadi bingung sendiri.
Tessa mulai bangun, namun Della masih pulas.
Ilham dan Jordy sudah kembali dan segera memberitahu Tessa soal tanah longsor itu.
Selesai mandi, sarapan dan membereskan tenda, mereka berempat kembali ke tepi tebing bekas longsor semalam.
"Astaga, luas dan dalem banget longsoran tanahnya," gumam Tessa.
"Untung gak sampai ke tenda kita yah," ucap Della.
"Ya jauhlah, kita jalan ke sini aja lumayan lama," ucap Ilham.
Tanpa mereka sadari, tanah tempat mereka berpijak mulai retak dan bergerak. Mereka berdiri terlalu pinggir. Jordy yang pertama sadar.
"Ham, tanah yang kita pijak kayaknya bergerak?" ucap Jordy. Mereka pun melihat ke bawah. Ternyata benar, tanah berumput basah itu mulai turun dan sepertinya ini longsor susulan.
"Gimana ini???" Tessa panik.
"Ayo lari!!!" ajak Jordy. Tapi terlambat, tanah itu begitu labil dan mereka seperti berdiri di atas kue puding yang belah dan melorot turun ke bawah. Tidak ada akar, ranting pohon atau batu yang bisa mereka gapai.
"Aaaaa!!" mereka pun jatuh berguling-guling bersama tanah basah yang coklat kemerahan itu.
***
Bondan yang baru selesai merapikan tenda, kembali mendengar suara gemuruh. Tapi kali ini sebentar dan lebih jauh.
***
Jordy selamat, hanya tubuhnya kotor dan wajah belepotan tanah basah. Beruntung, beberapa batu besar yang terkandung di dalam tanah yang turut terbawa longsor tidak mengenai mereka. Ilham dan Tessa terkubur setelah badan oleh tanah. Della hampir tak bisa bernapas, ia hanya Tampak kepalanya saja.
Jordy segera menggali tanah yang mengubur Della. Ilham dan Tessa berusaha sendiri keluar dari tanah.
"Aduh, bagaimana ini?" rengek Tessa. Selesai membantu Della keluar dari tanah, Jordy segera membantu Tessa. Ilham bisa keluar sendiri dari tanah dan segera membantu Jordy, mengeruk tanah di sekeliling tubuh Tessa. Tidak lama kemudian Tessa pun berhasil ke diangkat, meski dengan susah payah.
"Hah, berat banget, tanahnya lengket," ucap Ilham sambil selonjoran dan menghela lelah.
Jordy menatap ke atas, "Tinggi banget Ham,"
"Bagaimana caranya kita naik ke atas," ucap Della.
"Aku mau pulang, kotor semua nih, hik hik," Tessa menangis sambil memegangi perih di lengannya. Della juga baru sadar, ternyata kaki kanannya berdarah dan memar. Rasa sakitnya baru terasa ketika ia mau meluruskan kakinya.
"Aduh!"
"Kenapa sayang?" tukas Ilham dengan sigap.
"Sepertinya kaki aku terkilir," jawab Della sambil meringis menahan sakit dan perih.
Kini Jordy menatap penuh harap, pada lubang itu. Lubang besar yang terbuka di tebing yang baru terbentuk itu.
Keberadaan mereka sekitar 2 meter di bawah lubang itu.
"Sepertinya kita ditakdirkan untuk menemukan harta Karun itu Ham," ucap Jordy dengan mata berbinar-binar.
"Kalian ngomongin apaan sih?" heran Tessa di sela-sela kesibukannya membersihkan tanah basah yang melekat di sekujur tubuhnya.
"Lihat, tidak mungkin kita naik ke atas. Kecuali sedikit memanjat dan masuk ke gerbang itu. Yah, ini pasti sebuah gerbang. Lihat susunan batu disekelilingnya." Tessa, Ilham dan Della pun terpana. Ucapan Jordy itu ada benarnya juga. Potongan batu yang bertumpuk-tumpuk itu rapi sekali. seperti gerbang sebuah candi. Meski tanpa ukiran. Tumpukan batu itu jelas bukan alami, suatu peradaban telah memotong batu-batu besar itu, dan membentuknya menjadi sebuah gerbang yang besar. Tingginya sekitar empat meter dan lebarnya sekitar lima meter.
"Dari mana Abang tahu, kalo di dalamnya ada harta Karun?" tanya Tessa.
"Kita harus optimis saja. Ayo!" Jordy begitu bersemangat. Ilham membantu Della, memijat betis Della.
"Kamu duluan, Ayang gua kakinya terkilir nih," ucap Ilham. Jordy pun mengerti dan tekadnya sudah bulat.
"Bang, hati-hati," ucap Tessa penuh nada khawatir. Jordy pun berdiri. badannya yang lumayan gempal, jadi seperti pegulat yang keluar dari lumpur saat selesai bertempur. Jordy memanjat akar dan akhirnya dengan susah payah ia sampai ke muka lubang itu.
"Ini beneran buatan manusia, lantai, dinding dan atap lubang ini terbuat dari batu, sampai ke dalam. Ayo, kalian segera naik! Sebentar," ucap Jordy kemudian mencari akar atau apa saya yang sekiranya bisa ia ulurkan ke bawah untuk membantu teman-temannya naik. Ilham, Tessa dan Della pun jadi penasaran ingin segera melihatnya.
Tidak lama kemudian, Jordy pun berhasil menemukan ranting yang lumayan panjang dan sampai ke dasar dimana teman-temannya berada.
Della memanjat duluan dibantu Jordy, lalu Tessa dan Ilham yang terakhir memanjat. Mereka terpana begitu melihat dengan jelas lorong itu. Itu lorong, bukan lubang tanah yang terbentuk secara alami. ini man made dan apik sekali. Batu-batunya begitu rapi dan presisi.
"Ayo!" Ajak Jordy tidak sabar pada teman-temannya yang masih melongo dan terkagum-kagum. Mereka pun mulai masuk. Della berjalan terpincang-pincang dipapah Ilham, Tessa berjalan sambil berpegangan erat pada Jordy.
"Ada yang bawa senter?" tanya Jordy pada semua.
"Lu tau sendiri tadi gue hanya bawa handuk," jawab Ilham.
"Kita gak bawa apa-apa bang Jordy," jawab Della.
"Oh iya, aku tadi bawa handphone," ucap Tessa sambil meraba-raba saku celananya. Ternyata benar, ia membawa handphone dan mereka bersyukur sekali, handphone Tessa tidak rusak dan berfungsi dengan baik.
"Ada senternya?" tanya Jordy.
"Tentu, ini," jawab Tessa. Setelah ia berhasil menyalakan senter, ia pun menyerahkan handphonenya itu pada Jordy yang berjalan paling depan.


***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Mat Grobak
keren euyyyy
2022-01-08
1
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
😘💯❤️👍🌹🌻
2021-04-06
3
Titik pujiningdyah
tiga jempol untuk kakak😀
2021-04-04
1