Setelah helikopter-helikopter itu mendarat, ternyata yang datang tidak semuanya tentara, ada kontraktor dan insinyur sipil. Pemerintah punya rencana lebih.
***
Selesai upacara penyambutan, Gani mendekati letnan Anwar dan membisikkan sesuatu.
"Kira-kira, berapa lama kita melakukan penggalian," tanya Gani dengan wajah gusar dan tidak sabar.
"Bisa bertahun-tahun, memangnya kenapa?"
"Hm, sekutu pemberontak yang sempat mencium aroma cawan suci itu segera sampai," ucap Gani dengan roman ketakutan. Begitupula dengan letnan Anwar. Awalnya Gani memberitahukan kalo gerbang sudah terbuka dan aroma cawan suci tercium sampai ke sorga. Siapa yang percaya? Letnan Anwar menganggap Gani hanya seorang pembual. Tapi ternyata, Taupan menemukan longsoran tanah ini dan ternyata ini pusatnya. Situs penting yang diduga kuat peninggalan peradaban Atlantis terbuka kerena longsor. Jadi kalo ucapan Gani benar, dan ini benar situs peninggalan Atlantis. Berarti Atlantis dibangun di atas lokasi cawan suci peninggalan kerajaan Langit itu.
"Masuk akal kenapa peradaban Atlantis begitu terkenal di masa lalu. Sehingga dongengnya, mitosnya tersebar dalam catatan sejarah di berbagai belahan dunia," pikir letnan Anwar.
"Sekutu pemberontak macam apa yang kau khawatirkan pak Tua,"
"Kau pikir bangsa Hobbit sudah musnah? Bangsa raksasa mungkin sudah musnah dan tak tersisa satu pun. Tapi bangsa Hobbit yang menguasai sihir, bangsa setengah kera dan pendatang dari langit, mereka bisa saja masih ada dan menunggu saat yang tepat untuk memusnahkan kita, merebut kembali planet ini dari mahluk jorok dan merusak yang bernama manusia," gertak Gani.
"Lihat si Taupan. Ia sampai bisa menguasai kekuatan itu karena semua klan, semua bangsa melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan terburuk sebelum perang besar yang kau ceritakan itu terjadi. Mereka tersisa, atau paling tidak, kitab-kitab ilmu Kanuragan, kitab-kitab ilmu sihir yang mereka sembunyikan dengan baik berhasil ditemukan dan dipelajari dan menciptakan klan yang baru. Buktinya si Taupan, Dul Karim dan pasti ada yang lainnya."
"Darimana kau tahu cawan suci masih ada?" tanya letnan Anwar.
"Aku mencium aromanya, karena aku pernah meminum airnya. Sudah aku bilang, bahkan para iblis menginginkannya," jawab Gani sambil berlalu.
***
"Aku pernah punya seorang kekasih," ucap Bondan memulai cerita. Akhirnya, keduanya tidak jadi tidur sore-sore. Keduanya menyalakan kembali api unggun dan sepakat untuk mengobrol saja.
"Dia cantik, baik, cuman kami tidak sepaham, pandangan hidup kami berbeda. Ia bekerja di bank dan baginya, uang adalah segalanya," kenang Bondan sambil sesekali ia menikmati wedang yang di suguhkan Kemala. Hangat, wangi dan segar terasa meresap di dalam dada.
"Kami akhirnya saling menjauh, saling melupakan," ucap Bondan dengan angan melayang. "Oh iya Kemala, apa kau sempat punya kekasih?"
Mengerti pertanyaan Bondan itu sejenak Kemala membuang wajah malu.
"Aku hidup di balik tembok istana. Tidak sembarang orang bisa bertemu denganku. Bahkan aku belum pernah sedekat ini dengan seorang lelaki."
Wow!!! Jadi??? Dan aku bujangan pertama yang berhasil ngobrol dengan kamu???
"Maaf Kemala, kita ganti tema pembicaraan saja," ucap Bindan. Bondan mulai berpikir macam-macam dan ia merasa perlu mengalihkannya. ia tidak mau membahas itu.
"Oh iya, aku mau belajar ilmu beladiri, mau kah kau mengajariku? Seperti meloncat tinggi itu," tanya Bondan dan Kemala jadi tersenyum dan menatap Bondan yang sepertinya penuh semangat.
"Ya Tuhan, manis sekali, semoga dia mau mengajari beladiri calon pangerannya yang lemah ini," harap Bondan dalam hati.
Keduanya terus saja berbincang-bincang dan jadi semakin akrab. Putri Kemala terlihat jadi lebih nyaman dan tidak kagok lagi berdekatan dengan Bondan. Di sebidang tanah lapang di tengah hutan keduanya seperti menyala karena rona api unggun kecil itu menerangi tubuh keduanya.
***
13.000 tahun yang lalu
Gani melesat sendiri, ia menuju goa yang besar di dalam hutan yang sangat rimbun. Ia hendak mendatangi pusat pemerintahan bangsa Hobbit dan bicara langsung dengan pimpinan Hobbit.
Gani seperti hantu yang tiba-tiba menampakkan diri di hadapan penjaga gerbang.
"Yang Mulia, maaf mengganggu, ada seorang tamu dari bangsa manusia yang mau bertemu dengan yang Mulia. Katanya penting. Namanya Gani, telik sandi kerajaan Atlantea," ucap seorang penjaga begitu ia sampai dan membungkuk di hadapan rajanya.
Daun telinga sang raja bergerak-gerak. Itu tandanya ia sedang berpikir dan konsentrasi atau melakukan telepati atau menggunakan ilmu sihirnya. Bangsa Hobbit mempunyai telinga yang lancip.
"Yah, saya mengenalnya, bawa dia ke hadapanku."
"Baik yang Mulia," ucap penjaga itu sambil kembali membungkuk dan berbalik.
Sang Raja jadi menduga-duga, kabar apa yang dibawa Gani.
Gani tampak seperti raksasa diantara manusia biasa. Bangsa Hobbit itu setinggi pinggang manusia dewasa. Tubuhnya ceking, kepalanya botak dan telinganya lancip.
Gani sampai dihadapan sang raja Hobbit yang duduk nyaman di singgasananya yang terbuat dari fosil akar Mahoni yang diukur aneka macam binatang. sang Raja meski sama kerdilnya dengan yang lain, ia tampak berwibawa dengan jubah dan tongkat logam hitam bertahtakan sebuah batu yang juga berwarna hitam sebesar kelereng tapi menyala, mengeluarkan api.
Gani memasang sikap jongkok hormat. dan mulai menyapa.
"sehat sentosa yang Mulia, terimalah bakti dan hormat saya."
Percakapan mereka dalam bahasa Tahalea, bahasa lintas bangsa yang sudah lazim digunakan saat itu. seperti bahasa Inggris di jaman sekarang.
"Kamu? Kamu seperti tidak bertambah tua? bukankah terakhir kita bertemu 15 th lalu??" ucap sang Raja Hobbit, matanya yang bulat sempurna seolah tak hendak berkedip memperhatikan tamunya itu.
"Begitulah yang Mulia, hal ini lah yang akan saya kabarkan, ini penting, sangat penting yang Mulia," ucap Gani muda berambut panjang dan berpakaian khas bangsawan yang terbuat dari paduan kulit rusa dan perhiasan logam.
Sang Raja memberi isyarat pada jajaran penasehat dan para penjaga yang tidak mengenal Gani untuk duduk dan tenang.
"Apa itu, jangan banyak basa-basi, kami sedang sibuk," ucap sang Raja.
"Saya secara tidak sengaja, menemukan instalasi cawan suci dan saya meminumnya,-"
"Sebentar-sebentar! Cawan suci???" ucap sang Raja penuh heran.
"Iya yang Mulia, kerajaan kami ternyata berdiri di atas instalasi cawan suci yang dianggap mitos itu."
Sang Raja turun dari singgasananya dan menyentuh Gani yang jongkok hormat (lutut kiri menyentuh lantai, lutut kanan di depan jadi tumpuan kedua tangan)
Gani perlahan mengangkat wajahnya, wajahnya pun disentuh perlahan oleh tangan kecil yang keriput itu.
"Kau sepertinya tidak bertambah tua sama sekali Gani," ucap sang Raja Hobbit sambil menyentuh lembut kening dan rambut Gani.
"Kami, kerajaan kami berhasil menaklukkan semua kerajaan di benua Atlantis. Itu berkat raja kami yang yang ternyata seseorang yang hidup abadi dan tak ada senjata yang mampu melukainya, mengerikan sekali yang mulia," ucap Gani serius.
"Atlantea sudah siap menyerang dan menaklukkan kerajaan dan klan-klan di luar benua Atlantis. Tidak ada yang bisa menghentikannya, kecuali-"
"Kecuali apa?" potong sang Raja tampak tidak sabar mendengarkan informasi yang Gani bawa.
"Raja Atlantea punya seorang putri yang sudah dewasa. Yang mulia tahu, seorang raja yang tidak punya anak laki-laki dan hanya punya seorang anak perempuan harus mengadakan sayembara. Saat sayembara itulah, pusat pertahanan terbagi dan para pangeran dari seluruh penjuru benua Atlantis datang memenuhi undangan," cerita Gani.
"Sayembara itu hanya satu alasan kecil mereka berkumpul, padahal sebenarnya raja kami akan mengajak semua sekutunya untuk menguasai dunia dan menjamu para raja dengan air keabadian itu."
"Para tetua pernah bercerita tentang cawan suci, kerajaan langit, dan perang besar yang hampir membuat bangsa kami punah," kenang sang Raja sambil berjalan perlahan. Mondar mandir pelan, jelas dengan wajah cemas.
"Saya takut, kalo semua kerajaan di benua Atlantis bersatu dan para pemimpinnya abadi, bukan hal yang mustahil, mereka akan semena-mena seperti kerajaan langit dan lebih jauh, maaf, eksistensi bangsa Hobbit dan bangsa lain selain bangsa manusia akan mereka musnahkan," ucap Gani penuh penekanan makna membuat sang Raja dan para penasehatnya saling berbisik satu sama lain.
"Yang Mulia Callaghant saudaraku, kekhawatiran saudara Gani beralasan, sangat beralasan," ucap salah satu saudara Raja Hobbit itu. sang Raja mengangkat tangan, tanda agar saudaranya itu untuk diam dan membiarkan dirinya berpikir keras.
"Jadi kau ingin kami datang menyerang?"
"Tepat sekali yang Mulia," jawab Gani sambil kembali menurunkan wajah penuh hormat.
"Kau sendiri bilang, tidak ada senjata yang bisa melukai rajamu itu."
"Yang Mulia punya ilmu sihir yang-"
"Tapi jumlah kami, kalo dibanding dengan tentara kalian jelas kalah jauh," potong sang Raja.
"Bangsa Raksasa (Nephilim) dan bangsa Hannom (manusia setengah kera) dan sekutu iblis dari langit (kaum tabib pemilik ilmu Rawarontek) sudah setuju. Tinggal bangsa Hobbit dan semua kami kembalikan pada yang Mulia, saya hanya pembawa kabar, saya hanya seorang buronan dari bangsa saya sendiri. Saya hanya ingin keadilan ditegakkan. Siapa pun, bangsa apa pun, punya hak hidup yang sama. Tidak bisa dibenarkan, satu bangsa memusnahkan bangsa lainnya."
"Bagaimana saudara-saudaraku?" tanya sang Callaghant menatap para penasehat dan saudara-saudaranya satu persatu.
Jajaran penasehatnya itu ada yang menunduk, ada yang manggut-manggut dan tak sedikit yang menampakkan wajah kecut penuh ketakutan.
"Kalau kita tidak ambil bagian, berarti kita tinggal tunggu giliran untuk dimusnahkan yang Mulia," ucap salah satu penasehat.
"Tidak ada pilihan yang Mulia, mungkin ini satu-satunya kesempatan kita."
Sang Callaghant menatap haru. Terbayang sudah, pertumpahan darah dan nasib bangsanya yang dalam bahaya. Tanggung jawab besar dan keputusan yang sangat menentukan harus segera ia ambil. Berat, keputusan yang sangat berat.
"Sampaikan salamku pada Fardal (Raja bangsa Raksasa), tuan muda Hilbount (pemimpin bangsa setengah kera) dan Ketua Derg (pemimpin sekutu iblis)
"Siap yang mulia, masih ada waktu untuk persiapan dan pengaturan strategi, saya segera kembali. Raja Fardal dan tuan muda Hilbount mau berunding dengan yang Mulia kalau yang mulia turut serta dalam penyerangan itu," lanjut Gani.
"Yah, kami setuju, silahkan kalian atur pertemuan."
"Terima kasih yang Mulia, saya tidak lama, raja Fardal, tuan muda Hilbount dan ketua Derg sangat menantikan kabar ini."
Sang Callaghant mengangkat tangan tanda Gani dipersilahkan pergi. Gani pun bangkit.
Gani membungkuk dan berbalik diiringi empat pengawal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Rahmat Kusir
cerita nya mirip d film waltdisney
2021-12-09
2
Titik pujiningdyah
Sudah ku berikan 10 BL kak
2021-04-09
2
🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️
beeeuuhh... tuan putri keren
2021-03-06
1