Dalam ilusi Taupan, Gani berucap dengan seringai yang menjijikkan, Gerbang sudah terbuka, aromanya sampai ke surga. Bahkan para iblis pun menginginkannya. Bersiaplah, bersiaplah."
Taupan yakin ini bukan mimpi biasa. Ia baru saja bangun tidur. Jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Dingin merengkuh seluruh tubuh. Taupan juga merasakan suatu kekuatan merambati urat-urat di kepalanya.
"Anakku, anakku, kemari lah.Kau tahu aku dimana. Kemarilah segera anakku, ini kesempatan terakhir. Anakku," suara misterius itu seperti telepati yang mendengung dalam kepala Taupan. Taupan mencoba tenang dan konsentrasi. Perlahan namun pasti, Taupan merasakan dirinya meluncur. Seperti ada sebuah lorong angin terbentang bergulung-gulung dan menarik dirinya. Taupan makin tenang dan konsentrasinya penuh. Benar, kini arwahnya melayang dan segera sampai di ujung lorong batu dan dihadapannya kini sosok berjubah hitam itu lagi.
"Kamu sangat berbakat anakku," sambut sosok itu.
"Tapi ini dimana?" tanya Taupan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tembok batu yang hitam, Tembok batu yang tebal.
"Silahkan cari jalanmu sendiri. Temui aku disini dengan ragamu. Bawa ragamu. Gerbang sudah terbuka dan ini kesempatan terakhir bangsa kita untuk merebut kekuasaan," ucap sosok itu sambil kemudian ia memudar dan hilang seperti debu-debu hitam yang buyar perlahan.
Taupan pun tetap tenang dan bergerak melayang, arwah bergerak dengan melayang seperti berenang.
Taupan melayang melewati lorong gelap itu dan menemukan ruang ruang kosong. Ia terus menghafalkan perbedaan ruang dan desain lorong itu. Tidak semua lorong dan ruang yang ia lewati kosong, ada juga ruang dan lorong yang penuh dengan tengkorak atau barang-barang yang berantakan. Sepertinya terjadi kekacauan yang luar biasa sebelum kerajaan atau situs keraton itu terpendam ke dalam tanah puluhan meter. Taupan bisa merasakan kalo sekarang ia berada di dalam ruang di dalam tanah.
Taupan terus melayang sampai akhirnya ia merasa aneh, menemukan 4 anak muda berpakaian kotor yang sedang berjalan menelusuri lorong dengan cahaya lilin. Tapi Taupan melayang saja dan melanjutkan menghafalkan jalur-jalur yang ia tempuh.
Taupan menarik nafas lega, sepertinya ia sudah dekat ke mulut goa, dan benar saja, ia menemukan jalan keluar. Tebing baru yang terbentuk oleh longsoran tanah. Taupan keluar dan segera bisa memastikan, gempa atau longsor telah membuka lorong dan memotongnya. Taupan melesat keluar dan alangkah kagetnya ia mendapati Don Lee dan 3 rekannya sedang menuruni jurang dengan tali yang terbentang. Taupan kenal sosok Don Lee karena telah diberi tahu Letnan Anwar dan Dul Karim banyak cerita tentang siapa sosok Don Lee itu. Don Lee petarung sejati yang terjerumus dalam dunia mafia peredaran narkoba. Sebuah helikopter terparkir, sepertinya Don Lee datang dengan helikopter. Taupan terus melayang dan kini melesat ke atas bukit itu. Taupan perhatikan sekeliling dan dengan tuntutan lokasi di mana raganya berada Taupan segera tahu jalan pulang. Ia pun melesat dengan kekuatan penuh. Ia jadi ingat, kalo saja dengan raga ia bisa melesat begitu, ia pasti senang sekali dan bisa pergi kemana pun. Bahkan ia sampai berpikir, akan terbang membawa Fani. Seperti Superman terbang dengan pacarnya. Taupan jadi mesam-mesem sendiri. Melesat dan terus melesat semakin cepat.
***
Di dalam kantor Divisi Rahasia, Fani sedang merapikan berkas-berkas di atas meja kerjanya. Yah, sekarang Fani bekerja di Divisi rahasia, satu kantor dengan Taupan. Awalnya ia di temui secara pribadi oleh Letnan Anwar. Setelah kejadian itu, setelah kejadian ia di culik oleh Teo itu. Letnan Anwar mengkhawatirkan keselamatan Fani. Keselamatan Fani terancam karena kedekatannya dengan Taupan. Secara tidak langsung, Taupan telah membuat Fani jadi sasaran para musuh. Terbukti, Teo menculiknya untuk memancing Taupan dan Dul Karim keluar. Fani mengerti dan lebih-lebih, Letnan Anwar menawarkan perlindungan dan pekerjaan untuk Fani. Fani yang merasa berhutang nyawa sama Taupan pun mengerti dan setuju atas tawaran Letnan Anwar itu. Meskipun syaratnya berat, ia bersedia. Daripada hidup di luar sana dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
***
Taupan yang sudah sampai kantor, tidak langsung masuk ke dalam raga, ia menghampiri Fani terlebih dahulu dan memperhatikan Fani dari dekat, dekat sekali.
Fani yang tampak kelelahan sepertinya perlu dipijat, Taupan ingin sekali memijat Fani dan menidurkannya di tempat tidur yang paling lembut dan nyaman.
Taupan tersenyum, Fani menguap dan menggeliat. Cantik sekali Taupan Rasa. Bau mulutnya pun begitu Taupan suka.
"Cukup Taupan! Nanti saja main-mainnya, anak-anak muda itu pasti dalam bahaya. Don Lee harus segera dibereskan!" pikir Taupan.
***
Taupan menyatu lagi dengan raganya. Ia sadar dan mengatur napas. Setelah pulih seutuhnya ia keluar kamar dan menemui letnan Anwar.
"Pak, saya menemukan keberadaan sosok misterius itu, saya yakin, tadi saya Meraga Sukma dan sampai ke tempatnya," bilang Taupan. Letnan Anwar percaya begitu saja.
"Dimana itu," tanya letnan Anwar.
"Mmm... Saya sempat melihat gerbang masuknya, Aduh, apa ya? Sebentar... Oh iya, bukit Halimun," ucap Taupan.
"Bukit Halimun?" gumam letnan Anwar. Ia seperti sudah tidak asing dengan nama itu.
"Kenapa Pak?"
"Ah, tidak, tidak apa-apa."
"Oh iya pak, di sana juga ada Don Lee, buronan itu," lanjut Taupan.
"Kamu yakin?" heran letnan Anwar.
"Sangat yakin."
"Mau ngapain dia ke sana?" gumam letnan Anwar, "Fani! segera hubungi Dul Karim dan yang lain, kita ada tugas dadakan sekarang juga."
"Siap Pak!" jawab Fani dari balik meja kendali komunikasi. Fani sudah tidak kagok mengoperasikan alat-alat canggih, ia mantan kasir bank sentral yang cekatan. Cuma bedanya, dulu ia menginput data keuangan, neraca dan semacamnya, dan sekarang ia bertanggung jawab mengolah data kriminal yang masuk ke divisi rahasia. Sebagai info, divisi rahasia dibentuk untuk menangani kasus kasus aneh sampai supranatural.
Dul Karim, Abe dan Gugun sudah ia hubungi dan semuanya merespon dengan baik.
"Ayo Taupan, kita ke hanggar," ajak letnan Anwar.
"Siap Pak! Tapi Hanggar itu apa?"
"Semacam tempat parkir, tempat parkir pesawat."
***
Gugun datang dengan motor sport, Dul Karim datang dengan motor trial. Tapi Abe, ia datang perlahan dengan sedan Fiat jadul yang direstorasi mecing dan mentereng warna Hijau metalik. Penampilan Abe mirip rapper Afro-Amerika, rambut gimbal, kalung besar dan baju kebesaran.
Gugun dan Dul Karim yang sudah duluan memarkir kendaraan kompak melongo mendapati penampilan Abe.
Dengan santainya Abe membuka kaca samping mobil, lalu membuka kacamata, dan berucap dengan sok pentingnya,
"Kita beraksi Brother, i Miss you all,"
***
Seorang pilot handal menyalakan sebuah jet besar. Atap terbuka dan semuanya sudah menunggu. Abe dan Gugun mengenakan pakaian taktis berwarna hitam. Lengkap dengan senjata buru sergap. Taupan mengenakan kostum serba hitam dengan motif seperti ular itu, dan Dul Karim mengenakan kostum yang di dominasi busa logam warna emas itu. Dari dada, kepalan tangan, kepala sampai siku dan lutut. Letnan Anwar hanya mengenakan pakaian dinas biasa dengan tambahan sarung tangan dan sepatu boot.
Jet pun keluar dan Abe sampai melotot.
"Pak, gak salah nih? Kita mau ke hutan atau ikut perang dunia?" ucap Abe.
***
Don Lee cs sudah sampai bawah dan mereka mulai masuk. Ada dua lorong terbuka karena longsoran tanah itu. Tapi Carlos jeli, ia melihat jejak kaki berlumpur di salah satu lorong dan memilih masuk ke situ. Don Lee setuju dan melangkah duluan. Carlos menempelkan sesuatu di setiap ruangan yang dilewati. Sesuatu alat yang kecil sebesar jam tangan digital.
Bondan dan Perempuan itu yang dari tadi mengamati dari kejauhan mulai turun.
"Tapi, dia mungkin membawa senjata dan kita dalam bahaya?" sergah Bondan pada perempuan itu.
"Saya, siapa pun keturunan raja di jaman saya, sudah pasti dibekali ilmu Kanuragan dan ilmu perang," ucap perempuan itu.
"Ternyata perempuan ini adalah putri Raja!!!" pikir Bondan. Memang bila dilihat dari penampilannya dan caranya bersikap, pantas sekali ia menyandang gelar sang Putri. Bondan jadi ingat, memang seperti itu adanya, seperti yang ia baca di buku-buku sejarah. Anak raja selalu dibekali ilmu atau kesaktian. Bondan khawatir saja, takut tidak bisa melindungi putri cantik jelita itu. tergores sedikit saja, Bondan akan menyesal selama sebulan apalagi terluka parah. Karena firasat Bondan pada Mr. Lee itu sungguh tidak baik. Di mata Bondan, Don Lee lebih mirip tukang pukul dari pada staf museum atau sekedar pencari harta Karun.
Jordy cs merasa lelah dan mereka pun istirahat.
"Luas sekali tempat ini, tapi mana harta Karunnya Bang?" ucap Tessa.
"Entah lah Beb, Abang capek,"
"Apalagi kita," sambut Della. "Balik aja yuk, kita keluar dari sini,"
"Jordi , sini Brow, lihat ini?" panggil Ilham , ia mengamati sebuah benda kecil bulat yang barusan ia ambil dari saku salah satu tengkorak berbaju.
"Ini? Ini koin emas Brow! Haha!" Jordi dan yang lain pun segera mendekati Ilham .
"Iya, iya! ini pasti emas. Kita kaya Ham! Kita kaya hahaha!" Jordi dan yang lain pun segera memeriksa setiap tengkorak berbaju. Bahkan Tessa menemukan tengkorak dengan Tiara logam berwarna keemasan. Tengkorak-tengkorak itu tidak semua mengantongi koin emas. Tapi koin-koin dan perhiasan yang mereka kumpulkan lumayan banyak. kepalan tangan mereka hampir penuh semua. Ilham sampai membuka baju untuk wadah perhiasan itu. Sampai di satu sudut dan Ilham mendobrak sebuah pintu besar yang tebal namun rapuh.
BRAKK!
BRUKK!!
Sedikit debu menghambur dan Ilham mengacungkan lilin. Cahaya lilin berkilau di sebuah benda. Benda mengkilat berkotak-kotak dan bertumpuk rapi. Seperti gudang sebuah supermarket. panjang, luas dan tinggi rak-rak itu. Alangkah kagetnya, begitu ia buka salah satu kotak itu. Kotak kayu yang rapuh. Jadi kuncinya pun tak berguna. Satu bagian dinding kotak itu ia tarik dan jebol.
BRUKK!
TRINGGG!
Kotak itu rusak dan koin-koin emas berhamburan.
"Ya Tuhan! i- ini emas? emas!!! Aku kaya!!!! Aku kaya hahaha!!!" Ilham sampai merasa lemas dan tanpa sadar ia berlutut dan bersimpuh penuh syukur. Ia masih belum percaya atas apa yang ada di hadapannya. Itu baru satu kotak. Kotak yang paling jelek. Di ruangan itu ada ratusan kotak lain yang berjejer dan bertumpuk rapi.
"Teman-teman, lihat ini, lihat!"
Tessa, Della dan Jordi pun tiba. Mereka semua terpana. Tessa sampai menangis bahagia.
Bondan dan sang Putri sudah di muka lorong. Tapi sang Putri melihat ke lorong yang satunya lagi, tepat di hadapan lorong yang Don Lee dan Jordi masuki.
"Kita ke arah sana," tunjuk sang Putri.
"tapi tuan Putri, mereka masuk ke arah situ.
"Lorong ini mengarah ke pusat keraton. Tapi itu, lorong itu saya saja tidak tahu mengarah kemana, ayo!" tanpa kompromi lagi perempuan yang mengaku Putri raja itu menarik Bondan dan lagi-lagi Bondan merasa sial dan malu. Ia seperti ikan yang tak berdaya dalam gigitan kucing yang meloncat dengan gesit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️
suka deh foto2nya
2021-03-06
0
Navizaa
lanjut kak..
mampir juga ya
2021-02-15
1
Kodim Kribo
lanjutkan thor semangat
2021-02-14
1