Keputusan Bondan

Wiwik akhirnya putuskan untuk menemui Bondan. Entah apa yang ada dalam pikiran Wiwik sehingga membawanya ke rumah Bondan. Mungkin ia kira, Fani yang hilang ada di rumah Bondan.

Ternyata rumah Bondan yang juga sebuah museum itu kosong melompong tak berpenghuni. Wiwik kembali memutar otak, "kemana Bondan? kemana Fani?? ada apa ini???"

Seolah tak percaya, Wiwik terus saja celingukan ke balik kaca pintu depan museum itu. Tidak ada siapapun. Akhirnya Wiwik menyerah dan hendak berbalik untuk pergi. Tapi begitu ia berbalik dan hendak melangkah, seorang Don Lee mengagetkannya.

Wiwik tidak mendengar derap langkah Don Lee. Tiba-tiba Don Lee ada di belakangnya.

"Astaga! Maaf. Permisi," ucap Wiwik lantas bergegas pergi melewati Don Lee.

"Maaf? Ada perlu apa Saudari ke museum ini? Apa Saudari pacarnya Bondan??" sergah Don Lee dengan langkah mengejar. Wiwik pun berhenti, Bagaimana pun, sepertinya Don Lee adalah orang penting. Kemeja licin dan topi kodok, jelas menyatakan Don Lee bukan orang sembarangan.

"Mmm, saya hanya temannya, teman lama," jawab Wiwik apa adanya, "Permisi," ramah Wiwik sambil kembali berbalik dan melanjutkan kepergiannya.

Don Lee tampak Kesal dan sesekali menatap Wiwik yang mulai menjauh. Menatap tajam dengan penuh kecurigaan.

Dari kejauhan, Jerry muncul dan begitu mendapati Sosok Don Lee yang asing bagi dirinya. Jerry pun menghentikan langkah dan bersembunyi di balik tiang lampu jalanan. Ia jadi berpikir, "Apakah dia yang diceritakan Bondan tempo hari itu?"

Tampak di mata Jerry, kini pria gempal berwajah oriental itu mengikuti Wiwik secara diam-diam. Insting Jerry menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan pria itu. Jerry pun mengendap-endap mengikuti pria itu. Jerry jadi berpikir, "Pria itu mungkin akan menyakiti Perempuan itu."

Wiwik mulai menjalankan kendaraannya. Sebuah city car berwarna merah muda. Begitu pula dengan si Pria Oriental yang namanya hampir Jerry ingat lewat kartu nama yang di screenshot oleh Bondan itu.

Jerry menghentikan taksi dan mengikuti kedua orang asing itu.

***

Bondan bangun kesiangan di dalam tenda kecil. Bondan sudah sehari semalam di dalam hutan. Sekarang hari kedua, ia harus segera sarapan dan melanjutkan perjalanan. Ia pun membuka sepotong biskuit yang padat sekali. Bentuknya kotak seperti potongan kayu, sehingga untuk menggigitnya ia perlu tenaga ekstra. Biskuit khusus keadaan darurat atau perbekalan tentara itu pun selesai ia santap. Selesai menggulung tenda ia pun kembali beranjak pergi dengan petunjuk kompas. Bondan tampak sudah terbiasa melipat tenda, membaca kompas dan melihat peta.

Mendadak ia ingat saat pertama kali masuk hutan bersama Ayahnya. Waktu itu ia masih SMP.

"Jika kau berjalan di dalam hutan tanpa sesekali melihat kompas. Maka kau akan berjalan memutar," ucap ayahnya Bondan.

"Itu sama saja dengan kau berjalan dengan mata tertutup. langkahmu akan membentuk lingkaran. Meski kau pikir, kau berjalan lurus."

Bondan pernah membuktikan ucapan ayahnya itu. Ia buat garis lurus di atas padang rumput sepanjang 100m dan ia mulai berjalan dengan mata tertutup searah garis lurus itu.

Alhasil, sampai di ujung, ternyata benar, jalur langkahnya melenceng beberapa meter dari garis lurus itu.

***

Jerry kehilangan Don Lee gara-gara kemacetan di tikungan dan jalur bercabang.

"Maaf De, kita sepertinya salah arah," tukas supir taksi itu.

"Ya sudah! Menepi Bang, menepi," pinta Jerry.

Taksi pun menepi dan Jerry tampak seperti orang linglung di pinggir jalan raya yang ramai.

Tanpa sepengetahuan Jerry, Kini Don Lee memperhatikan Jerry dari balik kemudi mobilnya yang terparkir agak jauh di belakang.

"Sial, mereka ke arah mana yah? Mana ongkos taksi mahal banget lagi, tekor gua nih," keluh Jerry. Dari arah belakang, Don Lee melajukan kendaraannya dengan pelan dan begitu tepat di samping Jerry, jendela terbuka dan Don Lee menodongkan pistol ke pinggang Jerry.

"Hey! Diam. Jangan coba coba melawan, ayo masuk! Cepat!!!" tukas Don Lee. Sontak Jerry kaget dan tak berkutik. Ia tidak hendak mencoba melarikan diri. Ia tahu diri, berapa kecepatannya berlari dan berapa kecepatan peluru itu. Jerry pun angkat tangan. Don Lee bergeser dan menyuruh Jerry memegang kemudi.

"Ayo jalan." Jerry tak punya pilihan. Ia merasa, hari ini akan menjadi hari ter-sial sepanjang hidupnya.

"Apa wanita tadi pacarnya Bondan?" tanya Don Lee pada Jerry yang berkeringat dingin.

"Wanita mana?"

"Wanita tadi yang saya ikuti," lanjut Don Lee.

"Maaf, maaf wanita itu siapa? Bondan itu siapa?" Jerry malah berbalik tanya sambil menampilkan wajah blo'on.

"Lalu kenapa kamu mengikuti saya!" tanya Don Lee hampir berteriak sambil kembali menempelkan pistol di kepala Jerry.

"Saya hanya mengira, kalian dalam masalah dan? dan??"

"Dan apa!"

"Dan saya suka wanita itu, sayang banget kalo sampai dia kenapa-napa kan," jawab Jerry.

Jadi kamu juga hendak ke museum itu? Mau apa?" desak Don Lee.

"Saya? Saya hanya mau melihat-lihat."

"Masuk jalan sebelah kiri. Apa kamu intel?"

"Saya? Saya mahasiswa," jawab Jerry sambil belok ke sebelah kiri.

"Berarti kamu kenal Bondan pemilik museum itu!"

"Oke! Oke! Saya kenal dia. Cuma sebatas kenal aja, kami satu kampus, gak lebih."

"Berarti kamu kenal dia lebih jauh," tuduh Don Lee dengan suara menyakinkan. Jerry gelagapan dan tak bisa mengelak lagi.

"Sekarang menepi," titah Don Lee. Jerry tidak bisa menolak dan dilihatnya sekeliling suasana begitu sepi. Hanya deretan perumahan BTN yang kosong.

"Turun!"

"Saya mohon, jangan bunuh saya, saya sudah mengatakan yang sebenarnya?" ratap Jerry. Jerry hampir menangis. Keduanya sudah turun dan berdiri di samping mobil Don Lee itu.

"Kemana Bondan pergi?"

"Saya tidak tahu!" Mendengar jawaban yang menurut Don Lee adalah kebohongan, kembali Don Lee mengangkat pistolnya.

"Oke! Oke! Ia pergi mendaki. Sendirian. Saya lupa, ke gunung apa dia mendaki. Dia hanya menyebutkannya satu kali," kali ini Jerry berkata jujur.

Di belakang Jerry, tidak jauh di sebuah persimpangan jalan, seorang ibu-ibu yang mengendarai skutik menjerit begitu melihat Jerry yang tak berkutik dalam todongan pistol. Seketika ibu-ibu itu berbalik sambil berteriak minta tolong.

"Tolong-tolong! ada perampokan!"

"Mana handphone kamu? Sini cepat!" paksa Don Lee. Jerry pun menyerahkan handphonenya. Setelah itu Don Lee segera naik mobil dan melesat pergi. Jerry berhak bernapas lega. Bersyukur emak-emak itu melihatnya di saat yang tepat.

"Mana?! Dimana?" sambut tiga tukang ojek pangkalan menanggapi teriakan ibu-ibu itu.

"Di sana! di blok D. Ayo cepat!" Para tukang ojek itu pun segera bergegas dan ibu-ibu itu menghampiri kerumunan yang lain.

Jerry yang masih belum percaya atas kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu, kini hanya berdiri dengan lutut yang masih terasa lemas dan dada yang masih menyimpan was-was. Ia tak tahu kini keberadaannya dimana. Tiba-tiba ia didatangi 3 tukang ojek, lalu menyusul 4 bapak-bapak, satu orang satpam dan ibu ibu tadi.

"Kamu tidak kenapa-napa?"

"Dia lari ke arah mana?"

"Terima kasih Pak, jangan di kejar. Dia punya pistol. Saya memasang GPS di mobil itu. Biar nanti saya lapor polisi," bohong Jerry. Pasti orang-orang itu mengira itu mobilnya dan Don Lee membawa kabur mobil itu. Bukan berarti ia melindungi Don Lee. Tapi ia takut bapak-bapak ini ada yang kena tembak. Melihat wajah dan perangai Don Lee, Jerry yakin, Don Lee tipe orang yang tidak segan-segan menghabisi nyawa orang.

***

***

Jordy cs kini sudah sampai pos kedua. Seorang penjaga hutan mulai memberikan pengarahan kepada mereka.

"Ini sebenarnya adalah sebuah bukit, bukan gunung. Bukit ini populer karena seorang penjelajah menemukan sebuah batu. Menhir dan semacamnya. Usia batu-batu yang diduga kuat dibelah atau diukir manusia belasan ribu tahun lalu. Disini," ucap penjaga hutan itu sambil menunjuk sebuah titik pada selembar peta. Jordy dan yang lain pun turut memperhatikan peta itu.

"Kita sekarang disini, tujuan kalian ini dan hanya di sekitaran sini kalian boleh mendirikan tenda. Jangan naik lagi ke atas. Kami belum mendapat jalur yang nyaman buat dilalui. Kalian mengerti?"

"Iya. Kami mengerti Pak," jawab Jordy sambil manggut-manggut.

"Dan satu lagi ade-ade semua, ada yang bawa peluit? Atau tanda bahaya yang lain??" Jordy mengerti dan dia lupa itu.

"Maaf Pak, ketinggalan. Kami paham itu untuk memanggil bantuan atau petunjuk bilamana kami tersesat dan sebagainya."

"Nah maaf, kami tidak mau ambil resiko. Maksud saya, demi keselamatan kalian juga. Kami tidak mengijinkan siapa pun menaiki bukit ini tanpa perlengkapan keadaan bahaya."

"Waduh, gimana ini?" bisik Ilham pada Jordy.

"Tapi tenang, kami disini menyediakan, dengan harga yang murah tentu. Sebentar," ucap si bapak penjaga hutan itu. Ia pun memanggil temannya dan kembali dengan peluit, radio HT spesifikasi militer, mercon roket, power bank tenaga matahari dan sebagainya. Jordy dan teman-temannya segera merogoh saku dan membeli semua itu.

Jordy cs pun segera berlalu setelah mengemasi barang-barang tambahannya.

Setelah Jordy cs beranjak jauh, seorang teman penjaga hutan itu berkata,

"Dra! Bukankah sekarang sudah masuk musim hujan dan pendakian ditutup dulu?"

"Halah, tenang aja. Percaya sama gue. Dan yang penting, dagangan kita laku. Oh iya, besok sore kita periksa mereka. Takut kenapa-napa. Sepertinya mereka masih usia SMA."

Terpopuler

Comments

syafridawati

syafridawati

aku mampir like dan fav

2021-07-31

1

Titik pujiningdyah

Titik pujiningdyah

mampir di dua episode dulu kak😀

2021-04-02

2

Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope

Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope

Words of the day : Mulai dari diri sendiri sebelum orang lain berinisiatif, maka kau akan menuai lebih dahulu.

Salam sayang dan terima kasih dari 'The Prince & I' 🤗❤️🤗❤️🤗

2021-04-01

2

lihat semua
Episodes
1 Suatu Puncak Peradaban
2 Keputusan Bondan
3 Pendakian
4 Tenda Tenda
5 Longsor
6 Lorong
7 Putri
8 Burung Besi
9 Kontak Batin
10 Situs
11 Instalasi Cawan Suci
12 Dua Sisi
13 Gani
14 Satu Kekhawatiran
15 Ekskavasi
16 Bondan dan Putri Kesepian Abadi
17 Sayembara
18 Mereka Datang
19 Perang Dimulai
20 Perang Besar
21 Bukit Tertinggi
22 Kau Adalah Dia
23 Bangsa Hannom
24 Menos
25 Kejutan Untuk Jerry
26 Cerita Empoh
27 Jalan Sesat
28 Diu Adalah Pengecualian
29 Kunjungan Tak Terduga
30 Undangan
31 Satu Pesta, Satu Kemalangan
32 Eksistensi
33 Penemuan Gani
34 Niat Untuk Bersatu
35 Kita Tidak Sendiri
36 Konfrontasi
37 Cerita Itu
38 Persiapan Penyerangan
39 Sergap Penyergap
40 Mereka Semakin Dekat
41 Kabar & Bahaya
42 Sekilas Info
43 Mereka yang Butuh Penjelasan
44 Kembali ke Bukit Halimun
45 Negosiasi atau Konfrontasi
46 Tabir Masa Lalu
47 Kemana Mereka Pergi?
48 Taupan dan Fani
49 Kawah Candradimuka
50 Mimpi Taupan
51 Perang Dunia Ketiga, Dimulai
52 Kembali Ke Bukit Halimun
53 Yang Lain
54 Back to Habbit
55 Dias
56 Taupan dan Fani
57 Ajakan Gani
58 Lawan Sesungguhnya
59 Perang Dunia Ketiga Di Mulai
60 Akhir dari Sebuah Pencarian Kesempurnaan
61 Invasi
62 Bondan, Sendiri
63 Seorang Ksatria
64 Awal Mula
65 Awal Mula bagian 2
66 Awal Mula 3 & 4
67 Awal mula 5
68 Persekutuan Baru
69 Para Pejuang
70 Dul Karim tidak Tinggal Diam
71 Seperti Wabah
72 Jerat
73 Sebuah akhir yang akan menjadi awal bagi yang lain
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Suatu Puncak Peradaban
2
Keputusan Bondan
3
Pendakian
4
Tenda Tenda
5
Longsor
6
Lorong
7
Putri
8
Burung Besi
9
Kontak Batin
10
Situs
11
Instalasi Cawan Suci
12
Dua Sisi
13
Gani
14
Satu Kekhawatiran
15
Ekskavasi
16
Bondan dan Putri Kesepian Abadi
17
Sayembara
18
Mereka Datang
19
Perang Dimulai
20
Perang Besar
21
Bukit Tertinggi
22
Kau Adalah Dia
23
Bangsa Hannom
24
Menos
25
Kejutan Untuk Jerry
26
Cerita Empoh
27
Jalan Sesat
28
Diu Adalah Pengecualian
29
Kunjungan Tak Terduga
30
Undangan
31
Satu Pesta, Satu Kemalangan
32
Eksistensi
33
Penemuan Gani
34
Niat Untuk Bersatu
35
Kita Tidak Sendiri
36
Konfrontasi
37
Cerita Itu
38
Persiapan Penyerangan
39
Sergap Penyergap
40
Mereka Semakin Dekat
41
Kabar & Bahaya
42
Sekilas Info
43
Mereka yang Butuh Penjelasan
44
Kembali ke Bukit Halimun
45
Negosiasi atau Konfrontasi
46
Tabir Masa Lalu
47
Kemana Mereka Pergi?
48
Taupan dan Fani
49
Kawah Candradimuka
50
Mimpi Taupan
51
Perang Dunia Ketiga, Dimulai
52
Kembali Ke Bukit Halimun
53
Yang Lain
54
Back to Habbit
55
Dias
56
Taupan dan Fani
57
Ajakan Gani
58
Lawan Sesungguhnya
59
Perang Dunia Ketiga Di Mulai
60
Akhir dari Sebuah Pencarian Kesempurnaan
61
Invasi
62
Bondan, Sendiri
63
Seorang Ksatria
64
Awal Mula
65
Awal Mula bagian 2
66
Awal Mula 3 & 4
67
Awal mula 5
68
Persekutuan Baru
69
Para Pejuang
70
Dul Karim tidak Tinggal Diam
71
Seperti Wabah
72
Jerat
73
Sebuah akhir yang akan menjadi awal bagi yang lain

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!