"Ladies and gentlemen ... please welcome, the one and only ... Mr. Welly Liem," seru sang pembawa acara. Setengah berlari, aku memasuki panggung. Seketika sorot lampu mengikuti langkah, seiring dengan riuhnya tepuk tangan para hadirin.
Dengan percaya diri aku menghadap ke arah para audience. Sambil tersenyum dan mengangguk, aku mengangkat kedua tangan di depan microphone yang berada di tengah panggung. "Terima kasih... terima kasih.," ucapku. Selama beberapa saat hanya kata dan gestur itu yang kuperlihatkan. Baru sesaat setelah suara mereka mereda, aku mulai bicara.
"Hello there. Good evening. Perkenalkan, nama saya Welly Liem," ucapku, yang segera dibalas dengan tawa dari segenap hadirin. Tentu saja itu sebuah banyolan. Semua orang di sini tahu siapa aku. Seorang pengusaha sukses. Pemilik, pendiri Liem Corp, Macan Property Asia biasa para pelaku bisnis menjuluki ku.
Malam ini, adalah malam penyambutan ku sebagai Direktur Utama sekaligus CEO baru di Pradjaya Group. Berada di tengah lautan manusia, menjadi objek sorotan kamera, akan menjadi hal biasa mulai saat ini. Wajahku juga akan kerap menghiasi sampul beragam majalah bisnis dan gaya hidup. Semua orang akan melihatku sebagai sosok sempurna. Sukses. Bergelimang harta. Berpengaruh. tampan. Dan... Suami ideal untuk istriku.
Jika sebelumnya aku enggan mengekspos diri, kini semua harus kulakukan demi membalaskan dendam seseorang yang sangat berarti bagiku. Seseorang yang karenanya, aku menjadi diriku yang sekarang.
***
Aku.. Tiffany Liem, istri dari Pria hebat yang sedang memberikan sambutannya diatas panggung itu. Aku adalah Tiffany Liem.. Wanita tak jelas asal usulnya. Yatim piatu. Tak jelas latar pendidikannya. Dan mungkin.. Lahir dari batu. Setidaknya itu identitas yang diberikan suamiku padaku, entahlah apa tujuannya merubah seluruh identitas ku tapi tak mengoprasikan wajah ku sekalian.
Bagaimana aku tidak kesal karena itu.. Coba saja simak mulut-mulut racun di belakangku ini.
"Eh,, itu istri Pak Welly yang tidak jelas asal usulnya itu?."
"Iya.. sayang sekali ya.. Pria tampan, mapan dan terhormat seperti Pak Welly seleranya rendah, wajah sih bolehlah.. tapi status dan otak seperti nya stunting."
Ha-Ha Ha-Ha Ha-Ha Ha-Ha
Kalian dengar? ingin sekali aku berteriak di telinga mereka bahwa aku adalah Cindy Pradjaya. Anak sekaligus pewaris tunggal perusahan yang menggaji kalian bertahun-tahun disini hey!..
"Nena, aku mau ke toilet!" Bisik Tiffany pada Nena yang berdiri disampingnya.
"Silahkan Nona," Nena memberi jalan pada Nona nya dan mengikutinya dari belakang didampingi oleh Peter.
Welly memerintahkan Nena dan Peter untuk selalu mendampingi Tiffany selama acara berlangsung.
"Ingat! jangan izinkan siapapun mendekati dan berbicara pada istriku kecuali aku atau dia mengizinkannya jika itu seorang wanita. Jika pria.. jangan biarkan!!.. Meski hanya memandanginya."
Begitu tegas perintah Welly.
PLASTIKIN AJA ISTRINYA WELL!!
Peter dan Nena menunggu Tiffany di depan pintu toilet, sebelum Tiffany masuk.. Peter sudah memastikan bahwa tidak ada siapapun di dalam sana.
Tak berapa lama, seorang wanita dengan acuh melangkahkan kakinya menuju toilet. "Maaf Nona, anda belum di izinkan masuk."
"Kenapa?" tanya wanita muda bergaun putih dengan rambut ikal panjang yang dikenali oleh Peter.
"Nona Tiffany, istri Pak Dirut sedang berada di dalam, mohon tunggu sebentar Nona!" Tukas Peter.
"Aku memang ingin menemuinya, biarkan aku masuk!"
Nena mendekat pada wanita itu. "Maaf Nona,!Anda siapa, Saya akan menyampaikan pada Nona Tiffany, anda bisa bertemu dengannya hanya jika ia menginginkannya?!" Dengan ramah Nena berkkata.
"Katakan saja padanya Melissa ingin menemuinya, aku yakin dia mengenalku, benarkan Peter?" Ekor matanya melirik sinis pada Peter "Senang bertemu lagi denganmu..!" Peter hanya diam, menatap datar pada Melissa.
Nena pun masuk untuk memberitahukan pada Tiffany bahwa di depan ada seorang wanita bernama Melissa ingin menemuinya.
"Suruh dia masuk Nena." Tiffany berkata sambil berdiri menghadap cermin wastafel, menebali lipstik di bibirnya.
Melisa pun masuk, tanpa berkata apapun Iya hanya memandang pantulan wajah Tiffany dari cermin. memandang Sendu penuh Rindu dengan air mata yang hanya bisa menggenang pada sudut matanya.
Tiffany yang saat itu masih memunggungi Melisa pun segera berbalik padanya, dengan cepat memeluk Melisa.
"Aku tahu, Kau berbeda dari yang lain. Aku tahu Kau benar-benar menyayangiku. " tangis Tiffany pecah.
Melissa pun membalas pelukan Tiffany dengan erat, "Kau benar-benar mempercayaiku? Aku pikir Kau akan membenciku karena tidak mencegah semua ini terjadi."
"Jadi kau sudah tahu sejak awal Melissa, jadi... apa yang selama ini Welly sampaikan padaku itu benar. Bibi Rin berniat jahat padaku?" tangis Tiffany semakin pilu, hatinya teramat sakit karena kenyataan bahwa Bibi yang ia cintai selama ini, yang dia anggap sebagai ibunya sendiri ternyata ingin membunuhnya.
"Kenapa bibi begitu tega padaku Melissa, apa salahku padanya padahal aku begitu menyayanginya seperti Ibuku sendiri." Melissa mengeratkan pelukannya pada Tiffany, mereka menangis bersama.
Ya Tuhan bibi, Apa yang Bibi pikirkan... Mengapa setega itu ingin Membunuhku.. Padahal seandainya Bibi meminta sahamku secara terang-terangan pun aku akan dengan senang hati memberikannya. Aku tak butuh itu.. Aku hanya butuh Bibi tulus menyayangiku.
"Jadi kau sudah menikah dengannya?"
Tiffany mengangguk dalam pelukan Melissa.
"Apa dia memperlakukan mu dengan baik?"
Tiffany sekali lagi mengangguk, "Sangat. Bahkan apapun yang kuminta selalu dia berikan"
"Lalu mengapa kau harus berganti nama, sedangkan dengan wajah mu kami masih bisa mengenalimu?" Melissa merasa takut Mamanya masih akan melukai Tiffany saat mengenalinya.
Tiffany menggelengkan kepalanya yang menelungkup pada pundak Melissa pelan. "Soal itu aku tidak mengerti, semua ini rencana Welly. Aku hanya menuruti apapun yang dia suruh."
"Sssst! sudah sayang, sudah jangan menangis lagi." Mengelus punggung Tiffany, "Sekarang sepertinya kau berada di di samping orang yang tepat. Tadinya aku mengira orang yang sekarang mengambil alih perusahaan adalah orang jahat, tapi sekarang setelah aku tahu kau baik-baik saja dan dia adalah suamimu. Dengan sedikit Clue itu, aku yakin dia orang baik."
Tiffany mengangguk setuju, dan mendongakkan wajahnya menatap Melissa. "Aku merindukanmu Meli!"
Melissa menangkup wajah Tiffany, "sangat, aku juga sangat merindukan mu Nyonya Liem!"
Ha-Ha
Merekapun tertawa bersama mendengar panggilan Nona Liem Melissa pada Tiffany.
***
Kenapa jalannya kesini, kita mau kemana Peter?" Tiffany menyadari itu bukan jalan untuk menuju rumah kediaman keluarga Liem.
Welly memerintahkan Peter untuk pulang terlebih dulu karena masih ada yang harus dikerjakan Welly di ruang kerjanya malam ini.
"Kita menuju apartemen Nona." Jawab Peter.
"Sudah selesai? Lalu barang ku?."
"Barang Nona sudah di tata Pak Ojan dan istrinya disana, semuanya sudah beres."
Tiffany pun tersenyum, ada sentilan bahagia dalam benaknya. Pasalnya ia juga sedikit takut tinggal di rumah keluarga Liem yang menurutnya seperti monumen itu. Tiffany sudah membayangkan sebuah apartemen seperti pada gambar yang ia pilih dalam brosur, desain klasik Eropa seperti rumah dalam dongeng-dongeng princess tapi di dalam apartemen.
Bersambung.
Jangan lupa like, komen, follow authornya... biar tambah rajin update yah...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments