Jakarta.
Akhirnya Tiffany menapakkan lagi kakinya di Jakarta, walaupun bukan merupakan kota kelahirannya karena Tiffany lahir di China, Mama Tiffany memutuskan untuk melahirkan Tiffany di China negara asalnya, saat itu kakek dan nenek tiffany masih hidup.
Bersama Nena dan Coco, Tiffany di sambut oleh Peter. Welly berangkat tiga hari lebih cepat dari Tiffany di karenakan urusan pekerjaan.
"Selamat datang Nona, silahkan masuk" Sambil membuka pintu mobil Welly mempersilahkan Nona nya untuk masuk. Nena masuk melalui pintu sebrang Tiffany, sedangkan Coco Duduk di samping kursi kemudi.
"Peter,, dimana suamiku?" pertanyaan yang sudah ingin Tiffany tanyakan saat pertama melihat Peter yang menyambutnya sendiri.
"Tuan sedang mengadakan pertemuan dengan direksi Pradjaya Group Nona."
"Apa aku boleh menghubunginya melalui Chat atau telephone?"
"Tentu saja Nona, kapan pun anda boleh menghubungi Tuan, itu pesan Tuan.. tapi jika belum di balas atau di angkat, berarti Tuan sedang benar-benar belum bisa menjawabnya.
Semenjak menikah, Tiffany memang belum pernah sekalipun menghubungi atau mencari Welly, tapi entah kenapa Tiffany mulai merasa gelisah jika lebih dari setengah hari tidak mengetahui keberadaan suaminya secara langsung.
Sekitar satu jam perjalanan, Peter melajukan mobil dengan kecepatan sedikit lebih rendah karena Tiffany sedang tertidur dan begitu terlihat kelelahan. Bukan karena perjalanan.. tapi Tiffany kelelahan tertawa di sebabkan ulah Coco dan Nena yang selalu beda pendapat bertingkah konyol sepanjang perjalanan.
"Nona, bangunlah..!'
"Nona!!"
Nena, menepuk lembut bahu Tiffany.
"Haa? Eungh!" Begitu sadar Tiffany menggeliat mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot.
"Kita sampai ?" pandangannya mengarah ke luar kaca mobil. "Peter, ini rumah siapa? bukankah aku memilih apartemen?"
"Ini adalah rumah mendiang orang tua Tuan Welly Nona, kita akan tinggal disini untuk beberapa waktu sampai Apartemen selesai disiapkan."
"Bukannya apartemen itu siap huni?"
"Iya Nona, Tapi Tuan membeli tiga unit apartemen dan menjadikannya satu, jadi kita harus menunggu."
"Oh, baiklah"
***
Minggu lalu,
"Pilihlah, mau tinggal di apartemen atau rumah. Kita akan segera pindah ke Jakarta."
Sebelum tidur Tiffany mendekati Welly di balik meja kerjanya, Welly terlihat sangat fokus dengan helaian kertes-kertas di hadapannya, membolak balik dan membubuhkan beberapa paraf pada setiap lembarnya.
Sudah beberapa menit setelah ia mendudukkan diri di hadapan Welly dengan berbatas meja yang penuh tumpukan kertas. Welly tetap saja fokus pada kertas dan tidak memperdulikan Tiffany.
"Tuan Wellyyy!" panggil Tiffany dengan suara lembut manjanya.
"Hmmm?" tetap sibuk dengan kertas dan penanya, Welly menyahut tanpa memandang Tiffany yang duduk di hadapannya sambil membawa sebuah brosur.
"Tuuuuaaan!"
"Kenapa panggil begitu? apa kau pelayanku?Ucap Welly datar dengan masih tetap fokus pada kertasnya tanpa memandang Tiffany.
Tiffany mengerucutkan bibirnya sebal, "Bukankah tidak sopan berbicara tanpa melihat orangnya begitu?" Cicitnya, dua lengan Tiffany menggelosor pada meja kerja Welly tangannya mengetuk-ngetukkan ujung brosur yang di berdirikannya sambil menempelkan dagunya di meja.
"Panggil yang benar!" Jawab Welly, tetap masih fokus pada ujung penanya.
Tiffany yang kesal karena di acuhkan tiba-tiba berdiri, dengan cepat berpindah dari hadapan Welly menjadi ke pangkuannya, mengalungkan kedua tangannya di leher Welly dengan masih memegang brosur yang sekarang ada di belakang leher Welly.
Sebenarnya Tiffany segan melakukan itu, tapi karena Welly yang tidak pernah menolak sentuhan maupun tingkah manja Tiffany, membuatnya merasa aman bergelayut padanya.
Welly yang kaget, sontak memundurkan kepalanya hingga tersandar pada kursi kerjanya.
"Apa memangnya panggilan yang benar? Hah?" Tiffany berbicara sangat dekat, tatapan mereka saling beradu.. bahkan bisa saling merasakan nafas satu sama lain tersapu pada wajah mereka.
Welly mematung, kedua tangannya masih berpegangan pada tangan kursi.
"Hah? jawab aku!!"
Tiffany lebih mendekatkan wajahnya lagi.
"Apa Panggilan yang benar??" Tanya Tiffany dengan ekspresi menyelidik.
"Tuan?"
Cup!
Tiffany mencium bibir Welly.
"Suamiku?"
Cup!
"Sayangku?"
Cup!
"Cintaku?"
Cup!
"Atau apa, hah? ... Coba katakan?" Tiffany memandang lekat mata Welly yang terhalang kaca mata.
Welly melepas kaca matanya dan menggigit satu ujung tangkai kacamata itu,, Lalu terdiam sejenak, membalas pandangan Tiffany beberapa saat dengan gaya cool nya, membuat Tiffany semakin terpesona.
Tiffany yang belum pernah jatuh cinta sebelumnya juga belum sadar, arti semua tingkahnya pada Welly, ia hanya tau,, dirinya akan berusaha membuat Weli tergila-gila padanya.
"Apa kau tahu, apa yang sedang kau lakukan Nyonya Liem?"
Tiffany mengangguk.
"Tahu konsekwensinya?"
Tiffany mengangguk lagi.
"Okay.."
Welly meletakkan kaca matanya di meja.
Welly merengkuh leher belakang Tiffany, mencium Tiffany lembut, dalam, penuh kasih sayang..membuat Tiffany merasa sangat dicintai.
Tangan kirinya melingkar pada punggung Tiffany, memeluknya dengan erat. Gerakan dan gestur Welly sudah mengisyaratkan menginginkan hal yang lebih intim. Tiffany sadar jika ini tidak benar. Ini belum boleh terjadi saat hatinya belum begitu yakin pada suaminya.
Seperti menolak, Tiffany menjauhkan tangan Welly.
Seketika Welly menghentikan aktifitasnya, mendongakkan pandangan sejajar dengan wajah Tiffany.
"Why?" Tanya Welly dengan nada berbisik, menempelkan bibirnya pada leher jenjang Tiffany, suaranya parau wajahnya memerah.
"Ku beri yang lebih dari ini.. Setelah kita pindah ke sini.." Tiffany menunjuk brosur apartemen yang dari tadi terus di genggamnya.
Welly mendengus kesal. seketika meringkuk lemas menyandarkan diri kasar, pada kursi kerjanya dengan Tiffany yang masih dalam pangkuannya.
"Ckckck"
Tiffany malah terkikik menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya tanpa menghiraukan ekspresi Welly yang terlihat kesal..
Kemudian memeluk Welly erat,, seperti sedang menikmati aroma maskulin pada pelukannya. "Maafkan aku! Bersabarlah ... Kumohon!!" lirih Tiffany berucap, bermaksud agar Welly tidak mendengarnya.
Tiffany pun sebenarnya tidak ingin berlaku seperti itu pada Welly, karena bagaimanapun ia istrinya. namun ia hanya akan bisa ikhlas menerima Welly sebagai suami yang sebenarnya setelah semua perlakuan Welly meyakinkan hatinya jika Welly adalah orang baik.
Welly mulai membalas pelukan Tiffany, mengusap punggungnya lembut penuh kasih sayang dan mencium pucuk rambut Tiffany. Ekor matanya melirik pada brosur yang menjadi syarat Tiffany. Welly meraihnya.
Welly mengamati gambar dan keterangan pada brosur tersebut, ruapanya Tiffany telah memilih apartemen dengan desain klasik modern. "Mmmm, okay.." gumam Welly dengan mengangguk menyetujui permintaan Tiffany.
Aku tidak akan memaksamu, sampai kau benar-benar mau menyerahkannya sendiri padaku! Tapi tolong jangan lama-lama.. aku bisa gila gadis nakal..
"Lain kali jika Kau lakukan ini lagi. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan lebih,, walau harus mengasari mu.. paham?" ucap Welly penuh penekanan.
Hiiiiiiiiiih!!!
Tiffany menggigit dada Welly dan melompat dengan cepat dari pangkuannya.
"Arghhhhhh!!" Welly meringis kesakitan mengusap usap dada kanannya.
"Coba saja kalau bisa, ckck!!" Tiffany terkikik, berlari menjauhi Welly"
"Hei mau kemana kau!! pakai bra mu jika keluar kamar!!" teriak Welly memperingati.
***
“Silahkan masuk Nona,” Peter mempersilahkan Tiffany yang di ikuti Nena dan Coco untuk masuk ke rumah mendiang orang tua Welly.
Tapi Coco menerobos mendahului Tiffany. Berjalan dengan tergesa seperti mengapit sesuatu. “Iam so sorry Prinsyes, aku sudah tidak tahan lagi.” Coco mau buang air kecil.
Tiffany memperhatikan Coco yang langsung menuju kamar kecil di lantai satu pada rumah mewah yan kental dengan nuansa etnik China itu seperti sudah sangat hafal pada tata letaknya.
“Nena..”
“Ya Nona?" Nena mendekat pada Tiffany untuk menjajarinya.
"Apa kau juga sudah hafal dengan tata letak rumah ini?”
“Iya Nona, saat Tuan berkunjung kemari, Tuan selalu membawaku dan ibu ikut serta, untuk mengurus segala keperluan dan makanan Tuan. Sebab,, penjaga rumah ini hanya seorang laki-laki.
"Oh.. baguslah Nena, karna jujur rumah ini sedikit menyeramkan bagiku dan juga sangat luas.. aku takut tersesat Nena."
Nena menahan tawa melihat ekspresi Tiffany yang ketakutan, entah kenapa itu terlihat menggemaskan bagi Nena..
”Jangan ditahan kalau kalau mau ketawa Nena,, aku tidak akan memarahimu. Jangan bersikap seperti orang asing bagiku. Aku sudah cukup merasa asing dengan diriku sendiri sekarang ini.“
”Tenanglah Nona.. Nena akan selalu jaga Prinsyesnya Coco ini.“
”Hmm.. bukankah itu kekasihmu?“ olok Tiffany pada Nena yang selalu saja tak pernah akur dengan Coco."
"Apa disini tidak ada pelayan satu pun Nena?"
"Ada Nona, pagi dan malam mereka beraktifitas. saat jam-jam seperti ini mereka hanya berada di rumah belakang. Tidak di ijinkan untuk memasuki rumah utama, kecuali atas perintah."
"Apa itu peraturan dari Tuan mu ?"
Tiffany merasa peraturan itu terlalu kaku.
"Bukan Nona, itu peraturan dari mendiang Ayah Tuan. Semua yang ada pada rumah ini tidak ada yang berubah, termasuk semua aturannya."
Terdengar suara langkah Peter dari arah belakang. Saat mereka asik mengobrol walaupun masih dengan berdiri di bagian foye rumah.
”Baiklah Nona, saya akan kembali bekerja jika tidak ada lagi yang Nona perlukan. Selebihnya Nona akan di temani Nena untuk berkeliling“
Sela Peter diantara percakapan Tiffany dan nena.
"Lalu Coco?” tanya Tiffany pada Peter yang tidak menyebutkan nama Coco.
"Coco sebentar lagi akan kembali ke kantornya, mungkin sekarang asistennya sedang menuju kemari."
“Oh, baiklah!"
Peter pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Liem.
"Mari saya antar ke kamar Tuan! Nanti Coco juga menyusul sendiri, dia selalu lama jika berada di dalam kamar mandi"
Tiffany mengangguk
Nena dan Tiffany menaiki lift untuk naik ke lantai dua karena membawa koper. Tiffany tak terkejut dengan kekayaan maupun gaya hidup kaum jet set. Heeiiii,, ingat reader! Dia pewaris tunggal Pradjaya Group. Perusahaan infrastruktur yang cukup di perhitungkan di tanah air.
Sampai di depan pintu kamar, Nena tampak menekan kode sandy.
"Silahkan masuk Nona!"
Tiffany segera memasuki kamar tersebut, kamar dengan konsep minimalis yang kental dengan nuansa maskulin. Di dominasi dengan warna hitam dan abu-abu. Cukup luas.. tapi masih lebih luas kamarnya yang berada di Kastil Heaven Island.
Di samping pintu masuk kamar, terlihat sofa santai yang nyaman. Tiffany pun mendudukkan tubuhnya disana sambil memperhatikan Nena yang sedang berlalu lalang merapikan barang-barang bawaan Tiffany. Tak banyak,, ia hanya membawa satu koper besar, seperti kebiasaannya bepergian yang tak pernah membawa banyak barang, dan membeli baru setibanya di tempat destinasi.
”Nena.. jadi ini kamar Suamiku semasa kecilnya?“
”Tidak Nona, Tuan tetap lebih banyak menghabiskan masa kecilnya di Heaven Island. Tapi saat berada di Jakarta, disini lah kamar Tuan."
“Ouwh, begitu." Tiffany merebahkan tubuhnya di sofa.
“Bisakah kau ceritakan padaku Nena, bagaimana masa kecil suamiku? Apa dia sangat bahagia?"
"Hmm, saya tidak tahu Nona apa Tuan bahagia atau tidak.”
“Bahasamu jangan terlalu formal padaku Nena.. aku risih mendengarnya, aku mau kau menjadi temanku disini.” protes Tiffany.
“Tapi saya kan hanya asisten pribadi Nona,, nanti saya kena tegur Tuan Peter jika berbicara tidak sopan pada anda!”
“Turuti saja mauku, atau aku akan mengadukanmu pada Tuan Welly. Hayoo! Pilih mana?”
“Wah wah ampun Nona, Jangan! Saya, Tuan welly belum bicara saja sudah salah tingkah, takut melakukan kesalahan." Tangan Nena sambil terus melipat baju Tiffany, sesekali berjalan ke walk in closet, sesekali ke arah meja rias.
"Memangnya ada apa dengan suamiku? Apa dia begitu jahat padamu?”
"Tidak! Tidak! Bukan begitu Nona, tapi justru karena dia terlalu baik, kami di gaji dua kali lipat dari standart gaji pelayan di tempat lain. Apa lagi gaji setelah jadi Aspri Nina.. hihi..
Selain itu tuan juga selalu menganggap kami semua adalah keluarganya.. itulah yang menyebabkan kami ingin mendedikasikan yang terbaik pada Tuan."
'Apa aku berdosa padanya karena selalu berprasangka buruk. Mana mungkin orang jahat berprilaku seperti itu?'
Batin Tiffany setelah mendengar cerita Nena.
"Hmm, ayo lagi!! ceritakan semua tentangnya Nenaaaa!" Rengek Tiffany manja.
Tiffany mulai sangat penasaran tentang masa lalu suaminya.
Nena yang sudah selesai merapikan barang-barang Tiffany pun mendudukkan dirinya di sofa.
"Sini biar ku pijit kaki Nona!" Ucap Nena sambil meraih kaki Tiffany yang sedang berselonjor ke pangkuannya."
"Eh.. eh. Tidak usah Nena!" Tiffany tak enak hati, menarik kakinya dari pangkuan Nena.
"Tidak apa-apa Nona, kaki Nona pasti pegal lama memakai sepatu bertumit tinggi." Menggeser kembali kaki Tiffany dalam pangkuannya.
“Baiklah jika kau memaksa, permisi ya Nena,, maaf sudah merepotkanmu."
Nena tersenyum melihat perlakuan Tiffany padanya.
Mereka benar-benar cocok, jodoh memang selalu begitu, orang baik dapat pasangan yang baik juga.. Sukurlah Tuan menikah dengan Nona Tiffany, bukan Seheilla kejam itu.
Batin Nena.
"Ayoo Nena, aku menunggumu. Bagaimana dulu masa kecil suamiku, kenapa orang tuanya meninggal dan lainnya?"
Sambil memijit kaki Tiffany, Nena mulai bercerita.
"Jadi begini Nona, dulu Papa dari Tuan Welly adalah orang asli China, beliau masih keturunan bangsawan kayak kerajaan-kerajaan gitu, entah lah aku kurang mengerti, nah.. pada waktu beliau mengembangkan bisnisnya di Indonesia, bertemulah dengan Mama dari Tuan Muda Liem"
"Bukankah Mamanya penduduk asli Heaven Island Nena? Hmm, Dulu Heaven Islan seperti apa ya.. sekarang saja disana sepi.. apa lagi dulu?"
"Itulah Nona, dulu disana ada perkampungan orang suku dalam, Nyonya besar adalah anak dari kepala suku tersebut, jadi, mendapat fasilitas untuk mengenyam pendidikan di luar pulau. Mama Tuan memilih Jakarta. Setelah lulus kuliah, Nyonya besar mendapat pekerjaan di Liem Corp Jakarta. Disitulah mereka bertemu, Kepandaian dan kecantikan Nyonya menarik perhatian Tuan besar."
To be continue..
**Trimakasih sudah membaca..
jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like dan komen. Ikuti juga supaya mendapatkan notifikasi saat bab baru ter update ya**
i Love u
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments