Tiffany turun dari mobil dengan muka sembab. Matanya bengkak karena menangis sepanjang perjalanan. Bukan menangisi kejahatan Bibinya.. Namun ia merasa berdosa pada adik Welly. Tiffany tidak merasa bersalah pada Welly karena dalam pikirannya, pernikahan yang sekarang ia jalani merupakan ajang balas dendam Welly padanya dan keluarga Pramudjaya atas kematian adik kandung dan adik ipar Welly.
"Beristirahatlah!" Ucap Welly setelah membantu Tiffany berbaring di atas ranjang. "Apa kau sakit?" imbuhnya.
"Tidak, hanya sedikit pusing saja." Tiffany menjawab dengan nada lemah, wajahnya memang terlihat pucat.
Welly yang masih memakai setelan jasnya lengkap, dengan sigap mencari obat pada first aid box nya. "Minum dulu!" menyuapkan obat dan air minum secara bergantian pada bibir Tiffany yang setengah berbaring, menyandar pada sandaran ranjang.
"Lagi.. yang banyak minumnya!"
Tiffany menggelengkan kepala "Cukup, aku mual."
"Baiklah," Welly menyimpan air minum Tiffany pada nakas.
Melihat Welly yang masih duduk di sampingnya dengan sesekali melirik ke arah jam tangan. Tiffany bertanya.
"Kenapa tidak ganti baju? apa masih mau pergi?"
"iya, ada satu urusan yang harus diaelesaikan, tapi aku tak akan lama ... Are you okay?"
"Iya, aku tidak apa-apa, cepat pergilah nanti keburu malam."
Seperginya Welly, Tiffany tak berhenti memikirkan apa yang baru saja ia dengar. penasaran apa yang sebenarnya terjadi, namun ia masih enggan bertanya langsung pada suaminya itu. Kemudian ia berinisiatif untuk menanyakannya pada Bu Anah.
"Halo Nena, apa Bu Anah sedang bersaamu?."
"Tidak Nona, tapi jika anda mau aku akan mencarinya."
"Ya, tolong katakan padanya agar menemuiku di kamar. trimakasih Nena."
Tiffany menghubungi Nena melalui smartphone untuk meminta bantuan memanggil Bu Anah.
Tak berapa lama kemudian Bu Anah datng ke kamar Tiffany, tanpa basa basi Tiffany langsung mengajak Bu Anah duduk di sofa dalam kamar untuk berbicara.
"Bu Anah!" Tiffany memegang kedua tangan Bu Anah dalam pangkuannya. "Bu, katakan yang sejujurnya padaku, tolong bantu aku memahami keadaan ini, aku sungguh bingung." Tiffany berkata dengan tempo cepat dan memelas.
"Pelan-pelan Nona, apa yang Nona maksud, apa yang Bu Anah bisa bantu jelaskan ? katakanlah!"
"Apa benar, adik dari Welly baru saja meninggal? Apa benar itu semua karena aku?" Tiffany mulai berkaca kaca.
Bu Anah memeluk Tiffany dengan mengelus punggungnya, "Iya Nona, Adik Tuan Welly dan suaminya memang baru saja meninggal, beberapa saat sebelum Nona di bawa kemari. Tapi bukan berarti itu semua karena anda Nona, itu semua musibah dan umur manusia sudah ada yang mengaturnya."
Tiffany semakin tersedu diselimuti rasa bersalah yang mendalam.
"Tapi Bu Anah, bukankah aku sekarang sedang menjadi tawanannya karena hal ini? karena aku adalah penyebab kematian adiknya ?" Air mata Tiffany terus mengalir meluapkan sesuatu yang terasa penuh dihatinya.
"Ssst! Bu Anah menimang, mengeratkan pelukannya dengan semakin mengelus punggung Tiffany.
"Bukan begitu Nona, Tuan tidak seburuk itu.. ia hanya ingin kejadian yang menimpa adiknya tidak terjadi pada Nona."
"Memang apa pedulinya padaku Bu Anah? sebelum ini kami bahkan tidak saling mengenal, pasti dia merencanakan sesuatu." Tiffany berbicara sambil terus menangis."
"Mmmhhhuh," Bu Anah menghembuskan nafas kasar dan berkata, "Harus bagaimana lagi Bu Anah meyakinkan pada Nona? baiklah,, biar waktu saja yang akan menjelaskan semuanya. Yang jelas di hari itu, Mendiang Nona Jean menelfon Bu Anah sebelum berangkat kemari. Dia bilang ingin memberi kejutan pada kakaknya.. Tuan Welly, karna hari itu dia baru tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak pertama mereka setelah tiga tahun menantikannya."
"Ya Tuhan Bu Anah, Ya Tuhan ...." Tangis Tiffany semakin menjadi mendengar penjelasan Bu Anah.
"Nona tolong tenanglah !!"
Melihat reaksi Tiffany, Bu Anah tidak tega untuk melanjutkan ceritanya.
"Huft!"
"Huft!"
Tiffany menarik nafas dalam. Kemudian membuangnya, bermaksud menenangkan diri. Tapi tetap saja air matanya terus menetes tanpa diminta. Bu Anah hanya mengusap usap punggungnya, berharap bisa sedikit menenangkan batin Tiffany yang sedang begitu terpukul.
Cukup lama hingga air mata Tiffany terhenti, kini ia mulai terlelap kelelahan di samping Bu Anah yang dengan sabar mengusap punggungnya.
***
Sekitar pukul satu dini hari, Welly sampai di kastil dan langsung menuju kamarnya.
Lelah.. itu saja yang ada dalam benaknya, hari ini banyak sekali yang harus ia kerjakan. Termasuk berperang dengan penguasa Pradjaya Group baru. Demi merebut kembali perusahaan tersebut.
Tapi kemudian Welly sangat terkejut saat memasuki kamar, tiba-tiba dirinya melihat selimut kasur yang berwarna putih bersimbah darah.
"TIFFANY!" Teriak Welly sambil berlari.
Panik, cemas, takut ... bercampur dalam benak Welly. Diangkatnya kepala Tiffany dalam pelukannya.
"Tiffany! bangun, kumohon bangun lah!!" menepuk-nepuk pipi Tiffany juga menggoyang-goyangkan badannya.
Welly memanggil semua pelayan melalui sambungan intercom, namun tak ada yang berani memasuki kamarnya kecuali Bu Anah dan Nena.
"Bu Anah, apa yang terjadi pada istriku, cepat panggil dokter. cepat!! cepatlah!"
"Sudah Tuan, saya sudah memanggil Dokter Frank. sekarang dia sedang dalam perjalanan." Begitulah Nena, dia selalu cekatan dalam segala hal.
Welly membuka selimut Tiffany dan mencari dari mana sumber darah itu mengalir, namun tak ia menemukan ada yang terluka pada tubuh Tiffany.
"Bangunlah bangunlah sayang. kumohon bangunlah!" Ucap Welly sambil terus berusaha membangunkan Tiffany, menepuk nepuk pipinya. Namun Tiffany tak kunjung bangun.
Welly merogoh smartphone pada saku celananya dan menelfon Dokter Frank.
panggilannya terjawab setelah tiga kali nada sambung.
"Frank cepatlah, atau rumah sakitmu akan ku bakar besok!" suara Welly terdengar sangat panik.
"Dasar Orang gila, tenanglah jangan panik, aku sudah dekat."
Usia Dokter Frank sedikit lebih tua dari Welly, namun gaya bicara mereka berdua memang seperti itu karena terlalu akrab. bagaimana tidak, Dokter Frank adalah pemilik satu-satunya rumah sakit yang berada di pulau itu. Ya.. walaupun rumah sakitnya lebih mirip dengan klinik. Ketimbang rumah sakit pada umumnya di kota.
"Minggirlah! biar kuperiksa dia."
"Jangan sembarangan menyentuh!" Welly menampik tangan Dokter Frank yang akan menyentuh kelopak mata Tiffany."
"Hey bocah, bagaimana aku memeriksa keadaannya jika tak boleh menyentuhnya hah?" Dokter Frank membulatkan matanya.
Welly tak menjawab, hanya memandang posesif ke arah Tiffany yang sedang di periksa.
Dokter Frank terawa kecil.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Welly dengan emosi.
"Hahaha, dasar bocah." Dokter Frank masih saja tertawa.
"Cepat suruh pelayanmu membersihkan sisa darah-darah ini lalu memakaikan pembalut padanya! dia hanya sedang datang bulan."
Untuk yang terakhir, Dokter Frank menahan tawanya karena ia tau jika dirinya sekali lagi tertawa, Welly akan berkata bahwa besok ia akan mengusirnya dari pulau miliknya itu. Meski Dokter itu tau, Welly tak pernah serius dengan ucapannya.
"Lalu kenapa matanya tak kunjung terbuka saat aku berusaha dengan keras untuk membangunkannya?"
"Itu karena kau kurang sakti!" Ucap Dokter Frank bercanda.
"Sial!" pekik Welly
"Tidak, Sepertinya ia hanya sedang dalam pengaruh obat tidur saja dan tidak berbahaya, beberapa jam lagi juga akan sadar.
Sebelum memanggil Bu Anah ke kamarnya Tiffany memang meminum obat tidur karena dia tau pasti otaknya tidak akan membiarkannya tidur nyenyak malam ini.
"Baiklah, aku pamit dulu. Kau tenanglah Welly dia akan baik-baik saja. itulah akibatnya jika menikah tidak mengundang sahabat yang lebih tua." Ucap Dokter Frank dengan meninju pelan bahu Welly.
"Hei, jaga bicaramu! Aku mengundang mu. Kau yang tidak bisa hadir saat itu."
"Haha, relaks kawan! Kebaoa semua hal kau buat tegang. Baik-baik lah adik iparku masih sangat muda, jangan sampai kau lebih bertambah tua lagi."
"Wah, keterlaluan. Bagaimana jika besok rumah sakitmu ku ganti menjadi panti jompo agar kau selalu ingat umur?"
"Wow seram, ampun boss!!" jawab Dokter Frank pada ejekan Welly, sambil menyatukan telapak tangan, memohon.
To be continue...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments