Seusai acara Tiffany yang ditemani Nena terlebih dulu kembali ke kamarnya karena sudah terlalu lelah.
"Mari Nona saya bantu membersihkan riasan di wajah Nona!"
"Tidak usah Nena, aku sudah sangat lelah, bisa tolong ambilkan baju ganti saja?"
"Baiklah, dengan senang hati Nona," Nena mengambilkan baju tidur Tiffany dan membereskan bekas pakaian yang baru saja dipakai Tiffany.
Tak berapa lama Welly pun masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya sudah teritdur pulas masih lengkap dengan riasan wajahnya. Tentu saja Tiffany terlihat begitu cantik. Welly berjalan menuju meja rias untuk mengambil makeup remover dan beberapa lembar kapas kemudian mendudukkan dirinya pada ujung tempat tidur di sebelah Tiffany.
Untuk beberapa saat Welly menatap lekat pada raut wajah Tiffany yang terlihat begitu polos, Welly pun terkekeh saat melihat bibir Tiffany mengerucut karena tertindih pipinya saat dalam posisi miring.
Puas memandangi wajah Tiffany dengan perlahan Welly mulai mengoleskan makeup remover pada wajah Tiffany, kemudian mengusap nya lembut dengan kapas.
***
Pagi harinya, saat baru terbangun dari tidurnya yang pertama Tiffany lihat adalah Bu Anah.
"Selamat pagi Nona? Bagaimana tidur anda semalam?" sambil membawa nampan berisikan sarapan Tiffany.
"Pagi Bu Anah, Hoooaaamz!, aku tidur nyenyak sekali semalam hingga tak tau lagi apa yang terjadi."
Bu Anah terkekeh mendengar Tiffany.
"Kenapa repot-repot membawa sarapan ku ke kamar Bu Anah?"
Bu Anah tersenyum, "TIdak apa-apa Nona, anda pasti masih sangat lelah karena acara semalam."
"Iya, rasanya aku masih ingin tidur lagi Bu Anah"
"Baiklah Nona silahkan anda melanjutkan istirahat, tapi setelah menghabiskan sarapan ini."
Tiffany duduk dengan mata yang masih terpejam dan malas, "hmm,, baiklah Bu Anah"
Di atas kasur Tiffany mulai menyuapkan sarapan yang telah disiapkan Bu anah tanpa mencuci muka terlebih dulu.
Satu suapan. Dua suapan. Tiga suapan. Tiba-tiba Tiffany membulatkan matanya. "Ya Tuhaaan," teriak Tiffany.
"Ada apa Nona??" Bu Anah yang saat itu sedang membersihkan meja kerja Welly, terkejut mendengar teriakan Tiffany.
"Gawat, ini gawat Bu Anah." Tiffany yang begitu panik membuat Bu Anah ikut merasa takut.
"Aku lupa jika aku sudah mempunyai suami Bu Anah."
"Ya Tuhan Nona, Bu Anah kira ada apa," Bu Anah memukul pelan bahu Tiffany.
"Lalu, apa Bu Anah tau dimana suamiku sekarang?"
Bu Anah kembali merapikan tiap sudut kamar sambil menjawab semua pertanyaan Tiffany, "Ini sudah siang Nona, tentu saja suami anda sudah berangkat ke kantor, jarak dari Kastil ini ke kantor tuan kan cukup jauh, jadi setiap hari ia berangkat pagi-pagi sekali."
Tiffany dengan cermat mendengarkan perkataan Bu Anah.
"Lalu jam berapa biasanya dia pulang Bu Anah?"
"Tidak tentu Nona, terkadang sore hari Tuan sudah berada di rumah, tapi jika ada relasi yang datang dari luar pulau biasanya bisa sampai larut malam."
"Oh, jadi begitu." Tiffany mengangguk anggukkan kepalanya mengerti akan perkataan Bu Anah.
***
Dalam perjalanan, Peter sesekali melirik ke arah Welly yang duduk di kursi belakang, Welly nampak sedikit kelelahan, wajahnya terlihat tidak segar.
"Apa anda sedang sakit Tuan ?"
"Tidak Peter, mungkin hanya kurang tidur saja."
"Uhuk,, uhuk!!" Peter tersedak nafasnya sendiri.
"Suara batukmu seperti sedang mengejek ku Peter!"
"Tidak Tuan, mana saya berani,, saya hanya teringat jika sejak kemarin saya belum memberi anda ucapan selamat atas pernikahan anda Tuan." Peter mengalihkan pembicaraan untuk menyamarkan alasan batuknya karena pengantin baru yang sedang kurang tidur.
Sampai di kantor Veny sudah menyambut Welly dengan runtutan jadwal kerja hari ini.
"Jadi itu schedule kerja bapak hari ini, apa ada yang perlu ditambahkan pak?"
"Tidak perlu, kembalilah bekerja Veny, dan tolong panggil Peter kemari!" ucap Welly dari balik meja kerjanya.
"Baik Pak, saya permisi"
Veny keluar dari ruangan Welly mencari Peter dan menemukannya di pantri.
"Eeem, maaf Pak. Pak Welly memanggil anda ke ruangannya." Veny berbicara pada Peter sambil menundukkan kepala.
"Oh, Trimakasih!" Seperti biasa, dingin dan datar, ekspresi Peter selalu seperti itu pada siapa pun hingga sulit menebak apa isi dalam kepalanya, membuat tangan Veny gemetar.
'Huft! Kenapa aku selalu tidak bisa mengontrol diriku saat di hadapan robot ghon ini setakut itukah aku padanya?'
***
"Permisi Pak anda memanggil saya?" Sapa Peter setelah mengetuk pintu dua kali. Saat di luar kantor Peter memanggil Welly Tuan, namun di area kantor Peter memanggilnya Bapak.
"Ya, Peter tolong ambil pesanan ponsel baru untuk Tiffany dan antarkan padanya, katakan juga jika selama aku tidak berada di sampingnya ponsel itu tidak boleh jauh darinya."
"Baik Pak, tapi maaf sebelumnya, ada kabar dari kantor pusat." Peter membuka layar tablet nya dan memberikannya pada Welly. "Kabarnya Pradjaya Group sudah mulai me-merger sebagian besar anak perusahaannya."
"Berapa saham yang kita miliki sekarang?"
"Laporan terakhir mencapai 33,49% Pak."
"Laporkan terus perkembangannya beli semua saham yang tersisa di pasaran."
"Baik Pak."
Kantor pusat yang dimaksud Peter adalah Liem Corporation yang terletak di Singapura, Namun Welly yang sangat mencintai tempat tinggal nya saat ini memilih untuk tinggal dan berkantor dari Heaven Island sambil mengawasi langsung Cottage warisan dari ibunya, konon Cottage tersebut sangat berharga bagi Welly karena merupakan hadiah pernikahan Ayah Welly untuk mendiang ibunya.
***
Tiffany merasa sangat bosan, hampir setengah hari ia hanya berdiam diri di kamar tanpa gadget tanpa sosial media juga tanpa serial serial drama kesukaannya, ada kompiuter di meja kerja Welly sebenarnya tapi Tiffany tidak berani lancang untuk membukanya.
Sesekali ia membaca buku yang ada pada rak buku di belakang meja kerja Welly, ingin memanggil Nena untuk menemaninya pun segan sebab dengan rumah bergaya kastil sebesar itu pasti banyak sekali tugas dari para pekerja disana pikir Tiffany.
"Permisi Nona," sambil mengetuk pintu kamar Peter memanggil Tiffany dari luar.
Tiffany keluar kamar, menutup pintu kamarnya lagi dan memulai pembicaraan nya dengan Peter.
"Ya?" Jawab Tiffany singkat.
"Saya diutus Tuan membawakan ini untuk Nona," Peter menyodorkan sebuah shopping bag ukuran medium sambil menjelaskan. "Di dalamnya ada sebuah ponsel lengkap dengan sim card dan nomor ponsel Tuan pada kontaknya. Ada juga kontak saya, Nena serta Coco."
Akhirnya, yang ditunggu datang juga, yess!, aku bisa menonton kelanjutan serial drama kesukaanku.
Tiffany dengan cekatan meraih shopping bag dari tangan Peter, "Tunggu Nona!," Peter menahannya.
"Tuan berpesan bahwa ponsel ini harus selalu aktif dan berada di dekat Nona selama Tuan tidak ada disamping Nona, selain itu aplikasi pada ponsel ini juga tidak boleh ditambah tanpa persetujuan Tuan."
Tiffany hanya terdiam mendengar instruksi dari Peter dan beberapa kali mengangguk mengerti, masa bodoh lah dengan semua peraturan itu pikirnya, tak sabar dengan serial drama kesayangannya, Tiffany bergegas masuk ke kamar setelah menerima hadiah pertama dari suaminya.
Hadiah yang mulai membatasi semua gerak hidupnya. Untung saja Tiffany adalah anak yang tidak begitu suka bergaul, dia tidak memiliki teman, sehari harinya hanya dihabiskan untuk belajar, juga asyik dengan dunia yang ia ciptakan sendiri dalam kamarnya, cuma Melissa orang yang selama ini sering ia ajak bertukar pikiran dan bercanda.
Belum juga Tiffany mengeluarkan ponsel itu dari tempatnya tapi sudah berbunyi.
"My Hubby"
Nama yang tertera di layar smartphone Tiffany.
Jiaah, apa yang ada di pikiran orang ini, hingga namanya pada kontakku pun harus dia yang mengaturnya.
"Halo?''
"Halooo?" Tiffany berteriak.
Welly yang kaget sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya sambil menyatukan alisnya heran.
"Ini aku" Tutur Welly.
"Ya, aku tau My Hubby! " dengan sedikit menyindir.
"Baguslah, rupanya kau sudah mulai hafal dengan suaraku" Welly berkata dengan memicingkan alisnya.
WHAT ? PERCAYA DIRI SEKALI BAPAK DINOSAURUS INI.
''Ingat, jangan bantah pesanku yang sudah disampaikan Peter padamu!''
''Kalau aku tidak mau melakukannya, memang apa yang akan terjadi?''
"Coba saja lakukan''
''Baiklah akan kucoba.''
''Tiff ....”
Belum selesai Welly bicara, Tiffany sudah menutup panggilannya.
"Dia pikir akan mudah mengaturku sesuai keinginanya, lihat ini,, langkah pertamaku untuk membntahmu adalah..." satu tangan Tiffany memegang ponsel sedangkan tangan yang lainnya bertolak pinggang. Tiffany mengganti nama kontak yang semuala My Hubby dengan Dinosaurus
"Itu lebih pantas untukmu" tertawa puas.
To be Continue ...
Trimakasih sudah membaca, mohon dukung author dengan Like ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments