Besok Kita Menikah

"Huff, dia berat juga." Welly merenggangkan otot tangannya yang terasa kaku setelah menggendong Cindy.

Tiba-tiba

"Wo wo wooo, ups!" kaki Welly terjerat kain gaun Cindy yang menjuntai saat akan mundur dan jatuh menindih Cindy hingga hampir menciumnya tapi Welly segera menahan tubuhnya dengan kedua lengan, cepat-cepat berdiri. Wajahnya memerah, ia segera menjauh dari tempat tidur.

"BHAM!" masuk ke kamar mandi.

"Uhuk uhuk," Cindy terbatuk pelan. Dia hanya pura-pura tertidur karena merasa takut dan gugup mendengar ucapan Welly.

Jadi aku diculik? dan besok dia akan menikahiku, tapi kenapa? lalu kemana Melissa dan Vivi, mengapa mereka tidak menolongku?

Dikamar mandi Welly membasuh mukanya berulang kali.

"Bodoh bodoh bodohnya aku, kenapa harus terjatuh? Sial! apa yang akan dia pikirkan jika tadi terbangun, pasti ia mengira aku sedang memanfaatkan keadaan." Welly memukul mukul wastafel, berjalan ke kanan ke kiri, melompat lompat kecil bahkan mengangkat barbel karena rasa malunya.

***

Lalu sekarang apa yang harus ku lakukan, mesum sekali dia membawaku ke kamarnya? Ah, bagaimana aku keluar dari sini?

Eh eh, dia keluar dari kamar mandi, bagaimana ini, bagaimana jika dia berbuat macam-macam padaku?

Cindy tak bergerak dari tempat tidur, dia hanya sesekali membuka sedikt matanya, melirik keberadaan Welly.

"Nena tolong kemarilah!" Welly memanggil Nena melalui saluran intercom. Sambil menunggu Nena datang Welly membuka laptop untuk memeriksa dokumen pekerjaan. Posisi Welly kini berada di sofa seberang tempat tidur.

Terdengar bunyi ketukan pintu.

"Masuklah Nena, pintu tidak dikunci."

"Permisi, Tuan memanggil saya?"

"Ah ya." Welly menghentikan aktifitasnya. "Apa tugasmu dan Coco sudah beres?"

"Sudah Tuan, sesuai permintaan Tuan."

"Bagus, sekarang tolong gantikan pakaiannya," menunjuk ke arah tempat tidur dengan matanya. "Pakaikan saja kemejaku agar kau tidak naik turun mengambil baju. Aku akan menunggu di luar."

"Baik Tuan."

***

Paginya, Welly kembali ke kamarnya dan mendapati Cindy belum terbangun. Semalam Welly tidur di kamar Cindy sambil memeriksa perlengkapan Cindy yang telah disiapkan Coco.

Rutinitas Welly di pagi hari adalah memeriksa jadwal pekerjaan yang dikirim oleh Veny sekertarisnya melalui chat dan membaca beberapa dokumen proyek yang harus ia pelajari.

Welly adalah seorang pria yang gila kerja, baginya selama seseorang masih membutuhkan makan itu artinya dia harus bekerja.

Kegigihan, keuletan dan kecerdasannya membuatnya mendapat julukan mafia properti di kalangan pebisnis se-Asia tenggara siapa yang tak kenal nama Welly Liem, bahkan baru mendengar namanya saja bisa membuat lawan bisnisnya hilang nyali meski kebanyakan mereka belum pernah melihat seperti apa sosoknya.

"Halo Veny,"

"Tolong cancel semua jadwal hari ini dan baca pesanku!"

Welly menghubungi Veny melalui ponselnya. Sibuk dengan urusan pekerjaan yang tak ada habisnya membuat Welly terkadang merasa dunianya hambar apalagi setelah kematian adik kandungnya, membuat dirinya semakin sebatangkara.

Sejenak Welly memejamkam mata sambil memijit pangkal alisnya, saat membuka mata dia melihat wajah Cindy yang baru beralih posisi menghadap ke arah sofa tempat dimana Welly duduk.

Dipandanginya wajah cantik Cindy, Welly memperhatikan setiap inci garis wajahnya begitu polos.

Mulai hari ini, akan selalu ada dia pada setiap hari-hariku. Takkan kubiarkan siapapun menyakitimu.

Welly merasakan Hp-nya bergetar, Peter mengirim pesan singkat.

Peter : [Tuan berkas sudah siap, saya menitipkannya pada Nena. Karena takut mengganggu.]

Welly : [Baik, terimakasih.]

***

Coco baru sampai di Kastil Welly, karena melewati pintu belakang, jadi yang pertama ia lalui adalah dapur umum.

"Hellooo every body! auw manjah."

"Baaik Tuuaan," serentak beberapa pelayan yang sedang sibuk dengan tugasnya masing masing menjawab salam Coco dengan menahan tawa mereka.

"Itu, siapa eem-" Berpikir.

"Nena, ada dimana Nena?

"Kenapa kau suka sekali mengganggu pekerjaku Coco?" Ibu Anah yang datang dari arah belakang memarahinya.

"Hap," Coco merapatkan mulutnya. "Coco tidak sedang mengganggu kok Bu Anah! Coco, Coco e-em.. Coco hanya sedang mencari sepatu kaca Coco yang hilang Ibu.." Memutarkan badannya bak seorang princess yang sedang mengibaskan gaun lebar.

"Apa ibu tau ada dimana?" Coco meledek dengan menirukan suara dan cara bicara tokoh Cinderella.

Bu Anah melotot dan menggelengkan kepala "Ada dikamar Tuan Welly, ambilah jika kau berani!" Bu Anah menjawab Coco sambil berlalu.

"Wow, semakin seru!" Ucap Coco, yang ini menirukan gaya bicara tokoh kartun Dora.

Coco dan Bu Anah memang selalu begitu jika bertemu, sifat Bu Anah yang tak suka keributan dan Coco yang menganggap Bu Anah tegang juga seram membuat keduanya tak pernah akur.

Bu Anah adalah wanita berusia 65 tahun yang bertugas sebagai kepala pelayan, sejak Welly dalam kandungan Bu Anah sudah bekerja mengurus keperluan seluruh isi kastil.

Hubungan Welly dengan Bu Anah sangat baik bahkan Welly menganggap Bu Anah seperti ibu sendiri sebagai ganti Ibunya yang telah tiada, begitu juga sebaliknya.

Bu Anah adalah seorang janda beranak satu. Nena, yang sekarang menjadi pelayan pribadi Cindy adalah anak dari Bu Anah. Pengabdian Ibu dan anak itu pada keluarga Welly sudah tidak perlu diragukan lagi.

***

Cindy terbangun dan membuka matanya mendengar suara mangkuk yang berbenturan dengan kayu. Rupanya Bu Anah sedang meletakkan semangkuk sup jagung untuk Cindy diatas nakas.

"Maaf jika aku membangunkanmu, tapi ini sudah siang Nona. Perutmu harus segera di isi."

"Euungh!" Cindy melenguh meregangkan ototnya kemudian beranjak duduk.

"Tidak apa-apa, aku sudah tidak mengantuk. Trimakasih membawakanku sarapan emm.." Cindy bingung harus memanggil apa, dia juga belum tau wanita paruh baya ini siapa.

Bu Anah pun mengerti kebingungan Cindy. "Panggil saja Bu anah!" Tuturnya.

"Oh, hehe trimakasih untuk supnya Bu Anah."

"Jangan sungkan Nona! Baiklah, saya permisi." Bu Anah sedikit membungkuk berpamitan saat akan pergi..

"Tunggu!"

"Ada yang lain Nona?"

"Bisakah Ibu disini saja menemaniku sarapan? Cindy meminta Bu Anah tinggal dengan muka memelas."Kumohon Bu!" mengatupkan kedua telapak tangannya.

Bu Anah tersenyum melihat tingkah manja Cindy. "Baiklah Nona kita makan di sofa sebelah sana ya!" Bu Anah membawa mangkuk sup Cindy ke meja depan sofa.

Cindy mengikuti Bu anah dengan senang hati. Menyantap sup nya dengan lahap. "Apa ini Ibu yang membuatnya?"

"Tentu saja Nona, apakah tidak enak?"

"Hmm, ini enak sekali bu. Dulu ibu Cindy juga sering membuatkan ini." Cindy berbicara dengan mulut penuh makanan.

"Kenapa hanya dulu Nona?"

"Karena tahun lalu Ibuku meninggal Bu Anah."

"Maaf Nona, Maafkan saya lancang bertanya."

"Tidak apa, aku sudah tidak sedih karna aku yakin Ibu selalu mengawasiku dari surga."

Bu Anah tersenyum melihat Cindy makan dengan lahapnya, ia menyukai Cindy yang selalu tersenyum juga ramah pada siapapun.

Sepertinya aku mulai paham apa yang membuat Tuan memilih gadis ini, maafkan Bu anah sempat berfikir buruk padamu nak!' Batin Bu Anah.

"Bu Anah, Bolehkan aku bertanya sesuatu?"

"Apa itu?"

"Apa Tuan Welly adalah orang yang jahat?"

"Mengapa Nona bertanya seperti itu?"

"Ya, Jika dia orang baik mengapa dia menjadikanku tawanannya disini? aku juga tidak tau dimana kedua sepupuku sekarang berada, aku punya rumah Bu. Bibi ku pasti mencariku tapi Tuan Dinosaurus itu malah menahanku disini." Cindy berbicara sambil terus mengunyah dan menatap Sup nya.

Bu Anah terkekeh dengan sebutan Dinosaurus pada Welly, "Hahaha, Kenapa namanya jadi Tuan Dinosaurus?" Tanya Bu Anah sambil terus tertawa.

"Ya karena mukanya mirip Dinosaurus Bu Anah."

"Hahaha" Bu Anah semakin keras tertawa

"Lalu, Apakah Nona sekarang membencinya?"

"Eem, sejauh ini sepertinya tidak, tapi aku sedikit takut, sedikiiit hanya sedikit saja dan kesal padanya." Mengupitkan jari.

"Bersabarlah Nona!" Tukas Bu Anah.

***

"Ini bacalah dengan teliti!"

Welly menyodorkan sebuah map coklat besar kepada Cindy.

Tanpa berkata apapun Cindy menerima map itu lalu menbacanya. "Tiffany? siapa itu?"

"Mulai sekarang namamu adalah Tiffany, ini semua adalah dokumen jati dirimu yang baru. Kau harus menghafalkan semua data ini!"

"Mengapa kau harus lakukan ini Tuan Dinosaurus? Apa salahku padamu? Apaa? Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya," Cindy berteriak

Welly hanya diam membiarkannya meluapkan emosi.

'Dia memanggilku Dinosaurus?'

"Ha? Jawab aku apa salahku padamu hingga kau jadikan aku orang asing untuk diriku sendiri. Jangan diam!" Cindy memukul Welly sekenanya. "Jawab jangan diam, jawab!!"

"Aku tidak akan menjawab sebelum kau tenang."

Cindy menarik nafas panjang beberapa kali hingga air mata dan emosinya mereda. "Bicaralah, aku sudah sedikit tenang." Mencoba mengontrol emosi, Cindy sadar bahwa tidak akan ada masalah yang selesai jika dengan emosi.

"Bagi bibimu dan semua orang di luar sana, Cindy Pramudjaya sudah mati." Sontak Cindy terkejut dan menatap angkuh mata Welly.

"Apa kau yang membuat cerita seperti itu?"Tanya Cindy dengan air mata yang mengalir lebih deras lagi.

"Ya, aku yang membuatnya."

Cindy semik terisak pilu,"kenapa?"

"Karena Bibimu ingin menyingkirkanmu, bibimu dan orang suruhannya merencanakan pembunuhan di pulau ini, aku hanya akan membuatnya merasa menang untuk sementara waktu."

"Apa buktinya? Aku tidak percaya padamu Tuan kejam, selama ini Bibiku selalu menyanyangiku."

"Bersabarlah dan jika kau ingin semua peninggalan Ayahmu yang merupakan hasil dari perjuangannya selama ini kembali padamu, maka turuti perkataanku!" Seru Welly pada Cindy.

"Dari mana aku tau kau dapat dipercaya?"

"Terserah padamu, tapi bagaimanapun kau menolak, ini semua akan tetap kulakukan."

Ekspresi Welly begitu datar dan dingin. Lain halnya dengan Cindy yang penuh emosi.

"Aku benar-benar tidak mengerti padamu hiks hiks," Cindy terus menangis antara tidak percaya tapi intuisinya mengatakan bahwa yang dikatakan Welly benar, hati dan otaknya seperti sedang tidak berjalan sepaham.

"Kita tidak punya banyak waktu, di luar beberapa saksi dan wali sudah menunggu. Kita akan menikah hari ini juga."

Cindy semakin membulatkan mata mendengar yang disampaikan Welly. "Mengapa harus menikahiku jika hanya ingin menolong? Tolong ya tolong saja, apa kau meminta imbalan atas pertolonganmu, begitu?" Ucap Cindy memancing untuk mengetahui motif Welly sebenarnya.

"Terserah apa anggapanmu tapi aku tidak akan bisa menolongmu tanpa statusmu sebagai Nyonya Liem. Usai acara pernikahan kita, nanti aku akan membawamu untuk melihat sedikit bukti kejahatan bibimu, sekarang bersiaplah!" Welly meninggalkan Cindy sendiri di kamar miliknya.

"Hiks hiks Ayah, Ibu ... apa yang harus kulakukan, mana yang harus kupercaya? Aku takut sangat takut. Rasanya seperti berendam dalam lumpur hisap, jika bergerak aku akan semakin cepat tenggelam dan jika diam aku akan terjebak disitu.. Dalam lumpur itu selamanya.

Sudah pasti keduanya akan menyebabkan penderitaan. Jika Aku tidak mengikuti perkataan Welly bisa saja yang welly katakan benar dan semua yang telah dibangun Ayah selama ini musnah begitu juga diriku, tapi jika Welly berbohong, jika welly berbohong, jika berbohong?

"Harta? benarkah harta tujuannya? sepertinya dia lebih kaya dari Ayah, lalu apa? dendam? hmm.. Iya benar.. bisa jadi Welly memiliki dendam pada salah satu keluarga ku.

Baiklah, aku tidak akan pernah tau apa motif Welly mau menolongku jika tidak masuk dalam permainannya, lihatlah akan ku buat kau jatuh cinta padaku sejatuh jatuhnya hingga tak bisa hidup tanpaku. tunggu pembalasanku Welly Liem."

***

Cindy mencoba tenang, membaca dokumen identitas barunya dengan seksama. Tidak ada yang aneh disana hanya saja statusnya berubah dari seorang anak pemilik perusahaan besar menjadi anak yang dibesarkan di panti asuhan.

Satu jam kemudian.

"Hi Prinsyesku, kenapa kau bersedih ini hari bahagiamu sayang. Seharusnya kau bahagia mendapat suami yang tampan, kaya dan..."

"Seorang Dinosaurus" Cindy melanjutkan perkataan Coco dengan kembali meneteskan air mata.

Coco menutup mulut dengan tangannya tak ingin tertawa dihadapan orang yang bersedih.

"Baiklah baiklah, sekarang Ibu dinosaurus mau menjadikan calon pengantin dinosaurus terlihat tidak seperti dinosaurus, ok?” Ucap Coco.

Cindy merasa ingin tertawa mendengar perkataan Coco.

"Eh, ada istri dinosaurus mau ketawa tapi gengsi" Coco membulatkan mata seolah terkejut. "Ah, ntah lah hidup ini, kemarilah prinsyes! Permaisuri Coco akan mengompres wajahmu terlebih dulu agar tidak seperti habis di tamfol ke kanan dan ke kiri oleh bapak hansip, auw." Coco berbicara dengan di lagukan.

Cindy semakin terkekeh mendengarnya, Nena yang sejak tadi sibuk menyiapkan gaun Cindy pun hanya menggelengkan kepala.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Nyai iia

Nyai iia

aku mampir nih, yuk saling dukung..
like buat kamu thor..

jangan lupa feed back nya ya..
"i will die in love"

2021-03-24

1

HIATUS

HIATUS

Like 💞 like 💞 like 💞

2021-03-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!