Bayan pun sigap membantu Anna masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat mengantar Anna, Bayan masih sempat mencari Nathan.
"Dimana Nathan?" tanya Bayan.
"Di kamar Pak," sahut Yumi setelah meletakkan tas di kursi belakang.
"Kamu temani Ibu sebentar, Saya liat Nathan dulu. Saya mau tau dia masih demam atau ga. Kalo masih demam, biar sekalian Saya bawa ke Rumah Sakit," kata Bayan sambil melangkah menuju kamar sang anak.
Yumi mengangguk lalu berdiri tepat di samping Anna.
Bayan tiba di depan kamar Nathan. Ia mengetuk pintu sebelum membukanya. Ia juga memanggil nama sang anak beberapa kali namun sayang tak ada jawaban. Nampaknya Nathan memang sudah terbang ke alam mimpi.
Saat membuka pintu Bayan melihat sang anak tertidur pulas di atas tempat tidur. Perlahan Bayan mendekati Nathan lalu menyentuh dahi sang anak. Ia tersenyum saat mendapati suhu tubuh Nathan normal karena itu artinya dia baik-baik saja.
Kemudian Bayan mengedarkan pandangan dan melihat kearah tempat tidur Arti di sudut kamar. Bayan melihat Arti terbaring ditutupi selimut. Ia menduga pengasuh Nathan itu tertidur pulas karena terlalu lelah hingga tak mendengar suara ketukan di pintu tadi. Selain itu lampu duduk di dekat tempat tidur sang pengasuh tampak padam.
Setelah memastikan Nathan baik-baik saja, Bayan pun keluar dari kamar lalu bergegas menuju ke halaman rumah dimana Anna sedang menunggunya.
Saat tiba di sana Bayan dibuat terkejut karena saat itu Anna tengah menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di sampingnya Yumi terlihat panik dan terus bertanya pada Anna.
"Ada apa ini, Ibu kenapa Yum ?!" tanya Bayan sambil mempercepat langkahnya.
"Ga tau Pak. Ibu bilang ngeliat monster di lubang ventilasi itu. Tapi Saya kok ga ngeliat apa-apa di sana. Saya Kirain Ibu lagi mimpi, makanya Saya ga gubris tadi. Tapi pas duduk di sini, lagi-lagi Ibu nunjuk ke ventilasi itu. Saya jadi ikut takut Pak, apalagi Ibu juga nangis sampe badannya gemetar kaya gini," sahut Yumi ketakutan.
Bayan pun mengusap kepala Anna sambil memanggil namanya, hal yang sudah lama tak ia lakukan tapi terpaksa ia lakukan karena ingin memastikan sesuatu.
"Anna !, Kamu denger Aku kan. Anna !" panggil Bayan.
Anna nampak mengangguk namun tetap menutupi wajahnya. Meski hanya mengangguk tapi Bayan merasa lega. Setelahnya Bayan bertanya pada Yumi.
"Sejak kapan Ibu kaya gini ?" tanya Bayan.
"Sejak sepuluh menit yang lalu Pak," sahut Yumi lalu mulai menceritakan apa yang dilihat Anna tadi.
Bayan terkejut. Ia teringat dengan ucapan Nathan tentang badut aneh saat pesta ulang tahunnya sebulan yang lalu. Bayan khawatir jika apa yang dilihat Anna berkaitan dengan sesuatu yang dilihatnya juga di peternakan tempo hari. Bayan mencoba menyangkal namun sisi hatinya yang lain seolah membenarkan apa yang telah dilihatnya itu sama persis dengan yang dilihat Anna.
Lamunan Bayan buyar saat Anna menjerit kesakitan. Rupanya Anna kembali mengalami kontraksi.
"Sebaiknya Kamu bawa Nathan ke sini Yumi. Kita pergi ke Rumah Sakit sekarang !" kata Bayan tiba-tiba hingga membuat Yumi bingung.
"Tapi Nathan udah tidur Pak. Apa ga sebaiknya Nathan di rumah aja. Kasian dia karena pasti ga merasa nyaman di Rumah Sakit nanti. Bapak ga usah khawatir, kan ada Arti yang nemenin. Kalo boleh, Saya aja yang ikut ke Rumah Sakit buat nemenin Ibu di perjalanan," kata Yumi hati-hati.
"Kamu ga ngerti apa yang Saya rasain sekarang Yumi. Tolong jangan membantah, bawa Nathan ikut serta. Saya ga nyaman ninggalin Nathan di rumah !" kata Bayan gusar.
Karena takut, Yumi pun mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk menjemput Nathan.
Anna yang mendengar perintah Bayan pun memilih diam karena yakin suaminya punya pertimbangan sendiri kenapa mengajak Nathan ikut bersama mereka.
Tak lama kemudian Yumi kembali sambil menggendong Nathan. Ia pun meletakkan tubuh Nathan di kursi belakang dengan hati-hati. Di belakang Yumi terlihat Arti yang mengikuti dengan wajah bingung.
"Sekarang Kamu masuk Yum !" perintah Bayan dari balik kemudi.
"Saya Pak ?" tanya Yumi ragu.
"Iya Kamu !" sahut Bayan cepat.
"Kalo Saya sama Arti ikut Bapak nganter Ibu ke Rumah Sakit, terus yang jaga rumah siapa Pak ?" tanya Yumi.
"Kamu ikut ke Rumah Sakit, biar Arti aja yang di rumah. Arti, tolong Kamu tunggu di rumah ya. Jangan lupa kunci pintu dan jendela. Sekarang masuk Yum !" kata Bayan sedikit lantang.
Ucapan Bayan membuat Yumi dan Arti saling menatap sejenak dengan bingung. Namun keduanya tersentak kaget saat mendengar suara bentakan Bayan yang meminta Yumi bergerak lebih cepat.
Dengan rasa tak enak hati, Yumi pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Arti yang berdiri kebingungan.
Sesaat kemudian Bayan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah. Arti mencoba maklum dengan keputusan sang majikan. Arti menduga jika Bayan sedang panik sehingga salah membuat keputusan.
"Mungkin saking paniknya Bapak sampe lupa siapa sesungguhnya pengasuh Nathan. Ntar kalo Nathan nangis, baru deh Pak Bayan ngeh," gumam Arti sambil mengunci pintu.
Sementara itu Bayan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Konsentrasinya sedikit buyar karena mendengar rintihan Anna. Apalagi saat itu Anna merintih sambil terus menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Saat mobil berhenti di trafic light yang menyala merah, Bayan berkesempatan mengingatkan sang istri.
"Sayang denger Aku. Apa pun yang Kamu liat tadi, itu cuma ilusi, cuma kucing atau tikus yang kebetulan lewat. Ga ada apa pun di sana. Jadi tolong berhenti nyebut itu berulang-ulang. Aku ga tenang bawa mobil kalo Kamu kaya gini terus. Fokus aja ke depan ya. Mengerti kan Sayang?!" kata Bayan.
Anna pun mengangguk lalu menurunkan kedua tangannya. Saat itu peluh nampak membasahi wajahnya. Bayan pun merasa iba melihatnya. Ia mengecup kening Anna dengan cepat untuk sekedar memberi suport karena detik berikutnya ia harus kembali melajukan mobilnya.
Tak lama kemudian mobil pun tiba di pekarangan klinik bersalin tempat Anna memeriksakan kehamilannya selama ini. Dua orang perawat menyambut kedatangan mereka lalu dengan sigap membantu Anna duduk di atas kursi roda. Setelahnya Anna dibawa masuk ke dalam ruangan. Kegaduhan saat proses pemindahan Anna ke kursi roda membuat Nathan terbangun. Beruntung Yumi bisa membujuk Nathan hingga bocah itu berhenti menangis.
"Sekarang Nathan sama Bi Yumi dulu ya. Ayah mau liat Bunda sama Adik sebentar," kata Bayan setelah mereka tiba di ruang tunggu.
"Iya Yah," sahut Nathan sambil mengangguk cepat.
"Anak pinter. Tolong jaga Nathan ya Yum. Kalo Nathan minta sesuatu Kamu beliin aja. Tapi ingat, jangan makanan atau minuman yang ga sehat ya," pesan Bayan sambil menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah kepada Yumi.
"Baik Pak," sahut Yumi.
Setelahnya Bayan mencium kepala Nathan lalu bergegas pergi ke ruang bersalin karena waktu persalinan hampir tiba.
Nathan nampak mematung menatap kepergian sang ayah. Bocah tiga tahun itu terlihat bingung karena terbangun di tempat asing saat larut malam.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments