Kehadiran Arti membuat Anna merasa sangat terbantu. Apalagi Nathan juga menyukai pengasuh barunya itu. Bahkan Nathan akan menangis jika tak menjumpai Arti di mana pun. Hal yang berbeda yang membuat Anna sedikit iri.
"Ini salah satu resiko kalo Kita menggunakan jasa pengasuh Sayang. Kan sebelumnya Kamu tau itu," kata Bayan saat melihat Anna bersedih karena Nathan lebih memilih bersama Arti dibandingkan dirinya.
"Tapi kan ga kaya gini juga Yah. Aku merasa diabaikan oleh Anakku sendiri. Dan itu rasanya menyakitkan tau. Arti baru beberapa hari di rumah Kita, tapi Nathan udah ga mau sama Aku. Apalagi kalo Arti tinggal di sini sampe mereka besar, bisa-bisa Anak-anakku menganggap Arti itu Ibunya dan lupa sama Aku" sahut Anna hampir menangis.
Ucapan Anna membuat Bayan hampir tertawa. Namun melihat kondisi sang istri yang terlihat rapuh dan sensitif di moment menjelang persalinan, Bayan pun iba. Dengan sigap Bayan memeluk istrinya dan berusaha menghiburnya.
"Ga gitu kok Bund. Darah itu lebih kental dari air, Anak-anak ga mungkin berpaling dari orangtua kandungnya. Kita sayangi mereka dengan tulus, didik mereka dengan baik dan doakan mereka supaya jadi anak sholeh, insya Allah mereka akan jadi Anak-anak yang baik dan dekat dengan Kita secara batin mau pun fisik. Jadi Kamu ga usah terlalu khawatir ya," kata Bayan bijak sambil mengusap air mata Anna.
Ucapan Bayan berhasil menenangkan Anna. Wanita itu nampak tersenyum lalu menghapus air matanya dengan cepat. Kemudian Anna bangkit lalu melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Bayan yang melihat perubahan istrinya itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Sementara itu di teras rumah Arti sedang menyuapi Nathan makan siang. Ia tersenyum saat Nathan makan dengan lahap.
"Nathan pinter, makannya udah habis nih," puji Arti sambil mengusap pipi dan ujung bibir Nathan dengan tissu.
"Athan kan udah besar Bi," sahut Nathan dengan mimik lucu.
"Iya, udah besar dan mau jadi Kakak," kata Arti.
"Kakak ?" tanya Nathan sambil mengerjapkan mata.
"Iya. Kan di perut Bundanya Nathan sekarang ada Adik bayi. Nah itu bakal jadi Adiknya Nathan. Nanti kalo Adik bayi lahir, Nathan jadi Kakak deh. Kalo udah jadi Kakak harus Sayang sama Adik ya," kata Arti.
"Iya Bi. Athan suka Adik, ntar Adik bayi Athan yang gendong ya !" sahut Nathan antusias hingga membuat Arti tertawa.
Anna dan Bayan yang mendengar ucapan Nathan pun ikut tersenyum. Keduanya melangkah perlahan menuju teras untuk ikut bergabung dengan Nathan dan Arti.
"Tapi sayangnya bukan cuma sama Adik ya. Nathan juga harus sayang sama Bunda," kata Bayan mengingatkan.
"Harus sayang sama Ayah juga," sela Anna cepat.
"Iya. Athan juga sayang sama Bunda sama Ayah," sahut Nathan sambil mengangguk hingga membuat hati Anna membuncah bahagia.
"Pinternya Anak Bunda. Sini, peluk Bunda dong," pinta Anna sambil merentangkan kedua tangannya.
Nathan pun menghambur ke pelukan sang bunda sambil tertawa-tawa. Bayan dan Arti yang melihatnya pun ikut tertawa.
Melihat Nathan bersama Bayan dan Anna, Arti pun menyingkir ke belakang. Ia cukup tahu diri untuk tak mengganggu kebersamaan Nathan dengan kedua orangtuanya itu. Sikap Arti menjadi catatan tersendiri untuk Bayan dan ia memuji sikap Arti dalam hati.
Tiba-tiba tawa Nathan berhenti. Bocah itu juga mengurai pelukannya. Kemudian ia mengamati perut buncit Anna sambil mengerutkan keningnya.
"Kenapa Nak ?" tanya Bayan sambil berlutut di samping Nathan.
"Adiknya nakal Yah," sahut Nathan.
"Kok Nathan bisa bilang Adik nakal, kan Adiknya masih bobo di perut Bunda," kata Bayan tak mengerti.
"Tapi barusan Aku dipukul sama Adik Yah !" sahut Nathan sambil mengusap dadanya.
Ucapan Nathan membuat Bayan dan Anna tertawa. Rupanya saat Anna memeluk Nathan, bayi dalam rahimnya membuat gerakan kecil hingga Nathan mengira sang adik memukulnya.
Dengan sabar Anna menjelaskan apa yang terjadi saat Nathan memeluknya tadi. Bocah tiga tahun itu nampak mengangguk sambil tersenyum. Kemudian ia mengulurkan tangannya sambil bicara sesuatu yang membuat Bayan dan Anna kembali tertawa.
Saat itu Anna tampak bahagia karena bisa membuktikan ucapan suaminya tadi.
\=\=\=\=\=
Malam itu Anna nampak gelisah. Berkali-kali ia menghubungi Bayan dan menanyakan dimana keberadaannya. Bayan yang memang baru saja selesai meeting dengan rekan bisnisnya pun berusaha maklum dengan sikap rewel Anna.
"Sebentar lagi Aku sampe, nih juga lagi di jalan Sayang," kata Bayan.
"Daritadi di jalan terus sih. Perut Aku sakit nih Yah. Jangan-jangan Aku udah mau melahirkan sekarang. Kalo udah gini harusnya Kamu pending aja meeting Kamu itu bukan malah dilanjutin. Udah jam seginj belum pulang, ditelephonin juga susah. Kamu nih ga peka banget sih sama kondisi Istri !" kata Anna ketus.
Bayan menghela nafas panjang sekali lagi untuk menenangkan diri agar tak terpancing dengan ucapan istrinya. Ia tahu Anna bicara seperti itu untuk mengalihkan rasa sakit yang menderanya sekarang.
"Iya Sayang, maaf ya. Terus Nathan mana, kok ga kedengaran suaranya daritadi?" tanya Bayan.
"Udah masuk kamar. Untung Arti udah nidurin dia, kalo ga Aku malah pusing dengerin rengekennya. Kayanya Nathan juga demam, makanya dari sore rewel terus. Mungkin tau kalo Adiknya bakal lahir jadi ikutan gelisah ya Yah," kata Anna sambil meringis.
"Mungkin juga. Sekarang Aku udah masuk gerbang komplek nih. Aku tutup dulu ya," kata Bayan yang diiyakan Anna.
Tak lama kemudian Anna pun mendengar suara klakson mobil di halaman rumahnya. Anna yakin jika itu suaminya. Tanpa pikir panjang Anna memanggil Yumi dan memintanya membawa tas yang berisi perlengkapan bayi.
"Tapi Bapak belum pulang Bu," kata Yumi sambil memapah Anna ke ruang tamu.
"Masa sih. Tapi barusan Saya denger klakson mobil Bapak lho Yum," sahut Anna bingung.
"Mungkin mobil tetangga Bu," kata Yumi.
"Tapi suaranya deket banget kok," kata Anna.
"Mungkin sebentar lagi Bapak datang. Kan Ibu bilang Bapak udah sampe gerbang komplek. Kalo gitu Ibu tunggu di sini ya. Saya ambil tas Ibu sama tasnya si kecil dulu," kata Tini yang diangguki Anna.
Anna pun menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Tiba-tiba ia mendengar suara aneh di lubang ventilasi yang ada di atas pintu dan jendela.
Anna menoleh dan melihat bayangan hitam melintas cepat. Karena mengira itu kucing, tikus atau musang, Anna pun mengabaikannya. Ia kembali mengusap perutnya sambil mengatur nafas untuk menenangkan bayinya yang seolah mendesak ingin keluar.
"Duk ... Duk ... duk ...."
Suara itu kembali terdengar hingga membuat Anna penasaran. Ia pun bangkit lalu berdiri dan mendekati pintu.
Saat itu Anna melihat seonggok benda hitam menggumpal yang membuatnya makin penasaran.
Anna terkejut saat benda yang menggumpal berwarna hitam itu bergerak lalu berbalik kearahnya. Anna terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang sambil menjerit melihat seperti apa wujud asli gumpalan hitam itu.
Langkah Anna yang tak stabil membuatnya hampir terjengkang jatuh. Beruntung saat itu Yumi sigap menahan tubuhnya.
"Ibu gapapa kan. Ibu kenapa?" tanya Yumi.
"Sa-Saya liat monster di sana Yum !" sahut Anna dengan suara bergetar sambil menunjuk ke ventilasi di atas pintu.
Yumi mengikuti arah yang ditunjuk sang majikan dan menggelengkan kepala karena tak melihat apa pun. Yumi yang mengira sang majikan hanya berhalusinasi memilih diam dan lanjut membantu Anna.
Kemudian terdengar lah suara klakson mobil memasuki halaman rumah.
"Nah kalo ini Saya yakin suara mobil Bapak Bu. Ayo Kita keluar sekarang," kata Yumi.
Anna mengangguk karena masih teringat dengan gumpalan hitam yang dilihatnya tadi.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments