Dua hari kemudian Hesti menghubungi Anna dan mengatakan telah mendapatkan calon pengasuh untuk Nathan. Namun karena harus mengantar mertuanya ke Rumah Sakit, Hesti tak bisa mengantar sang calon pengasuh dan hanya memberi alamat rumah Anna.
"Gue ga bisa nganterin dia An. Gue harus ke Rumah Sakit nganterin Mertua Gue. Tapi Gue udah kasih alamat Lo sama dia. Mungkin siang ini dia ke rumah Lo," kata Hesti dari seberang telephon.
"Oh gitu. Ya udah gapapa, makasih ya Hes," sahut Anna.
"Iya sama-sama. Dia bukan pengasuh yayasan ya An. Jadi ntar Lo arahin aja apa tugasnya. Tapi dia baik kok, orangnya ulet dan rajin. Yang pasti dia suka sama anak-anak, jadi kayanya cocok sama Nathan yang hyper aktif itu," kata Hesti.
"Iya. Eh, namanya siapa Hes ?" tanya Anna.
"Namanya Arti. Sorry An, Gue udah sampe Rumah Sakit nih. Ntar Gue telephon lagi ya," kata Hesti lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
Anna pun menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Ia senang karena akan segera mendapat bala bantuan untuk menjaga Nathan.
\=\=\=\=\=
Siang harinya saat sedang menidurkan Nathan, pintu kamar Anna diketuk oleh asisten rumah tangganya yang bernama Yumi.
"Iya, ada apa Yum ?" tanya Anna dari dalam kamar.
"Ada tamu di depan Bu, namanya Arti. Katanya disuruh ke sini sama Bu Hesti !" sahut Yumi dari balik pintu.
" Oh iya, tolong suruh masuk Yum. Jangan lupa buatin minum ya," pinta Anna sambil turun dari tempat tidur.
"Iya Bu," sahut Yumi lalu bergegas pergi ke ruang tamu.
Tak lama kemudian Anna pun keluar dari kamar lalu melangkah menuju ruang tamu. Wanita utusan Hesti itu nampak tersenyum lalu berdiri menyambut Anna.
Dari jauh Anna mulai menilai Arti yang tampil sederhana dengan setelan celana panjang dan blouse warna merah maroon. Arti memiliki kulit sawo matang, tinggi sekitar 155 cm, berwajah manis tanpa make up. Dengan rambut diikat ke belakang membuat penampilannya terlihat fresh. Dan itu berhasil membuat Anna terkesan.
"Selamat siang Bu. Nama Saya Arti, Bu Hesti nyuruh Saya ke sini untuk ketemu Ibu. Bu Hesti bilang, Ibu lagi nyari pengasuh anak," kata Arti dengan santun sambil mengulurkan tangannya.
Anna pun menjabat tangan Asti. Terasa dingin dan sedikit bergetar. Anna tahu jika Arti merasa gugup saat itu.
"Betul sekali. Kenalin dulu, Saya Anna. Silakan duduk, Kita ngobrol sebentar ya," kata Anna sambil tersenyum.
Arti pun mengangguk lalu duduk di tempat semula.
Kemudian terjadi lah perbincangan ringan antara Anna dan Arti. Pada kesempatan itu Anna bertanya beberapa hal yang berkaitan dengan pola asuh anak. Anna juga bertanya mengenai status Arti saat ini.
Arti nampak menundukkan wajahnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Anna. Walau tak enak hati melihat ekspresi Arti, namun Anna terpaksa melakukannya karena ia juga ingin tahu seperti apa calon pengasuh Nathan itu.
"Saya sudah cerai sama Suami Saya Bu. Dia ... kepincut perempuan lain yang katanya jauh lebih baik dari Saya," kata Arti sendu.
"Maaf, Saya ikut prihatin ya Ti," kata Anna tak enak hati.
"Iya Bu, makasih," sahut Arti sambil tersenyum.
"Terus Anak Kamu gimana, dia sama siapa sekarang kalo Kamu kerja di sini?" tanya Anna.
"Anak Saya titipin sama Emak Bu. Saya ga sudi Anak Saya diasuh sama Ibu tiri. Mantan Suami emang maksa buat ngambil Anak Saya, katanya Saya ga bakal bisa bahagiaan Anak. Makanya Saya mau buktikan sama dia, Saya bisa kok biayain hidup Anak Saya dengan bekerja halal," sahut Arti berapi-api.
Ucapan Arti membuat Anna tersenyum. Ia kagum dengan tekad dan keberanian Arti.
" Mmm .... kalo boleh, nanti Saya minta ijin tiga hari tiap dua bulan sekali untuk jenguk Anak Saya ya Bu," kata Arti sambil menundukkan kepala.
"Tentu boleh. Tapi setelah Saya melahirkan ya Ti. Saya ga bisa janji untuk waktu dekat karena Saya ga tau kapan Saya melahirkan. Saya ga mau pas Kamu pulang, eh Saya malah melahirkan dan Nathan terlantar karena ga ada yang ngurus," kata Anna sambil mengusap perutnya yang membuncit.
"Iya Bu. Saya setuju," sahut Arti antusias hingga membuat Anna tersenyum.
"Kalo gitu Kamu taro barang-barangmu di kamar. Biar Yumi yang nganter nanti," kata Anna.
Tak lama kemudian Anna memanggil Yumi dan memintanya mengantar Arti ke kamar yang telah disediakan.
\=\=\=\=\=
Saat mobil memasuki halaman rumah, Bayan mendengar suara tawa Nathan yang menggema. Bayan ikut tersenyum namun terkejut saat melihat Nathan sedang bersenda gurau dengan seorang wanita.
Saat melihat kedatangan sang ayah, Nathan pun langsung berlari kearahnya. Bayan sigap menangkap Nathan lalu menggendongnya. Sedangkan Arti nampak mengekori Nathan hingga bocah itu masuk ke pelukan ayahnya.
"Nathan main sama siapa, kok seru banget keliatannya," tanya Bayan sambil menciumi pipi gembul Nathan.
"Selamat sore Pak. Saya Arti, pengasuh baru Nathan," kata Arti memperkenalkan diri.
"Pengasuh?" tanya Bayan bingung.
"Iya Yah. Arti ini pengasuh yang direkomendasiin sama Hesti. Aku kan udah pernah bilang sama Kamu !" kata Anna dari ambang pintu.
Bayan menoleh dan tersenyum melihat sang istri. Sebelumnya Anna yang sedang duduk di sofa bergegas keluar untuk menyambut kedatangan suaminya saat mendengar suara mobil Bayan memasuki halaman.
Bayan pun melangkah mendekati Anna sambil tetap menggendong Nathan. Kemudian Bayan mengecup kening sang istri dengan sayang.
Melihat interaksi Bayan dan Anna membuat Arti malu. Diam-diam dia menyingkir karena tak ingin mengganggu kebersamaan keluarga kecil sang majikan.
"Jadi itu orangnya. Siapa namanya tadi?" tanya Bayan.
"Arti Yah," sahut Anna.
"Ok. Apa Bunda yakin dia orang baik ?. Udah diselidiki belum ?. Jangan sampe terjadi sesuatu yang buruk sama Nathan dan Kamu ya Bund," kata Bayan khawatir.
"Iya Ayah. Bunda udah punya semua informasi tentang Arti dari Hesti. Bunda juga udah nanya langsung tadi. Untuk sementara Kita bisa tenang karena Keliatannya Nathan nyaman sama Arti. Kamu tau kan kalo Anak-anak itu punya insting khusus untuk menilai sesuatu. Karena ngeliat Nathan ga kenapa-kenapa saat ketemu Arti, itu artinya semua aman. Betul ga Yah ?" tanya Anna.
Bayan pun mengangguk setuju. Saat ini dia memang tak punya pilihan lain. Selain karena Nathan membutuhkan pengasuh, kondisi Anna yang mudah lelah di usia kehamilannya yang mendekati masa persalinan juga membuat Bayan iba.
Setelah berbincang sejenak, Bayan pun masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Anna menyusul sang suami setelah memanggil Arti untuk menemani Nathan.
Bayan dan Arti keluar dari kamar setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah. Saat itu mereka melihat Nathan sedang diajari menulis oleh Arti. Keduanya senang karena alat tulis yang biasanya berubah fungsi itu kini dimanfaatkan dengan baik oleh Arti.
Melihat kehadiran kedua orangtuanya membuat Nathan bahagia. Dengan bangga ia menunjukkan hasil karyanya kepada Bayan dan Anna.
"Wah bagus. Ini apa sih ?" tanya Anna pura-pura tak tahu.
"Ini huruf Bunda. Namanya huruf O. Nah yang ini A, ini I, ini U...," sahut Nathan sambil memonyongkan bibirnya.
Jawaban Nathan membuat semua orang di ruangan tertawa. Bahkan Yumi yang memang senang menggoda Nathan pun ikut nimbrung.
"Pinter. Terus huruf N nya mana ?" tanya Yumi.
"Nanti dong Bi. Pelan-pelan aja belajarnya. Aku kan masih kecil," sahut Nathan cepat hingga membuat semua orang kembali tertawa.
Nathan nampak bahagia. Ia juga menyebut nama huruf yang berhasil ditulisnya itu berulang-ulang sambil tertawa.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
neng ade
aku koq deh degan ya thor .. semoga tak terjadi apa2 pd keluarga kecil Bayan .. dan semoga Anna melahirkan bayi nya dngn selamat dan sehat
2023-06-19
1