Senja bangun tidur dengan sekujur tubuh ngilu dan sakit. Ia menatap sekelilingnya. Sepi. Ia duduk sebentar, dan mulai turun untuk mencari suaminya.
" Baru bangun sayang...?" tanya Bayan sambil membawa sarapan untuk Senja.
" Kok ga bangunin Aku sih Mas. Kelewatan nih Subuhnya...," keluh Senja manja sambil melangkah ke kamar mandi.
" Aku pikir Kamu udah bangun daritadi...," kata Bayan nyengir.
Senja segera menunaikan sholat Subuh karena langit sudah mulai terang. Setelahnya ia makan sarapan yang dibawa suaminya tadi.
Tak ada pembicaraan tentang kejadian semalam. Keduanya memilih topik lain untuk dibahas sambil tertawa riang.
Lalu Bayan mandi dan bersiap ke kantor. Senja menyiapkan pakaian dan sepatu untuk Bayan. Bayan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar. Senja menatapi tubuh suaminya yang sangat mengga**ahkan untuknya dan membangkitkan li*idonya.
Tapi Senja ingat pesan Bapaknya, dan langsung membuang pandangannya ke arah lain dengan wajah tersipu.
" Kenapa Sayang...?" tanya Bayan sambil mencium puncak kepala Senja.
" Kamu pake baju dulu gih Mas. Ntar Aku bantu pakein dasi...," pinta Senja sambil tersenyum.
Bayan pun balas tersenyum. Ternyata bukan cuma dia yang harus menahan hasratnya, tapi Senja juga terpaksa harus mencari kesibukan lain untuk mengalihkan perhatiannya dari keinginan yang satu itu. Apalagi hormon di masa kehamilan yang terkadang naik turun membuat Senja harus pandai mengatur emosinya.
" Kita harus semangat supaya Kamu bisa lepas dari pengaruh kutukan itu, bukannya begitu sayang...?" tanya Bayan.
" Iya Mas...," jawab Senja lirih.
" Aku mencintaimu, Aku pasti akan mendukungmu, selalu...," kata Bayan dengan nafas berat sambil memeluk istrinya.
" Udah ah melownya, ntar Ayah kesiangan lho...," kata Senja mencoba mencairkan suasana.
Bayan tersenyum, lalu menggandeng tangan Senja dan keluar dari kamar mereka. Bayan belum dapat supir yang cocok sejak Karto mengundurkan diri. Jadi Bayan kadang harus menyetir sendiri atau dijemput oleh Riko untuk pergi ke kantor.
" Bunda jaga diri baik-baik ya. Kabarin Ayah kalo ada apa-apa, jangan tanggung sendiri. Ingat, Bunda ga sendiri. Ada Ayah dan Anak kita di sini yang sayang sama Bunda...," pesan Bayan sambil mengelus perut Senja dan mengecup keningnya.
" Ok, Ayah...," sahut Senja.
\=\=\=\=\=
Malam itu Bayan pulang agak terlambat. Setelah mengabari istrinya, Bayan melanjutkan meeting intern perusahaan bersama beberapa orang stafnya.
Suasana malam itu agak berbeda dari biasanya. Bayan pun nampak gelisah dan tak nyaman. Berkali-kali ia mengusap peluh dan melonggarkan dasinya untuk mengusir rasa tak nyaman itu.
Rama dan Rika saling memberi kode saat memperhatikan gerak gerik Bayan yang agak sedikit aneh.
" Kita lanjut besok aja, Saya ada janji malam ini. Trrimakasih semua...," kata Rama mengakhiri meeting itu.
Rama dan Riko selain sebagai sahabat Bayan, mereka memang punya hak untuk melanjutkan atau menghentikan meeting karena sebagian saham di perusahaan itu adalah milik mereka. Jadi karyawan tahu jika mereka berdua mengambil keputusan, artinya Bayan pun setuju.
" Kenapa Lo, sakit ?" tanya Riko setelah staf perusahaan meninggalkan mereka bertiga.
" Iya, keliatan gelisah dan ga fokus," kata Rama sebal.
" Gue ga tau nih. Perasaan Gue gimanaaa..., gitu," kata Bayan sambil menarik lepas dasi yang bertengger di lehernya.
" Jangan bilang Lo kangen sama Senja. Ck, serius dikit lahh..., Senja tuh ga bakal kemana-mana...," gerutu Rama.
" Iya, ini udah empat bulan Lo married. Ga segitunya juga sampe Lo harus ga fokus waktu meeting...," sergah Riko.
Bayan tak mendengarkan ocehan kedua sahabatnya itu. Ia berdiri agak sempoyongan, lalu meraih kunci mobil. Dengan berpegang pada dinding, Bayan melangkah perlahan meninggalkan ruangan itu.
Riko dan Rama terkejut dan segera memapah Bayan, membantunya untuk berjalan.
" Lo sakit Yan, badan Lo panas banget...," kata Rama cemas.
" Sini, biar gue anter Lo pulang...," kata Riko sambil meraih kunci mobil yang dipegang Bayan.
Bayan hanya diam dan memejamkan matanya saat sudah duduk di dalam mobil. Ia hanya ingin pulang. Apalagi dilihatnya bulan purnama di langit malam. Ia mencemaskan anak dan istrinya. Ia menghubungi Karto tadi, tapi tak ada jawaban sama sekali.
Mobil melaju cepat, dan tak lama kemudian mereka tiba di rumah Bayan. Riko kembali memapah Bayan hingga masuk ke ruang tengah. Riko memanggil pelayan rumah Bayan untuk membantunya.
" Biii..., dimana Mbak Senja. Tolong Saya sebentar...," kata Riko.
" Ya Allah..., Mas Bayan kenapa Den...?, sini taro sini aja dulu. Biar Saya panggilin Mbak Senja...," kata si pelayan.
" Saya langsung pulang ya Bi. Tolong diurus yang baik. Kalo ada apa-apa panggil Saya aja," kata Riko sambil berlalu.
" Tolong bantu Saya bawa Mas Bayan masuk ke kamar Bang Riko...," pinta Senja yang baru saja keluar dari kamar dan melihat kondisi Bayan yang nampak tidak sehat.
" Eh Senja. Ya udah ayo Gue bantu...," kata Riko lagi.
Lalu Riko kembali memapah Bayan untuk masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sekilas ia melihat Senja yang juga nampak terlihat pucat.
" Lo sakit ?, pantes aja si Bayan gelisah terus hari ini. Ternyata Lo lagi ga sehat ya...," kata Riko dengan nada menyesal.
" Ga kok Bang. Cuma pusing aja dikit. Biasa lah, orang hamil kadang ga tentu perasaannya...," sangkal Senja sambil tersenyum.
Setelah memastikan semua baik-baik saja, Riko pun meninggalkan rumah Bayan.
" Apa malam ini...?" tanya Senja dalam hati.
Bayan terbangun setelah cukup lama tertidur. Ia membuka matanya, duduk sejenak, lalu berdiri dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelahnya Bayan sholat Isya.
Senja tersenyum saat masuk ke kamar dan melihat suaminya sedang sholat. Ia meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya di meja, lalu duduk menunggu suaminya selesai sholat.
" Mas udah bangun ?, lagi ga enak badan ya...," sapa Senja sambil memeluk suaminya itu.
" Iya, Aku lapar sayang...," keluh Bayan.
" Nih Aku bawain makan malam Kamu kesini. Mau makan disini atau...," ucapan Senja terputus.
" Disini aja," kata Bayan cepat sambil duduk di kursi dan mulai makan.
Senja tersenyum sambil memperhatikan Bayan yang makan dengan lahap. Sesekali ia menerima suapan Bayan yang memaksanya ikut makan.
" Alhamdulillah..., makasih ya Sayang...," kata Bayan sambil mengecup pipi istrinya.
" Sama-sama Mas...," kata Senja.
Tiba-tiba HP Bayan berdering. Bayan pun meraih ponselnya, mengklik warna hijau di layar HP kemudian tampak serius bicara. Tak lama kemudian Bayan nampak menghela nafas berat.
" Siapa Mas...?" tanya Senja cemas.
" Bapak, katanya kita harus siap-siap. Malam ini saatnya...," kata Bayan dengan suara bergetar.
" Mas..., Aku takuutt...," kata Senja mulai menangis.
Senja cemas akan bayi yang ada di dalam kandungannya juga Bayan.
" Insya Allah semua baik-baik aja..., Kita keluar sekarang. Bapak nunggu di bawah...," ajak Bayan setelah mengganti sarungnya dengan celana panjang.
Bayan memang memanggil Karto dengan sebutan 'Bapak' sejak tahu bahwa Karto adalah ayah mertuanya.
Diluar rumah nampak Karto sudah menunggu dengan wajah cemasnya. Dia tak sendiri, ada orang lain bersamanya.
" Ehm, ini Kyai Mustafa. Beliau yang akan membantu Kita...," kata Karto to the point.
" Assalamualaikum Pak Kyai...," sapa Bayan sambil mencium punggung tangan sang Kyai.
Sikap Bayan membuat Senja dan Karto sangat kagum padanya. Sebagai orang kaya tapi masih bisa merendah untuk menghormati orang lain.
" Wa alaikumsalam Nak Bayan..., gimana kabarmu ...?" kata sang Kyai sambil menepuk punggung Bayan.
" Alhamdulillah baik Kyai..., cuma ada masalah aja. Mudah-mudahan Kyai berkenan membantu Saya. O iya, ini istri Saya Senja..., Sayang kenalin ini Pak Kyai Mustafa guru Aku...," kata Bayan.
Senja dan Karto kaget. Karto agak malu karena ternyata Bayan telah mengenal Kyai Mustafa dan menjadi muridnya.
" Kita ga bisa disini. Cari tempat lain aja, kan masih ada waktu beberapa jam lagi...," kata Kyai Mustafa.
" Baik Kyai," jawab Karto dan Bayan bersamaan.
Mereka berempat pun meninggalkan rumah Bayan dan menuju ke suatu tempat.
Senja yang duduk di samping Bayan nampak gelisah, Bayan pun menenangkannya dengan memeluk dan menciumi puncak kepala Senja.
" Kita sampai. Ayo turun...," kata Karto yang sama cemasnya dengan anak dan menantunya.
" Ga usah panik gitu To, Kamu menakuti mereka...," kata Kyai Mustafa terkekeh.
" Maaf Kyai... Senja kemari Nak, Bapak mau kasih liat sesuatu...," kata Karto dengan suara lembut sambil menatap Senja.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments