Bayan menunggu lagi wanita yang kemarin ditemuinya di taman. Matanya menatap lekat tanpa berkedip.
" Kamu ngikutin Aku...?" tanya Senja.
" Mmm, iya. Mau tau kenapa Kamu kasih buku ke anak-anak itu...," jawab Bayan.
" Urusan Kamu apa ?" tanya Senja.
" Ga ada..., Aku Bayan." sahut Bayan.
" Kamu lagi ngajakin kenalan ?, Ok..., Aku Senja...," kata Senja sambil berlalu, lagi.
\=\=\=\=\=
Hari ke tiga.
" Masih ngikutin Aku ?" tanya Senja sambil duduk di samping Bayan.
" Iya...," jawab Bayan singkat.
" Kenapa ?" tanya Senja lagi.
" Aku tertarik sama Kamu," jawab Bayan tegas.
" Jangan, nanti Kamu nyesel...," Ssnja berdiri dan menghilang, lagi.
\=\=\=\=\=
Hari ke empat.
" Belom nyerah juga ?" tanya Senja.
" Belom," kata Bayan sambil menggeleng.
" Apa maumu ?" tanya Senja.
" Dekat dan mengenalmu" jawab Bayan.
" Aku ga mau...," Senja pergi, lagi.
Seperti itulah pembicaraan yang terjadi diantara mereka. Singkat, dan diakhiri dengan kepergian Senja. Selalu begitu. Tapi Bayan tak menyerah. Entahlah...
Dihadapan Senja, seorang wanita sederhana, Bayan seperti tunduk dan bersedia menunggu ,entah berapa pun waktu yang dibutuhkan.
" Berhenti mengikutiku !" kata Senja galak.
" Aku ga bisa...," jawab Bayan.
" Kenapa ?" tanya Senja.
" Karena Aku mencintaimu...," kata Bayan mantap.
" Ck, Kamu salah mencintai orang. Kenapa mencintaiku ?" tanya Senja sebal.
" Aku tak punya alasan. Karena mencintai itu tak perlu alasan...," kata Bayan sambil menatap tajam kearah Senja.
Senja melengos menghindari tatapan Bayan.
" Aku tak menyukaimu. Maaf...," kata Senja lalu berlalu seperti biasa.
" Tak apa. Aku saja yang mencintaimu...," kata Bayan pelan.
Lalu Bayan pun berlalu meninggalkan tempat itu.
\=\=\=\=\=
Setelah hari itu Bayan tak lagi terlihat menyambangi Senja di taman itu. Senja berpikir, mungkin Bayan lelah mengejar cintanya setelah ditolaknya kemarin. Bayan memang mengejar cinta Senja selama enam bulan, dan setiap sore Bayan akan duduk di taman memperhatikan Senja.
" Eh, Om yang suka sama Kak Senja kok udah seminggu ini ga nongol. Kenapa ya...?"
" Ada urusan kali,"
" Atau kapok abis dimarahin sama Kak Senja ?"
" Udah nemu cewek yang lain kali...,"
" Capek lah dicuekin terus, lama-lama malu kan...,"
Begitulah ocehan anak-anak jalanan yang sering ditemui Senja setiap hari.
Senja hanya tersenyum. Sebenarnya dalam hati ia juga merasa kehilangan, bukan, mungkin karena terbiasa bertemu Bayan tiap hari. Senja coba menyangkal pikiran dan perasaannya sendiri.
\=\=\=\=\=
Disaat yang bersamaan, ketidak hadiran Bayan bukan karena ia menyerah, tapi karena Bayan harus menghadapi tuntutan hukum dari seorang rekan bisnisnya. Bayan dituduh korupsi dalam kerjasama pengadaan barang berupa alat berat. Bayan sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk menghindari tuntutan salah alamat itu.
Bayan pun mengerahkan orang-orang terbaiknya untuk menemukan celah agar bisa menyerang balik orang yang menuduhnya korupsi.
" Selamat malam, Pak ...," sapa seorang pria berbadan tegap.
" Malam, gimana hasilnya ?" tanya Bayan sambil memijit keningnya pelan. Sejak adanya tuntutan tak berdasar itu membuat Bayan harus pulang larut bahkan menginap di kantornya.
" Kami mencurigai Surya sebagai dalang dari semuanya Pak,"
" Akhirnya..., Hah. Kita pasti akan memberi serangan balik yang manis...," gumam Bayan.
" Apa yang harus Kami lakukan Pak ?" tanya pria itu.
" Lanjutkan saja pengintaian pada keluarganya, juga bawa istri pertamanya, Saya mau bicara sama dia..., Kamu tentukan saja tempatnya," kata Bayan sebelum berlalu.
" Siap Pak !" pria itu lalu mengantar Bosnya hingga masuk ke dalam mobil.
Bayan dan Karto meninggalkan kantor di jam sebelas malam.
Saat melewati taman tempat ia biasa menemui Senja, Bayan minta berhenti sebentar.
Bayan memandangi taman yang tampak berbeda saat malam hari. Ia melihat di pojok-pojok taman banyak pasangan yang sedang bercumbu. Sudah biasa terjadi, pasangan mesum yang tak mampu sewa kamar memanfaatkan taman untuk tempat transaksi se*ual. Bayan berdecak sebal. Lalu meminta Karto untuk melanjutkan perjalanan.
Tiba di rumah Bayan langsung menuju ke kamarnya setelah sebelumnya menolak tawaran Bi Jum untuk makan.
Setelah membersihkan diri, Bayan pun berbaring di tempat tidurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Ia merasa sangat rindu pada sosok Senja. Tapi ia masih harus menahan kerinduannya untuk beberapa hari ke depan. Bayan akhirnya terlelap dibuai kerinduannya.
\=\=\=\=\=
Istri pertama Surya tampak ketakutan. Ia duduk dengan gemetar. Suasana di ruangan yang asing itu membuatnya hampir menangis. Ia terlonjak kaget saat pintu terbuka lebar dan melihat Bayan berdiri di sana.
" Mas Bayan ..., itu..., Kamu suruh orang culik Saya kesini ?" tanya Sulastri istri Surya.
" Maafkan Saya harus pakai cara ini. Saya hanya ingin kerjasama Ibu," kata Bayan mendekat dan duduk di hadapan Sulastri.
" Kerjasama apa?, bukankah Kamu sudah tak ada urusan dengan keluarga Saya sejak Kamu meninggalkan Lila...?" tanya Sulastri.
" Ehm, Saya tak mau membicarakan ini. Tapi karena Ibu yang mulai, biar Saya kasih tau..., Saya memutuskan Lila karena Saya lihat dia bercinta dengan rekan bisnis suami Ibu di sebuah kamar hotel...," ucap Bayan tajam.
" Ga mungkin !, Kamu jangan coba memfitnah anak Saya. Dia gadis baik-baik, pintar, cantik dan tau tata krama. Saya ga percaya kalo...," ucapan Sulastri terhenti saat Bayan melemparkan beberapa lembar foto Lila yang sedang bug*l juga beberapa yang nampak sedang duduk di atas pangkuan pria berumur dengan posisi erotis.
Sulastri terbelalak. Ia tak percaya itu adalah putri tersayang yang dilahirkannya.
Sulastri menunduk malu, lalu mengusap air matanya yang menderas diwajahnya.
" Pasti si bren**ek itu yang memaksanya melakukan itu. Dia sudah menghancurkan hidupku dan juga anakku...," jerit Sulastri marah.
Bayan menatap iba pada Sulastri. Ia tahu pasti hati Sulastri akan hancur mengetahui putri tercintanya tak lagi sepolos dulu. Tapi Bayan harus bergerak cepat. Ia harus mendapatkan beberapa bukti kejahatan Surya.
" Saya harus apa...?!" tanya Sulastri yang mengerti arah pembicaraan Bayan.
" Tolong Ibu ambil beberapa surat berharga milik suami bren**ek Ibu yang merupakan bukti kejahatannya selama ini. Mmm..., apa Ibu tau juga kalo Surya memiliki istri muda...?" tanya Bayan hati-hati.
" Jadi itu benar ?! ha ha ha..., betapa lugunya Saya, atau bodoh. Saya curiga dia menghianati pernikahan Kami," kata Sulastri geram.
" Ini...," Bayan menyodorkan foto kemesraan Surya bersama dengan simpanannya.
Sulastri memegang dadanya yang seolah akan meledak. Ia berdiri dan meninggalkan Bayan, lalu berlari keluar.
" Ikuti dia !" perintah Bayan pada anak buahnya.
Lalu dua orang bergegas keluar mengikuti Sulastri.
Sulastri keluar dan langsung mengjentikan Taxi, ia meminta supir Taxi membawanya pulang. Kepalanya sakit karena terus menangis.
Tiba di rumahnya, Sulastri berlari kecil menuju ruang kerja suaminya yang selama ini terlarang dimasuki oleh Sulastri.
Setelah beberapa saat mencari, Sulastri menemukan surat berharga yang ditemukan di laci meja kerja suaminya.
Sulastri membacanya satu per satu. Ia baru tahu, suaminya memiliki beberapa investasi lahan dan rumah mewah. Ia juga menemukan foto mesra sang suami dan simpanannya.
Sulastri keluar rumah, ia tahu jika dirinya diikuti oleh orang suruhan Bayan. Lalu ia memanggil orang itu dan menyerahkan beberapa surat berharga milik suaminya.
" Apakah Anda akan ikut Kami kembali ?" tanya pria itu.
" Saya capek. Saya percaya Mas Bayan ga akan menipu Saya seperti suami dan anak Saya...," kata Sulastri lemah.
" Biar Saya bawa dulu, nanti Bos akan memilih yang mana yang diperlukan...," kata pria itu sambil berlalu.
Sulastri jatuh terduduk di sofa ruang tengah. Ia kembali menangisi nasibnya yang tak beruntung. Sulastri teringat pertengkarannya dengan sang suami. Saat itu Surya membantah tuduhan Sulastri padanya.
" Kau menghianati Aku ?!" jerit Sulastri.
" Jangan mengada-ada. Aku lakukan banyak hal untuk keluarga ini, tapi Kau malah menuduhku tanpa bukti !" teriak Surya tak mau kalah.
" Jangan lupa dari mana asalmu. Semua tak kan ada artinya tanpa uang Ayahku...," kata Sulastri dengan suara rendah.
Surya tercekat. Ia benci jika mengingat ketidakmampuannya di masa lalu. Ia memandangi Sulastri yang masih menangis.
Perlahan ia memeluk Sulastri.
" Maaf...," katanya lirih.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
neng ade
kasihan juga Sulastri dikhianati suami dan dibohongi anak nya yg selama ini dianggap baik dan berkelas
2023-06-18
2