Senja masih menangis, bahkan kini tangisnya terdengar memilukan.
" Bapak..., Bapak..., kenapa Bapak pergi tinggalin Senja sama Ibu...?" tanya Senja disela tangisnya.
" Maafin Bapak Senja..., Bapak terpaksa. Bapak takuutt.... Harusnya Bapak bawa Kamu pergi saat itu juga. Bapak nyesel, maaf...," kata Karto sambil mengusap matanya yang basah.
" Bapak takut apa Pak...?, Ibu jadi ga waras sejak Bapak pergi. Ibu ga mau ngomong sepatah kata pun. Senja tanya Ibu, tapi Ibu cuma jawab pake isyarat. Senja bingung..., Kenapa Bapak tega tinggalin Kami...?!" tanya Senja marah.
" Bapak..., Bapak liat Ibu Kamu jadi kuyang...," kata Pak Karto lirih sambil menangis.
Senja terkejut tak percaya dan langsung menjauhi Karto.
" Iya Nak..., Bapak liat sendiri dengan mata kepala Bapak. Malam itu, bersama Kang Musa dekat rumah Mbah Towo. Bapak sama beberapa orang lagi istirahat karena kecapean dikejar Banaspati. Saat menoleh ada suara dari balik rimbunan pohon. Karena udah capek lari, makanya Bapak nekat nyamperin pohon itu sambil pegang parang. Pas daun disibak ternyata ada hantu kepala tanpa badan yang biasa kita sebut kuyang, sedang makan bayi. Bayi yang tinggal setengah itu sedang digerogoti pake giginya.Kang Musa dan yang lainnya langsung lari. Tapi Bapak terlambat. Kuyang itu udah ngeliat Bapak. Bapak juga ga bisa lari lagi. Tapi pas Bapak amati kok wajahnya Bapak kenal, ternyata itu Rusti, ibumu yang juga istriku...," kata Karto menceritakan pengalamannya.
" Itu bener Pak...?" tanya Senja tak percaya.
" Iya..., Bapak pulang kerumah kita untuk mastiin. Pas Bapak pulang, Bapak cari Kamu, Bapak liat Kamu lagi tidur pulas sambil meluk boneka. Bapak ke kamar cari Ibumu. Tapi yang Bapak liat cuma badan Ibumu tanpa kepala. Bapak takut, makanya Bapak langsung pergi malam itu juga, Bapak memang pengecut karena ga berani menghadapi semuanya...," isak Karto.
" Terus Bapak lari kemana...?" tanya Senja.
" Bapak lari ke kota ini. Bekerja jadi buruh bangunan untuk menafkahi diriku sendiri. Bapak ganti identitas Bapak, termasuk nama. Karena Bapak ingin melupakan semua kenangan buruk itu. Tapi tiap malam Bapak selalu menangis menyesali diri karena ga bawa Kamu lari juga waktu itu. Bapak berdoa semoga Rusti ga menyakitimu. Lalu Bapak bertemu perempuan cantik bernama Ayu. Bapak menikahinya dan memiliki seorang anak perempuan cantik, Bapak namai dia Sarah...," lanjut Karto.
" Apa dia tumbuh normal...?" tanya Senja hati-hati.
" Ya, dia tumbuh normal seperti manusia pada umumnya...," sahut Karto pilu.
" Apa Bapak pernah berpikir kalo Aku akan mengikuti jejak Ibu ?" Senja menunduk sambil meremas ujung taplak meja di depannya.
" Bapak percaya Rusti ga akan mau anaknya jadi seperti dia. Bapak yakin Rusti ga akan menyakiti Kamu, setelah melihat Kamu baik-baik saja saat Rusti berubah jadi kuyang dan pergi mencari mangsa. Kamu tidur pulas tanpa terluka sedikitpun...," kata Karto dengan pandangan menerawang.
" Jadi..., Aku keturunan kuyang Pak...?" tanya Senja sedih.
" Maafin Bapak..., kalo aja dulu Bapak bawa Kamu pergi, mungkin Kamu ga harus menderita kaya gini. Maafin Bapak Nak...," Karto menangis penuh penyesalan.
" Apa kutukan ini ga bisa dihilangkan Pak...?" tanya Ssnja sambil memegang tangan Karto penuh harap.
" Mmm, Bapak ga tau," Karto menggeleng.
Beberapa menit mereka terdiam. Masih shock akan kenyataan yang ada di hadapan mereka.
" Jadi Senja harus gimana Pak..., Senja lagi hamil anak Mas Bayan..., Senja baru mau kasih tau Mas Bayan...," rintih Senja pilu.
Karto terdiam. Lalu ia mengajak Senja duduk. Ia iba pada nasib anaknya. Tapi ia juga tak tahu harus berbuat apa.
" Biar Bapak cari jalan keluarnya. Sementara ini Kamu jangan ngomong apa-apa dulu sama Mas Bayan. Usahakan ga melakukan hubungan suami istri dulu...," pinta Karto.
" Tapi Mas Bayan bisa marah kalo Senja tolak atau ga cerita alasannya Pak...," kata Senja bingung.
" Ya udah, bilang aja kalo Kamu hamil dan ga bisa sering ML. Apa Mas Bayan bisa ngerti ...?" tanya Karto ragu.
" Mungkin bisa Pak...," sahut Senja tersenyum.
" Apa Kamu bisa minum darah hewan untuk memuaskan dahagamu itu...?" tanya Karto mencoba memberi solusi.
" Bisa Pak. Senja udah pernah minum darah ayam jago waktu lagi jadi Kuyang...," kata Senja sambil melengos menghindari tatapan iba dari Karto.
" Bapak akan sediakan darah hewan untukmu supaya Kamu ga nyerang bayi atau manusia lainnya," kata Karto lagi.
" Iya, terserah Bapak aja. Terus, kapan Kita cerita terus terang sama Mas Bayan kalo Kita adalah anak dan Bapak kandung ?" tanya Senja bingung.
" Liat waktunya yang pas aja. Bapak yakin Mas Bayan bisa terima kenyataan bahwa Kamu adalah anak Bapak, mantan supirnya...," kata Karto getir.
Sore itu Senja dan Karto terlihat senang karena bisa menemukan darah dagingnya yang hilang. Mereka sepakat untuk mencari jalan keluar dari masalah Senja.
\=\=\=\=\=
Bayan sedang menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur sambil memeluk Senja istrinya.
Sesekali ia menciumi puncak kepala Senja dengan gemas.
" Pokoknya malam ini Kamu ga boleh kemana-mana. Itu hukuman karena Kamu ga angkat telephon Aku...," kata Bayan tak terbantahkan.
" Iya iya..., Aku tau Aku salah. Tapi jangan dipelukin terus dong, sesak nih nafasku...," rengek Senja manja.
" Emang Aku meluknya kenceng banget. Ini kan kaya biasanya Aku peluk Kamu...?" kata Bayan heran.
" Sebenernya sih biasa. Tapi jadi ga biasa karena ada si kecil disini...," kata Senja dengan mata berkaca-kaca sambil membawa tangan Bayan untuk mengelus perutnya.
" Apa...?, maksudnya ?, Kamu...hamil...?" tanya Bayan terbata-bata.
" Hmm...," Senja tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.
Bayan bersorak kegirangan mendengar berita ini. Ia memepererat pelukannya dan menciumi wajah Senja saking senangnya.
" Alhamdulillah..., makasih Ya Allah..., makasih sayang...," kata Bayan berulang-ulang.
Bayan pun merebahkan tubuh Senja dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut hingga pertengahan dada. Mengecup kening Senja dan membelai pipinya. Bayan memandangi Senja dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
" Apa Kamu seneng denger Aku hamil...?" tanya Senja.
" Ya pasti seneng lah..., Aku calon Ayah sekarang...," kata Bayan tertawa.
" Tapi ada banyak hal yang ga bisa kita lakuin sama-sama saat Aku hamil...," kata Senja pelan.
" Aku tau, tapi temen Aku gapapa kok ngelakuin itu saat istrinya hamil, malah dianjurkan sama dokter gitu katanya...," ucap Bayan dengan mata berbinar.
" Masa sih...?" tanya Senja tak percaya.
" Kalo gitu besok Kita cek aja ke dokter, sekalian tanya apa aja yang ga boleh dilakuin saat Kamu hamil...," kata Bayan lembut sambil mencium bibir Senja.
" Berarti malam ini puasa dulu ya...," pinta Senja sambil membalas ciuman Bayan.
" Ok, ga masalah...," kata Bayan menyudahi ciumannya.
Malam itu Bayan dan Senja tidur dengan nyenyak. Mereka saling memeluk dan nampak bahagia.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
neng ade
semoga aja Bayan bisa menerima nya kenyataan klo Senja adalah anak Karto
2023-06-18
0