Seusai cek kehamilan ke dokter kandungan, Bayan mengantar Senja pulang ke rumah, lalu kembali ke kantornya.
Dalam perjalanan ke kantor Bayan yang mengendarai mobil seorang diri nampak tersenyum senang. Apalagi mengingat bahwa anak dalam kandungan Senja tumbuh dengan sehat.
Bayan mengira ia harus menunggu lama untuk mendapatkan keturunan. Tapi Allah lebih tau apa yang dibutuhkan hamba Nya bukan ?.
Bayan tiba kembali di kantornya, senyum terulas dibibirnya hingga membuat karyawan kantornya heran dan bertanya-tanya.
" Jadi Senja hamil ?!" tanya Riko dan Rama bersamaan.
" Iya...," jawab Bayan singkat.
" Pantesan..., Karyawan Lo pada bingung ngeliat Bos galaknya ini senyum-senyum kaya orang ga waras...," kata Riko maklum.
" Cewek atau cowok ?" tanya Rama.
" Belom keliatan lah monyong. Ini baru masuk minggu ke sembilan...," jawab Bayan sambil melempar bolpoinnya ke arah Rama.
Mereka pun tertawa, ikut senang dengan kebahagiaan yang dirasakan Bayan.
\=\=\=\=\=
" Apa hanya itu satu-satunya cara untuk memutus mata rantai kutukan itu ?" tanya Karto putus asa.
" Ya..., kalo ada cara lain, pasti Saya kasih tau Kamu...," kata Musa sedih.
Karto mengusap wajahnya kasar.
" Apa bisa pake darah hewan ?" tanya Karto lagi.
" Untuk pemula bisa. Tapi kalo udah parah, itu cuma memuaskan sesaat, dan ia akan tambah liar...," kata Musa lagi.
Lalu Musa dan Karto sama-sama terdiam.
Karto atau Genta sengaja menemui Musa, sahabatnya di desa tempat ia dikejar banaspati. Semula Karto datang untuk mencari informasi kemana hilangnya Rusti. Saat mendengar dari Senja bahwa Rusti pergi tanpa kabar. Ia menduga Rusti mengalami depresi dan memutuskan untuk menetap di hutan.
Diantar Musa Karto pun pergi ke hutan mencari Rusti. Mereka membawa parang dan obor. Tiba di dalam hutan, hari sudah malam. Dan sialnya lagi saat itu adalah bulan purnama penuh di langit.
Karto dan Musa berhenti saat mendengar suara gemerisik daun di atas kepala mereka. Saat menoleh ke atas mereka melihat kuyang tengah memangsa babi hutan, menghisap darah si babi hutan sampai darahnya mengering. Setelah itu membiarkan babi hutan itu jatuh begitu saja dari atas pohon.
Kuyang itu melayang pergi tapi berhenti saat Karto memanggil namanya.
" Rusti...," panggil Karto sambil menangis.
Kuyang itu menoleh, dan tampak terkejut melihat Karto alias Genta. Sudah dua kali ia dipergoki oleh Genta. Ia nampak marah. Namun sisi manusianya seolah berontak.
Ia melayang mendekati Genta, menatap mata Genta dengan sorot marah, sementara itu Musa langsung jatuh tak sadarkan diri.
Kuyang jelmaan Rusti makin mendekat dan berputar putar melayang mengelilingi Genta, seolah ingin memastikan bahwa orang di hadapannya adalah Genta suami yang dicintai dan mencintainya, yang hilang dulu.
" Rusti..., ini Aku Genta, suamimu...," kata Genta dengan suara tercekat di tenggorokan.
" Hhrrrr...," Kuyang jelmaan Rusti seperti mengerti kata-kata yang diucapkan Genta.
" Aku mohon maafkan Aku..., tapi tolong..., jangan seperti ini...," tangis Genta.
" Hhrrrr... hhrrr...," kuyang itu mengibaskan rambutnya.
" Senja ada bersamaku. Dia sudah menikah..., sekarang dia hamil..., beritahu Aku apa yang harus Aku lakukan agar Senja tak sepertimu...," tangis Genta makin keras dan terdengar sangat memilukan.
" Aku mencintaimu Rusti..., selalu mencintaimu...," kata Genta sebelum akhirnya kehilangan kesadaran dan jatuh di samping Musa.
" Hhrrrr..., hhrrr...," kuyang jelmaan Rusti itu masih melayang sebentar di atas tubuh Genta yang tak sadarkan diri lalu melesat pergi, hilang entah kemana.
Genta alias Karto terbangun saat matahari sudah tinggi di atas kepala. Musa masih tertidur seolah tak terganggu oleh sengatan matahari yang membakar tubuhnya.
" Kang..., Kang Musa, bangun Kang. udah siang...," kata Karto.
" Mmm..., Kita dimana ?, masih di hutan. Aku liat kuyang semalam, kamu liat ga...?. Hii... serem banget deh. Apalagi waktu dia deketin Kita...," kata Musa bergidik sambil langsung berdiri.
" Kamu pingsan semalem Kang...," kata Karto.
" Lahh Kamu aja pingsan juga kok, ga usah ngatain Aku. Ayo pulang Aku takut ketemu kuyang lagi...," kata Musa sambil berjalan cepat meninggalkan Karto sendiri.
" Tapi istriku gimana Kang...?" tanya Karto.
" Hahh..., udah tinggalin aja. Ga mungkin dia bisa bertahan hidup di hutan kaya gini. Kalo ga mati dimakan kuyang, paling juga mati dimakan harimau...," sahut Musa yang makin menjauh.
Karto merenung sejenak. Ia memandang sekelilingnya. Ia merasa Rusti tengah mengawasinya.
" Rusti, Aku harus pulang. Asal Kau tau, Senja sedang hamil cucu kita. Suaminya sangat mencintainya. Tolong beri tau Aku bagaimana cara menangkal kutukan ini...," kata Karto lirih.
Karto berdiri dan perlahan meninggalkan tempat itu. Di balik pohon nampak sosok Rusti tengah mengawasinya. Rusti mendengar semua ucapan Karto barusan. Ia senang sekaligus sedih. Senang karena Senja telah menemukan jodohnya, menikah dan hamil. Tapi sedih karena Senja harus menanggung kutukan yang tak diinginkan, sama dengannya.
Sambil tetap sembunyi ia menatap kepergian Karto sambil menangis sedih.
Rusti tak ingin Senja mengalami nasib seperti dirinya. Rusti pun berlari cepat meninggalkan tempat itu dengan wajah penuh air mata.
Musa menepuk pundak Karto untuk menyadarkannya dari lamunan panjangnya.
Musa menatap iba ke arah Karto yang kehilangan anak dan istrinya karena dimangsa kuyang. Musa belum tahu bahwa Rusti lah yang menjelma jadi kuyang yang selama ini mengganggu ketentraman warga desa.
" Kamu mau mencari istrimu kemana lagi ?" tanya Musa.
" Aku ga tau Kang, Aku cuma mau ada yang bisa nyembuhin kuyang itu biar ga ganggu warga lagi Kang...," kata Karto pelan.
" Kita harus cari sesepuh desa yang paham soal kuyang itu Mas...," kata Musa semangat.
" Siapa ?" tanya Karto penasaran.
" Mbah Towo, coba aja kesana. Tapi Aku ga bisa nemenin ya, takut...," kata Musa sambil nyengir.
" Ya udah Aku kesana. Makasih Kang udah bantuin Aku nyari Rusti...," kata Karto sambil menjabat erat tangan Musa dan menyelipkan amplop berisi uang di saku baju Musa.
" Sama-sama..., ealah ga usah peke ginian segala. Aku ikhlas kok bantuin Kamu Mas Genta...," kata Musa bermaksud menolak pemberian Karto.
" Hadiah buat anak-anak Kang Musa. Semoga bermanfaat ya Kang...," kata Karto sambil melambaikan tangannya.
" Makasih !" teriak Musa dan dijawab jempol tangan Karto yang mengacung ke atas.
Musa pun membuka amplop yang diberikan Karto tadi. Di dalamnya berisi lembaran uang ratusan ribu. Setelah dihitung jumlahnya ada dua juta rupiah. Musa tertawa senang dan segera memasukkan amplop beserta isinya tadi ke saku yang lebih aman. Lalu Musa pun melangkah pulang dengan hati riang.
Sedangkan Karto langsung menuju rumah Mbah Towo, sesepuh desa yang memang sudah sangat sepuh. Karto membawakan rokok,kopi dan makanan lunak lainnya sebagai buah tangan.
Tok tok tok
" Assalamualaikum, permisi Mbah..." kata Karto.
Aneh, tanpa menunggu lama pintu langsung terbuka, hal ini diluar perkiraan Karto.
Tampak Mbah Towo keluar dari rumahnya dengan menggunakan tongkat sebagai tumpuannya saat berjalan.
Karto memandang takjub Mbah Towo yang baru kali ini dapat dilihatnya dari jarak dekat.
Mbah Towo berkulit putih pucat. Badannya sedikit bungkuk. Mata tuanya terlihat jernih, dan pendengarannya pun masih bagus.
" Maaf ganggu Mbah...," kata Karto dengan hormat sambil mencium punggung tangan sang sesepuh desa itu.
" Duduk dulu. Ga usah buru-buru. Mbah tau maksudmu kesini. Kamu harus ikhlaskan Rusti istrimu. Dia ga akan bisa kembali jadi manusia normal seperti dulu. Tapi anakmu masih ada harapan. Cuma Allah yang bisa menentukan nasib akhir Anakmu itu...," kata Mbah Towo.
" Saya harus gimana Mbah ?, dia lagi hamil. Apa bayi dalam kandungannya gapapa...?" tanya Karto cemas.
" Beri dia darah hewan untuk sementara. Harus ada kemauan dalam dirinya untuk melawan pengaruh iblis itu. Walaupun berat. Jika dia mampu melawannya, maka ia dan anaknya akan selamat...," kata Mbah Karto sambil menutup pintu dan membiarkan Karto merenung di teras rumahnya.
" Harus ada kemauan..., itu kuncinya," kata Karto sambil menjentikkan jarinya.
Ia lalu meninggalkan rumah Mbah Towo dengan langkah ringan.
bersambung
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
neng ade
semoga Karto berhasil menyelamatkan Senja dan bayi yg dikandung nya
2023-06-18
0